Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Wawancara Hafsani H. Latief bersama SCALLER selepas tampil di Immortal Sickness Sale IntimateGIG.

Dalam acara Sickness Sale IntimateGIG yang berlangsung pada 3 Januari 2016 di pelataran parkir Immortal Shop Jalan Ratulangi, SCALLER hadir dan mengawali penampilan mereka tanpa basa-basi, langsung menghajar dengan musik yang tidak membiarkan tubuh berdiri diam.

Simply Called Reverse atau yang lebih dikenal dengan SCALLER, band alternative rock beranggotakan Reney Karamoy dan Stella Garreth, yang di awal perkenalan saya dengan musik mereka sempat membuat saya heran, ‘hah, Jakarta?’ Karena saya mengira mereka band dari luar Indonesia.

Mengakui bahwa Immortal Sickness Sale IntimateGIG semalam merupakan event pertama yang membawa mereka menginjakkan kaki di Makassar, hampir tak ada hal yang mereka ketahui soal Makassar selain coto. Untuk skena musik Makassar pun mereka sama sekali buta, namun diakui Stella bahwa musik di Makassar sedang berkembang. “Makassar itu berkembang. Belakangan live concert makin banyak. Baru-baru ini Barasuara baru datang juga, kan.”

SCALLER menghentak Immortal Sickness Sale Intimate Gigs, 3 Januari 2016.

SCALLER menghentak panggung Immortal Sickness Sale IntimateGIG, 3 Januari 2016.

Berbicara mengenai Stella dan Reney terkhusus banyaknya duo yang anggotanya berpasangan, Reney mengatakan bahwa mereka tidak bermain musik karena mereka adalah pasangan, dan hal tersebut jauh dari filosofi bermusik mereka. Menurutnya, bermusik membutuhkan koneksi antara satu musisi dan yang lain dan terciptalah musik dan motivasi yang saling menguatkan. Bagi mereka bermusik atau nge-band adalah pertemanan. Hal ini dibenarkan Stella, “Kita jauh dari kata ‘band romantis’. Pertama kali kita ngeband juga karena kita ngeband. Kita visinya memang karena kita bermain musik.”

Meskipun dunia SCALLER berpusat pada Reney dan Stella, mereka mengatakan bahwa band ini lebih ke nilai dari manusianya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mereka memiliki tim produksi, media, fotografer, yang semuanya terkoneksi.

SCALLER merilis 1991, EP pertama mereka pada Juni 2013. Mengenai proses pembuatannya, Reney mengatakan bahwa EP tersebut adalah satu langkah mereka dan sebagai cerminan dari musisi macam apa mereka pada saat itu. Mereka hanya menciptakan musik tanpa banyak memikirkan apa alasan mereka berkarya. Untuk lirik sendiri, mereka berusaha menyampaikan nilai sosial yang tidak lagi sreg bagi mereka pada saat itu. Mengenai penulisan lirik mereka yang semuanya berbahasa Inggris, Reney pun mengaku kesulitan dalam menulis lirik berbahasa Indonesia. Simak The Youth, lagu terbaru dari SCALLER berikut ini.

Selain membawakan lagu mereka sendiri, pada penampilan mereka malam itu, SCALLER meng-cover Bodysnatchers, salah satu lagu dari Radiohead. Ketika saya tanyakan apakah mereka bersedia melakukan hal yang sama terhadap lagu menye-menye yang lebih merakyat jika dimintai oleh penyelenggara, secara tersirat, mereka menjawab tidak akan melakukan itu. Reney memaparkan bahwa memikirkan musik mereka akan diterima atau tidak hanya akan menjadi penghambat mereka dalam berkarya. Makanya mereka tetap membebaskan diri dalam bermusik dan tentu saja berpikir positif semoga musik mereka disukai. “Kalau kami bermusik, mungkin terdengar sedikit naïf, tapi kami bermusik tanpa ada ketakutan kita akan diterima atau tidak.”

Saya menutup sesi wawancara dengan berbincang santai mengenai inspirasi mereka dalam berkarya. Apakah akan tercermin dalam album mereka yang akan keluar di kuartal pertama tahun ini atau tidak, kita tunggu saja.

Musik

Baik Stella, Reney maupun Dani (drummer SCALLER saat live), mengaku inspirasi bermusik mereka adalah hal-hal kecil dari sekelilingnya baik itu hal sosial maupun dari teman sendiri. Reney sedang mendengarkan Battles, juga band math rock dan komposisi minimalis. Musik yang didengarkan Stella pun tidak jauh beda dari Reney. Dia memaparkan, “Karena kita sering meluangkan waktu bersama dan ngobrol dan mengembangkan ide jadi kita lebih banyak meluangkan waktu bersama. Sama kayak komposer atau instrumental fusion. Kita mau mengembangkan di situ. Untuk satu track yang gak ada vokalnya juga kita pengen coba.”

Buku

Stella menyukai buku berseri atau membaca berurutan buku dari satu author yang sama. “Saya belum kelar baca Dan Brown. Sekarang sedang membaca Inferno.” Seperti Stella, Reney Untuk sekarang membaca buku karya Paulo Coelho. “Aku fans dadakan Paulo karena bukunya banyak bercerita soal mimpi dan gue adalah salah satu yang percaya tentang yang namanya mimpi.” Berbeda dengan kedua rekannya, Dani sendiri mengaku membaca komik One Piece.

Puisi

Mendengar lirik lagu-lagu SCALLER yang berbicara tentang isu sosial, hampir tidak ada kiasan di dalamnya. Bahasanya lugas. Dan diakui Reney kalau mereka tidak puitis. Mereka tidak membaca puisi. Tapi ketika saya bertanya kepada Dani, “Chairil Anwar, kan? Bukannya semua suka Charil Anwar,” jawabnya berkelakar.

Film

Mereka menyukai genre film yang hampir sama. Stella tergila-gila pada sci-fi dan dark comedy. Dia menonton series, khususnya Sherlock. Reney sebaliknya, dia menganggap series hanya buang-buang waktu, kecuali Game of Thrones. Reney dan Dani sama-sama menyukai film Christopher Nolan, The Prestige adalah film favorit Dani.

Seni Rupa

Selain musik, mereka cukup akrab dengan seni rupa. Di akun instagramnya, Stella suka memamerkan gambar karyanya. Stella menyukai seorang seniman German bernama Dirk Dzimirsky. “Kalau seniman dari Jerman, sukanya sama dia, karena tegas. Gue suka suprematis, jadi kayak blok-blok dan gambar dasar gimana dijadikan lebih kompleks. Gue juga suka hyper realism.”

Reney juga menyukai seniman Jerman, namun mengkhusus ke tattoo artist. Reney sendiri memiliki tattoo, bahkan dia mengabadikan judul EP-nya SCALLER, 1991 di lengan kanannya. Sama dengan Stella, Dani mengaku dia pun melukis meskipun tidak terlalu digeluti. Dari Stella diketahui bahwa Dani sedang mempelajari perspektif.

Situs Web

Selain website Music Radar atau web soal sound, Reney paling sering membuka dailymail.co.uk. Sedang Stella suka membaca blog Gunawan Wicaksono. Dani menjawab Google sebagai website yang paling sering dikunjunginya.


Baca artikel The Awesomer lainnya

Berbahas-Bahasan dengan Barasuara

Gaung dari Ruang-ruang Pikiran Sigmun

Di Balik Beranda Banda Neira

Melanjutkan Perjalanan untuk Kisah Langit yang Tersanggah

Merajut Inspirasi Berkarya Sajama Cut