Oleh: Nurhady Sirimorok ( @nurhadys )| Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Sebagai anak kecil, naik ‘Oto Kandang Puyu’ adalah agenda utama ketika ibu membawa saya berkunjung ke Ujung Pandang.

Beberapa kali jalan-jalan ke Makassar pada awal 1980-an, saya selalu susah tidur jika tiba malam hari. Saya ingin matahari terbit lebih cepat, ibu bangun lebih pagi, mandi, dan berpakaian sebelum mengerjakan apapun, agar ia bisa segera membawa saya naik ‘oto kandang puyu’—nama populer bis Damri dua lantai.

Saya tidak tahu, mengapa sebagian orang menyebut bis seperti itu sebagai ‘kandang puyu’. Mungkin bentuknya yang berlantai dua dianggap mirip kandang burung puyuh yang sedang banyak dipelihara di Sulawesi Selatan pada masa itu. Entahlah.

Di Ujung Pandang (nama Makassar sampai akhir 1990-an), bis jenis itu banyak mengitari jalan-jalan besar kota. Jangan tanya berapa persis jumlahnya,bagi seorang bocah dari kota kecil, rasanya banyak.

Saya akan merasa sangat beruntung bila mendapatkan kursi di deretan paling depan lantai dua bis. Rasanya seperti berada di teras rumah panggung yang bergerak mengelilingi kota sambil menikmati kudapan. Bila tempat itu terisi, saya berusaha duduk paling belakang, di mana jendela luas mampu membuat kamu merasa seperti bersantai di buritan kapal besar yang sedang merayap membelah kanal kota.

Rasanya sangat beruntung bila mendapatkan kursi di deretan paling depan lantai dua bis. Rasanya seperti berada di teras rumah panggung yang bergerak mengelilingi kota sambil menikmati kudapan.

Rasanya sangat beruntung bila mendapatkan kursi di deretan paling depan lantai dua bis. Rasanya seperti berada di teras rumah panggung yang bergerak mengelilingi kota sambil menikmati kudapan. (Sumber Foto: Zainal Crs )

Seandainya waktu itu Makassar semacet hari ini, saya akan senang terjebak berlama-lama menyaksikan pemandangan kota dari ketinggian. Tentu saja, pada masa itu, jalanan masih begitu lapang.

Lantai dua tersebut mencapai puncaknya sebagai surga ketika bis sedang kosong, atau nyaris kosong. Saya akan berpindah-pindah dari kursi ke kursi untuk menikmati setiap sudut pemandangan yang bisa ditawarkan kandang puyu itu.

Saya dan ibu lebih sering duduk di kursi yang sama. Saya duduk mengecap es krim Miami sambil mengamati pemandangan kota di bawah sana. Tepi jalan banyak dihiasai rumah pendek beratap genteng, berpekarangan asri dengan rumput dan bunga-bunga. Pagar tidak tinggi, kebanyakan dari besi atau kawat silang tembus pandang. Makassar, belum menjadi kota ruko!

Sesekali, saya meminta ibu melihat sesuatu yang mengejutkan mata seorang bocah kota kecil, biasanya dengan berteriak menunjuk dan menarik lengan bajunya. Salah satu obyek mengejutkan yang bisa saya ingat adalah toko-toko super besar—untuk ukuran saya masa itu—seperti Daimaru di Jalan Bawakaraeng. Saya sesekali mengajak ibu singgah di sana, menelusuri lorong-lorongnya yang banyak, membeli beberapa alat tulis, lalu naik bis lagi—langsung ke lantai dua.

Saya sulit mengingat kembali beragam tempat lain yang pernah kami singgahi dalam tour oto kandang puyu.Tetapi, hal lain yang selalu saya ingat, sepulang vakansi di Ujung Pandang, Naik Oto Kandang Puyu adalah judul dongeng yang paling sering saya ceritakan kepada kawan. Pengalaman itu membuat saya, dan mungkin bocah lain, ingin kembali dan kembali lagi ke Ujung Pandang.

Bagi saya, Makassar adalah kota wisata dan Oto Kandang Puyu adalah bis wisata.

 

Naik Oto Kandang Puyu adalah judul dongeng yang paling sering saya ceritakan kepada kawan. Pengalaman itu membuat saya, dan mungkin bocah lain, ingin kembali dan kembali lagi ke Ujung Pandang.

Naik Oto Kandang Puyu adalah judul dongeng yang paling sering saya ceritakan kepada kawan. Pengalaman itu membuat saya, dan mungkin bocah lain, ingin kembali dan kembali lagi ke Ujung Pandang. (Sumber Foto: Zainal Crs )

***

 

Ketika saya akhirnya pindah ke Makassar untuk berkuliah pada paruh awal 1990-an, saya berkhayal akan bisa berwisata lebih sering, kalau perlu setiap hari. Saat libur kuliah, saya akan berada di Oto Kandang Puyu dengan tujuan: lantai dua bis. Ketika berkunjung ke rumah kawan, mau menonton di bioskop atau membeli keperluan sehari-hari di Pasar Sentral, kamu bisa menemukan saya di lantai dua bis Damri.

Saya membayangkan nikmatnya pemandangan tepi jalan dengan rumah berpagar pendek tembus pandang, juga pekarangan penuh bunga dan rerumputan yang hijau.

Tetapi, kota telah bertumbuh melebihi bayangan masa kanak-kanak saya. Makassar telah menjelma kota tempat pria dewasa mencari uang, bukan untuk anak-anak menikmati Oto Kandang Puyu. Sampai sekarang. []