Foto: M. Farid Wajdi ( @aiwajdi )

Istilah musik kontemporer yang seringkali diterjemahkan menjadi “musik baru” atau “musik masa kini” menyebabkan persepsi bahwa jenis musik apapun yang dibuat pada saat sekarang dapat disebut sebagai musik kontemporer. Padahal istilah kontemporer yang melekat pada kata “musik” itu bukanlah menjelaskan tentang jenis (genre), aliran atau gaya musik, akan tetapi lebih spesifik pada sikap atau cara pandang senimannya yang tentunya tersirat dalam konsep serta gramatik musiknya yang memiliki nilai-nilai “kekinian”.

Begitulah yang dikemukakan oleh Agus Budi Handoko, dalam blognya tentang Pembentukan dan Perkembangan Musik Kontemporer. Kerancuan istilah musik kontemporer sebagai “musik baru” pun diperkuat oleh pernyataan seorang tokoh musik di Indonesia yaitu Suka Hardjana dalam bukunya, Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini yang mengemukakan bahwa secara spesifik, musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah musik barat di Eropa dan Amerika. Namun, walaupun dapat mengacu pada sebuah pemahaman yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata seni maupun musik sama sekali tidak menunjuk pada sebuah pengertian yang per definisi bersifat normatif. Itulah sebabnya, terutama bagi mereka yang awam, seni atau musik kontemporer banyak menimbulkan kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Michael Gunadi Widjaja, salah satu komponis dan penulis musik yang dibimbing oleh maestro musisi kontemporer Indonesia, Slamet Abdul Sjukur, mengutarakan bahwa musik kontemporer seringkali dianggap oleh orang awam sebagai produk dari modernisasi atau salah satu pengejawantahan modern. Padahal nilai kekontemporeran dalam musik sudah dikenal sejak jaman Johann Sebastian Bach, karena pada jamannya saja, musik yang dimainkan oleh Bach saja telah disebut musik kontemporer.

Persepsi musik kontemporer yang seringkali dianggap “musik baru” ini pun hinggap dalam pemahaman saya sebagai orang awam yang menyukai dan mempelajari musik secara otodidak saat mengenal perbedaaan antara musik tradisional dan kontemporer. Pada awalnya saya mengira bahwa musik kontemporer merupakan penggabungan dari musik tradisional dengan musik kontemporer sehingga menghasilkan musik yang inovatif dalam pendengaran saya. Tetapi persepsi itu perlahan terbantahkan ketika saya menghadiri Bunyi Bunyi Perhalaman, sebuah music showcase yang diadakan oleh VonisMedia, Rumata’ Art Space dan  HiVOS, yang menghadirkan Yohan C. Tinungki pada edisi ke-sembilan.

Sekilas mengenai Yohan C. Tinungki yang dimuat pers rilisnya oleh Vonis Media, beliau adalah komposer dan musisi kontemporer yang sangat mengutamakan pendidikan musik. Komposer yang juga merupakan Dekan Fakultas Seni Musik Institut Kesenian Makassar ini telah melalui perjalanan panjang dalam karir bermusiknya.

Sejak 1984 – 1987, Yohan seringkali mengikuti acara festival dan acara pertunjukan musik di Makassar bersama grup bandnya, Pink Oxid yang mengusung musik semacam Pink Floyd. Selain itu ia juga bersama grup Bieffe mengikuti Festival Rock, Log Zhelebour. Di tahun 1985 ia menjadi bintang radio dan televisi Sul-Sel untuk jenis seriosa di Makassar. Di tahun 1993, ia mementaskan musik Rock Kontemporer bersama musisi dari Jawa Timur, Wirawan Prabowo. Saat itu Yohan memainkan Instrumen menggunakan perangkat komputer.

Yohan menyelesaikan magister musiknya di Institut Seni Indonesia di Jogja, dengan menggelar Konser Simfoni, Mixed Choir, Musik Bambu, Musik Elektronik, Musik Makassar, Musik Taganggong (adaptasi dari musik Filipina). Konser ini bercerita tentang seni budaya yang ada di pulau Sulawesi. Konser ini, juga dibalut dengan gaya musik kontemporer serta melibatkan 139 pemain, 50 penyanyi dan 13 penari. Konser ini dipentaskan di Taman Budaya Jogja. Pengalaman yang begitu banyak ini pun membawa saya semakin penasaran tentang penampilan Yohan C. Tinungki yang mempresentasikan beberapa karya kontemporer dalam set piano di Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-sembilan.

Sambutan Riri Riza selaku pihak Rumata’ Art Space membuka Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-9 ini menjelang pukul empat sore pada Minggu (17/5) lalu. Riri melihat Rumata’ Art Space bersama Vonis Media bersama HiVOS mulai banyak membuka jaringan untuk membuat program-program seperti ini. Juang yang mewakili Vonis Media pun mengatakan bahwa untuk edisi ke-9, mengungkapkan rasa berbahagia karena bisa menghadirkan Yohan, di samping kesibukannya yang padat sebagai dekan musik di Institut Kesenian Makassar. Syahriar Tato, rektor Institut Kesenian Makassar yang sore itu hadir pun memberi sambutan. Beliau mengungkapkan testimoninya tentang kegiatan music showcase ini. Dia mengharapkan jejaring yang ada sekarang dihimpun oleh Vonis Media bersama Rumata’ Art Space dan HiVOS bisa semakin meluas dan saling mendukung. “Karena dengan musik kita berinspirasi terhadap sesuatu yang kita ungkapkan,” menurut Syahriar Tato.

Sambutan Riri Riza selaku pihak Rumata' Art Space membuka Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-9 ini menjelang pukul empat sore pada Minggu (17/5) lalu.

Sambutan Riri Riza selaku pihak Rumata’ Art Space membuka Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-9 ini menjelang pukul empat sore pada Minggu (17/5) lalu.

Setelah sambutan dari ketiga orang tersebut, maka Yohan Tinungki yang merupakan penampil utama dari BBPH edisi ini pun didaulat untuk tampil mempresentasikan karyanya. Sebelum memainkan komposisinya, Yohan pun menjelaskan sekilas tentang Musik kontemporer. Seperti penjelasan yang saya jelaskan di atas, Yohan pun mengemukakan bahwa musik kontemporer itu adalah gaya musik Barat. Musik itu adalah sesuatu yang indah. Musik yang estetis. Konsep musik kontemporer mengadopsi sistem paralism. Konsep rasa dalam musik kontemporer, menyamakan semua musik Barat dalam semua waktu bersamaan. Musik kontemporer tidak lagi mengenal akord, tetapi lebih ke eksperimentasi.

Setelah Yohan memainkan komposisi pertamanya yang berhasil membuat saya geleng-geleng kepala karena takjub dengan yang ditampilkan, Yohan pun menjelaskan lebih jauh lagi bahwa musik kontemporer berasal dari Musik pada abad ke-16 itu diciptakan untuk raja-raja, ketika itu masih lebih sering mengangkat tuts, terutama para komposer-komposer musik klasik di Jerman. Sistemnya masih nada lawan nada. Kemudian ketika era komposer seperti Tchaikovsky dan Chopin, musik kontemporer pun mulai masuk ke era modern. Lalu muncullah musik tanpa akord alias kontemporer. Untuk karya Yohan sendiri terkait musik kontemporer, bisa melihatnya di website Kedubes Ceko di Praha.

IMG_9965

Yohan memainkan komposisi pertamanya yang berhasil membuat saya geleng-geleng kepala karena takjub dengan yang ditampilkan, sebelum dia menjelaskan lebih jauh lagi bahwa musik kontemporer.

Setelah penjelasannya yang cukup komplit itu, saya pun sempat bertanya tentang bagaimana caranya agar orang awam bisa memahami musik kontemporer itu sebenarnya seperti apa. Yohan pun menjelaskan bahwa untuk memahami musik kontemporer bagi orang awam adalah melalu edukasi musik.  Karena untuk memahami musik kontemporer harus mengerti musik konvensional, romantik, eksperimentasi ilustratif sekaligus. “Untuk memahaminya memang butuh proses, salah satunya edukasi, karena banyak orang bingung dengan musik kontemporer. Jadi jangan membuat musik kontemporer jika tidak mengerti,” ungkap Yohan di sela-sela sebelum dia memainkan komposisi keduanya.

Pada lagu ke-dua ini yang didominasi nuansa jazz, Yohan mengajak Rezki Ramadhan dari Terts untuk tampil bersamanya. Sekali lagi, saya kembali takjub dengan permainan pianonya. Makna musik kontemporer menurutnya pun semakin mencuat ketika dia memainkan komposisi yang kedua ini. Jazz yang memang berasal dari Barat pun dimainkannya dengan mudah tanpa kendala.

Riri Riza menjadi penanya berikutnya sore itu. Dia mengungkapkan kalau musik kontemporer yang dimainkan Yoha bisa dinikmati dengan bebas. “Jadi, bagaimana tanggapannya jika digabungkan dengan musik kontemporer dengan musik tradisi?,” tanya Riri.

“Sifat musik kontemporer yang mengabungkan dengan musik tradisional justru merusak tradisi lokal masing-masing kalau digabungkan. Musik Barat berasal dari budaya Barat dan Musik Indonesia adalah  Budaya Indonesia. Dua dunia yang berbeda. Mengapa berbeda? Masalahnya ada pada frekuensinya yang instrumennya berbeda-beda. Di Amerika hanya mengenal tangga nada diatonik. Sedangkan di Indonesia tangga nadanya macam-macam, mulai tangga nada pentatonik dan pentatonik. Selain itu untuk penggabungan semacam itu tidak boleh macam-macam ,karena butuh kajian yang mendalam, seperti kajian pustaka,” ungkap Yohan panjang lebar terkait pertanyaan dari Riri.

"Sifat musik kontemporer yang mengabungkan dengan musik tradisional justru merusak tradisi lokal masing-masing kalau digabungkan", ungkap Yohan di sela-sela menampilkan karyanya.

“Sifat musik kontemporer yang mengabungkan dengan musik tradisional justru merusak tradisi lokal masing-masing kalau digabungkan”, ungkap Yohan di sela-sela menampilkan karyanya.

Juang pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada Yohan tentang musik yang dimainkan Pink Floyd itu termasuk musik kontemporer atau seperti apa menurutnya. Yohan menuturkan secara singkat Pink Floyd itu bukan musik kontemporer, itu band pop rock saja. Saya yang sempat berpikir bahwa Pink Floyd yang telah mencapai kasta bermusik paling tinggi dalam ranah rock pun langsung dibantah secara sederhana pada sore itu.

Setelah sesi tanya jawab yang seru, Yohan  pun membawakan karyanya yang ketiga. Karya ini menurutnya gayanya noise, saling bertabrakan, tidak konsonan. Menurutnya musik kontemporer seperti ini “virus” jika dipelajari secara serius. Sebuah komposer bisa semakin melewati batas daya nalarnya ketika telah bisa menguasai musik kontemporer, namun bisa juga berdampak pada mentalitas yang mempelajarinya. “Jadi siapkan mental saja jika ingin mempelajari musik kontemporer,” ungkapnya sebelum memulai karyanya yang ketiga. Seperti yang saya sudah duga, aplaus panjang pun membahana ketika Yohan C. Tinungki selesai memainkan karyanya yang ketiga.

Para audiens yang hadir di Bunyi Bunyi Perhalaman pada sore itu betah mengikuti 'siraman' musik dari Yohan, yang memainkan segala komposisinya tanpa cela. Tak pelak, para audiens melakukan aplaus panjang setelah Yohan tampil.

Para audiens yang hadir di Bunyi Bunyi Perhalaman pada sore itu betah mengikuti ‘siraman’ musik dari Yohan, yang memainkan segala komposisinya tanpa cela. Tak pelak, para audiens melakukan aplaus panjang setelah Yohan tampil.

Setelah pertunjukan yang penuh inspiratif sore itu, saya bisa memahami–walaupun masih tetap secuil–musik kontemporer ternyata tidak seperti yang saya bayangkan dulu. Pemaparan Yohan yang kompleks pun menambah lagi banyak pemahaman-pemahaman baru yang sebelumnya terdengar asing di telinga.

Saya secara jujur mengungkapkan momen-momen istimewa seperti yang diciptakan Bunyi Bunyi Perhalaman seperti ini harus lebih sering dihadirkan dalam ruang alternatif publik terkhusus pada edukasi musik. Edukasi musik dengan pendekatan yang lebih membumi dan sederhana dengan tempat halaman ruang atau ruang terbuka hijau untuk dinikmati semua kalangan.

Mendengar kabar Bunyi-Bunyi Perhalaman menyisakan satu edisi lagi sebelum merilis album kompilasi, menyiratkan harapan agar Bunyi Bunyi Perhalaman tetap berlanjut lagi pada musim selanjutnya. Mari ki’!


 Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba