Memasuki bulan Maret 2017, tim musik Revius Webzine kembali bergiat dalam mengumpulkan lagu-lagu untuk dimuat di Music Mixtape. Meski terucap mudah dalam mengumpulkan, ternyata tidak semudah yang diucapkan. Setelah Spinning Kicks Syndicate mengumumkan perihal Revius Mixtape edisi Maret 2017 di running text video wawancara terbarunya, tim musik sebenarnya dalam proses pemilihan lagu yang sengit untuk dimasukkan ke mixtape. Ditambah lagi, kami berencana melipat jarak pendengaran dengan berbagai lagu terbaru dari tiap kota di Sulawesi, bukan hanya dari Makassar saja. Hal ini dilakukan karena dua edisi Mixtape sebelumnya khusus memuat lagu-lagu dari grup musik/musisi berasal Makassar.

Setelah memilah selama tiga pekan, akhirnya kami memuat lima lagu yang secara variasi menjadi alternatif pilihan musik, meski secara musikalitas, kami mempersilakan anda yang menentukan. Dan, tanpa harus memikirkan selera yang bagus dan buruk, rubrik Music Mixtape ini menjadi sebuah upaya sederhana untuk mendokumentasikan lagu-lagu terbaru yang hadir di skena musik di Pulau Sulawesi. Mudah-mudahan menjadi goresan (scratch) yang abadi untuk bulan Maret ini.

Selamat mendengarkan dan selamat menikmati Revius Mixtape edisi bulan Maret 2017 beserta ulasannya.

Dhihram Tenrisau

Musubi – HelloManami (Sungguminasa)

Mendengarkan komposisi instrumental adalah hal yang baik dalam memperbaiki mood dan kualitas kerja. Itu bukan ajaran, bukan pula doktrin. Anjuran ini sudah menjadi resep dokter terverifikasi. Kalau berbentuk resep, mungkin trek Musubi adalah salah satu daftar obatnya.

Lagu ini adalah salah satu hit dari EP You and The Different World milik duo elektronik HelloManami diawali dengan floating model ambience yang disambut dengan suara seruling bernuansa oriental. Hingga pada bagian lead, ada nuansa beat dubstep tanpa wobble bass. Menariknya, bagian ini secara instrumen lebih mengingatkan pada komposisi dan hingar bingar lead synth trance. Secara umum mendengarkan trek sepanjang tiga menit ini, mengingatkan saya pada lagu-lagu yang dibawakan oleh Snail House, Petite Biscuits, atau dalam ranah lokal ada Irwan ‘Dralls’ Setiawan.

Karena belum sempat foto band bersama, HelloManami baru sempat mengirimkan cover album EP-nya yang sudah bisa didengar di gerai musik digital terkemuka.

Fakta menarik lainnya bahwa HelloManami adalah duo yang terpisah oleh jarak. Seorangnya berada di Makassar, yang satunya lagi berada di Bandung. Di bawah kesamaan visi menjadikan chemistry mereka terjaga. Mungkin hal itulah yang mendasari penciptaan lagu ini. Dalam rilis persnya, mereka mengungkapkan bahwa lagu ini bercerita tentang bagaimana individu lain yang berada di dunia berbeda saling menjaga dari segala hal yang mengganggunya. Ya, band ini mampu memberi satu lagi inspirasi bahwa musik dapat menerabas jarak.

Salah satu kekurangan menurut saya dari lagu ini, adalah komposisinya yang datar serta nyaris tanpa kejutan. Padahal duo ini adalah mantan pemain chiptune yang seharusnya mengetahui cara memoles tembang dengan sample atau synth berkarakter. Seandainya saja lagu ini disisipkan lirik, mungkin bisa lebih memungkinkan menutupi stagnasi dan pola yang terbilang klise ini.

Fami Redwan

Hari Baruku – OPSG (Makassar)

Beberapa hari lalu seseorang di dalam lingkar pertemanan dunia maya saya menyebar ulang tautan berita yang sebenarnya sudah berumur lama. Tentang pernyataan wakil presiden Republik Indonesia yang mendukung penggunaan tanaman ganja untuk kepentingan industri. Dan seperti biasa, hal-hal yang sifatnya pseudo bombastis selalu mendapat perhatian lebih oleh mereka yang otaknya medioker. Berita usang itu kembali naik rating dan traffick-nya.

Share demi share terjadi tanpa ada sebiji matapun yang sempat menengok pada tanggal berapa tepatnya artikel tersebut dirilis. Mati sekaleee. Lagi pula, entah itu minyak bumi, batu bara, unsur hara, padi dan kapas, berlian dan mutiara, bahkan mariyuana, apabila diperlakukan tak lebih dari sekadar bahan baku dalam tamaknya kultur industri, maka semua hanya akan menjadi secangkir arsenik bagi peradaban manusia untuk membunuh diri sendiri, jika itu dilakukan tanpa pengendalian diri. OPSG telah bertahun-tahun bernyanyi tentang hal yang tabu ini. Namun sayangnya dunia ini sudah sesak oleh para wannabe yang terlalu banyak sensasi namun nol dalam esensi.

Foto terkini dari OPSG, cuma 3 dari 4 orang.

Dan semua yang saya ceritakan di atas, kawan-kawan, sama sekali tidak ada urusan dengan musik. Padahal seharusnya ini adalah review musik. Baiklah, saya siap meladeni. OPSG adalah sebuah band yang telah melewati segala kepedisan yang belum terbayangkan oleh band-band yang masih aktif bermain di Makassar. Mereka berempat telah berbagi sebotol lombok kuning kehidupan sampai habis, sloki demi sloki. Mereka telah melewati banyak alasan untuk bubar. Tuntutan pendidikan, pekerjaan (serta keharusan untuk berpindah-pindah kota karenanya), juga faktor usia (serta kebosanan yang menyertainya.)

Namun mereka tidak pernah bubar. Lagu Hari Baruku ini adalah buktinya. Lagu lama yang diperbaharui, walau terdengar agak berlebihan di proses mixing dan mastering. Namun, statement mereka jelas: OPSG masih ada, meski kini sudah jarang saling bersua. Sekadar cubitan kecil buat band-band lokal yang belum apa-apa sudah pecah. Oh ayolah, kota ini tidak butuh pemusik yang terbuat dari keramik!

Acoh Wahab

All The Way – SHAL (Sungguminasa)

SHAL, kuartet easycore asal Sungguminasa.

SHAL memulai All the Way dengan alunan synthesizer yang mengingatkan era kejayaan Peewee Gaskins. Era ketika becak mulai berevolusi menjadi bentor. Dan harga rokok masih Rp. 500 /batang. Lepas dari romantisme becak dan rokok keteng, para personil SHAL yang lain (dengan instrumen mereka masing-masing tentunya), lalu menyambut intro tadi dengan hentakan yang sanggup membuatmu tak sadar menganggukkan kepala dan tak sabar bergegas ke moshpit. Walaupun dengan tema alunan synthesizer yang sama sepanjang intro, ada perpindahan chord dramatis diujungnya. Membuat intro ini terdengar manis walau berdistorsi. Treatment yang apik untuk pembuka lagu.

Nyanyian dimulai. Ternyata berbahasa Indonesia. Judul lagu ini berhasil mengelabui saya. Lirik penuh optimisme lalu saling bersahutan dengan komposisi yang penuh energi. Disempurnakan oleh bebunyian delay gitar yang memaksimalkan teknik panning audio. Bagian delay gitar ini sangat oke untuk menguji stereo atau tidaknya speaker/headphone anda. Omong-omong, pengelabuan awal paragraf tadi kemudian termaafkan: ada nyanyian berbahasa inggris menjelang reff ternyata.

Setelah reff, lagu lalu berulang kembali ke bagian verse. Reff kedua kemudian mengantar pendengar ke interlude. Atau untuk lagu ini: bagian solo gitar. Walaupun dengan penuh teknik nan belibet, permainan gitar personil Shal ini terdengar sangat smooth. Tidak berlebihan untuk genre musik yang jarang menerapkan solo gitar di lagu-lagunya. Refrain pun kembali terulang. Kali ini dengan sahutan “ooo..ooo..ooo” yang membuat lagu ini terdengar lebih megah. Lagu pun usai setelahnya.

Mendengar lagu ini meyakinkan siapapun bahwa Shal adalah band yang secara teknis bermusik sangat siap untuk menjajal berbagai panggung di seantero semesta. Pula bahwa mereka adalah band yang sangat memperhatikan detail musik mereka. Mulai dari komposisi hingga kualitas audio. Mulai dari intro hingga part “ooo..ooo..ooo”. Tak ada yang terdengar tak layak atau berlebihan di lagu ini. Dari press release yang saya terima pun mereka terkesan sangat serius mengelola band ini. Terutama dapat dilihat dari jumlah kata di press release mereka yang jauh lebih banyak dibanding tulisan ini.

Achmad Nirwan

Bad Party – Ticket For Famous (Kendari)

Pertama kali melihat judul lagunya saja, saya seketika teringat dengan lagunya Cash Cash, Party in Your Bedroom atau lagunya U2 berjudul Bad. Suasana ugal-ugalan yang siap menghajar kuping ketika lagunya akan diputar. Lalu, ketika mendengar langsung seluruh lagunya di akun SoundCloud resmi Ticket For Famous, saya justru terbawa mengenang keriuhan panggung musik yang diadakan Sweet Finger Community di area basement Mall Maricaya di akhir 2008, music showcase Taste of Emotion pada 6 Juni 2009 dulu, spektakulernya pesta rilis album perdana Paniki Hate Light pada 2015 lalu, bersama segala momen kejayaan grup musik emo, screamo, dan post-hardcore yang pernah saya lihat tampil di panggung-panggung musik Makassar.

