Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Pada pukul lima sore. Makassar sedang hujan. Langitnya berdentum-dentum sangat keras, sesekali disertai dengan kilat. Mobil itu melaju dengan kencang. Sekencang mungkin hingga membuat pintu belakangnya terbuka. Perempuan yang berada di dalam mulai menangis sesenggukan. Suaranya lirih namun cukup membuat supir mendengarnya dengan baik. Jam pulang kantor membuat jalanan menjadi semakin gemuk dan tidak ada celah selain masuk barisan dan ikut memperpanjang kemacetan.

***

Makassar sedang hujan. Langitnya berdentum-dentum sangat keras, sesekali disertai dengan kilat. Perempuan itu menatap ayahnya. Matanya sembab karena terlalu sering menangis. Dia melongo keluar jendela. Jalanan sedang macet. Macet yang sangat panjang. Mobil itu terus mengeluarkan bunyi sirine dan klakson yang ditekan berulang-ulang.

“Ayah, kita harus pulang ke rumah. Aku akan membawamu pulang agar ayah bisa meninggal di sana.”

“Bertahanlah, ayah. Kita harus tiba tepat waktu. Ayah, kumohon. Kau tidak boleh meregang nyawa di jalan raya.”

Dia berkata sambil terus meremas jemari ayahnya. Pikirannya kembali melayang ke mana-mana. Ke suatu pagi yang dingin, di beranda rumah nomor 64, Pelita Raya.

“Dina, bagaimana kuliahmu? Kulihat kau akhir-akhir ini lebih sering ke gunung daripada ke kampus.”

“Kuliahku aman, ayah. Makanya aku lebih sering ke gunung belakangan ini.”

“Jangan dibiasakan, kau perempuan. Harusnya kalau tidak kuliah, kau harus di rumah menjaga adik-adikmu.”

Dia tersadar setelah mendengar langit berdentum sekali lagi. Terlalu banyak suara yang didengarkanya saat hujan. Dia mulai menyimpan tangan ayahnya kembali, melipat kedua kakinya hingga sejajar dengan dada dan mulai menutup telinga.

Hujan di luar. Deras sekali. Namun ada hujan lain di mata perempuan itu.

(Dina, 20 tahun, anak perempuan dari seorang lelaki yang sedang berada di dalam ambulans.)

***

Langit berdentum-dentum sangat keras, sesekali disertai dengan kilat. Lelaki itu terus saja mengumpat. Istrinya sedang melahirkan di rumah. Sementara bosnya menyuruh untuk menunda kepulangannya selama satu jam untuk membereskan berkas-berkas yang tidak penting. Dengan wajah memerah, dia mulai mengumpat.

“Ah, sial! Harusnya saya sudah berada di rumah dari sejam yang lalu. Dia tentu sedang menunggu dengan cemas. Saya sudah membayangkan, anak pertama saya pasti tampan setampan bapaknya. Pipinya juga pasti kemerah-merahan atau jangan-jangan putih bersih mengikuti wajah ibunya. Saya sudah tidak sabar.”

Sebuah mobil ambulans tepat berada di belakangnya. Terdengar suara sirine yang sangat keras. Dia kembali berbicara dengan dirinya sendiri.

“Oh, suara sirine. Ada ambulans rupanya, tepat berada di belakang mobil saya. Sebenarnya saya iba, andai saja ada sedikit celah untuk bergeser. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Benar-benar sempit dan saya tentu tidak mau mobil saya lecet.”

“Saya tidak habis pikir, kalau saja istri saya yang sedang berada dalam ambulans itu, saya pasti akan memaki supirnya. Bisa-bisanya dia melewati jalan semacet ini, haha”

(Badi, 28 tahun, pekerja kantoran.)

***

Sejam, dua jam, tiga jam. Lima belas menit lagi pukul delapan malam. Jalanan mulai ramai lancar. Mobil itu mulai melaju perlahan, membebaskan diri dari kemacetan yang tadi. Supirnya mulai nampak kelelahan. Sementara di luar, hujan tidak berhenti juga. Jalanan basah. Dari dalam mobil, suara tangis lirih yang didengar supir tadi mulai terhenti.

Sepanjang jalan, supir mengendalikan mobilnya dengan kecepatan yang masih bisa dia kontrol. Dia harus segera tiba. Klakson dibunyikannya berulang kali. Meminta para pengguna jalan menepi dan membiarkannya untuk lewat.

***

Jalanan ramai lancar. Kendaraan mulai melaju perlahan. Seorang pemuda dengan pakaian masa kini berada di tengah-tengah jalan. Sirine ambulans berbunyi dengan sangat lantang.

“Haha, mobil ambulans rupanya! Bagus. Saya harus ikut di belakangnya. Biar lancar dan tiba di rumah Rani dengan cepat. Saya tidak mau dia memutuskan hubungan lagi hanya karena saya terlambat beberapa menit saja.”

Dia memasang tampang sedih. Seakan menjadi salah satu kerabat dari orang yang berada di dalam ambulans. Ada banyak pengendara motor lain mengikuti caranya.

“Saya merasa bersalah karena sudah berbahagia dalam penderitaan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi? Saya juga butuh.”

(Randi, 24 tahun, mahasiswa tingkat akhir.)

***

Jalanan ramai lancar. Suara sirine itu terdengar semakin keras. Dari dalam sebuah mobil sedan hitam, seorang bapak tidak henti-hentinya meracau.

“Ambulans ini selalu saja semaunya. Wajarlah kalau saya merasa marah dan terganggu dengan itu. Bayangkan saja. Saya harus meminggirkan kendaraan demi membiarkan mereka lewat. Alah. Saya sudah hapal akal bulus si supir. Paling-paling itu cuma sepasang muda-mudi yang hanya mau mengetes seberapa menegangkannya hubungan mereka dalam mobil ambulans. Pernah saya mendapati kasus seperti itu di suatu malam. Bosan!”

“Maksud saya, ya gimana ya. Kita kan sama-sama punya tujuan juga. Jalanan toh milik bersama bukan perseorangan begitu. Ambulans itu enak sekali. Huh! Biarkan saja. Saya tidak akan meminggirkan kendaraan. Klaksonlah kau sepuasmu, wahai supir.”

(Beni, 40 tahun, pemimpin perusahaan.)

***

Jalanan ramai lancar. Seorang bapak di depan gerobaknya duduk sejenak. Berteduh dari hujan yang semakin deras. Sembari menatap kosong ke jalan raya. Ambulans baru saja lewat. Baginya, itu adalah ambulans kedua yang dia lihat hari ini. Dia mulai mengenang.

“Setiap mendengar sirinenya dari jauh, perasaan saya seperti dibawa kembali ke masa lalu. Waktu itu, anak gadis saya satu-satunya sedang menyebrang dan datanglah mobil itu dengan kecepatan yang menurut saya memang sangat tinggi. Anak saya tertabrak dan darah di mana-mana. Ambulans itu segera pergi tanpa membantu anak saya. Orang-orang sekitar juga hanya membantu sekadarnya.”

“Berulang-ulang saya bertanya pada polisi tentang ini. Namun mereka bilang, ambulans tidak dipersalahkan jika menabrak orang untuk situasi yang darurat. Saya memang tidak lulus SD. Tapi menurut saya, di negara yang mengoar-ngoarkan keadilan – aturan macam apa yang memperbolehkan nyawa orang diambil seenaknya tanpa dihukum?”

Dia menghembuskan napas panjang.

(Sila, 45 tahun, seorang pemulung.)

***

Jalanan ramai lancar. Mobil itu melaju tidak dengan kekuatan penuh. Masalahnya ada sebuah sedan hitam di depan yang tidak mau memberikan ruang untuk jalan. Supir itu mulai menarik napas dalam-dalam. Menetralisirkan emosinya dan berusaha berpikiran jernih.

“Pekerjaan ini melelahkan, Sri. Sekaligus juga menyakitkan karena aku seperti dipaksa mengingatmu kembali. Aku harus membawa kedua orang ini ke rumahnya. Aku tidak mau nasib ayah anak itu seperti kamu, Sri. Cukupkan saja di kamu. Mereka tidak boleh merasakan pedih yang sama sepertiku.”

“Orang-orang di jalanan Makassar sungguh keparat, Sri. Kau bisa lihat mereka tidak memberikan kami jalan meski sudah ku klakson belasan kali. Aku menebak hatinya sedingin batu, Sri. Tidak lagi mempersoalkan nyawa orang dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku ingin pulang kampung, Sri. Datang menjengukmu jika aku selesai bertugas hari ini.”

Dia melirik sebuah foto yang digantungkan di spionnya.

(Sardi, 30 tahun, supir ambulans.)

***

Pukul 9 malam. Makassar masih hujan. Langitnya berdentum-dentum sangat keras, sesekali disertai dengan kilat. Jalanan sudah ramai lancar. Mobil itu terus-terusan mengklakson sebuah mobil sedan di depannya yang sedari tadi tidak memberikan jalan sama sekali. Udara semakin dingin. Perempuan itu menangis lagi. Supir hanya pasrah. Melirik sesekali foto istrinya yang dipajang. Tersenyum hambar dengan perasaan yang entah apa. Tiba-tiba suara tangis perempuan itu berhenti. Menyusul suara teriakan yang seakan merobek gendang telinga. Lebih keras dari suara hujan di luar. Kini, berkat kemacetan dan kepayahan nurani para pengendara, ayahnya telah tiada sebelum tiba di rumah duka. Gagal sudah rencananya untuk menghembuskan napas terakhir di rumah sendiri.


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Bus Mamminasata’ dan Orang-Orang yang Menunggu

10 Lagu Yang Bisa Kamu Siapkan Saat Hujan Turun

Bahasa Indonesia, Sehat?

Untuk Kamu yang Masih Peduli Kepada Bumi

Menangis dan Belajar Berbahagia

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti