Teks: Weny Mukaddas | Foto: Adin Amiruddin

Tahun 2017 adalah masa yang abstrak. Antara milennials yang dipuja-puja atau diumpat sebagai kemajuan peradaban atau dekadensi pengetahuan. Kita berada di ambang krisis antara intersubjektivitas dan intelektualitas. Setiap orang bebas berekspresi namun dibatasi oleh kebebasan berekspresi orang lain. Entah itu dalam bentuk twit war yang diwarnai sumpah serapah masing-masing golongan, hingga sensitivitas pejabat pemerintah terhadap opini pribadi masyarakat. Musik yang diklaim sebagai bahan penghiburan dan mampu terserap ke semua golongan pun bisa menjadi konten perselisihan yang berat.

Kita begitu mudah mencela selera musik seseorang, mencemooh jika orang lain menyukai musik yang menurut kita memiliki kualitas yang jelek. Tentang musik mainstream ataupun anti mainstream, entah itu musik underrated atau overrated. Adapun perdebatan tentang produksi musik analog dan digital. Tentang penghargaan produsen kapitalis penyedia musik seperti Spotify, Joox, dan lain-lain. Beberapa orang dari kita yang rajin mengikuti berita musik tentu sudah kenyang dengan isu-isu seperti ini.

Penting untuk menilik lebih jauh bahwa selera musik seseorang sangat bergantung dari aksesnya terhadap genre dan media musik sebelum kita saling mencemooh. Anak yang setiap hari hanya bisa mendengarkan musik dari televisi yang menampilkan kekayaan musik Indonesia tentu berbeda dengan anak yang bisa mengakses saluran MTV dari luar negeri. Referensi anak yang hanya mendengar musik dari radio jelas kurang daripada anak yang bisa mengakses internet mendengarkan lagu-lagu yang dia pilih sendiri. Akses media dalam kehidupan sehari-hari menjadi elemen penting terhadap selera musik seseorang. Taraf pengetahuan seseorang sangat bergantung pada seberapa banyak referensi yang bisa dia dapatkan.

Setiap orang memiliki proses sendiri mengenali musik dalam kehidupan sehari-seharinya. Pengalaman menjadi penikmat yang membuat musik mendampingi kegiatan sehari-harinya tentu berbeda dengan penikmat yang betul-betul memperhatikan kualitas dan nada musik yang didengarkannya. Level kenikmatan musik seseorang sangat ditentukan oleh pandangan dan dunia seperti apa yang ia miliki.

Ambiguitas terhadap musik mainstream dan anti-mainstream juga cukup membingungkan. Produk-produk anti-mainstrem yang awalnya dicaplok sebagai budaya tanding terhadap perlawanan musik yang dekat dengan kelas atas kini telah dimanfaatkan menjadi kapitalis baru, tempat mengeruk habis uang kalangan menengah. Musik indie pun menjadi kabur maknanya. Contoh yang paling besar dan nyata terlihat pada musik Jazz.

Pada awalnya, Jazz yang identik dengan ketidakteraturan adalah bentuk perlawanan masyarakat kulit hitam terhadap musik kulit putih seperti orkestra klasik. Kini, musik Jazz dianggap sebagai musik yang hanya dikonsumsi oleh kelas sosial atas. Media begitu mudah mengubah musik anti-mainstream menjadi mainstream-mainstream baru. Ketika seseorang membanggakan selera musiknya yang anti-mainstream, dan akhirnya menjadi tren yang dinikmati banyak orang. Label anti-mainstream pun menjadi kabur.

Kebutuhan terhadap dinamisme dalam dunia musik akhirnya menjadi penting. Melihat bahwa kita memiliki selera yang berbeda tanpa perlu mencemooh orang lain adalah konsep besar yang perlu ditanamkan dalam diri masing-masing. Hal ini bahkan perlu diterapkan tidak hanya dalam musik, bahkan dalam setiap hal yang lekat dalam kehidupan sehari-hari. Pluralitas yang membutuhkan dinamisme. Dinamisme yang dimaksud adalah filosofi sosial tentang perubahan budaya, pilihan individual dan masyarakat terbuka yang berkolaborasi. Dinamisme adalah tentang apresiasi terhadap proses evolusi yang kompleks. Term ini diterjemahkan oleh Virginia Postrel dalam bukunya The Future and It’s Enemies.

Pesta Rap Reunion (Paperclip-Boyz Got No Brain-Sweet Martabak-Sindikat 31) di Synchronize Festival 2017.

Pada tanggal 6 sampai 8 Oktober 2017 lalu, digelar acara musik yang cukup besar di Jakarta, Synchronize Fest. Acara ini mencoba menggabungkan semua genre musik: Metal, grunge, rock, hip hop, pop, altenative hingga dangdut. Sesuai tema acara, perhelatan ini merupakan bentuk dinamisme musik yang kuat. Semua selera terwadahi. Namun, tentu saja, masih saja ada paradoks bahwa musik yang memiliki penggemar paling banyak pasti ditempatkan di panggung paling besar dan luas. Synchronize Fest memang memiliki lima panggung dan banyak band yang tampil di waktu yang bersamaan.

Dynamic Stage, sesuai dengan tema acara, adalah panggung paling besar yang menunjukkan dinamisme bermusik. Di sampingnya ada Lake Stage, panggung kedua terbesar, sehingga seringkali masing-masing penonton terganggu oleh musik disebelahnya. Dua lainnya yang berukuran sama persis yaitu Forest Stage yang berada di areal pepohonan dan District Stage yang melambangkan kehidupan urban yang tak lepas dari musik. Sedangkan yang paling kecil yaitu Gigs Stage, berada di ruangan remang-remang penuh cat fosfor di dindingnya, melambangkan café atau pub di mana para pemusik biasanya mengawali karirnya di tempat seperti ini.

Jarang sekali kita temukan panggung musik yang sepi oleh penonton. Begitu menggetarkan melihat gerombolan orang yang mudah bekerja sama meyanyikan lagu beramai-ramai. Hampir semua penonton lancar melantunkan lagu-lagu dari musik bergenre folk dan keroncong, Payung Teduh. Begitu pula saat Naif tampil di panggung Dynamic Stage, semua orang bergembira sambil berjoget bersama-sama. Artis penutup, Glenn Fredly bahkan sempat menghentikan memainkan lagunya sendiri dan memandu penontonnya menyanyikan lagu Slank yang sedang tampil di panggung sebelahnya.

Dinamisme musik seperti acara ini seharusnya menjadi contoh bahwa kerumunan orang dengan selera musik berbeda-beda bisa berkolaborasi tanpa perlu adanya konflik. Ribuan orang menghadiri Synchronize Fest dan tiap-tiap panggung memiliki penikmatnya masing-masing. Hal tersebut adalah bentuk apresiasi paling nyata selama tiga hari acara berlangsung. Synchronize mampu menjadi prototype tentang pluralisme yang bisa diterapkan di negara kita yang krisis apresiasi.