Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Di tengah maraknya proses digitalisasi musik yang semakin mudah dilakukan karena perkembangan teknologi, masih ada harapan yang bisa diretas untuk keberadaan toko rekaman fisik yang semakin hari semakin sedikit jumlahnya di berbagai kota. Salah satu siasat agar eksistensi toko rekaman tetap ada dan rilisan fisik sebagai sumber nafkahnya adalah dengan mengadakan Record Store Day: Satu hari khusus untuk toko rekaman fisik bisa menjual berbagai rilisan dengan edisi khusus, edisi re-issue, edisi terbatas beberapa keping saja maupun harga yang lebih terjangkau untuk menarik minat beberapa penikmat musik maupun kolektor datang membelinya. Meskipun terkesan naif, Record Store Day bisa menjadi salah satu inisiatif baik mengajak masyarakat untuk membangun kembali suasana menikmati musik melalui rilisan fisik di tengah tumbuhnya budaya konsumsi musik secara digital.

Record Store Day berawal dari inisiasi beberapa pemilik toko rekaman independen bernama Eric Levin, Michael Kurtz, Carrie Colliton, Amy Dorfman, Don Van Cleave, dan Brian Poehner di Baltimore, USA pada 2007 lalu. Setahun kemudian, 19 April 2008, perayaannya resminya digelar. Pekan ketiga  di bulan April lantas disepakati sebagai pesta para kolektor album fisik, seperti vinyl, kaset dan CD. Pada tahun itu juga Metallica secara tidak resmi didaulat sebagai duta Record Store Day edisi pertama setelah mereka tampil di sebuah toko rekaman kecil dan memberikan tandatangan gratis untuk penonton yang membawa rilisan mereka. Record Store Day pun resmi dihelat setiap tahun dan menjadi ‘hari raya’ khusus untuk para pembeli, kolektor, dan penggila serta para pemburu rilisan fisik khusus Record Store Day.

Di Indonesia sendiri Record Store Day baru ramai dirayakan semenjak tahun 2012. Tepatnya, diadakan pada 20 April 2013 yang digelar beberapa kota antara lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar. Toko Buku Aksara, Kemang, menjadi sentral acara Record Store Day di Jakarta waktu itu. Sedangkan untuk Makassar berlangsung dalam acara Rewind di perpustakaan Kampung Buku di Jl. Abdullah Daeng Sirua. Berlanjut lagi di tahun 2014 diadakan di Jakarta oleh Monka Magic Aksara Kemang (19/4) dan Heyfolks!(20/4) dan di Makassar sendiri dihelat oleh Milisi Records untuk peluncuran album perdana Galarasta, Man In Love di Beatstone’s Cafe.

Pada tahun 2015 ini perayaan Record Store Day diprediksi bakal lebih meriah karena diadakan oleh 16 kota di Indonesia. Di Makassar juga ikut merayakan Record Store Day tepat 19 April dengan beberapa toko penyedia rilisan fisik seperti Lo-ving memberikan potongan harga. Sedangkan puncak perayaan Record Store Day Makassar diramaikan dengan gelaran dari Musick Bus yang bekerjasama dengan Taman Indie Makassar menggelar Record Store Day pada 26 April 2015 di Musick Bus Chapter Store, Jl. A. P. Pettarani.

Record Store Day Makassar pada tahun ini sangat mujur karena ada empat band yang siap merilis khusus albumnya tepat pada helatan tersebut.  Dunce Dance dengan Halusinasi, Speed Instinct dengan Real Eyes Realize Real Lies, Standing Forever dengan This is a Note : Kept Us Goin’! Here dan Tabasco dengan Solitary merilis masing-masing karya mereka. Ada yang berformat cakram padat hingga kaset pita. Selain itu, ada sepuluh band Makassar yang telah merilis albumnya ikut memeriahkan suasana Record Store Day Makassar.

Selain rilisan fisik berupa vinyl, CD, dan kaset pita serta merchandise band lainnya yang dijajakan oleh Musick Bus serta reseller lainnya seperti Caveman Recordstore, Kedai Buku Jenny, M Dee Merch, Membangkang Merch dan PutarKaset, ada pula penampilan 19 band yang sepuluh di antaranya merilis format CD dan kaset serta talkshow dengan pembicara Daniel Mardhany, vokalis dari Deadsquad, Iko dari Milisi Records, Juang Manyala dari Vonis Records, Bobhy dari Kedai Buku Jenny, dengan moderator Abe dari Revius untuk membahas seputar rilisan fisik yang pasti seru untuk disimak.

Gelaran Record Store Day pada hari Minggu(26/5) sejatinya dimulai pada pukul 10.00 WITA. Tetapi saat saya baru hadir pada pukul 14.30 WITA, suasananya masih belum seramai yang diperkirakan. Titik Bias sedang tampil ketika mata saya tertuju ke panggung ketika memasuki pintu masuk Record Store Day. Penampilan Titik Bias yang tampil bersama Ian dari Avara Volturi berhasil memukau saya sekaligus membuat saya hanya bisa menggerutu karena gagal menyaksikan penampilan Ruang Baca, duo folk akustik dari Tamalanrea yang saya pernah tonton tiga kali sebelumnya. Ruang Baca memang didaulat tampil paling awal di Record Store Day Makassar. Beberapa saat kemudian setelah penampilan Titik Bias, saya melihat ketiga reseller selain Musick Bus yang ikut meramaikan Record Store Day Makassar, baru satu per satu berdatangan. Mereka pun menempati beberapa tempat yang disediakan oleh penyelenggara.

Saat Sorrow In The Darkness tampil trengginas dengan vokal guttural Panus yang khas setelah jeda yang cukup panjang di panggung, suasana Record Store Day pun perlahan-lahan mulai ‘hidup’ oleh beberapa penikmat musik atau pun kolektor yang mulai ramai berdatangan dan meramaikan lapakan para reseller yang hanya dipisahkan meja-meja untuk menaruh rilisan fisik yang mereka jual ataupun dengan sistem barter yang disepakati.

Penampilan Next Delay berikutnya menjadi suguhan menarik di Record Store Day Makassar. Mengusung shoegaze sebagai corak musiknya, kuartet dari Tamalanrea ini membawakan dua lagu barunya beserta cover Ride,”Vapour Trail”.  Selanjutnya ada My Silver Lining yang kembali menurunkan tensi panggung dengan dentingan gitar akustik mereka. Yudha, sang vokalis seperti biasa selalu menghayati penampilannya dengan gerakan tangannya yang khas. Jumping Illusions pun kembali memuncaki atmosfir panggung dengan baik setelah mereka membawakan lagu “Jangan Berhenti”. Trio punk rock ini pun sangat lihai memainkan lagunya sehingga saya pun ikut merasakan energi yang mereka tampilkan ketika membawakan lagu.

Eddington menjadi penampil berikutnya di Record Store Day Makassar. Dengan memainkan “Finding a Day”, “Road to The Bright”, dan “The Lost Habitat”, mereka sukses membuat seorang reseller yang sempat mengobrol dengan saya ketika Eddington tampil, tergerak untuk membeli rilisan fisiknya di Musick Bus. Menurutnya, Eddington mengingatkannya pada kuartet indie rock New York bernama Television, salah satu band kesukaannya.

RSD 6

Menurut seorang reseller di Record Store Day Makassar, musik Eddington mengingatkannya pada kuartet indie rock New York bernama Television, salah satu band kesukaannya.

FrontXSide pun selanjutnya menghajar panggung Record Store Day Makassar sebelum petang tiba. Kuartet hardcore Makassar ini pun tanpa ampun memuntahkan nomor-nomor andalan mereka dari album Self Title EP. Beberapa hardcore kid terlihat merangsek ke depan dan merebut mikrofon yang disodorkan oleh Indhar. Penampilan FrontXSide sore itu pun cukup membuat beberapa mata tertuju ke panggung dan suasana beberapa lapakan CD dan kaset pun mulai ramai sekali menjelang malam.

RSD 7

FrontXSide pun selanjutnya menghajar panggung Record Store Day Makassar sebelum petang tiba.

Penampilan FrontXSide sore itu pun cukup membuat beberapa mata tertuju ke panggung dan suasana beberapa lapakan CD dan kaset pun mulai ramai sekali menjelang malam.

Penampilan FrontXSide sore itu pun cukup membuat beberapa mata tertuju ke panggung dan suasana beberapa lapakan CD dan kaset pun mulai ramai sekali menjelang malam.

Selepas Maghrib, talkshow pun dihelat. Pembicaranya yaitu Daniel Mardhany, vokalis dari Deadsquad, Iko dari Milisi Records, Juang Manyala dari Vonis Records, Bobhy dari Kedai Buku Jenny. Mereka membahas seputar rilisan fisik yang lengkapnya bisa disimak di sini.

Selepas talkshow yang menarik untuk disimak, Bloodymary pun kembali memeriahkan panggung Record Store Day Makassar. Band pop rock asal Makassar dengan formasi terkini Lish (vokal), Yudhi (gitar), Ccenk (bass) dan Aspar(drum) juga menyediakan kembali rilisan mereka Di Tengah Ketiadaan dalam bentuk kaset pita di Record Store Day Makassar 2015.

RSD 8

Bloodymary tampil membawakn tiga lagu mereka di Record Store Day Makassar 2015.

Penampilan selanjutnya yaitu Speed Instinct yang pada hari itu merilis pula albumnya Real Eyes Realize Real Lies pun sukses membawakan tiga lagu mereka, “Resurrection”, “Discrephasick”, dan “Order Out Of Chaos”. Atmosfir pun memuncak kembali saat mereka tampil dan beberapa kepalan tangan di udara pun tak terelakkan.

Speed Instinct di Record Store Day Makassar 2015.

Speed Instinct di Record Store Day Makassar 2015.

Dunce Dance pun menjadi penampil selanjutnya di Record Store Day Makassar. Merilis Halusinasi di Record merupakan momen yang tepat karena Dunce Dance pun memainkan beberapa lagu andalan mereka yang saya sukai juga seperti “Pemberi Harapan Palsu”.

Tabasco yang didaulat mengisi panggung Record Store Day berikutnya pun sukses mengalunkan nuansa british pada malam itu. Mereka pun merilis album perdana, Solitary secara khusus 12 keping saja khusus untuk Record Store Day Makassar. “Green Lake” merupakan salah satu lagu mereka yang dibawakan dengan cukup apik, walaupun saya tidak bisa menikmati mereka karena distraksi orang-orang yang semakin ramai berinteraksi di beberapa booth.

Galarasta yang menjadi pengisi panggung selanjutnya di Record Store Day Makassar, sayangnya pada malam itu tampil tidak lengkap. Itu diakibatkan oleh sang drummer sedang dalam kondisi kesehatan yang kurang baik. Walhasil, Rengga sang vokalis pun tampil bersama seorang temannya mendentingkan gitar akustik membawakan beberapa nomor reggae serta berkolaborasi dengan Rizcky De Keizer.

Galarasta yang malam itu tidak bisa tampil secara lengkap karena kesehatan sang drummer, akhirnya tampil berkolaborasi dengan Rizcky de Keizer di Record Store Day Makassar.

Galarasta yang malam itu tidak bisa tampil secara lengkap karena kesehatan sang drummer, akhirnya tampil berkolaborasi dengan Rizcky de Keizer di Record Store Day Makassar.

The GameOver pun menjadi penampil selanjutnya setelah Galarasta. Mereka pun membawakan lagu-lagu mereka dari album Bubar yang disambut dengan ramainya bibir panggung. “Parade Konvoi Suporter PSM” pun menutup penampilan mereka malam itu.

The GameOver pun menjadi penampil selanjutnya setelah Galarasta. Mereka pun membawakan lagu-lagu mereka dari album Bubar yang disambut dengan ramainya bibir panggung. "Parade Konvoi Suporter PSM" pun menutup penampilan mereka malam itu.

The GameOver pun menjadi penampil selanjutnya setelah Galarasta. Mereka pun membawakan lagu-lagu mereka dari album Bubar yang disambut dengan ramainya bibir panggung. “Parade Konvoi Suporter PSM” pun menutup penampilan mereka malam itu.

Dead of Destiny pun menjadi penampil selanjutnya. dengan lagu “The Black” mereka pun sukses membuat saya jadi merinding ketika bagian vokal Rico dan Endi Ocol begitu bersemangat saling bersahutan seolah-olah inilah penantian panjang Dead of Destiny sebelum merilis album mereka, The Black yang rencana rilis tahun ini.

Dead of Destiny pun menjadi penampil selanjutnya. dengan lagu "The Black" mereka pun sukses membuat saya jadi merinding ketika bagian vokal Endi Ocol begitu bersemangat seolah-olah inilah penantian panjang Dead of Destiny sebelum merilis album mereka, The Black yang rencana rilis tahun ini.

Dead of Destiny pun menjadi penampil selanjutnya. dengan lagu “The Black” mereka pun sukses membuat saya jadi merinding ketika bagian vokal Endi Ocol begitu bersemangat seolah-olah inilah penantian panjang Dead of Destiny sebelum merilis album mereka, The Black yang rencana rilis tahun ini.

Ska With Klasik tampil cukup atraktif di Record Store Day Makassar. Setelah mereka merilis album perdana mereka di awal bulan, personil SWK tampil kompak walaupun mereka tidak tampil dalam busana khas anak ska yaitu kemeja hitam putih.

RSD 14

Melismatis pun didaulat tampil selanjutnya membelah suasana panggung Record Store Day malam itu.  Saya sukses terhipnotis sekaligus merinding ketika mereka membawakan lagu “Semesta” maupun “Mata Tertutup”. four thumbs up for them!

RSD 15

Paniki Hate Light pun menjadi penampil selanjutnya setelah Melismatis. Walaupun mereka dirundung masalah teknis sebelum memulai penampilan mereka, penampilan Paniki Hate Light tetap tampil ‘berbahaya’ membawakan lagu-lagu mereka dari album Survival.

RSD 16

Walaupun gaungnya hanya terasa kencang di kota-kota besar, Record Store Day Indonesia khususnya di Makassar setidaknya mulai bisa menapak jalan serta membiasakan diri untuk bisa menghadirkan sebuah kesadaran akan pentingnya rilisan fisik tetap terjaga di ingatan generasi sekarang.

Penjualan yang paling banyak terlihat di Record Store Day Makassar adalah penjualan CD dan kaset serta merchandise, sedangkan vinyl normal seperti biasa. Beberapa teman yang membeli vinyl yang sempat saya tanya datang khusus membeli vinyl dari Pure Saturday dari album Grey. ada pula teman saya yang sempat membeli vinyl dari Sleep, dedengkot stoner rock AS dengan merogoh koceknya lebih dalam.

Kurangnya antusiasme membeli vinyl ini bisa jadi karena harganya mahal serta minimnya sosialiasi soal kualitas serta sedikitnya jumlah remaja yang memiliki pemutar piringan hitam. Record Store Day pun hanya bisa menjadi acara spesial bagi sebagian komunitas pencinta rilisan fisik, kolektor, dan remaja yang ingin memanfaatkan turntable-nya.

Evaluasi dari antusias masyarakat inilah yang harus menjadi perhatian pemilik record store di Indonesia khususnya. Kita tidak bisa berharap akan adanya pembeli sebuah vinyl langka dari  Sleep seharga 500.000 rupiah pada sembarangan peminat musik, bahkan dari fans Sleep sekalipun. Karena selain mahalnya nominal tersebut, jumlah mereka yang memiliki pemutar piringan hitam juga masih sangat terbatas.

Sayangnya belum semua toko rekaman di Makassar bisa ikut merayakan Record Store Day Makassar kali ini. Beberapa toko yang menjual rekaman fisik seperti Duta Musik dan Irama Baru Records belum terlihat partisipasinya dalam  Record Store Day Makassar sejauh ini. Mungkin ada baiknya jika pihak penyelenggara bisa menghubungi beberapa penggiat toko rekaman untuk hadir menyemarakkan Record Store Day ini.

Walaupun begitu, Makassar patut bersyukur karena ada empat band yang bisa merilis albumnya bertepatan dengan momen Record Store Day Makassar. Ini menjadi pertanda baik yang harus terus berkembang lebih baik lagi untuk diskografi album musisi-musisi Makassar. Semoga tahun berikutnya Record Store Day Makassar lebih meriah lagi dan musisi-musisi Makassar lebih punya persiapan lebih baik menyambut momen istimewa sekali setahun untuk penggiat musik ini.


Tulisan terkait dengan Record Store Day Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day Makassar 2015

“Musik Memegang Peranan Penting bagi Kota”

Yang Terpelajar, Yang (Seharusnya) Menghargai Musik

Musisi Indie Makassar Favorit

Rilisan Album Musisi Makassar di tahun 2014