Musisi Makassar yang bergerak secara independen sudah ada sejak tahun 90-an sampai sekarang. Beberapa grup atau individu yang tetap eksis, masih terus menelurkan single atau album terbaru. Beberapa pula ada yang telah bubar atau membentuk band baru lagi. 

Semangat para musisi kota Makassar untuk merilis karya mereka sendiri sepatutnya diapresiasi. Oleh karena itu, kami dari Tim Redaksi Revius secara sederhana ingin merekomendasikan beberapa band atau musisi indie Makassar yang seringkali kami dengar lagu-lagunya terputar di meja redaksi, menonton penampilan serta membeli album mereka. So, support your local musicians!


 

Rieski Kurniasari

HILITE

HILITE di tahun 2011 (Photo by: Suwandi Suleman)

Band indie Makassar kesukaanku adalah HILITE !

Ini bukan nepotisme ya, Meskipun salah satu personilnya gabung di Revius Band bersama saya. Ha ha ha. Waktu tahun 2010 lalu, saya tanpa sengaja mendengarkan lagu “Graffiti” di internet dan langsung suka! Lagu “Spirit of Young People” juga mantap. He he he. Silakan dengar lagu mereka di sini.

Sayang, band alternative rock ini entah bagaimana kabarnya sekarang. Padahal belum rilis album.


Barzak & Novidia

Myxomata

SoundInk-Myxomata-Revius

Myxomata di SoundInk (foto: M. Ifan Adhitya )

Barzak

Periode Juni-Juli tahun lalu, ketika Shakira dengan sukses menanamkan ulat theme song Piala Dunia-nya di telinga kita, saya melarikan diri ke pelukan Myxomata. Bisa dibilang “Langit Kita Sama” sudah menyelamatkan saya dari “La la la”.

Bukan itu saja alasan saya menyukai Myxomata, bila kamu tertarik, saya pernah menceritakannya di sini dan di sini.

 

Novidia

Myxomata! Satu-satunya!

Pertama kali mendengarkannya pada acara Menyimak ketiga yang diadakan Katakerja, dan langsung jatuh cinta.

Ada dua alasan saya suka nongkrong di akun Soundcloudnya. Pertama, karena sudah suka dan yang kedua adalah saya suka sekali judul-judul musiknya. Seperti sebuah ajakan untuk masuk ke dalam imajinasi, dan musiknya benar-benar sangat membantu ketika kita sedang berada di dalam dunia imajinasi itu.


Achmad Nirwan

Memilih band atau musisi indie favorit di Makassar serasa pilih kasih menurut saya jika hanya satu pilihan saja. Maka lebih baik jika saya menyarankan lima band atau musisi Makassar yang sedang saya minati karena musik dan keberanian mereka memainkan musik yang berciri khas di kancah musik indie Makassar.

 

1. Ska With Klasik

swk24

Foto: Herman Pawellangi

The Specials dan Mighty Mighty Bosstones langsung berputar-putar di kepala saya ketika mendengarkan musik mereka. Ska yang dipadukan rocksteady dengan apik dibawakan oleh Ska With Klasik cukup menarik perhatian saya. Terlebih lagi, mereka baru saja merilis album bertajuk Sehari Denganmu pada Sabtu pekan lalu. Kalian bisa baca ulasannya di sini.

 

2. Minorbebas

B86rcOKCEAM2lur

Foto: Minorbebas

Minorbebas adalah band alternative rock dengan corak grunge yang lebih mendominasi dan sedang ditunggu-tunggu album debutnya. Pertama kali menyaksikan mereka dengan nama Kamuflase di gigs Bebaskan Satinah, berganti nama lagi menjadi Ultrakultur di KBJamming Vol. 15 dan akhirnya menjadi Minorbebas.

Radhit, gitaris yang merangkap vokalis serta menjadi semacam-Trent-Reznor-dan-Marcel-Thee di band-nya, juga merupakan otak utama band ini dan sosok musisi paling gigih yang pernah saya temui. Oiya, dia juga sekarang bermain drum di Dead of Destiny dan Build Down To Anathema. Lama-lama saya kepikiran membuat Tribute to Radhit 🙂

3. Tabasco

 

HMToFest 2015 akhirnya ditutup dengan meriah oleh band Tabasco dengan membawakan ulang lagu daerah Indo’ Logo dalam versi mereka. Wah!

Tabasco di HMToFest 2015 Sabtu pekan lalu. ( Foto: M. Ifan Adhitya )

Saya senang mendengar nuansa musik british yang ditawarkan oleh Tabasco. Walaupun rada-rada mirip dengan beberapa band beraliran brit lainnya, saya senang mendengar suara sengau namun pas rasanya dari Artha, sang vokalis yang berpadu mantap dengan gebukan Rendy, betotan bass-nya Ilman dan Hamka, gitaris handal paling ‘dingin’ di atas panggung. Walaupun sudah terbentuk sejak tahun 2009, album perdana mereka belum jua keluar. Kabar baiknya, pada Record Store Day Makassar nanti mereka mau merilis album pertama. Semoga!

 

4. Fami Redwan

Fami-Redwan

Ilustrasi: Herman Pawellangi

Setelah karyanya dirilis menjadi album oleh Elevation Records dengan nama Fami_, saya semakin berharap banyak musisi Makassar yang bisa melebihi karya-karya inspiratif dari Fami Redwan. Tanpa bacot panjang lagi, lebih baik simak penjelasan beliau di sini.

 

5. Speed Instinct

1426610421143

Foto: Bebhen Oxter

Saya memilih band beraliran alt-rap rock ini selain karena selain masih terlibat ikut tampil bersama mereka, mereka berani mengeksplorasi beberapa warna musik rap rock baik yang old school maupun modern dan memadukannya sesuai karakter masing-masing personil yang memiliki selera musik yang beragam, dari grunge a la Nirvana sampai hip hop a la Beastie Boys.

Saya sebagai salah satu personil cukup bersyukur bisa bergabung dengan Speed Instinct yang selalu penuh dengan kisah suka dan duka dalam menghadirkan karyanya. Bayangkan saja, menyatukan dan mempertahankan  lima ‘isi kepala’ yang berbeda dalam satu band itu harus penuh kesabaran ekstra dan mencegah sedini mungkin keluarnya perang urat syaraf. ha ha ha.

Akhirnya pula, album perdana Speed Instinct bertajuk Real Eyes Realize Real Lies bakal dirilis bertepatan dengan Record Store Day Makassar pada 26 April nanti. Sebelum kalian bisa membelinya, saya sarankan untuk mendengar preview album-nya di sini. Mariki’!

FRONT-COVER_small

Beli nah cess di Record Store Day Makassar tanggal 26 April 2015 nanti! (Desain: Ayif09 )


Aisyah Azalya

The Joeys

Foto: The Joeys

Foto: The Joeys

Saya suka sekali dengan lagu The Joeys yang berjudul “Beautiful Love”!

Band yang memiliki corak musik britpop yang saya dengar mirip dengan Tabasco (kalau tidak salah,ya) memang menarik perhatian saya secara audio. Walaupun saya jarang menonton penampilan mereka, setidaknya saya tahu ada karya musisi Makassar yang asyik didengarkan. Yeay!


 

Herman Pawellangi

Melismatis

swk9

Melismatis di launching album Ska With Klasik ‘Sehari Denganmu’ pada Sabtu pekan lalu.

Salah satu band Makassar yang saya sukai dari musik dan aksi panggung mereka! Jika Melismatis tampil, saya berusaha untuk menyempatkan untuk datang menonton mereka sekaligus mengabadikan mereka dari lensa kamera saya seperti di bawah ini.

Ardhyanta, vokalis dari Melismatis di launching album Ska With Klasik 'Sehari Denganmu'

Ardhyanta, vokalis dari Melismatis di launching album Ska With Klasik ‘Sehari Denganmu’

swk13

Juang ‘menghajar senar gitarnya!

swk11

Adam di departemen perkusi dan synth.

swk10

Arif yang juga bertanggung jawab untuk bagian synth dan bebunyian unik di Melismatis.


 

M. Ifan Adhitya

FrontXSide

Berhubung saya lebih sering memotret aksi panggung band-band indie/lokal makassar seperti Theory of Discoustic, Tabasco, Melismatis, Paniki Hate Light, FrontXSide, Harakiri dan banyak lagi band keren Makassar lainnya. Jadi, saya agak bingung paling suka sama salah satu band saja. he he he

Mulai dari yang beraliran pop sampe metal sekalipun, saya menikmati musik dan aksi mereka saat tampil. Bahkan semakin suka lagi kalau band tersebut punya aksi panggung yang menarik untuk di dokumentasikan oleh kamera saya seperti aksi FrontXSide ketika tampil di Kukar Rockin’ Fest di sini 🙂


 

Chairiza

 Ruang Baca

Ruang Baca, duo folk akustik rupawan ter-gres yang juga merupakan penggiat aktif di Katakerja.

Ruang Baca, duo folk akustik rupawan ter-gres yang juga merupakan penggiat aktif di Katakerja. (Foto: A. Bayu Indra)

 

Ruang Baca merupakan duo folk akustik yang rupawan ini terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, mengundang rasa penasaran saya untuk melihat penampilan mereka untuk pertama kalinya.

Selain lihai memainkan alat musik, keduanya merupakan penggiat aktif di Katakerja, sebuah perpustakaan yang asyik di bilangan Wesabbe. Lewat musik, Ruang Baca berusaha mengampanyekan gemar membaca lewat lirik yang ditulis di lagunya. Beberapa lagu yang mereka bawakan yang pernah saya simak antara lain “Di Balik Jendela”,”Disleksia”, “Diam-diam” yang merupakan musikalisasi puisi Ibe S Palogai, serta “Terbangnya Burung”  yang juga merupakan Musikalisasi puisi dari penyair termasyhur, Sapardi Djoko Damono. Kalian bisa dengar juga lagu mereka di sini.

Kabar terbaru mereka sedang mengerjakan EP album terbarunya. Wah! sudah tidak sabar untuk mendengarnya.


 

Joem Pelenkahu

Theory of Discoustic

ok revius 08

Theory of Discoustic di Rollingstone Musicbiz (Foto: M. Ifan Adhitya)

Saya senang mendengarkan lagu ini ketika bekerja di kantor. Ha ha! Album mereka yang bertajuk Alkisah memang luar biasa dan merupakan salah satu masterpiece mereka menurut saya. Bayangkan saja, album mereka diulas oleh Achmad Nirwan dan Aan Mansyur di web ini. Kalian bisa baca tulisannya di sini.


 

Arkil Akis

The Game Over

hqdefault (1)

Sumber Gambar: The Game Over

Waktu SMA, saya suka band The Game Over. Alasannya sederhana, saya suka punk. Saya juga suka “Bulu Ayam” atau “Bhulu Ayam” yah yang benar? entahlah! Dari nama saja band tersebut sudah membingungkan dan sudah tergambarkan bahwa mereka jenaka.

Sekarang, lagi tergila-gila dengan Theory Of Discoustic. Selain karena lagu mereka berisi penafsiran ulang lirik-lirik tradisional (bisa bikin merinding!), juga dari segi musikalitas, mereka adalah talenta musik terbaik kota Makassar untuk saat ini.


 

Artikel lainnya dari Revius’ Editors

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival