Oleh: Kemal Putra | Ilustrasi: Herman Pawellangi

Apa soundtrack film Ae Dil Hai Muskhil favoritmu? Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawabannya pasti bukan Buleya. Saya tidak paham kenapa lagu itu—yang terasa bagaikan campuran pop, rock, dan dangdut—paling banyak difavoritkan orang. Saya jauh lebih menyukai The Breakup Song. Sederhana saja, lagu itu asik untuk dance—walaupun saya tidak pandai dance juga. Tapi hanya karena saya tak tahu dance, bukan berarti saya tak senang menggerak-gerakkan tubuh. Ae Dil Hai Mushkil adalah film Bollywood arahan Karan Johar (sutradara yang populer lewat Kuch-kuch Hota Hai dan Kabhi Khushi Kabhie Gham) yang beberapa waktu lalu tayang di Bioskop XXI.

Saya, suatu sore, menghabiskan waktu luang di depan laptop, membuka YouTube, dan mencari video koreografi yang menggunakan The Breakup Song sebagai musik pengiring. Dan, ternyata, ada banyak. Puluhan. Saya klik dan tonton satu per satu.

Ketika hendak membuka video ke-20, pesan LINE dari Fera masuk. Dia sudah tiba, di kedai kopi, di lantai bawah studio foto tempat saya bekerja paruh waktu. Betul, sore itu, saya membunuh waktu sambil menunggu seseorang. Lebih tepatnya, sekelompok orang.

“Arya ke mana?” Begitu cara saya menyapa mereka, Fera dan Adam. Bukan “Halo, apa kabar?” Anak Makassar, jika bertemu, jarang saling menanyakan kabar.

“Sedang ada urusan,” jawab Fera.

Fera, Adam, Arya, dan Rachmat akan menceritakan proyek film pendek mereka yang baru dirilis di Weekend Kino Club yang digelar di Rumata’ Artspace. Mereka menamainya One Shot Project; proyek produksi film pendek satu shot di mana setiap filmmaker diberi kebebasan mengangkat cerita bertema apa pun.

Selain mereka berempat, hasil One Shot Project juga berupa tiga film dari Malaysia dan satu dari Australia.

Beberapa menit berbincang lepas dengan Fera dan Adam, Rachmat muncul setelah tersesat mencari lokasi. Sewaktu dia muncul, saya berusaha keras menebak-nebak, apakah ini wujud ekspresi dia sedang kesal karena tersesat, atau lelah sekaligus lega karena akhirnya menemukan lokasi yang seharusnya. Saya mengajak mereka naik ke studio, tempat yang lebih kondusif untuk merekam percakapan kami.  

Sayangnya, Arya tidak muncul-muncul, obrolan kami pun berlangsung berempat saja.

Rachmat, apa yang menginspirasimu membuat The End? Film pendek yang tidak ada cerita di dalamnya.

One Shot Project itu eksperimen. Orang-orang bisa menganggapnya film, bisa juga video, dan The End adalah cara saya untuk bebas berekspresi. Saya terinspirasi dari bacaan tentang pelukis yang membuat lukisan polos. Saat ditanya mengapa lukisannya tampak kosong, pelukisnya menjawab bahwa ia melukis kehampaan. Saya juga terinspirasi Pameran Ruang Tunggu yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Jadi, film saya ingin menunjukkan ketidakadaan film di dalamnya. Film itu selalu mengundang ekspektasi penonton. Sementara yang saya buat adalah bagaimana jika sebuah film tidak memberikan ekspektasi yang penonton mau. Dan reaksi itu yang ingin saya lihat dan alami.

Kebanyakan penonton tidak begitu peduli dengan credit title, sementara The End adalah tentang credit title.

Menyaksikan credit title, bagi saya juga salah satu bagian penting dari mengamati sebuah film. Pertama, kita hidup di lingkungan yang cukup sulit mengucapkan/menunjukkan rasa terima kasih kepada orang lain. Bagi saya, menyaksikan credit title sebetulnya adalah salah satu usaha menunjukkan rasa terima kasih kepada si pembuat film. Di bioskop-bioskop, sering kita menyaksikan orang-orang berdiri dan berhamburan keluar ketika film sudah selesai dan mengabaikan credit title-nya. Itu, tentu saja, pilihan. Tapi, menurut saya, sayang saja jika kita hanya mendapatkan kebahagiaan dan kesedihan film itu tanpa menyaksikan credit title-nya sampai habis dan mengabaikan siapa yang telah membuat kita bahagia atau bahkan haru melalui film itu. Bagi para filmmaker, credit title itu sangat penting. Ya, ndak? Melihat nama sendiri di layar besar. Kedua, terkait dengan itu, saya mau meminta orang-orang agar melakukan sesuatu sampai betul-betul habis, selesai. Bagi saya, penting melakukan sesuatu sampai tuntas, terlepas hasilnya baik atau tidak, yang penting selesai dulu. Dan, “selesai” bisa kita kaitkan dengan konteks apa pun.

Itu sebabnya juga, menurutmu, bioskop alternatif/independen atau ruang pemutaran komunitas film, sedikit lebih berhasil mengajak penonton untuk mau mengapresiasi filmmaker dengan menyaksikan credit title sampai habis sembari menanti diskusi selanjutnya?

Yes!

Fera, kamu membuat film yang sepertinya memprotes reklamasi. Memangnya kamu peduli?

Saya punya teman-teman yang memang mengkritisi isu reklamasi, ada juga yang turut mendemo bersama Walhi. Tapi, saya sempat pesimistis bahwa jangan-jangan apa yang mereka lakukan juga tidak efektif, berkoar-koar dan menghabiskan tenaga, namun tidak didengarkan. Di lain sisi, saya peduli, namun tidak sekeras teman-teman saya.

Ketika mengikuti F8 beberapa waktu lalu, saya sama sekali tidak punya pikiran apa pun mengenai reklamasi. Jadi, sepanjang tiga hari F8 itu digelar, sebenarnya adalah kulinernya (tertawa) yang saya nikmati. Bukan musik, film, atau segala bentuk kolaborasi seni di Makassar. Jika tujuan festival ini untuk mempersatukan seluruh pelaku seni di Makassar, saya kira juga tidak akan terwujud. Sampai akhirnya pada hari kedua saya menemukan sebuah maket di salah satu lokasi F8, maket yang dipajang sepanjang sekitar 7 meter. Ada red carpet-nya dan seolah-olah dijadikan photoboot bagi siapa pun; seperti pernyataan bahwa jika kita berfoto di situ berarti kita pernah ke F8. Dan, saya tidak menyangka bahwa maket yang terpasang itu adalah maket Ciputra Group yang mendeklarasikan gambar hasil akhir dari reklamasi. Di situ juga, ada orang-orang marketing membagikan flyer. Saya tidak menyangka bahwa akan seenteng itu pemerintah mendukung reklamasi melalui F8. Reklamasi yang katanya untuk kepentingan publik, namun saya sama sekali tidak melihat ada ruang publik dalam maketnya. Pantainya ada di bagian dalam lingkungan perumahan, apa sebebas itu nanti masyarakat bisa mengakses pantai melewati perumahan Ciputra?

Seketika itu juga ide untuk mengambil gambar di situ terpikirkan. Padahal sebelumnya saya sudah punya ide One Shot Project, namun saya memutuskan memilih ini karena lebih penting. Saya melihat ini sebagai gambaran detik-detik terakhir pantai Losari sebelum direklamasi. Jadi, semacam bentuk kecil perhatian saya terhadap kota ini. Karena saya pikir, bisa lebih efektif ketika orang-orang menyaksikannya, dan berharap orang-orang tersadar bahwa selama ini kita hanya bersikap apatis, ibarat menenggelamkan mata terhadap isu ini.

Karena ini film penting, adakah niatmu untuk membuatnya ditonton lebih banyak orang?

Pemutaran di Rumata’ Artspace kemarin membuat saya sudah cukup puas, karena di sana saya punya kesempatan untuk menjelaskan tujuan film ini dibuat di depan penonton. Saya berharap apa yang mereka saksikan, mereka bisa simpan di kepala mereka dan ceritakan ke orang lain tentang apa yang mereka lewatkan di F8 kemarin. Lagipula, beberapa panitia F8 juga hadir di pemutaran film ini. Jadi, saya berharap yang mereka saksikan semalam bisa memberi sedikit kesadaran. Tapi, jika ada yang ingin mengajak film ini untuk diputar di tempat lain, saya bersedia.

Jadi, filmmu sebenarnya tidak hanya mengkritik reklamasi tetapi juga F8. Bahwa F8 adalah kamuflase untuk mewujudkan reklamasi?

Ya. Bagi saya F8 adalah pesta besar untuk menyambut reklamasi. Tapi, yang paling membuat saya kesal adalah apakah teman-teman saya yang terlibat dalam event tersebut peduli? Atau, semoga ini tidak terjadi, mereka cuma tampil, terus dibayar, lalu tugas mereka selesai. Padahal permasalahan F8 bukan cuma reklamasi. Ada juga masalah lain seperti ada beberapa orang yang dikumpulkan sebelum event digelar, namun ternyata akhirnya tidak dilibatkan. Lalu, pemerintah mengklaim bahwa ini event terbesar yang melibatkan beberapa musisi, film maker, dan pelukis Makassar. Padahal, tidak semua mereka libatkan. Lalu, dianggap sebagai event yang mempersatukan padahal tidak mempersatukan sama sekali.

Saya curiga jangan-jangan mereka yang terlibat tidak sadar bahwa mereka ditunggangi oleh pemerintah untuk satu tujuan tertentu?

Kemarin ketika akan memilih judul film, saya bertanya di grup. Lalu, Rachmat nyeletuk “Bagaimana kalau Menenggelamkan Mata?” Dari situ saya sadar bahwa orang-orang memang seperti menenggelamkan matanya tanpa memperhatikan yang lain. Jadi, sudah saya pikir mereka tahu, apalagi maket Ciputra Group terpampang besar di sana.

Jadi, menurutmu F8 akan berlanjut lagi tahun depan jika reklamasi sudah tercapai?

Sangat kecil kemungkinannya untuk diadakan lagi tahun depan. Karena dana yang diperlukan sangat besar. Dan, ada desas-sesus, dananya tidak datang dari dinas pariwisata saja. Pasti ada pihak pendana lain. Jadi, jika reklamasinya sudah terwujud, entah event apalagi yang akan dijadikan pengalihan isu bagi pemerintah.

Adam, apa yang saya tangkap dari filmmu sepertinya berbeda dengan tujuanmu membuatnya. Bisa kau jelaskan apa sebenarnya tujuannya?

Saya tidak pernah peduli dengan tanaman. Jadi, saya membuat film ini. Saya lalu menemukan sebuah artikel di Google yang saya pikir pas dengan ide cerita, maka saya ambillah judul artikel itu sebagai judul film saya.

Artikel apa?

Artikel yang menginformasikan bahwa satu pohon dewasa itu bisa memberikan oksigen bagi dua orang. Dan ada banyak yang ingin saya ungkap. Tentang limbah mobil, plastik, penggunaan tisu, tentang penebangan pohon, makanya ada suara mesin. Lalu, ada suara-suara sapi yang melenguh; ada suara anak kecil yang menyanyikan lagu ulang tahun, itu adalah statemen bahwa setiap tahun kita merayakan ulang tahun tapi kekurangan rasa peduli kepada lingkungan; ada suara kereta api yang melambangkan kematian, mati daripada tidak peduli pada lingkungan sekitar. Tapi, pada saat yang sama, ada suara kereta api yang melambangkan kebangkitan, yang ingin menyadarkan bahwa ada hal yang lebih penting ketimbang perayaan ulang tahun. Ide cerita ini sebenarnya datang dari Fera, saya hanya membuatnya jadi dinamis lewat audio visual. Lalu kenapa karakter utamanya anak kecil? Mending jadi anak kecil daripada menjadi dewasa tapi tak punya rasa peduli.

Jika ide cerita ini dari Fera, kamu merasa tetap terhubung dengan filmnya?

Awalnya saya sudah punya ide lain, tapi saya rasa ide dari Fera ini lebih menarik. Jadi, akhirnya ide awal itu saya skip untuk program Imitation Film Project selanjutnya saja.

Walaupun saat ini kalian memang masih dalam tahap belajar, adakah rasa risih jika di setiap screening masih ada penonton yang menanyakan makna di balik film kalian?

A: Itu belum membebani hidup saya. Jika ada yang bertanya, yah saya jawab saja.

R: Sebenarnya tidak. Saya malah lebih risih jika penonton dimintai pendapat tentang film yang mereka saksikan tapi hanya diam. Jika kalian memang tidak menemukan apa-apa dari film yang kalian tonton, yah jawab saja “tidak ada”. Daripada diam. Maksud saya, keluarkan saja apa yang ada di isi kepala kalian, biar nanti coba dicocokkan dengan pendapat sutradara.

A: Iya, lebih baik seperti itu. Ada feedback dari penonton.

R: Iya, jadi walaupun menurut penonton jelek, yah bilang saja jelek.

F: Saya sepakat dengan Rachmat. Dan jika ditanya apakah saya risih, bukan risih lagi, kadang-kadang saya ingin marah jika ada yang meminta pendapat saya tentang makna di balik film saya. Jika dari awal penonton sudah tidak menemukan apa-apa, lalu akhirnya mereka memintai pendapat saya, saya jelaskan bagaimanapun itu tidak akan mengubah apa-apa. Tapi, jika dari awal mereka menemukan sesuatu, sebaiknya mereka mengutarakan opini mereka dulu lalu meminta pendapat sutradara. Saya pikir itu lebih adil. Walaupun di lain sisi, kita tidak bisa memaksakan penonton untuk mengerti tanda-tanda yang ditampilkan dalam film, karena kemampuan orang memahami itu berbeda-beda.

Tapi, masalah lain adalah minat penonton untuk memberi pertanyaan atau pendapat di kegiatan screening juga masih sangat kurang.

A: Iya, itu juga yang harus kita carikan jalan agar orang-orang tertarik membahas film yang mereka tonton.

F: Dan juga mencarikan cara bagaimana pertanyaan “ide membuat film ini dari mana?” perlahan-lahan berkurang diganti dengan “Bagaimana pengalamanmu dan apa yang kau dapat selama proses produksi?”, “Kendalanya apa?”, misalnya.

Dibanding produksi Imitation Film Project dengan produksi One Shot Project ini, mana yang lebih sulit?

Serempak: Tidak ada.

F: Yang sulit itu adalah mengumpulkan teman-teman dan duduk berdiskusi. Seperti yang saya bilang kemarin ketika screening di Rumata’ bahwa mungkin mereka yang datang merasa tersita waktunya menonton kumpulan film pendek yang hasilnya cuma seperti ini. Tapi, yang paling dibutuhkan dunia perfilman Makassar saat ini adalah apresiasi. Duduk dan berdiskusi bersama. Saya juga sebenarnya menyentil teman-teman saya yang juga sesama pembuat film yang mulai malas berproduksi tapi ketika di forum terbuka, senang berkoar-koar.

Dan lagi-lagi orang-orang yang terlibat di One Shot Project sama dengan yang terlibat di Imitation Film Project, walau kali ini terasa berbeda karena juga melibatkan sutradara dari Malaysia dan Australia. Rachmat, bagaimana caramu meyakinkan mereka untuk ikut?

Dipaksa. Kasarnya seperti itu. Dari awal, sebelum saya mengajakmu menentukan jadwal screening One Shot Project di Rumata’, saya sudah mengabari mereka untuk ikut program ini. Mereka semua tertarik, namun mereka juga mau jadwal screening-nya sudah harus jelas. Karena mereka semua adalah pekerja, jadi butuh waktu cuti untuk membuat film. Lagipula yang saya ajak juga adalah mereka yang saya tahu senang membuat film, senang menonton film. Jika ada yang bertanya mengapa yang terlibat itu-itu saja? Saya pikir, segalanya memang harus dimulai dari orang-orang terdekat. Toh, ada juga teman-teman lain yang diajak terlibat tapi menolak, mungkin karena waktu itu mereka punya kesibukan lain.

Menurutmu film-film pendek yang diputar kemarin itu sudah bisa mewakili suara perfilman pendek di Malaysia?

Iya. Cara bertutur Akira Muzinho (lewat film pendek Fikir yang bernuansa reliji dan melankolik) dengan Azhar Salleh (lewat film pendek Pecah Lobang yang membahas isu imigran menggunakan dua pria yang melakukan hubungan seks) misalnya, sangat jauh berbeda. Di perfilman Malaysia memang terjadi hal seperti itu.

Bagaimana sebenarnya perkembangan film pendek di Malaysia? Sebebas dan sesubur di Indonesia-kah? Atau seperti apa?

Berkembang, namun tak sepesat di Indonesia. Film-film pendek mereka juga diputar di ruang-ruang pemutaran altenatif walau ruang pemutaran juga sangat sedikit di sana. Kalau di Kuala Lumpur, ada satu ruang pemutaran alternatif yang populer. Namanya, New Wave.

Kira-kira apa kendalanya sehingga mereka tak bisa sepesat di Indonesia?

Setiap negara, setiap kota, saya pikir punya kendala masing-masing. Kalau di Malaysia, saya rasa karena filmmaker-nya masih dibebani ketakutan-ketakutan. Takut karya mereka dianggap sesat, melawan pemerintah, misalnya. Apalagi pemerintah di sana sangat ketat menyaring film sebelum ditayangkan untuk publik. Karena pemerintah juga takut dengan karya yang “bebas berkekspresi”. Bahkan Azhar Salleh bilang kalau Pecah Lobang cuma bisa tayang di Indonesia, tidak bisa di Malaysia.

Artinya ruang pemutaran film alternatif di sana juga tidak begitu bebas?

Ya, deg-degan.

Apa kekhawatiran kalian dengan perfilman di Makassar sekarang? Walaupun jika diperhatikan film Makassar sudah bisa tayang di bioskop komersil.

R: Kekhawatiran saya adalah ketika mereka tidak berproduksi. Apa yang bisa membuktikan dirimu filmmaker jika tidak memiliki karya?

F: Atau apa yang mau didiskusikan jika tidak ada karya?

R: Iya, mau jelek atau bagus, yah itu urusan belakangan. Itu nanti masuk di tahap kritik.

A: Dan untuk pembuat film pendek, yah jangan ragu memutar dan mendiskusikan film yang sudah dibuat. Kita hanya butuh keberanian untuk menunjukkan karya.

F: Sebenarnya ketika saya memutar film yang saya buat, sejelek apapun di depan penonton, saya tetap dapat untung yang besar. Kenapa besar? Karena saya tidak mampu membayar orang satu-satu untuk mau datang menonton dan mendengarkan kritikan mereka untuk menjadi masukan bagi saya. Dari kritikan itu saya bisa belajar dari kesalahan saya. Mungkin banyak filmmaker yang tidak memutar film-film mereka karena takut dicecar banyak pertanyaan, dikritik, padahal cara pikir seperti itu salah. Karena kita takkan pernah belajar atau berkembang hingga akhirnya kita mendengarkan kritik atau masukkan orang lain. Makassar ini sangat butuh diskusi.

A: Perfilman Makassar sudah waktunya dikritik, karena jika tidak dikritik, filmmaker-nya akan selalu merasa puas.

F: Seperti kata Tulus, jangan cintai aku apa adanya. Ya, intinya kerisauan saya adalah saya tidak punya teman diskusi, atau jika berdiskusi, masa cuma dengan teman-teman terdekat saya? Atau masa bahas film-film yang sudah rilis 3 tahun lalu? Dan saya pikir andai Weekend Kino Club tidak ada, pasti akan makin susah mengumpulkan orang-orang untuk datang berdikusi. Makanya kita juga meminta film-film dari filmmaker lain untuk diputarkan di Weekend Kino Club tapi masih jarang yang bersedia.

R: Yah mungkin mereka masih dalam tahap persiapan, karena kita tahu orang-orang di Makassar perfectionist. Berbeda dengan kita berempat yang langsung terjun saja. (Tertawa)

Anyway, akhirnya trailer Silariang dirilis beberapa waktu lalu, bagaimana pendapat kalian sejauh ini?

R: Usahanya untuk bercerita tentang budaya Makassar tentu saja patut diapresiasi. Tapi, trailer itu kan dibuat tujuannya untuk mengajak orang supaya mau menonton, apalagi film ini sasarannya bioskop komersil, nah di situ trailer ini gagal membuat hasrat saya tertarik untuk ikut menonton. Tapi, entahlah, mungkin nanti.

F: Saya jelas tak mau jatuh ke lubang yang sama. Production house dan sutradaranya sudah saya kenali karya-karya sebelumnya.

Kalau begitu sebagai filmmaker, apa film favorit kalian yang ingin kalian rekomendasikan untuk orang lain?

R: Tidak ada yang spesifik, nonton saja semua, karena itu satu-satunya cara untuk menemukan apa yang mau diketahui dan yang mau dipelajari. Tapi, jika boleh saya memberi saran, tontonlah film-film Asia.

A: Saya jarang nonton dan pilih-pilih. Film yang terakhir saya tonton, Dr. Strange. Jadi, yang saya rekomendasikan yah film-film bergenre fantasy dan sci-fi.

F: Tonton apa yang paling dekat dengan kita. Dan yang paling dekat dengan kita adalah sinema Asia. Apalagi bagi filmmaker Makassar, khususnya saya yang masih mencari bentuk, ada banyak yang bisa ditemukan di film-film Asia.

Kalian berasal dari sekolah film, kecuali Rachmat yang mengambil jurusan Komunikasi. Seberapa penting pendidikan film bagi sutradara?

F: Penting bagi saya, karena saya jenis orang yang perlu ditekan dulu baru bisa fokus. Sekolah film membantu saya mempelajari film secara lebih luas, termasuk dari segi teknis. Saya tidak bilang orang-orang yang tidak sekolah film tidak bisa membuat film. Tapi, saya sendiri memerlukan itu untuk tetap fokus. Saya membayangkan jika saya belajar membuat film hanya lewat pergaulan, diskusi, dan menonton YouTube, pasti saya tidak melulu membuat film. Tapi, juga mengerjakan hal lain di luar film. Sekolah film juga berhasil mengubah sudut pandang saya melihat film, termasuk mengubah selera film saya.

A: Latar pendidikan saya perawat sebelum akhirnya berpindah ke sekolah film. Jadi, mengapa pendidikan penting bagi saya, karena saya tidak punya dasar pengetahuan tentang film. Apalagi waktu itu saya belum punya lingkungan pertemanan dunia film.

F: O iya, Institut Kesenian Makassar itu membuat saya jadi gampang mengakses orang-orang yang paham tentang film yang sebelumnya saya tidak tahu cara mengakses mereka. Apalagi jika kita tidak pandai bergaul.

A: Dan sekolah atau tidak sekolah film itu juga tidak menentukan bagusnya karya seseorang. Ada orang yang sekolah film tapi malas, kurang bergaul, itu pasti akan tercermin di karyanya. Ada juga yang tidak sekolah film tapi menghasilkan karya yang baik, bisa jadi karena lingkup pergaulannya.

F: Seperti Yoseph Anggi Noen.

R: Sewaktu menyelesaikan studi Komunikasi, saya sebenarnya ingin kembali mengambil S1 jurusan film. Karena di industri film mainstream, jika kita bukan berasal dari sekolah film, kita akan dipandang sebelah mata. Akan dianggap tidak tahu apa-apa. Tapi, kemudian saya bertemu dengan orang-orang yang ternyata bisa membuat film tapi tak pernah sekolah film. Jadi, mungkin yang dibutuhkan adalah sikap untuk terus mau belajar.

Nah, kebanyakan film-film Makassar yang sudah tayang di bioskop komersil datang dari orang-orang yang tidak pernah mengambil sekolah film. Memuaskankah bagi kalian hasilnya?

R: Yang saya tonton sejauh ini cuma Uang Panai’. Jika ditanya memuaskan, saya tidak suka sebenarnya, walau kembali lagi ke urusan selera. Terlepas dia pernah atau tidak pernah sekolah film, Uang Panai’ belum membuat gairah film saya terpuaskan. Tapi, perlu diketahui juga tujuan mereka membuat film, jika tujuannya komersil, yah bagi filmmaker-nya yang penting laku.

A: Saya sendiri kesulitan mengikuti alur cerita Uang Panai’, menemukan punchline-nya. Belum lagi shot-nya membuat mata saya kesakitan. Intinya, saya seperti menyaksikan video Instagram versi panjang. Saya juga sudah menyaksikan Bombe’, Dumba-dumba, Sumiati, dan itu lebih menyakitkan lagi bagi saya untuk bertahan dalam bioskop menyaksikan ceritanya. Untuk Bombe’ dan Dumba-dumba sendiri yang diberi label semua umur, bagi saya, kontennya masih belum pantas untuk ditonton oleh anak-anak. Dan untuk Sumiati, saya masih lebih ketakutan menyaksikan Dunia Lain ketimbang Sumiati.

F: Pengalaman saya menyaksikan Sumiati di bioskop malah membuat saya bahagia, karena saya dibuat tertawa. Apalagi di salah satu adegan ada satu orang, jongkok, sambil memegang lampu, yang sepertinya seorang lighting crew yang bocor masuk kamera. Tapi, mungkin saya saja yang bodoh. Siapa tahu itu adalah unsur kesengajaan guna memberikan nuansa artsy dalam filmnya. Tapi, apa yang film maker ini lakukan layak diapresiasi karena sudah berhasil mengobati kerinduan penonton Makassar untuk menyaksikan diri mereka sendiri di dalam layar.

Saat ini kalian masih lebih sering membuat film pendek. Apakah kalian berencana membuat film panjang? Jika ada, film panjang seperti apa yang akan kalian buat?

A: Untuk setia pada film pendek, iya. Untuk film panjang, ya tentu saya akan membuat film panjang, mungkin jika jadi hanya 1 dari 100 orang yang paham tentang film tersebut.

R: Tentu saja saya mau. Mau itu film panjang atau pendek. Karena bagi saya ini tempat untuk belajar lagi dan lagi. Mencari cara bertutur baru dan mengembangkannya. Dan target saya, sebelum berumur 30 atau di umur 30 saya sudah punya satu film panjang. Dan jenisnya tentu saja bukan film komersil. Karena untuk saat ini saya tidak melihat film sebagai tempat mencari uang.

F: Awal tahun. Untuk kebutuhan TA (Tugas Akhir). Dan bukan komersil. Lalu akan lebih banyak tayang di layar-layar alternatif. Film pendek juga akan terus saya produksi. Penting bagi saya membuat film pendek, sebagai alternatif ketika saya tidak mampu membuat film panjang.

Menurut kalian, perfilman di Makassar ini apakah telah memiliki sosok film maker yang layak dijadikan inspirasi atau panutan?

A: Untuk teman diskusi yang baik, tentu saja ada, walau tidak banyak. Seperti Andrew Parinussa, Aditya Ahmad, Arman Dewarti, Rusmin Nuryadin, Andi Burhamzah.

R: Yang menginspirasi, Rusmin Nuryadin. Karena ia terus berproduksi. Saya menyukai energinya, layak diikuti.

F: Yang banyak mengajarkan saya tentang film, menginspirasi dan memberi saya semangat membuat film, Rusmin Nuryadin. Dia banyak menanamkan ide dan semangat kepada saya untuk membuat film. Dia terus berproduksi, juga rendah hati, dan berpikiran terbuka.

Sebelum obrolan kami berakhir, ketiga teman yang baik hati ini memutuskan untuk membahas Jaga Monyet, berhubung sutradaranya tak kunjung muncul. Mereka harus mewakilinya. Jaga Monyet mengisahkan tentara yang harus berjaga sendirian semalaman di pos-nya.

R: Tentara itu sengsara tapi tak kentara.

F: Iya, betul. Ketika kau memakai seragam tentara, semua susahmu akan tertutupi dan kelihatan gagah. Kakekku dulunya tentara. Tapi, karena hidupnya sempit, ia memutuskan keluar dari satuannya.

Di Imitation Film Project, film Arya bertema tentara, sekarang di One Shot Project pun demikian. Apa alasan personalnya sehingga dia begitu tertarik dengan tentara?

F: Karena menurutnya menarik dan dulunya dia mau jadi tentara.

R: Jadi ini mungkin caranya mewujudkan diri menjadi tentara.

F: Mengapa Jaga Monyet?

A: Saya pernah ngobrol dengan bapak saya, yang juga seorang tentara, tentang mengapa ada sebutan “Jaga Monyet”. Katanya dulu ada sebuah pos yang sering dikunjungi monyet-monyet liar yang merugikan. Dari situ sebutan Jaga Monyet akhirnya melekat. Sebelum akhirnya istilah ini ingin Arya ambil sebagai judul, saya menyuruhnya mencari tahu juga di Google karena penjelasan saya tidak begitu detail. Setelah ia cari tahu, ternyata betul-betul ada.

R: Apa yang saya lihat di Jaga Monyet adalah seorang tentara yang ingin melihat negaranya baik. Ia menjaganya dari gangguan luar dan di saat yang sama terkadang mendapat intervensi dari dalam. Lalu, di akhir film si tentara menampar dirinya sendiri yang menciptakan satu pertanyaan, apakah untuk membela negara, kita harus menyakiti diri sendiri?

*

BIOGRAFI FILMMAKER

Rafiat Arya Fitrah

Rafiat Arya Fitrah merupakan sutradara kelahiran Ujung Pandang, 12 Februari 1996. Saat ini ia masih tercatat sebagai mahasiswa Institut Kesenian Makassar Prodi TV dan Film. Ia menjadi salah satu penginisiasi terbentuknya Imitation Film Project sejak 2015, sebuah kelompok kecil yang berfokus pada pembuatan film secara gerilya. Lewat Imitation Film Project, ia membuat Tantarayya (2016), film pendek yang berhasil menjadi official selection di tiga festival film internasional, antara lain; IndieWise Virtual Festival di Miami, Florida, First International Short Film Festival di Minsk, Belarusia, dan Second Asia International (Whenshou) Youth Short-Film Exhibition, Cina.

Film pendeknya yang terlibat di One Shot Project berjudul Jaga Monyet. Mengisahkan seorang tentara muda yang menjaga pos-nya, sembari berusaha bertahan dari gangguan, dari atasannya, dari nyamuk-nyamuk.

Zhaddam Aldhy Nurdin

Zhaddam Aldhy Nurdin, sutradara kelahiran Ujung Pandang yang pernah mengabdikan diri di sebuah rumah sakit swasta di makasssar, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Makassar jurusan Film di 2009. Telah aktif ikut membuat film sejak 2010. 2011 menjadi tahun pertama kali ia mencoba menjadi sutradara dan produser untuk iklan layanan masyarakat yang terpilih sebagai juara favorit 1 di Festival Film Iklan Makassar 4 tahun kemudian. Ia lalu terlibat sebagai unit manager film pendek karya Arman Dewarti yang dinominasikan film pendek terbaik Festival Film Indonesia 2012. Berlanjut menjadi penata artistik untuk film pendek Jejak-jejak Kecil (2012). Ia juga produser film pendek karya Andrew Parinussa, Adoption yang mendapatkan First Prize di International Students Creative Award di Osaka, Jepang. Lalu, menjadi produser film pendek karya Andi Burhamzah, Cita yang terpilih sebagai Official Selection Sapporo Short Fest 2014, di Jepang.

Sejak itu, ia mulai dipercayakan menjadi produser untuk banyak film pendek antara lain; Fiksi dari Meja Makan karya Muh. Yusuf A.G, Picture karya Rio supriadi, Sepasang Kelabu karya Arman Dewarti, Ingatan Sunyi karya Rusmin Nuryadin. Ia juga menjadi line-produser film panjang pertama Rusmin Nuryadin berjudul Rindu Randa (2013). Ia juga terlibat di departemen produksi film pendek karya Aditya Ahmad, Sepatu Baru. Ia akhirnya kembali menjadi sutradara dan produser bagi film pendeknya sendiri berjudul Bulan Purnama (2014) yang membuatnya mendapat gelar Sarjana Seni, sekaligus tayang di International Scientific Film Festival 2015 di Szolnok, Hungaria 2015. Ia kembali menjadi produser untuk film pendek karya Feranda Aries berjudul Sisa Senja yang mendapat penghargaan di Pekan Film Makassar 2015. Ia menjadi salah seorang yang menginisiasi Imitation Film Project dengan membuat film pendek berjudul Matahari Memeluk Bulan.

Film pendek yang ia buat untuk One Shot Project berjudul Satu Pohon Untuk Dua Nafas Binatang, mengisahkan seorang gadis kecil yang dengan kesabaran penuh menanti biji yang ia tanam tumbuh.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin lulus kuliah di National University of Malaysia pada 2014. Menjadi bagian dari Imitation Film Project sejak 2016. Pernah menjadi Asisten Sutradara untuk film Hijrah Cinta (2014) dan Talak Tiga (2016) produksi Dapur Film Production. Ia merupakan pendiri Cinemention, sebuah klub nonton dan diskusi film di Bangi, Selangor, Malaysia. Selain membuat film pendek, juga menulis puisi yang bisa ditemukan di buku antologi puisi berjudul Benang Ingatan (Indie Book Corner, 2016), bersama penyair-penyair muda Makassar lainnya.

Film pendek yang ia buat untuk One Shot Project berjudul The End adalah sebuah credit title berisi nama-nama orang yang ia anggap telah membantu dan menginspirasinya dalam hidup.

Feranda Aries

Feranda Aries lahir di Ujung Pandang, 23 april 1995. Merupakan mahasiswi Institut Kesenian Makassar prodi TV & Film angkatan 2013. Saat ini tengah menyelesaikan tugas akhirnya. Telah membuat film pendek sejak 2014. Film pendek pertamanya berjudul Kepo, lalu lanjut membuat Sisa Senja yang terpilih sebagai film terbaik kategori pelajar/mahasiswa di Pekan Film Makassar 2016. Ia juga merupakan penginisiasi Imitation Film Project dengan membuat film pendek berjudul Mas Bro (2016).

Menenggelamkan Mata adalah judul film pendek yang ia buat untuk One Shot Project, tentang dua pemuda yang menghabiskan waktunya berjalan-jalan di sebuah festival di Makassar sampai akhirnya mereka berhenti di depan maket besar sebuah perusahaan perumahan yang memperlihatkan hasil reklamasi pantai di masa datang.