Oleh: Al-Fian Dippahattang(@pentilmerah)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Daun jendela yang berjejer dan berbahan kuat itu

sekarang menghadap ke tepi seberang jalan

yang pernah menumbuhkannya

di antara pohon besar dan kokoh yang nasibnya pun tiada.

 

Di kotaku; panas dan kendaraan berpadu bergemuruh

menumpahkan inginnya mengusik pertokoan

dan kios-kios pedagang yang setia setiap menitnya

melap barang dagangannya.

 

Pohon dimatikan dan bangunan kian ditinggikan.

Gugur daun berkurang dijumpai berserakan.

Pohon diserahkan membangun banyak mesum

tanpa berpikir menambah musium.

 

Di kotaku; sesak dengan jendela panjang berkaca.

Tersebar—menebar keindahan yang menyimpan ketakutan.

Menambah panas memukul kepala yang menunggu waktu untuk meledak.

 

Makassar, 2014