Oleh: Harnita Rahman (@comradenhytha)|Sumber Gambar: Deni Aryanto
Judul: Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar | Penulis: Alberthiene Endah | Jumlah Halaman: 362 Hal. | Cetakan: 2011 | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku ini seingatku telah nongkrong di lemari rak buku di rumahku sejak lama. Milik iparku, yang rajin mengoleksi buku-buku bersifat motivasi.  Dan sepertinya, dibelikan untuk kakakku, karena telah dibubuhi tanda tangan Merry Riana di depannya. Dan itu adalah alasan utamaku mengapa tidak pernah sekalipun melirik buku ini.

Karena dugaanku isinya pasti bualan kosong sok positif seseorang yang seolah tahu betul akan hidupmu, lalu memberimu jalan keluar yang dikatakannya dengan sangat mudah. Yah, aku salah satu orang yang tidak terlalu senang membaca buku-buku motivasi. Lalu, mengapa buku ini tiba-tiba saja kuambil dan hanya dalam kurun waktu 3 hari telah kulahap habis. Ini bukan buku seperti yang kubayangkan. Makanya, berkali-kali kukatakan pada diri sendiri “don’t judge a book by it’s cover”.

Beberapa pekan lalu, sebuah acara berita TV menayangkan akan dirilisnya sebuah film yang menurut kabarnya bagus. “Manusia Sejuta Dolar, Merry Riana”. Satu-satunya yang membuatku tertarik, karena film itu diperankan oleh Chelsea Islan, seorang aktor perempuan manis yang sangat kugemari aktingnya di sebuah serial TV.

Karena tidak sempat menonton teaser-nya, aku jadi penasaran. Apalagi penjelasan Chelsea pagi itu begitu menggebu-gebu. Namun, karena kesibukanku sebagai Ibu Rumah Tangga, aku akhirnya lupa mencari tahu tentang film ini dan siapa si Merry Riana ini setelahnya. Dan, beruntunglah, mataku jeli menangkap buku ini berada di tumpukan buku-buku motivasi dan buku-buku agama dan teringat kembali tentang film yang berasal dari buku ini.

Mari kuceritakan semua yang saya simak dari buku ini.

Alberthiene Endah, seorang penulis biografi, yang telah menulis banyak biografi artis dan beberapa novel ini menjawab semua rasa penasaranku tentang Merry Riana. Apa pentingnya perempuan ini, sehingga diangkat dalam cerita layar lebar?

Penulis menulis buku ini dengan alur cerita semi-fiksi yang luar biasa,  sama sekali bukan buku motivasi yang dalam beberapa kasus akan tampil seolah mengajarimu menjalani hidup, seolah yang  kau lakukan adalah salah, tapi hampir semua bagian di dalamnya menuturkan cerita yang mempengaruhimu secara psikologis.

Terlepas bahwa cerita yang diangkat nyata, namun kepiawaian penulis menggodok kata-kata yang tepat dan menggambarkan kisah-kisah yang detail sangat mengharukan dan menyentuh. Mengambil sudut pandang orang pertama, Merry Riana sebagai pencerita sekaligus tokoh utama dalam bukunya. Seperti banyak buku yang kubaca, bagian pembuka adalah tonggak apakah buku ini laik untuk diteruskan atau tidak. Penulis membuka cerita dengan mengambil latar tahun 2010 saat Merry Riana dan Alva, suaminya sedang berwisata ke masa lalu mereka.

Lalu siapa si Merry Riana ini?

Dia seorang wanita Indonesia keturunan Tionghoa yang dibawa ke situasi buruk sekaligus perjalanan penting  dalam hidupnya. Kerusuhan Mei 1998, yang menyisakan ketakutan dan trauma bagi banyak warga keturunan Tionghoa, termasuk ayah dan ibu Merry, mengantarkan ia untuk melanjutkan kuliahnya di NTU.

