Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Kehadiran panggung-panggung musik Makassar yang diinisiasi untuk membaurkan musisi-musisi lintas genre dalam satu panggung tentunya merupakan kabar yang menggembirakan. Sejak awal hingga pertengahan tahun 2015, intensitas panggung-panggung musik tersebut semakin sering dijumpai. Bahkan dalam satu hari bisa saja ada tiga sampai empat panggung untuk  para musisi indie Makassar dan kota sekitarnya bisa menampilkan aksi dan karya mereka. Mulai dari panggung ranah bawah tanah non-profit yang pasti selalu memberi ruang tampil untuk musisi-musisi pemecah moshpit, panggung kecil tanpa barikade namun semarak buatan kolektif para komunitas-komunitas kreatif hingga panggung besar dengan penyelenggara mapan yang mulai memprioritaskan kehadiran band-band indie Makassar dalam menyukseskan gelarannya.

Pergerakan panggung musik untuk musisi indie di kota ini menurut hasil riset ekonomi kreatif oleh Tanahindie dan British Council, bakal menuju ke arah yang menggembirakan jika mampu dipertahankan secara konsisten. Hal ini disebabkan oleh pola pemikiran musisi di Makassar dulunya yang cup-oriented (orientasi membawakan karya orang lain), pelan tapi pasti bergeser ke creation-oriented (orientasi kekaryaan/lagu-album sendiri) dengan pola produksi dan distribusi yang berjejaring dengan pelaku ekonomi kreatif lainnya secara independen. Hal ini didukung pula oleh faktor berkembangnya referensi serta kemajuan teknologi berupa akses informasi yang bisa didapat dari internet dan jejaring media sosial.

Salah satu panggung kolektif yang saya maksud adalah One Way One Vision yang merupakan gelaran dari Taman Indie Makassar. Taman Indie Makassar sendiri merupakan sebuah komunitas yang mewadahi band-band indie di kota Makassar dan sekitarnya dalam berkarya dan berkreasi.  Tujuan mulia Taman Indie Makassar untuk ikut memajukan scene musik indie di kota Makassar dan sekitarnya melalui  One Way One Vision ini tentunya tidak muncul begitu saja. One Way One Vision merupakan panggung musik pertama yang dibuat Taman Indie Makassar dengan tujuan memperkenalkan band-band baru yang ada di kota Makassar dan sekitarnya, bahkan di Indonesia Timur. One Way One Vision pertama kali di adakan di  pelataran Marina Cafe pada 17 Oktober tahun 2010, dan berlanjut di mini stage Circle K Hasanuddin pada tahun 2012.

Poster One Way One Vision volume pertama. (Sumber Gambar: Taman Indie Makassar)

Sekadar pengingat untuk poster One Way One Vision volume pertama yang bersejarah ini. (Sumber Gambar: Taman Indie Makassar)

Memasuki edisi yang ke-tiga, One Way One Vision pun hadir dengan konsep yang berbeda. Setiap band yang ingin tampil diwajibkan mengirimkan demo lagu karya sendiri. Band yang telah dianggap layak berdasarkan demo lagu dan telah dipantau sepak terjangnya di beberapa panggung oleh Taman Indie Makassar, berhak untuk tampil di helatan ini.

Selain itu, kemasan One Way One Vision Vol.3 sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Taman Indie Makassar menghadirkan konsep street gig pada gelaran One Way One Vision Vol.3 ini, dimana Taman Indie Makassar mengambil filosofi “panggung luas terang tanpa barikade” yang menjadi inti dari konsep street gigs itu sendiri.  Taman Indie bekerjasama dengan Musick Bus, Cipta Gelegar, dan Project 13 dalam menggelar helatan ini berjalan dengan lancar. One Way One Vision pun diselenggarakan di pelataran Musick Bus Chapter Store tanggal 7 Juli 2015, dimulai dari pukul 15.00 hingga 23.00 WITA menurut pers rilisnya.

Setelah melalui proses seleksi dari Taman Indie Makassar, band yang berhak tampil di One Way One Vision edisi ke-3 adalah Idiot Einstein dari Makassar yang mengusung melodic punk, Addict Motion dari Makassar dengan pop punk, Sombaside dari Gowa yang siap menghentak dengan musik hardcore, Mekuji Rasta dari Gowa dengan musik reggae yang membuai, Makassar Rocksteady Makassar yang siap mengajak berajojing dengan ska/rocksteady, Undergrace dari Tana Toraja yang siap memuntahkan riff-riff metal yang gagah perkasa, Minorbebas dari Makassar dengan semangat kaum kucel yang grunge grunge saja, R.A.V.D dari Makassar dengan musik hip hop yang riang , Ruang Baca dari Makassar yang meneduhkan dengan musik acoustic folk, King of Kings dari Makassar dengan musik hardcore yang siap meliarkan moshpit.

