Solidaritas untuk Pandang Raya semakin terus berkumandang, setelah hunian warga di tanah Pandang Raya diratakan oleh pihak eksekutor dan aparat yang semena-mena dua pekan lalu. Kedai Buku Jenny pun ikut menggalang donasi solidaritas untuk Pandang Raya dengan menggelar KBJamming Vol.15: “Solidarity for Pandang Raya”, Rabu (24/9) lalu. Berikut pengamatan Achmad Nirwan tentang suasana KBJamming Vol. 15 tersebut. (Foto-foto oleh M. Ifan Adhitya |@ifandfun)

Penggusuran, sebuah masalah klasik yang akrab ditemui di kota besar yang penuh dengan unsur kapitalisme, di negara mana saja. Di kota-kota besar, pengusuran sebuah pemukiman yang dianggap kumuh, masih terus ada dan semakin merajalela.

Tidak terhitung lagi jumlah penggusuran di kota besar dengan dalih “penertiban”  oleh pemerintah untuk mempercantik kota. Hal-hal yang timbul dari efek penggusuran bisa meliputi semakin lebar jarak kesenjangan antara si kaya dan si miskin, merusak kestabilan kehidupan sehari-hari seperti bekerja dan bersekolah serta lenyapnya aset hunian yang menjadi tempat berlindung.

Sebuah daerah pemukiman di Kecamatan Panakukkang bernama Pandang Raya pada Sabtu (12/9) pun tidak luput dari aksi penggusuran semena-semena oleh oknum yang menjadikan aparat sebagai tameng untuk melakukan “penertiban” di daerah hunian mereka.

Menurut blog Perang Pandang, Kasus Pandang Raya bermula ketika pada tahun 1998 seorang pemodal bernama Goman Wisan tiba-tiba menggugat warga dan mengklaim kepemilikan atas tanah seluas 4000 m2 yang dihuni 46 Kepala Keluarga. Proses hukum yang timpang dan tidak berimbang menyebabkan warga diharuskan menerima vonis hukum yang prosesnya tak pernah mereka ketahui.

Eksekusi pun berulangkali dilakukan oleh pihak pengadilan. Eksekusi pertama pada 12 November 2009, eksekusi kedua pada 30 November 2009 dan eksekusi ketiga pada 23 Februari 2010. Setiap eksekusi yang dilakukan selalu mengalami kegagalan karena proses putusan pengadilan yang cacat. Pada tahun 2013 pun aksi perlawanan tetap berlangsung antar warga melawan aparat.

Pada tahun 2014, perjuangan warga mempertahankan hak huniannya makin di ujung tanduk. Surat yang datang mendadak tiga hari sebelum waktu penggusuran, membuat warga semakin merapatkan barisan menanti kedatangan pihak eksekutor. Persiapan pun dilakukan dengan melakukan blokade jalan agar pihak eksekutor tidak bisa seenak jidatnya memasuki kawasan Pandang Raya.

Namun, perlawanan warga Pandang Raya yang sangat sengit, diakhiri hari itu dengan tanah Pandang Raya telah diratakan dengan tanah, dengan tiga ekskavator oleh 700 pasukan Brimob, puluhan preman dan dua water cannon yang diturunkan.

Perjuangan panjang warga Pandang Raya yang pantang menyerah dan tak mau menemui jalan buntu ini, menyadarkan para kolega di Kedai Buku Jenny melakukan aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk membantu warga Pandang Raya. Salah satu caranya adalah lewat KBJamming, sebuah sajian musik tentang kota yang secara reguler digelar oleh Kedai Buku Jenny.

KBJamming yang setiap edisinya sering dilaksanakan di Garasi Aaron Swartz milik Kedai Buku Jenny, untuk pertama kalinya dihelat di tempat yang berbeda. Taman FISIP Unhas—juga akrab disebut Taman Sospol Unhas— yang luas dan teduh dengan pepohonan pun dipilih Kedai Buku Jenny untuk menghelat KBJamming edisi ke-15 yang bertajuk “Solidarity for Pandang Raya: Ide Kami Terus Bergerilya” pada hari Rabu, 24 September 2014.

Kedai Buku Jenny pun mengajak lima grup musik untuk tampil di KBJamming edisi ke-15 ini. Ultrakultur, Valuenary, Speed Instinct, Meet Me at The Library dan HITS dari Himahi Unhas, menjadi partisipan panggung solidaritas, sembari mengajak seluruh civitas kampus tanpa terkecuali serta masyarakat umum mau bersolidaritas membantu warga Pandang Raya, baik dari segi donasi maupun logistik.

Gelaran yang sejatinya dimulai pukul 15.00 WITA, baru bisa terlaksana pada pukul 17.00 disebabkan oleh beberapa kendala teknis, seperti sumber listrik yang digunakan untuk kegiatan di luar ruangan dan beberapa equipment yang kurang lengkap untuk digunakan para penampil. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat para awak Kedai Buku Jenny untuk tetap menggelar KBJamming ini.

Ultrakultur membuka pangggung KBJamming Vol. 15 dengan menyanyikan repertoar grungy “Negative Creep” milik Nirvana. Radhit pun menggenjot senar gitar Fender Jaguar-nya, yang didukung dengan rhythm section padat dari Endi yang membetot bass dan Omar yang menggebuk drum. Mereka pun melanjutkan dengan “Breed”, masih dari Nirvana. Sekedar info saja, Ultrakultur adalah band yang sebelumnya bernama Kamuflase. Namun karena beberapa pertimbangan dan perubahan formasi, mereka mengganti namanya dan masih berkutat dalam “underconstruction and decoration brain mapping”, menurut bio di akun Twitter mereka.

Ultrakultur, trio grunge yang ikut berpartisipasi dalam KBJamming Vol.15

Ultrakultur, trio grunge yang ikut berpartisipasi dalam KBJamming Vol.15. (foto: M. Ifan Adhitya)

“Lagu berikut, tentang hak hidup yang semakin mengalami kesenjangan, seperti langit dan bumi. Dan lagu ini ditulis oleh teman saya, Dave Grohl.”, ucap Radhit sebelum membuka intro lagu “Times Like These”. Lagu milik Foo Fighters yang diciptakan oleh Dave Grohl—yang sejatinya belum tahu siapa Radhit—ini bisa jadi dibawakan Ultrakultur sore itu karena memiliki satu tema yang mengena: penggusuran.

Valuenary pun selanjutnya mengisi panggung tanpa barikade ini dengan membawakan “Run” dan “Earth” yang bakal hadir di album perdana mereka. Bothay, yang merupakan satu-satunya vokalis perempuan sore itu, bersemangat mengajak audiens untuk mau menyumbangkan donasi maupun sumbangsih apa saja untuk membantu warga Pandang Raya. Riuh rendah tepuk tangan dari yang menonton pun mengakhiri penampilan Valuenary yang memukau.

Valuenary, menjadi sumber semangat gelaran KBJamming Vol.15 dengan lantunan vokal Bothay, sang vokalis.

Valuenary, menjadi sumber semangat gelaran KBJamming Vol.15 dengan lantunan vokal Bothay, sang vokalis. (foto: M. Ifan Adhitya)

Speed Instinct menjadi penampil berikutnya dalam menghadirkan lantunan nada-nada yang bergerilya untuk Pandang Raya. Terhitung 3 lagu yang dibawakan oleh mereka yakni “Same Inside, Same Outside”, “What Is Justice?” dan “Order Out of Chaos”, dihantam mulus oleh pasukan alt-rap rock dari area Kandea ini. Kevin X-Leo, sang vokalis pun mengucapkan hal yang serupa seperti Radhit dan Bothay, mengajak para audiens untuk bersolidaritas. “Kalau bukan kita, siapa lagi?”, tuturnya.

Speed Instinct dengan repertoar ganasnya, membakar semangat penonton untuk berdonasi dan bersolidaritas di KBJamming Vol. 15 (foto: M. Ifan Adhitya)

Speed Instinct dengan repertoar lagu yang membakar semangat penonton untuk berdonasi dan bersolidaritas di KBJamming Vol. 15. (foto: M. Ifan Adhitya)

Sayangnya, Meet Me at The Library yang merupakan duo folk akustik paling gres asal Kota Daeng dan HITS dari Himahi Unhas, urung tampil karena KBJamming Vol. 15 harus selesai tepat pukul 18.00 WITA. Hal ini disebabkan oleh persoalan tenggat waktu acara yang diberikan oleh pihak kampus kepada Kedai Buku Jenny.

Speed Instinct pun menutup di KBJamming Vol. 15, dikarenakan Meet Me at The Library dan HITS urung tampil (foto: Kedai Buku Jenny)

Speed Instinct pun menutup di KBJamming Vol. 15, dikarenakan Meet Me at The Library dan HITS urung tampil. (foto: Kedai Buku Jenny)

Terlepas dari tenggat waktu yang cukup ketat dari pihak kampus, ada-ada saja hal menyenangkan yang tidak terduga. MC Alisan Angela yang tidak henti-hentinya ikut mengajak para penonton KBJamming bersolidaritas dalam bentuk apa saja di sela-sela berlangsungnya gelaran, akhirnya membacakan hasil perolehan donasi secara keseluruhan di puncak acara. Cukup membahagiakan juga mendengar hasil perolehan donasi yang mencapai nominal Rp. 700.000,- dalam waktu 1 jam saja!

Kedai Buku Jenny selalu tidak pernah melewatkan  momen berlapak ria untuk berjualan buku-buku dan CD, tidak terkecuali di KBJamming Vol. 15 (Foto: Ahmad Tarikhul Haq)

Kedai Buku Jenny selalu menggelar lapakan untuk berjualan buku-buku dan CD, tidak terkecuali di KBJamming Vol. 15. (Foto: Ahmad Tarikhul Haq)

Aksi solidaritas untuk Pandang Raya yang terbingkai dalam KBJamming edisi ke-15 ini, bisa jadi belum seberapa dibanding perjuangan warga Pandang Raya yang tidak pernah berhenti memperjuangkan hak hidupnya. Aksi solidaritas yang serupa tidak boleh berhenti begitu saja dan harus berkelanjutan agar isu perkotaan seperti ini tidak cepat menguap.

Tidak hanya untuk Pandang Raya saja, tetapi untuk warga di Buloa (Tallo, Makassar), Rembang (Kendeng Utara, Jawa Tengah), Kali Baru (Jakarta Utara) dan Teluk Benoa (Bali) sekalipun. Mereka masih membutuhkan banyak sumbangan materiil dan semangat untuk tetap bertahan di tempat tinggal yang seharusnya menjadi aktivitas normal keseharian mereka.ak

Banyak cara untuk bersolidaritas untuk Pandang Raya. Tidak banyak orang yang punya keahlian untuk turun ke jalan, melempar bom molotov dan menghadang aparat yang berdiri mengangkang. Kalian bisa membuat pagelaran yang serupa seperti ini, bikin kaos donasi, membuka jasa pembuatan website dan sebagainya, yang bertujuan menggalang bantuan untuk warga Pandang Raya.

Salah satu cara bersolidaritas yang belum lazim yaitu membuka jasa pembuatan website untuk membantu donasi warga Pandang Raya (courtesy: Joem)

Salah satu cara bersolidaritas yang unik yaitu membuka jasa pembuatan website untuk membantu donasi warga Pandang Raya (courtesy: Joem)

Oleh karena itu, ayo bersolidaritas untuk siapa saja yang membutuhkan. Karena bila hari ini Pandang Raya dibiarkan, mungkin besok adalah RUMAHMU.

P.S. Untuk informasi lebih lengkap tentang Pandang Raya, bisa membuka http://www.perangpandang.wordpress.com/