oleh: Eka Besse Wulandari (@ekbess)

Seperti janji saya di tulisan yang pertama, kali ini saya akan menuliskan tentang sejarah perkembangan naskah aksara Lontara yang biasa juga disebut lontara’.

Banyak pendapat yang berbeda mengenai sejarah Lontara’ ini. Ya, namanya juga sejarah. Tak ada yang benar-benar pasti, sama halnya penelitian lainnya. Kesalahannya akan tampak jika kebenarannya muncul. Bukankah sejarah selalu ditulis oleh orang yang menang?

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai lontara’, sebenarnya Lontara itu apa?

Lontara dalam bahasa Bugis bisa berarti aksara (karena awalnya ditulis di daun lontar), bermakna sejarah, dan juga kitab atau naskah. Jadi tergantung konteksnya. Misalnya “ma’baca lontara” yang berarti membaca lontara, merujuk kepada benda yakni kitab atau naskah. Naskah kuno kaum Bugis Makassar ada berbagai jenis: karya sastra, agama Islam, pedoman kegiatan/aktivitas, hukum adat, buku harian, obat-obatan, dan surat menyurat.

Dalam aksara Lontara ada dua macam jenisnya yaitu aksara Lontara lama dan Lontara baru. Aksara Lontara lama disebut tulisan burung atau ukiri’ jangang-jangang dalam bahasa Makassar dan uki’ manu’-manu’ dalam bahasa Bugis digunakan mulai sekitar abad ke-8. Sedangkan aksara Lontara baru disebut tulisan segi empat atau uki sulapa’ eppa, aksara yang dipakai mulai sekitar abad ke-19 hingga kini.

Mengenai asal usul aksara Lontara, beberapa ahli juga masih berdebat hingga saat ini. Pendapat Mills (1975:602) bahwa aksara lontara lama memiliki kemiripan dengan aksara Sumatra (Rejang). Sedangkan K.F.Holle (1982:6) mengatakan aksara lontara lama memiliki kemiripan dengan aksara Kawi karena beberapa huruf memiliki persamaan bentuk.

Perkembangan aksara Lontara di Sulawesi Selatan mulai berkembang pada abad 14 dan sekarang mengenal 4 sistem aksara. Ada Lontara lama, Lontara baru, aksara serang, dan bilang-bilang. Aksara serang bentuknya nyaris sama dengan aksara Arab tapi berbahasa Melayu dan Makassar. Sedangkan aksara bilang-bilang semacam sandi-sandi rahasia untuk menulis catatan harian yang kebanyakan digunakan orang Makassar keturunan Melayu.

Jika dilihat dari sejarah perkembangan tulisan di nusantara yang terbagi dalam tiga grup. Grup tulisan India, Arab, dan Latin. Aksara lontara Bugis, Makassar, dan Mandar masuk dalam grup pertama, turunan dari rumpun tulisan India bersama tulisan Jawa, Bali, Bataka, Renjang, Lampung, Filipina, dan Thailand. Ada banyak hal yang mempengaruhi perubahan aksara, mulai dari pengaruh perubahan alat tulis atau perkenalan dengan aksara lain. Sehingga aksara di nusantara beragam namun memiliki kemiripan.

Berbicara mengenai naskah lontara’ di Sulawesi Selatan, bisa dikatakan studinya sudah dilakukan lebih dari satu abad. Diprakarsai oleh B.F. Matthes sejak tahun 1870. Sejak saat itu banyak orang asing dan lokal yang melakukan penelitian mengenai naskah lontara’. Terlepas dari perdebatan para peneliti, yang saya pahami dan saya percaya sementara adalah apa yang diajarkan Mukhlis Hadrawi, seorang dosen saat saya berkuliah di jurusan Sastra Daerah Unhas.

Mukhlis Hadrawi mengajar pada mata kuliah Kodikologi (ilmu tentang naskah-naskah dan bukan ilmu yang mempelajari apa yang tertulis dalam naskah— karena ilmu yang mempelajari apa yang tertulis dalam naskah namanya Filologi, beda lagi). Saya mulai tertarik belajar Filologi dan Kodikologi karena mata kuliah ini berhubungan dengan hal-hal lampau. Sangat seru seperti sedang berpetualangan, menjadi detektif, dan tentu saja berimajinasi bagaimana suasana di zaman itu.

Saya mulai menyadari pentingnya naskah lontara’ bermula saat seorang mahasiswa dari Jepang bernama Iwata Go datang ke fakultas Sastra Unhas. Dia datang khusus untuk belajar bahasa Bugis. Saat itu pula saya masih kuliah di jurusan Sastra Jepang tahun 2007. Ketika dia tahu saya berasal dari Sengkang dan mampu berbahasa Bugis, dia menodong saya dengan banyak pertanyaan seputar aksara Lontara. Saya tak mampu banyak menjawab karena saya tidak banyak tahu soal itu.

Sepertinya saya harus banyak tahu tentang sejarah naskah dengan aksara Lontara tersebut. Suatu waktu, saya menemukan buku harian Colli’ Pujie (penyalin naskah La Galigo) saat diasingkan oleh kerajaan yang berbahasa Bugis dan langsung kagum dengan semangat para leluhur  Masyarakat Bugis-Makassar-Mandar yang gemar mencatat dan menyalin berbagai hal yang ditemuinya dalam naskah dengan aksara Lontara.

Sayangnya naskah yang diperkirakan masih banyak tersebar di masyarakat sekitar 4049 buah–jumlah yang sudah masuk dalam katalog resmi dan dibuat microfilm-nya–, belum banyak yang menelitinya. Dan saya selalu merasa malu sendiri ketika malas mencatat dan menulis apa saja. Padahal itu sudah menjadi budaya dari leluhur yang baik yang harus ditiru.

Di era teknologi yang maju sekarang memungkinkan aksara Lontara dibuatkan font-nya untuk mempermudah belajar aksara ini.

Di era teknologi sekarang memungkinkan aksara Lontara dibuatkan font-nya untuk mempermudah belajar aksara ini.

Selain di Sulawesi Selatan, naskah lontara’ tersebar di banyak tempat sejak masa penjajahan. Ada yang dibeli dan ada yang (konon) dicuri. Dalam katalog naskah Nusantara, naskah-naskah Bugis-Makassar-dan beberapa Mandar, bisa ditemukan di :

  • Amerika Serikat (Houghton Lybrary, Harvard University);
  • Australia (Manzies Library, Australian National University);
  • Belanda (di 10 perpustakaan 5 kota);
  • Indonesia (Jakarta, Depok, Kalimantan Timur, dan tentu saja di Sulawesi Selatan sendiri);
  • Inggris (di 6 perpustakaan 4 kota);
  • Jerman (di 2 perpustakaan 2 kota);
  • Malaysia (di 2 perpustakaan Kuala Lumpur);
  • Perancis (di 6 perpustakaan Paris).

Seringkali saya ditanya, kenapa naskah-naskah Bugis-Makassar yang ada di Belanda dan negara lain sana tidak kalian (mahasiswa dan dosen Sastra Daerah) minta lagi dibawa ke tanah asalnya?

“Maunya sih begitu, tapi sayang pemerintah seperti tak rela membiayai dan mengurusinya dengan membuatkan semacam laboratorium naskah. Mereka lebih memilih membangun gedung-gedung perbelanjaan dan menggusur kanan dan kiri gedung pembelajaran.”

Naskah kuno memiliki daya sensitif tinggi sehingga butuh perawatan khusus jika ingin disimpan. Kalau di Belanda mereka bisa merawatnya dengan sangat baik (dalam kotak kaca dengan temperatur udara yang dibutuhkan) lebih baik tetap di sana daripada dibawa ke sini dan diabaikan bahkan disingkirkan karena dianggap tidak penting atau dibakar?

Demikian cerita singkat tentang asal-usul aksara lontara beserta naskahnya. Ada sangat banyak hal yang belum sempat saya tulis di sini. Jika penasaran, sila temui saya di Kelas Aksara Lontara katakerja setiap hari Selasa. []