Indonesia menjadi tidak aman bagi mereka saat itu, dan kondisi keuangan keluarganya yang jauh dari kaya melihat peluang besar yang ditawarkan Singapura yang punya program peminjaman biaya kuliah dan biaya hidup untuk pelajar di Negara-negara Asia saat itu. Merry menuju hidupnya dalam keterbasan ekonomi.

Dan dimulailah kehidupan seorang Merry, gadis 18 tahun yang tidak pernah bermimpi  akan menjadi sangat berpengaruh di Asia 8 tahun berikutnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa anggukannya atas keputusan ayah ibunya menyuruhnya ke Singapura sendiri, akan menjadikannya seorang Miliarder, penulis Buku dan Motivator Wanita sekaligus tidak lebih dari satu dekade.

Singapura menyambut Merry dan semua orang lainnya yang datang dengan duit pas-pasan dengan garang tentunya. Pinjaman biaya hidup dari bank ternyata hanya bersisa $ 10 untuk ia gunakan selama 1 bulan. Dan menurutku setelah menyantap perjalanan hidup Merry Riana, di sinilah kekuatan itu ia dapatkan dari 10 dolar ini.

Ia bertekad, tidak akan meminta kiriman dari Indonesia mengingat keluarganya juga sedang terjepit.  Merry menghabiskan semester pertama bukan hanya bergelut dengan perkuliahan yang padat dan tugas yang banyak, tapi setiap pagi ia mesti menjawab kebutuhan badannya dengan 10 dollar ini.

Ia mengasupi paginya dengan mie instan, siang dengan dua lembar roti tawar tanpa isi dan makan malamnya dengan menghadiri acara-acara kelompok yang biasanya menyediakan makanan gratis. Dan penolong utamanya, tap water. Keran air yang airnya aman untuk diminum yang tersedia di kampusnya.

Kesulitan ini membuat  Merry memutuskan bekerja paruh waktu saat liburan. Menjadi pembagi brosur, bekerja di laundry, bekerja di toko bunga. Ia mulai menyiasati kebutuhannya dengan tabungan dari hasil kerjanya.  Merry bukannya tidak mengalami banyak hari buruk yang lain. Tapi, ia berdiri kuat. Ia bertekad untuk menjadi mandiri.

Perjalanan hidup Merry yang dipenuhi kelelahan, tangis dan segenap usaha untuk bertahan hidup diwarnai dan secara teknis ditemani seorang lelaki yang kelak tidak berhenti bersamanya dan menjadi suaminya, Alva. Ia bersama Alva berpartner merintis hidupnya, sekarang dan untuk masa depan. Lalu sama-sama berikrar dan bervisi untuk “mencapai kebebasan financial sebelum umur 30 tahun”.

Langkah mereka berdua konkret. Mereka tidak ingin menjadi pegawai biasa. Mereka ingin berwirausaha. Berbagai bisnis mulai dilirik dan diteliti. Langkah ini bukan tanpa resiko, Merry bahkan sudah pernah meraibkan uang hasil keringatnya berbulan-bulan untuk sebuah kantor wirausaha yang ternyata penipu. Ia gagal berkali-kali. Ia kehilangan uang, terhempas, dihimpit kebutuhan berkali-kali. Ia mencoba bisnis MLM, mencoba bermain di bursa saham, dan semuanya menuai rugi.

Pilihannya menjadi sales, adalah jalan sulit yang menurutnya akan membantunya mencapai resolusinya. Ia fokus dan tidak memperdulikan semua rasa tidak nyaman dari dalam dan luar dirinya. Ia bekerja 14 jam sehari, 7  hari seminggu dan melakukan presentasi sebanyak 20 kali sehari.  Dan bukan sebuah keajaiban, saat 3 bulan perdananya menjadi sales di tahun 2002 ia berhasil mencapai target penjualan 100 ribu dollar.

Di tahun 2003, ia mampu melunasi hutang kuliahnya sendiri, seperti yang ia janjikan pada orang tuanya sebanyak 40 ribu dolar setara 300 juta saat itu dengan hasil jerih payahnya, sekaligus menobatkannya sebagai manajer penjualan. Semesta mulai berpihak dan menjawab kerja keras dan doanya.