Semua memori yang terkuak setelah saya mendengarkan Bad Party, juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sederhana: di mana keberadaan band-band tersebut sekarang ya? Apa kabarnya? Apa karena tren musik yang terus berganti atau berulang, mereka pun ikut tergerus dari panggung musik?

Ticket For Famous, kuintet post hardcore teranyar dari Kendari.

Bad Party secara teknis termasuk impresif dalam segi output-nya, dengan permainan gitar yang garang dan synthesizer yang saling bersahutan—saya pun membayangkan Lamb of God sedang jamming dengan Crossfaith asal Jepang. Meskipun begitu, satu-satunya fakta yang menarik bagi saya untuk Bad Party setelah saya berbincang dengan bassist/vokalis Iwan Liergo melalui messenger app, lagu ini direkam secara mandiri oleh Ticket For Famous melalui drummernya yang ternyata lihai dalam mengolah rekaman lagu-lagu mereka. Pantas saja rekaman lagunya termasuk rapi, lebih matang karena fokus dikerjakan, dan nyaman di telinga untuk didengarkan. Sebuah poin plus bagi Ticket For Famous yang selangkah lebih maju dalam bermusik.

Membaca liriknya yang tipikal tentang hingar bingar kehidupan pesta di malam hari, Bad Party sudah lebih dari cukup bagi saya mengetahui Ticket For Famous dalam membentuk tema lagu-lagunya maupun identitas bandnya.  Karena satu hal yang besar dan penting untuk Ticket For Famous yang baru saja didirikan sejak Februari 2016 ini adalah mereka tetap konsisten bermain di jalurnya dan menjadi perpanjangan nafas dari band-band emo, screamo dan post hardcore pendahulunya, baik itu yang masih aktif maupun raib entah ke mana. Dan, mudah-mudahan saya bisa menyaksikan penampilan mereka suatu saat. Kudos!

Brandon Hilton

Revolusi Batu – Scarhead Barricade (Palu)

Kepala dan telinga saya sedang dipenuhi kejenuhan terhadap musik yang itu-itu saja. Ditambah lagi, menjadi pegawai di sebuah band Hardcore yang dipercayakan merusuh di divisi drum. Walhasil, saya mesti banyak mendengar musik dari berbagai band hardcore agar kelak kerusuhan yang saya ciptakan terdengar indah bergemuruh. makin membuat telinga dan kepala saya yang penuh akan kenangan butuh sesuatu yang baru. Ya, saya jenuh. Bukan berarti saya jenuh bersujud menghadap kiblat bermusik yang saya anut semenjak usia balita.

Untuk mengatasi kejenuhan, saya mengalihkan pendengaran telinga saya sejenak dengan musik Grindcore. Tidak perlu jauh-jauh untuk mendengarkan, saya memilih untuk mendengarkan salah satu grup grindcore yang sedang hangat diperbincangkan. Scarhead Barricade asal Palu adalah band grindcore yang pertama kali saya ketahui menggerinda dengan lagunya Terpesona Kekuatan Progressive dari album kompilasi Heaven In Hell. Terlebih lagi, saya semakin antusias setelah Achmad Nirwan mengirimkan lagu terbaru mereka yang berjudul Revolusi Batu untuk dimasukkan ke dalam mixtape ini.

Scarhead Barricade, unit grindcore yang garang dari Palu.

Sama seperti penganut paham Grindcore kebanyakan, tanpa banyak berbasa-basi, Scarhead Barricade sepertinya memantapkan ancang-ancang untuk mereka yang ingin bergerak liar dalam moshpit atau hanya sekedar headbang. Memadukan raungan distorsi gitar, dentuman demi dentuman drum, vokal dengan nuansa geram nan lantang, dan dibalut sound bass yang tegas. Scarhead Barricade memainkan pola yang cukup beragam dan dinamis. Hal yang makin membuat saya betah untuk memutar lagu ini berulang-ulang adalah mereka paham memasukkan unsur groove yang liar, jeda sedikit sembari mengumpukan nafas yang berhamburan, dan kapan tancap gas. Cadas edan, namun easy listening.

Scarhead Barricade adalah sebuah ancaman serius yang hidup. Talenta berbahaya yang dimiliki oleh Palu, kota yang belakangan sangat aktif  melahirkan band-band lokal berbahaya. Jangan pernah jenuh menggerinda dan menebar ancaman. Panjang umur, Scarhead Barricade!