Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Jika boleh diibaratkan, MusikHutan 2015 adalah puncak penampilan band-band Makassar yang sering tampil wara-wiri di panggung musik kota Daeng setahun belakangan ini. MusikHutan menjadi satu jalan penasbihan tersendiri bahwa yang terbaiklah yang ikut berpartisipasi. Konsep yang unik juga turut menjadikan acara ini sebagai sesuatu yang lain. Bukan hanya soal penampilnya, namun lokasi dan suasana hutan membawa kita merasakan sisi rekreatifnya. MusikHutan, beda dan luar biasa. Dan Jumat 28 Agustus 2015,  Hutan Bengo-bengo membawa MusikHutan menyentuh edisi kedua. Tempat yang sama ketika acara ini memulai debutnya di kalender acara musik tahunan Makassar.

Tepat pukul 17.00 WITA, MusikHutan 2015 dibuka oleh penampilan Galeri Seni STIEM Bongaya menampilkan tarian Paduppa yang menyambut para penonton MusikHutan 2015 yang datang sejak awal untuk menikmati sajian musik selama dua hari dua malam di area camping Hutan Pendidikan Unhas. Sambutan yang bernuansa etnik ini mengesankan bahwa MusikHutan juga peduli dengan pertunjukkan tradisi yang mewakili kearifan lokal di antara musik-musik bernuansa modern yang menjadi suguhan utama MusikHutan 2015.

Tari Paduppa membuka MusikHutan 2015 menyambut para penonton yang bersiap menyaksikan pertunjukkan musik selama dua hari dua malam.

Tari Paduppa membuka MusikHutan 2015 menyambut para penonton yang bersiap menyaksikan pertunjukkan musik selama dua hari dua malam. (Foto: @Arist_Gi)

Setelah sambutan spesial tersebut, sudah saatnya untuk menyaksikan para penampil MusikHutan 2015 yang telah diwawancara oleh Revius sejak bulan Mei lalu. Melihat jadwal penampil yang diumumkan pada hari pertama, tampaknya penampil cukup beragam dari genre, mulai dari hip-hop ala LL Cool J hingga alternative rock ala Sonic Youth bersiap memanaskan kuping di tengah atmosfir udara yang meneduhkan badan yang diterpa angin sejuk dan mata yang sesekali ingin tertutup sejenak.

R.A.V.D pun menjadi penampil selanjutnya yang membawa aroma hip-hop yang kental dengan bass n’ drum yang khas dari ciri musik ini. “Sahabat” menjadi lagu pertama yang dibawakan oleh kuartet yang menamakan diri berasal dari singkatan nama mereka yaitu Radith, Adhie, Viqie dan Denis, mulai terbentuk pada bulan September tahun 2013. Walau penampilan mereka terlihat cukup simpel dari penampilannya, mereka juga tetap bersungguh-sungguh dalam persiapannya. Penampilan R.A.V.D yang duduk saat membawakan “Papua” cukup mampu menambahkan suasana dramatis tentang kerinduan mereka dengan kampung halamannya di Tanah Papua. Tampaknya nafas baru untuk kancah musik hip hop di Makassar ini mulai semakin berkibar setelah mereka sukses menjadi ‘magnet’ yang kuat di MusikHutan 2015.

MusikHutan_Revius

R.A.V.D menyanyi bersama “Sahabat”, membuka penampilan mereka.

Jeda setelah Maghrib menjadikan waktu tampil selanjutnya untuk Post Of Sun, duo gitar yang mengusung post-rock menurut mereka dalam wawancara bersama Revius untuk Musik Hutan 2015. Ekspektasi akan penampilan mereka yang mungkin saja serupa dengan Spaceandmissile ternyata berubah 180 derajat saat menyaksikannya secara langsung. Suara gitar yang kering untuk ukuran band yang mengatakan diri mengusung post-rock, entah disengaja atau tidak, malah terdengar membosankan. Bahkan lagu-lagu yang dibawakan tidak sepenuh lagu-lagu karya mereka sendiri. Jadi sempat terfikir, mengapa mereka tidak memikirkan konsep yang matang jika hanya tampil berdua saja untuk acara monumental seperti MusikHutan ini. Bisalah tengok penampilan duo Ruang Baca atau Stars and Rabbit sebagai contohnya.

d 1 2

Post Of Sun, duo guitar yang mengusung post-rock menurut mereka saat di MusikHutan 2015.

Setelah penampilan Post of Sun yang cukup mengecewakan, inilah saat Didit Palisuri dan M. Aan Mansyur hadir di panggung. Dua penyair dari Makassar ini tampil membacakan sajaknya masing-masing. Didit membacakan sajak tentang Kota Makassar yang ditulis oleh ayahandanya, Udhin Palisuri. Dan yang menarik, M. Aan Mansyur membacakan sajak-sajak yang terinspirasi dari lagu-lagu Theory of Discoustic. Judul-judul puisinya pun diberi judul “Theory of Discoustic: A Remix” . Pembacaan puisi adalah keteduhan lain yang dihadirkan di dua edisi MusikHutan.

d 1 3

Didit Palisuri dan M. Aan Mansyur dua penyair Makassar yang membacakan sajak-sajak istimewa di malam pertama MusikHutan 2015.

Setelah menikmati keteduhan puisi, suasana kembali riuh oleh EIEN, band yang sangat kental mengusung japanese rock. EIEN membawakan “4th Avenue Cafe” dan “Hitomi No Jyuunin”, dua lagu dari L’Arc~en~Ciel, band Jepang yang fenomenal di kalangan pecinta j-rock tentu saja. Selain itu, EIEN membawakan lagu dari band legendaris Jepang, Luna Sea berjudul “Tonight”. Dan tentu saja, kurang sah rasanya jika tidak membawakan soundtrack dari salah satu film anime. “Pegasus Fantasy” dari MAKE-UP feat Shoko Nakagawa yang merupakan original soundtrack dari Saint Seiya berhasil membawa sebagian besar penonton ikut bernostalgia ke masa kecil mereka.

d 1 5

EIEN band yang mengusung japanese rock, membawakan nuansa berbeda dengan lagu-lagu soundtrack kartun 90’an.

Di sela-sela peralihan dari satu talenta ke talenta yang lain, panggung MusikHutan adalah milik MC. Penampilan duet Clay dan Andi betul-betul luar biasa. Sembari menunggu talent yang akan tampil sedang prepare dan soundcheck, mereka mengisinya dengan candaan yang segar dan spontanitas yang terkesan “nakal” namun lucu. Bukan jokes murahan ala televisi atau acara-acara lain. Pengalaman mereka dalam berinteraksi terbukti mampu menghibur penonton, tawa dan tepuk tangan berulangkali terdengar di setiap candaan dua MC tersebut. Dua manusia lucu yang betul-betul menjadi keunikan tersendiri di MusikHutan.

d 1 13

Clay dan Andi, duo MC yang nakal namun lucu sepanjang MusikHutan 2015.

Sekitar pukul 21.00 WITA, The Vondallz menjadi tuan panggung berikutnya. Band yang telah memiliki satu album ini mengusung genre yang mereka sebut Folk Idiot, yang entah apa maksudnya. Genre yang coba diperlihatkan secara jelas dengan kemasan mereka di atas panggung, lewat kostum dan cara bernyanyi sang vokalis, serta lagu mereka “Lagu Perindu” dan yang cukup nyentrik, “Kawin Muda”.  Namun sayang, The Vondallz seperti terjebak dengan kemasan dan melupakan isi. Pesan dari lagu-lagu mereka seperti gagal sampai kepada para penonton. Hal ini patut menjadi catatan tersendiri bagi panitia MusikHutan dalam hal kurasi. Bagaimanapun, MusikHutan akan tiba di edisi ketiga (Amin!). Dan tentu saja, kualitas band-band yang tampil harus memiliki standar tersendiri.

d 1 6

The Vondallz, dengan genre Folk Idiot yang coba mereka perdengarkan di atas panggung MusikHutan 2015.

The Rock Company lalu ikut mewarnai malam pertama MusikHutan dengan blues yang mereka bawakan. Mereka membawakan lagu-lagu mereka sendiri yang kental dengan nuansa musik pop rock yang dimainkan dengan sangat rapi. Mungkin, Vebri sang vokalis memiliki warna vokal yang cenderung nge-pop memberi kesan seperti itu dengan materi-materi yang mereka bawakan. Dominasi Cakrabarani sebagai lead guitar begitu mencolok. Jujur saja ini cukup menutupi penampilan personil yang lain, yang sepertinya bermain untuk Cakra seorang.  Secara keseluruhan, penampilan The Rock Company cukup memukau dengan genre yang mereka usung.

d 1 8

The Rock Company menampilkan lagu-lagu terbaru mereka yang kental dengan nuansa pop.

SKA with Klasik menambah keragaman genre yang dihadirkan MusikHutan 2015. Kawanan penggeber musik ska ini terlihat begitu menikmati panggung MusikHutan 2015 meskipun Dhedhe terlihat mengalami masalah pada perangkat bass-nya. Membuka penampilan dengan “Gadis Manis di Waktu Manis” yang dibumbui dengan intro, membuat Hutan Bengo akhirnya berdansa. Beberapa penonton dari mancanegara dan panitia beranjak ke depan panggung menari bersama. “Cannabis” dari Ska-P, band ska asal Spanyol, dibawakan dengan apik oleh Ska With Klasik  yang menjadi lagu terakhir yang mereka bawakan di MusikHutan 2015.

d 1 9

Terhitung sejak Ska With Klasik tampil, suasana di MusikHutan 2015 semakin terasa akrab dengan banyak penonton yang turun berdansa mengikuti irama ska musik mereka.

Sebagai band terakhir di malam pertama MusikHutan 2015, ada MinorBebas. Band yang kalau boleh disebut, cukup berhasil memenuhi harapan para penikmat musik yang hadir malam itu. Tidak. Bassist-nya tidak membanting bass kali ini. Unsur alternative rock dan grunge yang kental dalam musik mereka mendapat sambutan hangat para penonton. Seolah-olah memacu adrenalin di tengah dinginnya malam di Hutan Bengo-Bengo.  Meski di pertengahan lagu, lagi-lagi ada masalah pada gitar dari Ichal (lead guitar). Radhitya Erlangga sebagai frontman patut diacungi jempol atas kemampuannya menguasai keadaan di atas panggung. MinorBebas sendiri, menggeber MusikHutan 2015 dengan lagu “I Don’t Wanna Be Adored”–menurut Radhit tentunya dengan nada bercanda, lagu ini tandingan dari mahakarya The Stone Roses–, “Simply Grey” yang katanya berkisar dengan kisah sang pemain bass Minorbebas,”Jalan Saja”,  “Learn to Fly” milik Foo Fighters, “Astigmatisma” yang merupakan milik mereka sendiri dan ditutup dengan membawakan “Breed” dari Nirvana.

d 1 10

MinorBebas, format band yang mengakhiri malam pertama.

Selepas MinorBebas, DJ Bian mengisi stage dengan alunan dan dentuman musik elektronik yang dia bawakan. Sedikit Beberapa penonton terlihat mulai terbagi. Ada yang tetap ikut menari bersama, dan ada juga yang kembali menuju pembaringan. Tepat pukul 00.00 WITA, seluruh pertunjukkan musik hari pertama MusikHutan selesai. Pemutaran sebuah film dokumenter yang bercerita tentang 9 skateboarder Indonesia menjadi penutup dari helatan hari pertama Musik Hutan 2015.

d 1 11

DJ Bian jauh-jauh datang dari Pulau Dewata, Bali menutup dengan apik musikhutan hari pertama.

Segala bunyi kembali ke tenda atau karpet masing-masing. Riuh rendah tawa seringkali terdengar mengiringi malam yang semakin larut. Purnama pelan-pelan bergerak ke barat, mengantar tubuh-tubuh penikmat MusikHutan 2015 menemui pagi, menuju pertunjukan yang lain lagi. []