Penghasilannya mulai bertambah, bersama Alva ia mulai membangun Merry Riana Organization, merekrut 8 orang awalnya hingga sekarang menjadi perusahaan besar.  dan menggiringnya menjadi Manusia Sejuta Dollar di umurnya yang baru 26 tahun. Prestasinya dicetak dimana-mana, diberbagai bidang ia menerima penghargaan, ia berkeliling Asia Tenggara untuk menjadi pembicara, membagi resep-resep hidupnya.  Yah, ia mencapai targetnya “ mencapai kebebasan finansial sebelum berumur 30 tahun.”

Buku ini sangat detil menceritakan perjalanan Merry. Menggambarkan pergulatan batinnya. Menurutku, Merry dengan fokus targetnya menjalani tangga kehidupan dengan keras dan cepat. Dalam buku ini, Merry memang mengakui bahwa ia telah mengorbankan masa mudanya yang umumnya digunakan untuk menikmati dunia.

Dan itu bukanlah hal mudah. Kamu hidup di Singapura, di tengah kota yang gegap dengan ajakan untuk bersenang-senang, dan kamu bertahan untuk menghabiskan harimu dengan bekerja. Namun sangat bersyukurlah Merry, bahwa dia punya partner yang sangat mengerti dirinya.

Di ujung bukunya, Merry mengatakan bahwa ia tidak takut dikatakan ambisius. Ada 3 hal yang ia jaga untuk hidupnya. Pertama cinta. Semua langkah yang ia ambil berdasarkan cinta pada keluarganya, harapan besar untuk membahagiakan keluarganya, ayah dan ibunya. Yang kedua kesehatan.

Ia menjaga dirinya dengan berusaha hidup sehat. Dan terakhir kemapanan. Dengan mapan, ia bisa meningkatakan kualitas cinta dan kesehatannya. Perjalanan Merry dalam buku ini, sedikit banyak mengubah pandanganku yang selama ini “woles-woles” saja menghadapi masa depan.

Jujur,  kadang aku kasihan melihat anak muda yang menghabiskan hidupnya dalam balutan kerja dan tuntutan target –terget ekonomis. Tapi, aku salah. Mungkin mereka melakukan itu dengan harapan yang hampir sama yang dibawa oleh Merry saat ia mulai bekerja sebagai sales. Dan itu pilihan.

Aku  salut dan menundukkan kepala pada orang-orang yang memperjuangkan hidupnya dengan kerja keras. Kerja keras yang sehat tanpa menyikut dan menginjak orang lain tentunya, untuk menjadi besar dan mencapai tujuan hidupnya.

Menurutku buku ini patut dibaca. Alurnya membuatmu terus penasaran untuk mengetahui akhir ceritanya. Walau tidak semenarik saat membaca Perahu Kertas-nya Dee, tapi buku ini cukup membuatmu ikut dalam suasana yang penulis bangun. Ini novel inspiratif dan motivatif.

Ada kutipan di awal buku ini yang menurutku sangat keren.

Hidup

Adalah suatu tantangan yang harus dihadapi

Perjuangan yang harus dimenangkan

Kesusahan yang harus diatasi

Rahasia yang harus digali

Tragedi yang harus dialami

Kegembiraan yang harus disebarkan

Cinta yang harus dinikmati

Tugas yang harus dilaksanakan

Romantika yang harus dirangkul

Resiko yang harus diambil

Lagu yang harus dinyanyikan

Anugerah yang harus dipergunakan

Impian yang harus diwujudkan

Perjalanan yang harus diselesaikan

Janji yang harus dipenuhi

Kesempatan yang harus dipakai

Persoalan yang harus dipecahkan

Kesulitan yang harus dikalahkan

Rahmat yang harus dipelihara dan dicintai

 

Jika berminat, buku ini bisa dipinjam di Malala Library, Kedai Buku Jenny.  Atau bisa menunggu versi filmnya yang mungkin tidak sama rasanya saat membaca bukunya. []