Sumber Gambar: Falcon Pictures ( @FalconPictures_ )

Kebanyakan film Indonesia yang kita temui di bioskop sulit terpisah dengan pesan moral yang digamblangkan. Seperti takut kalau penonton tidak punya cukup ilmu untuk menyerapnya. Semua hal harus diperjelas, agar penonton bisa tahu mana yang baik dan menjauhi yang buruk. Kegamblangan yang sama juga saya temukan di My Stupid Boss. Film karya Upi Avianto yang diangkat dari novel berjudul sama, karya seorang penulis dengan nama pena Chaos@work.

Bayangkan, sebuah komedi yang saya pikir akan senantiasa murni dengan kelucuannya, tanpa direcoki tuntunan baik-buruk, justru secara mengejutkan diakhiri dengan sebuah dakwah yang menguliahi saya cara melihat dan berpikir yang semestinya. My Stupid Boss mengingatkan saya yang hidup di negara yang tidak sepenuhnya demokratis, bahwa kebebasan berpikir dan berekspresi kita masih terkungkung, tapi sebagai warga negara, kita juga dituntut berpikir positif dan baik terhadap pemerintah, bersyukur dan menerima.

Film tersebut sebenarnya sejak awal telah dianugerahi kemampuan memikat mata dan hati. Visual, itu pesona yang paling kuat yang dimilikinya. Menyaksikan My Stupid Boss seperti dibawa ke dalam dunia sinema a la Jean Pierre-Jeunet, khususnya di filmnya yang berjudul Amelie (2001). Penampilan karakter utama, Diana, yang diperankan Bunga Citra Lestari, sepertinya juga dibuat berdasarkan penampilan Amelie. Secara psikologis kedua karakter ini berbeda, tapi satu hal yang sama, mereka sama-sama gampang disukai. Diana memiliki suami yang sepertinya lebih peduli pekerjaan tapi tak mengapa baginya, ia masih bisa menikmati hari-harinya dengan semangat mudanya. Diana independen, walau suaminya sudah memiliki pekerjaan, ia juga masih ingin berkarir, ia masih berharap bisa bekerja lagi. Well, mungkin Diana tidak independen, mungkin ia workaholic saja, tapi tetap saja Diana menyenangkan. Dan mungkin karena film ini mengikuti narasi yang ada dalam kepala Diana yang punya banyak sudut pandang jenaka dan kritik sosial, membuat ia makin menarik. Konflik dalam hidup Diana akhirnya muncul, seiring dengan harapannya bisa bekerja lagi akhirnya terkabul.

Penampilan karakter utama, Diana mengingatkan pada sosok Amelie dalam film karya Jean Pierre-Jeunet.

Penampilan karakter utama, Diana mengingatkan pada sosok Amelie dalam film karya Jean Pierre-Jeunet.

Bos baru Diana dipanggil Bossman, diperankan dengan sangat licik nan kocak oleh Reza Rahadian. Penampilannya akan mengingatkan kita dengan tampilan Irving Rosenfeld yang diperankan Christian Bale dalam American Hustle (2013). Bagian belakang kepalanya berambut gondrong, sementara bagian depannya botak, berkumis lebat, dan berperut buncit. Saya tak bisa bilang Diana dan Bossman adalah dua orang yang bertolak belakang, karena percayalah, bukan cuma Diana, semua orang yang menjadi karyawan Bossman membencinya sampai mati. Dan andai saja ini bukan komedi, bahkan saya sebagai penonton pun pasti akan membencinya juga. Semua orang yang bekerja di perusahaan dengan atasan yang buruk, pasti akan menemukan sosok bos mereka dalam karakter Bossman; kikir, manipulatif, egois, tiran. Semua pegawainya merasa tertindas namun tak melawan, hingga akhirnya Bossman mempekerjakan Diana. Diana juga tertindas seperti rekan kerjanya yang lain, tapi ia menyadari itu dan memutuskan membakar semangat perlawanan.

Serupa yang dikatakan Andi Burhamzah (sutradara muda asal Makassar), bahwa menuangkan ide ke dalam tulisan itu mudah, sementara menuangkan tulisan dalam bentuk visual itu yang susah. My Stupid Boss diangkat dari sebuah novel berseri, dan usaha kreatif Upi mentransformasi cerita novel bisa dinikmati dalam bentuk visual layak dipuji. Di Indonesia, ini merupakan film yang dengan mudahnya bisa terhubung dengan banyak orang, karena Indonesia yang merupakan negara yang disentuh kapitalisme juga berhasil memproduksi pekerja-pekerja yang tertindas. Apa yang tak disangka-sangka adalah ternyata penderitaan tersebut bisa dibuat lucu. Lucu yang menggembirakan, karena sejak awal hingga mendekati konklusi cerita, walau kita dibuat tertawa, di saat yang sama kelaliman Bossman tidak diagung-agungkan, sementara penindasan yang dialami pegawai-pegawainya tidak dikerdilkan. Secara sama rata, si tukang lalim dan yang tertindas sama lucunya.

Semuanya menggembirakan hingga akhirnya kita dibawa masuk ke dalam konklusi cerita. Bagian yang seolah dijadikan permintaan maaf dan dibuat menjadi inti cerita. Film ini, tanpa sadar menyuarakan bahwa apa yang kita saksikan sejak awal tidaklah penting, sebuah proses tidak memiliki makna, karena hasil akhirlah yang penting. Konklusi tersebut menghapus komedi yang telah dibangun sepanjang film, ia menjadi tak lagi layak ditertawakan. Ternyata kesadaran sosial Bossman sangat tinggi di luar kantornya. Dia diam-diam ingin merenovasi sebuah panti asuhan yang tak layak huni bagi anak-anak yatim-piatu. Ini membuat Diana luluh, memaafkan si bos dalam hati dan bersimpati padanya. Yang benar saja? Bagaimana bisa ini menjadi rasional? Bahkan untuk ukuran komedi. Sebuah bos yang tiran tiba-tiba berempati kepada anak yatim-piatu. Jika si bos belum punya rasa empati kepada seluruh karyawannya, mengapa ia mesti jauh-jauh berbaik hati kepada anak yatim-piatu? Bagaimana saya bisa percaya dan bersimpati kepada manusia seperti itu? Apa yang coba film ini ajarkan? Bahwa semua orang, bahkan yang jahat sekali pun punya sisi yang baik? Bahwa 14 pemuda yang memperkosa Yuyun juga sebenarnya adalah orang-orang yang punya sisi baik? Tentu saja saya paham itu, saya yakin semua orang juga paham, tapi apakah itu lantas bisa menjadi apology untuk melepaskan mereka dari hukuman?

Saya tak bilang bahwa Bossman layak dihukum, alih-alih diberi empati di akhir cerita. Hanya saja, jelas sekali bahwa konklusi ini sarat akan pesan moral yang sangat mengarahkan cara-pikir penonton, alih-alih membebaskan. Upi seakan ingin mengatakan, satu-satunya ruang hukum yang tersedia bagi karakter Bossman-nya adalah bahwa sebenarnya ia karakter yang baik hati, prasangka karyawan-karyawannya yang tertindas saja yang salah. Sesuatu yang mengingatkan saya kepada mantan presiden kita yang banyak orang ingin memberinya gelar Pahlawan Nasional.

my stupid boss posterMy Stupid Boss | Sutradara: Upi | Produksi: Falcon Pictures | Tahun: 2016 | Genre: Komedi | Rating : 2/4 Bintang

Baca tulisan lainnya

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016

The Force Should Not Be Awaken

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali