Jika kamu pernah membaca berbagai daftar album terbaik tahun ini versi pengamat, pelaku, atau penikmat musik, akan ada satu nama yang akan selalu hadir di dalamnya: Barasuara. Band asal Jakarta yang tahun ini meluncurkan album debutnya, Taifun.

Album tersebut sebenarnya lebih tepat bertitel nama band-nya sendiri. Perhatikan judul-judul lagunya seperti: Nyala Suara, Bahas Bahasa dan Sendu Melagu. Atau lirik-lirik seperti: “…Apapun yang kan kamu cari adalah bisikku…”, “…Sampaikan mereka bara dan suara…”, “…Dalam keraguan lantas kau berseru”, “…Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali…”, atau “Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca…” , Semua akan terasosiasi kepada satu kata: Suara.

Suara-suara yang bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut, tapi apa yang berasal dari dalam diri dan tumbuh menjadi makna, suara-suara yang sering diredam namun tetap kita perjuangkan sebagai harmoni. Suara-suara itulah yang juga tetap dijaga baranya oleh Musick Bus Fest.

***

Hari Minggu terakhir tahun 2015, Makassar berdandan cukup cerah. Sebuah isyarat baik menunaikan tujuan akhir pekan terakhir pecinta musik tahun ini terpusat di Auditorium RRI. Musick Bus Fest digelar untuk ketiga kalinya. Event yang menjadi perayaan tahunan dari Musick Bus Store. Namun melihat kualitas penampil dari tahun ke tahun, perayaan sepertinya bukan sekadar perayaan.

Pukul 19.30 WITA, pertunjukan dimulai. My Silver Lining menjadi pembuka Musick Bus Fest #3, dengan lagu-lagu milik mereka. Somewhere Only We Know dari Keane, dan dilanjutkan Sorry, I Love You, Restitution, dan Someone to Marry dari album Welfare yang baru rilis menjadi suguhan manis dari mereka. Radio Clubs dengan lagu All I Want dan High Hopes dari Kodaline, dan dilanjutkan dengan lagu milik mereka. Sebuah salam hangat, menyambut para penikmat yang perlahan berlipat ganda memenuhi area event. Sebelum kemudian dilanjutkan oleh The Joeys. Band BritPop Makassar ini membawakan lagu milik mereka seperti Beautiful Love yang diselingi oleh Fix You dari Coldplay.

The Joeys menutup penampilan dengan lagu andalannya, Beautiful Love di Musick Bus Fest #3

The Joeys menutup penampilan dengan lagu andalannya, Beautiful Love di Musick Bus Fest #3

Malam semakin beranjak, Tabasco melanjutkan event dengan lagu-lagu mereka. Hanya dua lagu, dan terus terang mengundang pertanyaan—saya dan beberapa orang di samping saya–, “Loh dua ji?”. Pertanyaan yang pelan-pelan saya lupakan hingga kemudian tiba waktu Melismatis hadir di panggung. Setelah membawakan lagu pertama, apresiasi kemudian patut diberikan kepada Juang, sang vokalis. Mengundang secara langsung penonton –yang sedari tadi hanya duduk–untuk berdiri dan merapat ke depan panggung. Ajakan yang kemudian bersambut. Dalam beberapa saat, Musick Bus Fest sempurna sebagai sebuah perayaan. Barangkali, ini juga tanda bahwa jika selama ini penikmat skena sering menjadi sasaran kurang mengapresiasi musik di tanah sendiri, yang jangan-jangan pelaku musik sendiri yang sebenarnya kurang “memanggil” untuk dinikmati.

Di ujung penampilannya, Melismatis kemudian memanggil kembali Tabasco. Pertanyaan saya beberapa saat yang lalu gugur seketika. Mereka berduet memainkan Streetlight, lagu dari Tabasco yang diaransemen ulang versi personil Melismatis dan Gloria milik Melismatis yang diaransemen menurut keinginan para personil Tabasco. Sebuah kejutan tentu saja, ada kolaborasi musik. Dan, saya menganggap, inilah salah satu suguhan paling menarik yang dihadirkan band Makassar tahun ini. Tabuhan Rendy (Tabasco) beradu pas dengan cabikan bass Hendra (Melismatis), lengkingan Artha (Tabasco) mengalir harmonis dengan teriakan-teriakan Ardhyanta ( Melismatis). Penampilan mereka kemudian ditutup oleh aplaus panjang dan rasa puas para penikmat musik yang hadir.

Kolaborasi apik Melismatis dan Tabasco di Musick Bus Fest #3 mengejutkan banyak penikmat musik Makassar akhir tahun.

Kolaborasi apik Melismatis dan Tabasco di Musick Bus Fest #3 mengejutkan banyak penikmat musik Makassar akhir tahun ini.

Musick Bus Fest edisi kali ini dikemas sangat baik. Mulai dari susunan talent yang seolah mengalir lancar menuju klimaks. Baik dari kualitas maupun materi-materi lagu. Diawali lagu yang agak sendu, beat-beat-nya kemudian bergerak semakin cepat hingga tiba giliran penampilan istimewa, Barasuara.

Pukul 22.00 WITA lewat sedikit, Tarintih mengalun dihiasi teriakan penonton dan mengantarkan Musick Bus Fest #3 pelan-pelan menyentuh klimaks. Penampilan pertama di kota ini, membuat Barasuara lumayan terkejut dengan antusiasme penonton yang mampu mengikuti setiap lirik lagu-lagu mereka. Mengunci Ingatan, Nyala Suara, Hagia, berturut-turut memacu adrenalin seluruh yang hadir di pertunjukan. Ukuran saya sendiri dalam menikmati event musik adalah saat aksi penampilnya mampu membuat saya terpejam. Dan, Barasuara, berhasil melakukannya.

Iga Massardi, Puti Chitara, dan Asteriska bahu-membahu menjaga harmonisasi vokal Barasuara.

Iga Massardi, Puti Chitara, dan Asteriska bahu-membahu menjaga harmonisasi vokal Barasuara.

Taifun, Sendu Melagu, Menunggang Badai, Bahas Bahasa mampu membuat saya terpejam beberapa kali. Penampilan Iga Massardi, Puti Chitara, Asteriska, TJ Kusuma, Gerald Situmorang dan Marco Steffiano betul-betul menemui klimaks di lagu Api dan Lentera. Teriakan, jingkrakan, dan tepuk tangan mengiringi eargasm yang diciptakan Bara Suara. “Lepaskan rantai yang membelenggu, Nyalakan api dan lenteramu”, lirik yang terus diulang dan seolah tidak ingin diakhiri. Bara Suara betul-betul membara.

Kualitas yang hadir di Musick Bus Fest #3 kali ini tidak terlepas dari pemilihan venue. Auditorium RRI menjadi salah satu atau mungkin satu-satunya lokasi indoor yang lumayan mumpuni menggelar sebuah event musik. Pernak-pernik music dan kopi yang dijajakan di gerbang, memberi nuansa festival yang tidak harus terlihat eksklusif. Kemasan yang mewah namun tetap terasa sederhana. Musick Bus Fest #3, menutup akhir pekan terakhir tahun ini dengan sukses.

Gerald Situmorang yang sering dipanggil GeSIt memang betul-betul gesit dan lincah mengelilingi panggung Musick Bus Fest #3!

Gerald Situmorang yang sering dipanggil GeSIt memang betul-betul gesit dan lincah mengelilingi panggung Musick Bus Fest #3!

TJ Kusuma tampak begitu kalem saat mendentingkan dawai gitar Barasuara yang berderu-deru.

TJ Kusuma tampak begitu kalem saat mendentingkan dawai gitar Barasuara yang berderu-deru.

Iga Massardi dan Marco Steffiano betul-betul 'membara' di atas panggung Musick Bus Fest #3 karena terpacu dengan semangat penonton.

Iga Massardi dan Marco Steffiano betul-betul ‘membara’ di atas panggung Musick Bus Fest #3 karena terpacu dengan semangat penonton.

Suara, butuh tiga hal untuk ada: Sumber, Medium, dan Penerima. Musick Bus telah hadir hingga tahun ketiga, berusaha dan cukup berhasil menjadi penghantar suara-suara tersebut, merambat dan tiba kepada kita. Dan, sudah sepatutnya, kita hadir bukan hanya dengan telinga namun mampu menjadi telinga itu sendiri. Peka dan tetap menjaga bara dalam suara. Salam!


Tulisan lainnya terkait dengan Musick Bus Fest

Panggung Memukau Milik Musisi Indie

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Musik Memegang Peranan Penting Untuk Kota

I’m (Not) A Creep, I’m (Not) A Weirdo

Penghormatan Penuh Loyalitas Untuk Oasis