Banyaknya nama-nama band baru yang tampil di One Way One Vision tentunya sangat menyenangkan para penikmat musik karya band Makassar termasuk saya. Antusiasme tersebut membuat saya tergerak untuk datang menyimak One Way One Vision, walaupun baru bisa menuju ke Musick Bus Chapter Store pada pukul 17.00 WITA. Tepatnya setelah hujan turun cukup deras pada hari Minggu menjelang petang. Namun saat saya tiba di tempat gelaran, panggung One Way One Vision ternyata belum juga dimulai. Sepertinya ini dampak dari cuaca yang diliputi hujan dari siang hari. Beberapa grup musik penampil One Way One Vision pun urung untuk tampil sesuai jadwal. Penonton yang saya lihat pun juga baru berdatangan dalam jumlah kecil.

Mekuji Rasta yang mendapatkan kesempatan pertama tampil di One Way One Vision ternyata telah siap tampil pada pukul 17.30 WITA, walaupun penonton masih sangat sedikit sekali.  Sangat disayangkan sekali untuk gelaran kreatif seperti ini, penontonnya masih belum antusias untuk hadir lebih awal. But the show must goes on. Band pengusung musik reggae yang berdiri sejak 2011 ini membawakan lagu karya mereka sendiri “Lupa Daratan”, lagu milik Bob Marley berjudul “Is This Love” dan lagu milik Imaniar, “Anak Pantai” walau hanya segelintir orang yang menyaksikan mereka.

R.A.V.D pun tampil selanjutnya di panggung One Way One Vision. Membawakan lagu sendiri berjudul “Sahabat” dan meng-cover  “No Woman No Cry” dari Bob Marley, R.A.V.D sempat membuat saya cukup takjub dengan gaya nge-rap mereka. Kuartet yang menamakan diri berasal dari singkatan nama mereka yaitu Radith, Adhie, Viqie dan Denis, mulai terbentuk pada bulan September tahun 2013. Tampaknya nafas baru untuk kancah musik hip hop di Makassar bisa semakin berkembang dengan kemunculan mereka yang baru terlihat merambah panggung musik indie seperti One Way One Vision ini.

R.A.V.D dengan semangat musik hip hopnya. Yo! (Foto: M. Ifan Adhitya )

R.A.V.D dengan semangat musik hip hopnya. Yo! (Foto: M. Ifan Adhitya )

Ruang Baca menjadi penampil selanjutnya di One Way One Vision. Duo folk akustik yang rupawan ini seolah tak pernah bosan untuk saya saksikan. Di tiga panggung musik yang saya simak, seperti Pekan Depan, Seni Lawan Korupsi dan panggung Under The Poetic Sky MIWF 2015, saya selalu ingin mendengarkan mereka membawakan musikalisasi puisi “Terbangnya Burung” milik Sapardi Djoko Damono. Walhasil, saya kembali mendengarkannya di One Way One Vision. Penampilan Ruang Baca  secara live ini juga menyimpan harapan saya agar mereka segera merilis album EP atau LP sekalipun. Semoga mereka tidak diam-diam di balik jendela untuk hal krusial ini.

Ruang Baca ketika tampil di One Way One Vision. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Ruang Baca ketika tampil di One Way One Vision. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Idiot Einstein tampil setelah Ruang Baca menutup penampilan mereka dengan lagu “Terbangnya Burung”. Empat anak muda yang mengusung melodic punk  dan baru terbentuk tahun ini pun tampil di panggung One Way One Vision. Jujur saja, saya lupa menanyakan kepada mereka apa judul lagunya waktu itu. Namun, yang menarik perhatian dari Idiot Einstein adalah vokalisnya yang memiliki corak vokal seperti Guy Picciotto dari Rites of Spring dan Fugazi dan Kris Roe dari The Ataris. Selebihnya, saya masih berharap mereka bisa tampil lebih sering lagi di panggung-panggung musik berikutnya dengan lagu-lagu karya sendiri.

Addict Motion pun tampil selepas Idiot Einstein . Addict Motion pernah saya saksikan di Bising Bising Tetangga   membawakan lagu mereka “Runaway”, “Hangover”, dan lagu milik Blink-182 “Dammit”. Kuartet pop punk yang sedang mengerjakan album perdananya ini mengabarkan rencana albumnya yang bakal keluar bulan pada bulan September yang direkam secara home recording serta membuat EP dengan memasukkan cover lagu band-band yg menginspirasi mereka.

Jeda panggung selama lima belas menit setelah Addict Motion tampil, tampaknya dipersiapkan untuk penampilan King of Kings yang siap menghentak One Way One Vision malam itu. Kuintet hardcore  yang terbentuk tahun 2014 ini pun langsung mengajak para hardcore kid yang hadir segera merapat dan meliarkan moshpit. King of Kings pun membawakan lagu sendiri,”Kings of Kings” lagu milik Hatebreed “Give Wings to My Triumph” dan Madball “Heavenandhell”. Walau masih terlihat sungkan, beberapa hardcore kid mulai berputar-putar dan berpogo ria mengikuti hentakan drum Petra dan riff gitar kedua gitaris King of Kings, Dennis dan Singgi.

King of Kings bersiap menjadi raja dari para raja musik hardcore di kota ini. (Foto: M. Ifan Adhitya )

King of Kings bersiap menjadi raja dari para raja musik hardcore di kota ini. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Salah satu penampilan yang saya tunggu-tunggu di One Way One Vision adalah penampilan Undergrace, band metalcore asal Tana Toraja. Saya sempat menyaksikan penampilan mereka di Rock In Celebes 2014, walaupun saat detik-detik terakhir mereka tampil. Kehadiran mereka di One Way One Vision tentunya harus disaksikan secara utuh. Terlebih lagi mendengar kabar mereka membawa serta teman-teman penggemar mereka dari Toraja serta teman-teman Peluru Tajam Celebes untuk hadir menyaksikan mereka. Bisa dibayangkan betapa ramainya moshpitnya ketika mereka tampil. Benar saja, penampilan Undergrace malam itu pun sukses memukau saya dengan ditemani ‘kehangatan’ moshpit yang menggarang dan riuh rendah nyanyian para headbanger yang ikut menyanyikan lagu-lagu mereka dari album EP mereka, Between Light and Darkness.

Undergrace menjadi satu-satunya band yang paling memikat perhatian para headbanger untuk tidak malu-malu menyeruak ke depan panggung. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Undergrace menjadi satu-satunya band yang paling memikat perhatian para headbanger untuk tidak malu-malu menyeruak ke depan panggung. (Foto: M. Ifan Adhitya )

Melihat penampilan kharismatik dari Undergrace yang datang jauh-jauh dari Toraja ke Makassar tersebut membuat saya menaruh perhatian berikutnya kepada Minorbebas. Band yang mengusung alternatif rock dengan benang merahnya adalah grunge selalu menjadi favorit saya, dan Minorbebas adalah salah satu bandnya. Minorbebas merupakan projekan dari Radit sebagai frontman dari band ini dengan tiga orang di belakangnya sebagai personil tidak tetap dari Minorbebas. Membawakan tiga lagu diantaranya “Breed” dari Nirvana dan “Astigmatisma”, Minorbebas menampilkan performa yang sangat luar biasa malam itu didukung dengan output dari sound yang mumpuni.

Minorbebas yang dikomando oleh Radit di vokal/gitar yang semakin nge-grans grans saja. Tourette's!(Foto: M. Ifan Adhitya )

Minorbebas yang dikomando oleh Radit di vokal yang semakin nge-grans grans saja. Tourette’s!(Foto: M. Ifan Adhitya )

Aksi Minorbebas tidak cukup sampai di situ saja. Andi, sang pembetot bass, ternyata telah menyiapkan salah satu momen yang mencengangkan banyak penonton malam itu: menghancurkan bass bersejarahnya. Detik-detik destruksi penghancuran bassnya itu sempat terekam oleh kamera smartphone saya di bawah ini.

 

Selepas aksi Minorbebas yang ditutup dengan penghancuran bass yang sensasional tersebut, Sombaside pun bersiap mengajak para penonton yang didominasi hardcore kid untuk siap menerjang kembali keliaran moshpit malam itu. Berturut-turut lagu dadakan mereka berjudul “Naruto” yang dibuat langsung di atas panggung, “Jump Around”, “Sound of Resistance”, “Change of The World” dan “Pride of Glory” dibawakan tanpa ba-bi-bu oleh keempat personilnya. Oiya, Sombaside malam itu juga dibantu oleh Aslan dari Fun Just Fun dan From Ashes of The Throne.

Sombaside di One Way One Vision Vol. 3 (Foto: M. Ifan Adhitya )

Sombaside di One Way One Vision Vol. 3 (Foto: M. Ifan Adhitya )

Sombaside sukses mengkanvaskan panggung One Way One Vision malam itu dengan moshpit yang semakin liar. Tapi tampaknya penampilan terakhir malam itu ditutup dengan nada-nada mayor dan minor melodius dari Makassar Rocksteady. Kelompok yang cukup komplit ini dengan tujuh orang di atas panggung ini, malah membuat penonton termasuk saya ikut mengerakkan badan mengikuti hentakan irama rocksteady yang mereka bawakan. “Godfather’s Theme” membuka penampilan Makassar Rocksteady malam itu. Tak pelak, nuansa musik rocksteady yang saya kenal setelah mendengar The Skatalites ini menutup dengan manis atmosfir panggung One Way One Vision volume ke-tiga.

penampilan Makassar Rocksteady di One Way One Vision malam itu seakan mengantar saya menonton The Skatalites secara langsung. Guns of Navarone! (Foto: M. Ifan Adhitya )

penampilan Makassar Rocksteady di One Way One Vision malam itu seakan mengantar saya menonton The Skatalites secara langsung. Guns of Navarone! (Foto: M. Ifan Adhitya )

Semoga gelaran panggung musik kolektif seperti ini mampu menjaga asa serta mewarnai panggung-panggung musik di Makassar. Harapannya tidak hanya sekedar selebrasi saja, namun memiliki makna bahwa penggiat seni kreatif Makassar di bidang musik bisa banyak berkarya dengan idealismenya masing-masing dengan ruang alternatif yang disediakan seperti One Way One Vision ini. Ewako, Taman Indie Makassar! []


 Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise