Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Wira Nagara adalah salah seorang comic asal Purwokerto yang memiliki ciri khas kumis yang melengkung. Dia juga seorang mahasiswa jurusan Pertanian yang saat ini sedang mengerjakan skripsi. Makassar menjadi kota pertama di luar Jawa yang dikunjugi oleh Wira.

Membingungkan memang jika mengingat materi yang ia bawakan pada setiap stand up comedy-nya bisa dibilang sedikit berbau sastra. Berbau sastra dalam artian kalimat-kalimatnya yang puitis. Seakan tidak ada masalah bila kelucuan dibungkus dengan sedikit kegetiran di dalamnya. Selain itu, Wira juga rutin menulis beberapa sajak di blog pribadinya. Dengan dibubuhi oleh gambar-gambar manis meski puisinya sedikit dramatis. Wira meyakini bahwa itu adalah salah suatu bentuk untuk melegakan diri. Sebuah terapi ringan menghindari depresi dari berbagai situasi yang barangkali tidak selalu menyenangkan.

Hadirnya Wira semakin menambah warna di dunia stand up comedy. Memiliki ciri sendiri agar mudah diingat oleh orang adalah salah satu alasan mengapa ia membawakan materi stand up yang berbeda dengan yang lain. “Aku pertama kali ngerti kalau stand up itu kayak ruang. Panggung itu ruang-ruang berbicara, ruang-ruang kebebasan kita buat ngomong apapun dan kita harus mewakili sesuatu.” Jelasnya.

Di sela-sela waktu berkumpul Wira bersama dengan para comic asal Makassar, Revius berkesempatan mengulik inspirasi seorang Wira Nagara dalam berkata-kata. Serta motivasinya dalam menulis puisi-puisi dengan judul yang sulit dimengerti.

 

PENYAIR

Karena sedari kecil saya dididik untuk membaca. Jadi, kalau ada uang suka beli majalah dan komik. Kalau terbiasa begitu jadi ingin membaca yang lebih. Terus pernah ada fase saya tergila-gila dengan Khalil Gibran. Bahkan sampai pernah debat dengan orang tua hanya memakai puisi dan itu selesai. Puisinya berjudul “Anakmu Bukan Milikmu” yang bercerita tentang orang tua yang tidak bisa untuk terus mengekang anaknya.

BUKU

Karena sering membaca yang seperti itu, akhirnya tertarik dengan buku-buku. Terutama buku-buku romansa. Karya-karya besar sampai sekarang belum banyak saya baca, tapi misalkan ada waktu pasti mencari buku-buku yang seperti itu. Memang suka. Suka saja.

STAND UP DAN SASTRA

Kalau dibilang mencampurkan sastra sepertinya terlalu berat. Jadi cuma lebih kepada suka saja. Karena di panggung adalah ruang kebebasan, jadi kita harus mewakili sesuatu. Kebetulan ada satu kisah percintaan saya yang mana saya tidak pernah digubris oleh seorang perempuan yang saya suka. Jadi ini seperti jadi ajang pembuktian. Seperti potongan lagu The Script, “Maybe I’ll get famous as the man who can’t be moved, and maybe you won’t mean to but you’ll see me on the news”. Saya kemudian memilih bersuara seperti itu karena memang ada ruang. Syukurnya orang-orang bisa menerima itu. Intinya kita juga bisa mengubah sesuatu yang menyakitkan lewat tawa jika kita bisa memperdalam segalanya.

ALASAN MENULIS PUISI

Itu juga menulis puisi di blog sudah lama sekali. Memang suka. Kalau orang patah hati kan tulisannya mengalir saja. Ya keluar dari otak maunya arah cerita saya itu seperti ini. Di sini lebih ke pendongeng saja. Sebagai seorang pencerita. Saya pernah berada di masa tingkat komedi saya kurang dan itu memang harus diterima. Ada dua fase tingkat keinginan seseorang untuk menulis itu tinggi; kalau kamu sedang jatuh cinta dan kamu sedang patah hati.

JUDUL PUISI YANG ANEH

Ceritanya saya adalah orang yang pernah mengalami fase-fase buruk di SMA terutama pada pelajaran IPA. Saya dulu berpikiran kalau yang namanya pelajaran fisika, kimia, dan biologi itu bisa dianalogikan. Cuma dulu tidak ada ruang karena ada aturan. Makanya saya buat semua ini menjadi judul puisi dan semua itu sebagai analogi. Tulisan pertama yang mewakili suatu peristiwa sains adalah Presipitasi Koalesensi. Itu adalah sebuah peristiwa biologi tentang terbentuknya hujan. Analoginya adalah ketika kamu sedang jatuh-jatuhnya terhadap seseorang, kamu akan berada di fase yang sangat sedih bahkan air matamu sudah terkumpul. Saking sedihnya kamu tidak bisa lagi untuk menitikkannya dan akhirnya menjadi nanar. Judul-judul lain juga serupa dengan itu. Kalau mau cari bisa di-search perkataan saja. Karena saya selalu percaya jatuh cinta dan patah hati itu logis. Jadi untuk memperkuatnya, saya menggunakan istilah sains.

TENTANG PATAH HATI

Kebanyakan orang melihatnya seperti berkata, “orang ini lemah sekali!” Cuma ya saya bilang, ya sudahlah. Untuk orang yang sering berkoar-koar kalimat yang tadi mungkin dia sekuat itu. Tapi manusia banyak sekali dan ada beberapa orang yang berbeda dan dia tidak punya kesempatan berbicara. Itu termasuk saya. Saya mewakili suara-suara yang memang melakukan penolakan move on. Saat ini saya sedang proses menyelesaikan sebuah buku. Isinya ada beberapa dari blog dengan sedikit perubahan. Motivasinya menulis buku ya untuk bersuara. Suatu hari nanti akan ada yang bercerita terhadapmu. Saya tidak mau mati sia-sia dan tidak ada yang ditinggalkan.


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti