Foto: Roy Ahmad Slamatumbo & Kedai Buku Jenny ( @kedaibukujenny )

“Tanamlah apa yang engkau makan”

Desa Soga merupakan desa muda yang berasal dari pemekaran Desa Barae (desa induk). Desa Soga menjadi desa definitif pada tanggal 14 Februari 2005. Secara topografi, desa Soga terletak di daerah pegunungan dengan kontur berbukit-bukit dan diapit oleh dua sungai besar, yaitu sungai Walanae’ dan Sungai Mario. Desa Soga mempunyai kemiringan tanah antara 0- 40 derajat dengan ketinggian 120 sampai dengan 300 mdpl. Adapun jumlah penduduk Desa Soga adalah + 1.945 jiwa yang terdiri dari 545 Kepala Keluarga dan 99% dari jumlah penduduknya berprofesi sebagai petani kakao.

Mengutip tulisan Sunardi Hawi di jurnal Payo-Payo edisi VII November 2014, produksi kakao mulai mendominasi Desa Soga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Soppeng semenjak akhir tahun 1980-an.  Bahkan tanaman kakao merambah hingga pekarangan rumah warga. Pada masa krisis moneter 1997-1998, petani di desa Soga menikmati masa emas kakao.

Cerita kini berbeda. Petani kakao Soga berhadapan dengan tanaman kakao yang semakin menua dan diserang berbagai penyakit, seperti binatang penggerek buah. Produksi kakao semakin menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga petani kakao. Sejumlah program pemerintah dan swasta, hingga saat ini, tak kunjung memuaskan petani. Seperti hal penggunaan bahan kimia yang berlebihan yang berlangsung sekitar dua puluh tahun membuat tanah semakin kehilangan kesuburan. Kisah manis petani kakao desa Soga tampaknya telah berakhir.

Produksi kakao warga Desa Soga sejak 1 dasawarsa terakhir yang semakin menurun tersebut berdampak pada banyak penduduk desa kemudian meninggalkan desa kelahirannya menjadi TKI atau sekedar menjadi buruh kasar di luar desa serta harus menerima kenyataan pahit untuk berpisah dari keluarganya.

Hal itu menjadi kontraproduktif dengan kondisi desa Soga yang memiliki luas tanah yang memadai namun tidak bisa memberikan kesejahteraan hidup masyarakatnya. Dari sejumlah pertemuan formal dan nonformal warga Desa Soga akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa warga Desa Soga membutuhkan tanaman alternatif jangka pendek selain kakao yang sampai saat ini sudah tidak mampu berproduksi dengan baik. Dan diputuskan untuk melakukan pengembangan tanaman pangan dan hortiktultura selain kakao/coklat sebagai komoditas alternative masyarakat.

Sejak hampir dua tahun berlalu, sistem bertani warga pun turut berubah. Warga Desa Soga secara kolektif telah memulai dan mencoba sebuah usaha uji coba penanaman jangka pendek di kebun hortikultura komunitas Warga Soga selain kakao, seperti bawang merah, sawi, bayam, kangkung, terong, dan cabe dalam skala kecil di beberapa lahan kecil yang berukuran sekitar 1 sampai 3 are. Walhasil, dalam jangka waktu hampir 1 tahun usaha ujicoba kebun hortikultura telah mengalami masa panen lebih dari 2 kali panen yang hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari rumah tangga, belum untuk diperjual-belikan.

Warga sedang menggarap ladang holtikultura bawang merah, sawi, bayam, kangkung, terong, dan cabe dalam skala kecil di beberapa lahan kecil yang berukuran sekitar 1 sampai 3 are. (Foto: Roy Ahmad Slamatumbo )

Warga sedang menggarap ladang holtikultura bawang merah, sawi, bayam, kangkung, terong, dan cabe dalam skala kecil di beberapa lahan kecil yang berukuran sekitar 1 sampai 3 are pada awal tahun 2014 lalu. (Foto: Roy Ahmad Slamatumbo )

Bermaksud menjadi bagian dari capaian dan kebahagiaan warga Soga dalam merayakan hasil panen kebun hortikultura mereka, Komunitas Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo, Kedai Buku Jenny, Komunitas Warga Desa Soga serta AMPERA (Aliansi Medis Untuk Perjuangan Rakyat) menginisiasi sebuah kegiatan yang diberi nama Panen Raya di Desa Soga pada hari Minggu, 31 Mei 2015,  dimulai pada pukul 10 pagi hingga sore hari.

Kegiatan ini berusaha untuk memadukan berbagai aktivitas seni kreatif, seperti pementasan musik akustik, menggambar dan mewarnai, pemeriksaan kesehatan gratis dengan aktivitas warga Desa Soga yang hendak melakukan panen sayur mayur dari kebun yang mereka garap sendiri. Panen Raya ini bertujuan untuk menjaga semangat warga agar terus melakukan kegiatan berkebun sayuran organik –dan tidak hanya menggantungkan hidup saja kepada komoditi kakao. Selain itu juga, kegiatan ini untuk menyebarluaskan pesan kepada petani lain dalam memerdekaan diri menentukan tanaman yang akan ditanam.

Dua hari menjelang Panen Raya di Desa Soga digelar, saya langsung menyambut baik ajakan teman-teman Kedai Buku Jenny untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Para penggiat KBJ–singkatan akrab Kedai Buku Jenny–sebelumnya telah sukses menggelar helatan yang sama, yaitu Pekan Depan edisi pertama di Desa Cempaga, Kab. Bantaeng, sebuah kegiatan yang berhubungan dengan buku dan musik di sebuah desa pada 15 Maret lalu. Saya yakin untuk helatan kali ini, saya harus hadir. Karena selain berpartisipasi dalam memeriahkan Panen Raya, saya pun ingin merasakan kembali suasana udara segar pedesaan dan tentunya untuk mengurangi kejenuhan rutinitas monoton di akhir pekan.

Tiba di Dusun Coppeng-Coppeng, Desa Soga pada Sabtu (30/5) pukul delapan malam, saya bersama awak Kedai Buku Jenny pun disambut oleh warga yang sedang mempersiapkan hajatan esok hari. Belum cukup sepuluh menit kami tiba, kami langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan makan malam di rumah seorang warga. Suatu kehormatan bisa disambut dengan ramah oleh penduduk desa Soga.

Setelah menikmati hidangan makan malam, saya menyempatkan untuk melihat-lihat sejenak aktivitas warga menjelang hajatan. Ada aktivitas warga yang cukup menarik perhatian saya. Ibu-ibu warga desa Soga berkumpul dan bekerja dalam jumlah besar dalam mempersiapkan konsumsi untuk hajatan besok. Mereka saling bantu-bantu menyiapkan bahan makanan dan ada yang bertugas memasak.

Ibu-ibu warga desa Soga berkumpul dan bekerja dalam jumlah besar dalam mempersiapkan konsumsi untuk hajatan besok.

Ibu-ibu warga desa Soga berkumpul dan bekerja dalam jumlah besar dalam mempersiapkan konsumsi untuk hajatan besok.

Ternyata kebiasaan mereka untuk bekerja bersama ini merupakan warisan dari makkaleleng yang artinya bekerja secara bersama-sama. Kebiasaan ini tumbuh ketika mereka bekerja di ladang pertanian pada masa persiapan lahan, penanaman, perawatan tanaman, hingga pengolahan pasca panen. Menurut cerita warga, setiap kegiatan kerja bakti kampung seperti perbaikan jalan kampung atau perawatan mesjid, kelompok perempuan berperan penting. Mulai dari mengangkat material hingga menyiapkan makanan.

Hal yang cukup unik terlihat menjelang persiapan Panen Raya adalah layar tancap di lapangan depan rumah warga yang menghidangkan makan malam tersebut. Layar tancap tersebut tidak difungsikan untuk menonton film, melainkan menjadi layar acuan untuk warga yang berkaraoke lengkap dengan mic dan sound system serta track list database lagu-lagu karaoke yang lengkap! Sederhana namun menggelegar. Ternyata aktivitas menggelar karaoke di lapangan ini telah lama dilakukan oleh warga. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang sebelumnya sering terjadi akibat perkelahian ketika ada orkes dangdut digelar di desa Soga.

Saya sempat duduk sejenak melihat aktivitas warga menggelar karaoke gratis di lapangan. Karaoke ini telah lama dilakukan oleh warga. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang sebelumnya sering terjadi akibat perkelahian ketika ada orkes dangdut digelar di desa Soga.

Saya sempat duduk sejenak melihat aktivitas warga menggelar karaoke gratis di lapangan. Karaoke ini telah lama dilakukan oleh warga. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang sebelumnya sering terjadi akibat perkelahian ketika ada orkes dangdut digelar di desa Soga.

Setelah dipersilahkan untuk menaruh barang di rumah seorang warga yang memperbolehkan kami untuk bermalam, saya bersama teman-teman Kedai Buku Jenny mempersiapkan pernak-pernik untuk dipasang di lapangan nanti. Salah satunya membuat umbul-umbul yang terbuat dari sampah potongan-potongan majalah yang telah dipotong sedemikian rupa. Dibantu adik-adik yang masih belum diserang kantuk, saya pun merangkai umbul-umbul tersebut sampai selesai sebelum dibentangkan di lapangan. Mengerjakan umbul-umbul pun selesai sekitar satu jam sebelum kami terlelap.

Membuat umbul-umbul yang terbuat dari sampah potongan-potongan majalah yang telah dipotong sedemikian rupa. Dibantu adik-adik yang masih belum diserang kantuk.

Membuat umbul-umbul yang terbuat dari sampah potongan-potongan majalah yang telah dipotong sedemikian rupa. Dibantu adik-adik yang masih belum diserang kantuk.

Minggu(31/5) pagi di desa Soga sepertinya bakal terasa istimewa. Saya terbangun ketika menjelang pukul enam pagi. Kabut di pagi hari masih menyelimuti desa ini, tapi hawanya tidak sedingin yang dirasakan ketika berhadapan dengan kabut di Malino atau dataran tinggi lainnya.Masih diliputi perasaan takjub, saya menikmati pagi di desa Soga sembari membantu Bobhy dan Nita dari KBJ untuk membereskan beberapa pernak-pernik untuk helatan Panen Raya. Di sela-sela itu, saya masih menyempatkan untuk menikmati teh hangat dan pisang goreng nikmat buatan ibu empunya rumah. Sesekali bermain gitar sambil menikmati udara pagi di desa Soga. Betapa nikmatnya.

Menikmati udara segar di desa Soga sembari bermain gitar. Betul-betul menyenangkan.

Menikmati udara segar di desa Soga sembari bermain gitar. Betul-betul menyenangkan.

Ketika menjelang pukul delapan pagi, kami pun memasang umbul-umbul serta huruf Panen Raya ukuran besar di lapangan bersama bapak-bapak warga desa Soga yang sangat ramah semenjak kami datang.

Memasang umbul-umbul sebelum gelaran Panen Raya dimulai.

Memasang umbul-umbul sebelum gelaran Panen Raya dimulai.

Huruf Panen Raya dalam ukuran besar pun dipasang bersama warga yang sangat membantu gelaran Panen Raya berjalan lancar.

Huruf Panen Raya dalam ukuran besar pun dipasang bersama warga yang sangat membantu gelaran Panen Raya berjalan lancar.

Pukul sepuluh pagi gelaran Panen Raya akhirnya dimulai di lapangan. Dibuka oleh sambutan dari SRP Payo-Payo, Kedai Buku Jenny, AMPERA serta bapak Kepala Desa Soga,Panen Raya pun dimulai dengan aktivitas seni kreatif seperti pementasan musik akustik dari Ride-One, pembacaan dongeng, lomba menggambar dan mewarnai, karaoke gratis, sulap sampah, pemeriksaan kesehatan gratis dari AMPERA dan tentunya aktivitas warga Desa Soga yang hendak melakukan panen sayur mayur dari kebun hortikultura yang mereka garap sendiri. Selebihnya bisa dilihat foto-foto berikut ini.

Panen Raya pun dimulai dengan panen sayur mayur oleh warga di kebun hortikultura yang mereka garap sendiri.

Panen Raya pun dimulai dengan panen sayur mayur oleh warga di kebun hortikultura yang mereka garap sendiri.

 

Kebahagiaan meliputi warga desa Soga karena mereka bisa memetik sendiri hasil panen sayur mayurnya.

Kebahagiaan meliputi warga desa Soga karena mereka bisa memetik sendiri hasil panen sayur mayurnya.

Bapak Kepala Desa pun tersenyum ketika memanen bawang merah di Panen Raya Desa Soga.

Bapak Kepala Desa pun tersenyum ketika memanen bawang merah di Panen Raya Desa Soga.

Hasil panen bawang merah di Panen Raya Desa Soga yang dipegang oleh Nur Allan Sido dari Ruang Antara.

Hasil panen bawang merah di Panen Raya Desa Soga yang dipegang oleh Nur Allan Lasido dari Ruang Antara.

Pemeriksaan kesehatan gratis dari AMPERA (Aliansi Medis Untuk Perjuangan Rakyat) juga disambut dengan sangat baik oleh warga Desa Soga.

Pemeriksaan kesehatan gratis dari AMPERA (Aliansi Medis Untuk Perjuangan Rakyat) juga disambut dengan sangat baik oleh warga Desa Soga.

Adik-adik desa Soga dan sekitarnya pun bisa ikut memeriahkan Panen Raya dengan mengikuti lomba menggambar dan mewarnai tanpa dipungut biaya.

Adik-adik desa Soga yang didominasi oleh siswa-siswi SDN 224 Pallawa, SDN 153 Walimpong, MIS DDI Coppeng-Coppeng dan sekitarnya pun bisa ikut memeriahkan Panen Raya dengan mengikuti lomba menggambar dan mewarnai tanpa dipungut biaya.

Penampilan akustik dari Ride-One, projekan dadakan saya bersama Ridho dari Next Delay, ikut memeriahkan suasana Panen Raya. Kami tampil khusus untuk Panen Raya Desa Soga ini.

Penampilan akustik dari Ride-One, projekan dadakan saya bersama Ridho dari Next Delay, ikut memeriahkan suasana Panen Raya. Kami tampil khusus untuk Panen Raya Desa Soga ini.

MC Panen Raya pun dipandu oleh adik-adik SMP desa Soga.

MC Panen Raya pun dipandu oleh adik-adik SMPN 4 Marioriwawo, Desa Soga.

Kegiatan sulap sampah oleh Nita dari Kedai Buku Jenny menyedot perhatian ibu-ibu warga desa untuk ikut berkreasi membuat gelang dari botol plastik bekas serta bros dari kain yang tidak dipakai lagi.

Kegiatan sulap sampah oleh Nita dari Kedai Buku Jenny menyedot perhatian ibu-ibu warga desa untuk ikut berkreasi membuat gelang dari botol plastik bekas serta bros dari kain yang tidak dipakai lagi.

Pembacaan dongeng Nene' Pakande' yang meledak-ledak semangatnya dari adik-adik warga Desa Soga tentunya memberi warna tersendiri bagi Panen Raya yang luar biasa ini.

Pembacaan dongeng Nene’ Pakande’ yang meledak-ledak semangatnya dari adik-adik warga Desa Soga tentunya memberi warna tersendiri bagi Panen Raya yang luar biasa ini.

Yeay! Adik-adik yang ikut lomba menggambar dan mewarnai pun dapat hadiah setelah mereka dipilih siapa pemenangnya oleh sang ibu juri Harnita Rahman dari Kedai Buku Jenny.

Yeay! Adik-adik yang ikut lomba menggambar akhirnya dapat hadiah setelah mereka dipilih siapa pemenangnya oleh sang ibu juri Harnita Rahman dari Kedai Buku Jenny.

IMG_20150531_115737

Adik-adik yang ikut lomba mewarnai pun juga dapat hadiah setelah mereka dipilih siapa pemenangnya oleh sang ibu juri Harnita Rahman dari Kedai Buku Jenny.

Adik adik SMP dari Desa Soga juga unjuk penampilan memainkan pianika di Panen Raya.

Adik adik SMPN4 Marioriwawo dari Desa Soga juga unjuk penampilan memainkan pianika di Panen Raya.

Membuat buku catatan dari kertas yang tidak terpakai juga dilakukan Nita di KBJ setelah sukses menggelar lomba mewarnai dan sulap sampah di Panen Raya.

Membuat buku catatan dari kertas yang tidak terpakai juga dilakukan Nita dari Kedai Buku Jenny bersama adik-adik desa Soga dan relawan Sokola Kaki Langit setelah sukses menggelar lomba mewarnai dan sulap sampah di Panen Raya.

Banyak informasi yang didapatkan tentang cara bertanam kokoa yang baik ketika berkunjung ke rumah bambu buatan SRP warga desa Soga.

Banyak informasi yang didapatkan tentang cara bertanam kokoa yang baik ketika berkunjung ke rumah bambu buatan SRP warga desa Soga.

Bobhy dari Kedai Buku Jenny pun mengungkapkan bahwa Panen Raya juga merupakan rangkaian dari program Pekan Depan milik Kedai Buku Jenny. Panen Raya ini juga menurut Bobhy merupakan bentuk komimen Kedai Buku Jenny untuk terus membuka ruang kolaborasi bersama berbagai kelompok untuk menginisiasi aktivitas atau program serupa. “Program Panen Raya ini bagian dari Komitmen KBJ untuk mengintegrasikan seni khususnya musik ke aktivitas-aktivitas sosial dan pengembangan masyarakat khususnya masyarakat yang tidak banyak disorot namun mereka memiliki prestasi paling tidak untuk kebaikan lingkungan dan komunitas mereka sendiri,” ungkap Bobhy.

anen Raya ini juga menurut Bobhy merupakan bentuk komimen Kedai Buku Jenny untuk terus membuka ruang kolaborasi bersama berbagai kelompok untuk menginisiasi aktivitas atau program serupa. Tampak Bobhy sedang menikmati pisang langsung dari pohonnya di kebun hortikultura warga Desa Soga.

Panen Raya ini juga menurut Bobhy merupakan bentuk komimen Kedai Buku Jenny untuk terus membuka ruang kolaborasi bersama berbagai kelompok untuk menginisiasi aktivitas atau program serupa. Tampak Bobhy sedang menikmati pisang langsung dari pohonnya di kebun hortikultura warga Desa Soga.

Menyimak gelaran Panen Raya yang jarang sekali didapatkan di perkotaan sekarang , tentunya membuat saya sangat terkesan dalam melihat kebiasaan warga yang telah terbiasa bekerja kolektif dalam keseharian mereka, bahkan mereka memiliki peran yang sangat banyak dalam menggelar Panen Raya itu sendiri. Kebiasaan bekerja kolektif seperti ini merupakan sebuah asa yang harus dijaga dan direplikasi terus menerus. Warga desa Soga pun menuai hasilnya. Selain mereka panen hasil bumi, mereka juga ‘panen’ kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk SRP Payo-Payo, Kedai Buku Jenny dan AMPERA yang datang dari Makassar.

Kebiasaan gotong royong yang seyogyanya merupakan budaya bangsa Indonesia sejak dulu kala masih terus dipertahankan dengan baik oleh warga Desa Soga dan menjadi refleksi bagi saya sebagai warga kota Makassar yang semakin hari melihat masih banyak kelompok yang membentuk sekat untuk menjaga kepentingan masing-masing, tapi tidak memberi sumbangsih yang berarti bagi kehidupan orang banyak maupun lingkungan hidup.

Kata kunci kolaborasi yang semakin sering diutarakan sebaiknya diaplikasikan pula seperti yang dilakukan warga desa Soga agar inovasi serta ide segar untuk pembangunan kota Makassar yang lebih baik. Mengambil semangat makkaleleng dari warga desa Soga, mariki’ berkolaborasi untuk membuka kembali ruang-ruang ketidakmungkinan. Tabik!

Sampai jumpa di Panen Raya berikutnya!

Sampai jumpa di Panen Raya berikutnya!

 


 Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise