Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Perayaan Record Store Day 2015 yang diselenggarakan di Musick Bus Chapter Store pada hari Minggu (26/5) tidak hanya menyuguhkan parade penampilan 19 band yang 10 di antaranya merilis album dalam format CD dan Kaset. Pada pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, juga ada talkshow yang menghadirkan 4 orang tamu: Zulkhair Burhan a.k.a Bobhy dari Kedai Buku Jenny, Iko MD (Milisi Record), dan Daniel Mardhany (vokalis Deadsquad), Juang Manyala (Melismatis) bergabung 10 menit kemudian. Saya sendiri diberi kehormatan untuk memandu diskusi tersebut. Buat yang tidak sempat hadir dan menyimak, berikut “reka ulang” obrolan kami.

Barzak: Bagaimana pendapat kalian tentang Record Store Day?

Bobhy: Bagi saya Record Store Day bukan hanya sebuah event, tapi juga ruang yang penting bagi kota sebagai ruang distribusi gagasan, ruang bercerita tentang musik dan skena musik kota. Musik memegang peranan penting bagi kota, untuk membangun kota yang lebih hirau pada kesenian dan kebudayaan. Karena itu, penting bagi kita untuk merayakan Record Store Day

Daniel: Record Store Day setahu saya diawali di awal tahun 2000-an sejak musik digital “mengganyang” rilisan fisik pada saat itu. Jadi pelaku industri musik bikin acara kolektif yang disebut Record Store Day buat meningkatkan penjualan rilisan fisik lagi. Gua sendiri, sejak SMP kalo ke mall, cuma tertarik mengunjungi 2 tempat: toko buku, sama toko kaset. Gua seneng, bisa berjam-jam gue (di dua tempat itu. Red). Platform digital sih lebih buat ngebantu gua untuk nyari hal-hal yang gua suka. Tapi gua ga bakal ngeluarin sepeser pun buat beli musik digital.  Kalau suka, baru gua beli kaset, CD atau vinyl-nya. Format fisik penting buat gua sebagai arsip.

Iko MD: Saya sendiri baru tahu tentang Record Store Day sejak 2-3 tahun kemarin. Event di mana dalam satu hari kita merayakan rilisan fisik, juga menjadi momen di mana band-band indie merilis karya mereka. Menurut saya ini bagus sekali, karena jujur saja hampir 10 tahun kita terbelenggu dengan anggapan-anggapan yang tidak beralasan. Misalnya, banyak band-band yang tidak merasa jadi band kalau belum masuk Musica, Sony, atau major label lainnya. Dengan adanya Record Store Day, pesta perilisan fisik tidak lagi dimonopoli oleh major label. Saya dekat dengan major label, tapi saya bisa bilang “jangan masuk major label, ngapain?”. Tadi habis ngobrol sama Daniel di backstage, dia cerita kalau band-nya bisa jualan 1000 keping CD dalam sehari. Kalau masuk major label, prosesnya akan luar biasa rumit…

Daniel: Bayarnya belakangan lagi. (tertawa)

Iko MD:  (tertawa) Ya, dibayar belakangan, potongannya banyak, syaratnya banyak. Pokoknya ribet. Banyak band besar yang akhirnya keluar dari major label karena alasan-alasan seperti ini. Jadi teman-teman yang punya band yang punya cita-cita masuk major label, satu pertanyaan saya “untuk apa?”

Daniel: Di luar aspek bisnis, menurut gua sih, kalo nge-band sih sebaiknya jangan ngarepin duit. Duit itu sebenarnya efek samping dari apa yang lo lakuin. Efek utamanya, ya, seneng-seneng. Duit akan ngalir sendiri sih, kalo emang lo tau sistemnya, nge-link-nya, nanti duit yang bakal nyari kita.

Barzak: Beberapa hari yang lalu, saya sempat ngobrol dengan seorang teman yang mengutip laporan salah satu media besar di Indonesia tentang perputaran uang di industri musik indie yang mencapai puluhan trilliun pada tahun 2014. Angka itu tidak hanya berasal dari penjualan album atau penghasilan band dari fee manggung dan merchandise, tapi juga dengan menghitung kegiatan ekonomi dari sektor-sektor yang bersentuhan, dari promotor sampai ke percetakan (penjual rokok dan tukang parkir spesialis konser kayaknya nda masuk perhitungan deh), dari hulu ke hilir. Puluhan trilliun adalah angka yang fantastis, dan menunjukkan bagaimana kontribusi skena indie pada perekonomian negara. Bagaimana pendapat kalian?

Daniel: (Skena musik indie) sudah menjadi industri. Band gua, Deadsquad, untuk 1 desain bisa nyetak sampai 1200 kaos, udah kayak kaos partai (politik) kan? Itu dijual, dan laku! Beda dengan band-band di major label, yang laku malah yang ga official atau bootleg. Ini karena fans mereka ga seloyal band-band dari indie label.

Barzak (kepada Juang yang baru saja bergabung): Bagaimana pendapat anda tentang Record Store Day, dan apa perannya dalam perkembangan skena musik di Makassar?

Juang: Acara seperti Record Store Day ini menurut saya sangat penting bahkan berharga. Karena sebagai musisi, bagi saya rilisan fisik adalah simbol eksistensi karya.

Iko: Iya saya setuju, Record Store Day ini penting sekali. Saya bahkan bisa membayangkan kalau nanti di Indonesia akan ada 3 hari besar yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya: lebaran, tahun baru, dan Record Store Day.

Barzak: Saya sebenarnya malu berada di antara Bobhy, Iko, Daniel, dan Juang, yang bergelut di dunia musik, dan tentu saja, juga merupakan kolektor. Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir kali (benar-benar) membeli CD atau kaset. (format vinyl tidak usah disebut: pertama, saya tidak punya player-nya, kedua, tidak masuk budget) Saya harus mengaku kalau saya sudah lama sekali tidak pernah membeli musik, baik itu format digital maupun fisik. Kalian sebagai musisi, promotor, dan pemerhati musik, punyakah strategi khusus untuk mendekati orang-orang seperti saya agar benar-benar mau membeli?

Daniel: Kalau gua sih, sederhana. Media sosial yang gua punya gua manfaatin untuk menstimuli orang-orang yang liat media sosial gua untuk mau menyukai, mengapresiasi kemudian menikmati karya-karya musik dengan cara yang benar, dengan membeli.

Juang: Secara umum, di Makassar, saya sih maunya band-band di Makassar lebih meningkatkan kualitas, meningkatkan kepercayaan dirinya dalam bermusik dan lebih fokus untuk berkarya. Kalau hari ini bikin band, terus besok bikin band lain lagi. kalau seperti ini, sepertinya kita tidak menemukan prinsip dalam bermusik. Kalau ini sudah beres, baru kita mulai memikirkan untuk merilis karya.

Kami sendiri di Melismatis, band itu ibarat rumah, yang perabotannya berupa karya-karya kami, album adalah salah satunya. Kami membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapapun untuk masuk untuk menikmati karya-karya kami. Kalau suka, silakan beli album atau merchandise yang ada di rumah kami itu. Tapi orang tidak akan mungkin masuk ke rumah kami bernama Melismatis kalau pintunya selalu tertutup, atau kami jarang di rumah, atau kami membangun rumah baru yang orang lain belum kenali.

Daniel: Kalau lo suka musik, suka band, lo harus tau kalau produk utama setiap band adalah kaset, CD, atau piringan hitam. Kaos dan merchandise lainnya cuma pendukung lah. Kalo lo emang suka, mengekspresikannya harus konkrit. Misalnya, kalau lo suka Deadsquad, berarti lo mesti punya CD Deadsquad. Karena itu karya utama kita.

Iko: Sangat penting untuk membangun industrinya. Persoalan terbesar kita di Makassar adalah masih ada anggapan bahwa industri musik itu cuma di Jakarta. Kalau di Jakarta ada industrinya, berarti ada yang membangun. Pendapat saya, industri di Bandung malah lebih bagus dibanding Jakarta, karena orang-orang Bandung membangun industrinya sendiri. Ini juga bisa dilakukan di sini, bahkan sudah dilakukan. Di Makassar kita sudah punya Musick Bus dan Kedai Buku Jenny sebagai record store dan promotor band-band Makassar dengan membuat gig-gig seperti ini. Ada Vonis Record, Milisi Record, Chambers Record, Lucky Bastard dan beberapa label lainnya. Teman-teman yang punya clothing line juga memproduksi merchandise, dan meng-endorse band-band Makassar. Belum lagi bila teman-teman media rajin menceritakan kiprah-kiprah para musisi. Kalau masing-masing bergerak sesuai kapasitasnya untuk membangun industri, maka industri di Makassar bisa jadi kuat.

Daniel: Seharusnya sih, bangun industri di Makassar bisa lebih gampang dibanding Jakarta sih. Kalau di sini kan, ada acara seperti ini sepertinya semua orang saling mengenal, kalau di Jakarta sih sudah ga saling mengenal lagi. 

Bobhy: Skena musik Makassar sebenarnya saat ini sedang bergeliat. Sudah banyak bukti-buktinya, panggung yang semakin hari semakin relatif lebih banyak, rilisan di Record Store Day juga bisa kita lihat relatif lebih banyak. Sekarang bagaimana caranya agar rilisan fisik ini tidak berhenti jadi rilisan saja, tapi juga bisa hype. Tapi kita memiliki stok jurnalis yang terbatas, untuk menceritakan kiprah musisi dan perkembangan skena musik Makassar. Untuk membangun industri, saya rasa kuncinya ada di kolaborasi.

Dari bincang-bincang bersama keempat orang ini, saya semakin yakin bahwa kolaborasi–atau istilah PMP/PPKn-nya: gotong royong– harus terus didorong oleh mereka yang ingin melihat industri kreatif di Makassar atau di daerah manapun bisa terbangun. Dengan semangat kolaborasi, semua yang dulunya harus serba “do it yourself”, idealnya sekarang sudah bisa digotong-royongkan.

Menurut kamu, bagaimana peran event Record Store Day kemarin terhadap skena musik Makassar? Apa kamu setuju dengan pendapat Bobhy, Iko, Juang dan Daniel? You know where to leave a comment.

Cheers!