Oleh: Ervirdi Rahmat ( @ervirdirahmat ) | Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

Tidak gampang menjadi manusia, mau baca novel aja harus ikut pre-order dan menunggunya cukup lama. Itulah yang terlintas di pikiran saya ketika menunggu O, novel terbaru Eka Kurniawan yang tak kunjung sampai di bulan Februari.

Barulah di awal bulan Maret, bersama satu kaos bergambar monyet, novel itu sampai. “Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut,” tulisan di belakang sampul novel itu mengatakan demikian, simpel dan cukup menggelitik serta membuat penasaran. Saya pun langsung melahap novel setebal 470 halaman itu dalam dua hari.

Monyet-monyet tua di Rawa Kalong sering menceritakan suatu kisah tentang seekor monyet yang berhasil berubah menjadi manusia. Hampir semua monyet takjub dan percaya dengan hal itu, beberapa dari mereka bahkan mencoba mengikuti jejaknya, kecuali O si monyet betina. O tidak sepenuhnya yakin dengan hal itu, tetapi mau tidak mau akhirnya ia ikut terseret dalam percobaan menjadi manusia. Ia bergabung dengan satu sirkus topeng monyet untuk mempelajari bagaimana menjadi manusia sehingga O bisa mewujudkan janji dan impian untuk menikah dengan kekasihnya yang ia yakini telah berubah menjadi manusia, menjadi seorang Kaisar Dangdut.

Sepintas di bagian awal novel ini kita akan mengira bahwa O adalah fabel, tetapi O tidak sepenuhnya dapat dikatakan sebagai fabel. Ia bisa dikatakan sebagai semi-fabel karena cerita tentang binatang hanya menjadi pengantar dan O tidak hanya berkisah tentang tokoh O saja, melainkan juga menceritakan banyak hal yang memiliki kaitan atau berada di sekitar tokoh O seakan membentuk lingkaran yang menyerupai huruf O itu sendiri. Ya, dalam novel terbarunya ini, Eka Kurniawan tetap dengan gaya khasnya seperti alur non-linier yang berloncat-loncatan, narasi kuat dengan dialog yang seperlunya, dan juga tokoh-tokoh yang amat banyak yang memiliki kisahnya sendiri-sendiri, mulai dari polisi, anjing, kyai, tikus, pemulung, burung, bandar narkoba, dokter, pistol revolver, kaleng sarden, dan masih banyak lagi.

O adalah novel dengan cerita yang berlapis-lapis sehingga wajar jika terdapat multitafsir dalam menilainya. Kita bisa melihatnya lewat berbagai cara, tak heran banyak yang menilai O sebagai novel tentang sindiran terhadap manusia yang tingkahnya seperti binatang, tentang binatang hingga kaleng sarden yang bahkan memiliki sifat yang lebih baik dari manusia, tentang kisah spiritual, tentang petualangan yang seru, tentang cara memandang dan mengekspresikan cinta,tentang penuntasan dendam serta rasa penasaran, dan tafsiran-tafsiran lainnya.

Saya kira tidak ada yang salah dengan tafsiran-tafsiran tersebut, memang ada banyak hal yang coba dikupas oleh O. Pertama menurut saya, O memberikan perenungan tentang makna menjadi dan memandang manusia lewat kisah dari binatang dan manusia itu sendiri. Manusia itu kompleks, rumit betul, dan tidak bisa dinilai lewat satu atau dua halaman saja, melainkan satu buku penuh, tetapi pasti sangat jenuh membaca buku berisi manusia tersebut. Manusia adalah suatu paradoks, mereka bisa sangat baik dan mengutamakan sesama manusia lalu menyebutnya sebagai kemanusiaan, tetapi juga bisa mementingkan dirinya sendiri dan berbuat salah serta khilaf lalu mengatakannya sebagai manusiawi. Begitulah pandangan saya terhadap manusia setelah membaca O.

Dan O menampilkan banyak paradoks itu seperti parade, berjalan beriringan di setiap halamannya. Di suatu halaman seekor monyet bisa-bisanya dengan gagah berani membahayakan nyawanya sendiri demi menyelamatkan seorang anak manusia dari ancaman ular sanca, tetapi di halaman berikutnya si monyet itu justru berusaha mencelakai sesama monyet dan manusia secara sengaja.

Kedua, O memberikan perenungan tentang arti cinta yang lagi-lagi paradoks. Cinta adalah sesuatu yang membuat kita bahagia dalam hidup, tetapi cinta bukan satu-satunya yang membuat kita bahagia. Apakah benar kita harus terus berdarah-darah, bersakit-sakit, dan membohongi diri sendiri demi berkorban untukkonsep cinta yang adiluhung itu? Atau kita memang harus terus memperjuangkannya meskiakan dikutuk seperti seekor tikus yang berani berkorban untuk cintanya karena itu adalah bukti bahwa kita telah mencintai? Wallahu A’lam Bishawab.

Ketiga, masih berkaitan juga dengan perihal cinta, namun cinta kali ini bisa dikatakan lebih besar dan rumit bentuknya, yaitu cinta kepada Sang Pencipta. O mengemas tentang hal-hal keagamaan, beberapa kali bahkan mengutip ayat dari kitab suci, dengan cukup menarik lewat berbagai tokoh; syekh, kyai, bahkan burung kakatua yang memperlihatkan tipikal-tipikal beberapa dari kita dalam beragama. Mulai dari syekh yang begitu taat dan punya niat baik, tetapi terlalu memaksakan agar semua orang menjadi sebaik dirinya. Lalu, ada kyai yang fokus menjalani ibadahnya; melantunkan ayat-ayat suci setiap malam karena ia yakin akan mendapatkan ganjaran atas yang ia perbuat. Sampai tipikal yang paling menyebalkan, yaitu si burung kakatua yang sangat berisik dan paling bawel dalam menyerukan kebaikan, tetapi malah tidak paham betul tentang apa yang diucapkannya.

Dari cerita yang begitu rumit dan terasa berat itu, menurut saya Eka Kurniawan tetap mengemas O secara ringan, ia beberapa kali menyelipkan humor-humor dan satire khasnya. Saya beberapa kali tergelak bahkan hingga tertawa cukup keras dibuatnya ketika membaca seekor monyet yang diberi gelar mujahid ketika mati setelah menyebrang jalan tol atau ketika percakapan antara seekor anjing dengan burung kakatua yang cuma bisa bicara itu-itu saja dan yang paling meledakan tawa saya adalah ketika dua orang anak yang sedang “mabok lem” ditanyai oleh seorang ibu yang sedang mencari anaknya, serta masih banyak lagi hal-hal lain yang sukses membuat saya terpingkal-pingkal sehingga novel yang kelihatannya tebal ini terasa begitu ringan.

Lalu, yang membuat ini menarik lainnya ialah binatang-binatang dalam kisah ini tidak hanya dijadikan sebagai gambaran dari manusia, tetapi juga digambarkan sebagai binatang yang memiliki hubungan yang intim dengan manusia (pemiliknya) sebagaimana di kehidupan nyata. Banyak momen-momen menyentuh antara manusia dan binatang (peliharaannya). Antara Wulandari dengan Jarwo Edan, Kirik si anjing kecil dengan Rini Juwita, antara burung kakatua dengan seorang Syekh, dan tentu saja antara O dengan Betalumur si pawang sirkus.

Meskipun begitu, tetap ada kekurangan dalam O, mungkin banyak yang menyadari bahwa novel Eka Kurniawan kali ini tokoh-tokohnya masih saja bicara dengan suara narator dan juga ketelitian Eka ketika menulis telah memberikan nila setitik dalam susu sebelanga seperti ada beberapa kesalahan ketik dan penyebutan.

“Demikianlah. Murid-murid sang aulia pernah berkata bahwa guru mereka bisa bicara dengan binatang. Sang aulia selalu membantah. Tapi Entang Kosasih merasa tak perlu membuktikan apa pun lagi tentang kehebatan sang guru”(hal. 230) saya kira Eka Kurniawantelah tertukar menyebut nama tokoh Entang Kosasih di sini karena di paragraf sebelumnya ia sedang bercerita tentang monyet lainnya; Armo Gundul.

Secara pribadi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena saya bukanlah orang yang teliti amat dan merasa terganggu betul dengan kesalahan-kesalahan elementer yang sebenarnya bisa saya betulkan sendiri. Secara keseluruhan menurut saya O ini bagus, adapun yang membuat saya sedikit terganggu dan membuat saya mengatakan O “hanya bagus” alih-alih luar biasa adalah cara Eka Kurniawan mengakhiri ceritanya.

Sebagai seorang pembaca yang sudah hampir membaca seluruh karyanya, saya kira sulit menilai O tanpa membandingkannya dengan novel-novel Eka Kurniawan sebelumnya. Tiga novel Eka Kurniawan sebelumnya (Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas) menurut saya sukses membuat penutup yang memancing decak kagum. Namun, kali ini O menurut saya diakhiri secara antiklimaks.

Tidak adil rasanya jika mengatakan O secara keseluruhan jelek hanya karena bagian penutupnya. O bagi saya adalah satu novel yang sangat enak dinikmati sehingga tidak ingin terburu-buru menyelesaikannya, dan ternyata betul bagian penutupnya membuat saya tidak ingin menyelesaikannya. Mungkin karena selera pribadi saya yang tidak terlalu menyukai penutup menggantung yang menurut saya terlalu ambigu serta saya juga kurang suka dan agak terganggu dengan semacam epilog tentang Betalumur si pawang sirkus yang agak di luar kerangka utama cerita antara O dengan Kaisar Dangdut dalam mengakhiri novel setebal 470 halaman ini.Tetapi itulah Eka Kurniawan, sangat berani mengambil keputusan mengakhiri O dengan caranya sendiri atau mungkin penutup kali ini memang menggambarkan kerangka cerita O itu sendiri: ini novel yang (sebagian) tokohnya diperankan binatang, tetapi tetap tentang huh, manusia.

Intinya, O adalah novel bagus yang patut disyukuri kehadirannya setelah delapan tahun ditulis. Tentu tidak mudah membuat novel yang cukup rumit ini sebagaimana tidak gampangnya menjadi manusia, mau bilang O ini layak dan perlu dibaca aja harus repot-repot mengungkapkan alasan-alasannya seperti di atas. []

O_Novel-by-Eka-Kurniawan_Katakerja_ReviusJudul: O | Penulis: Eka Kurniawan | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama |Terbit: Februari, 2016 | Tebal: 470 halaman | ISBN: 978-602-032559-0

Baca tulisan lainnya

Eka Kurniawan: Aku Ingin Membesarkan Diriku Sebagai Pembaca daripada Penulis

Sejumlah Kumpulan Cerpen Indonesia yang Saya Baca Dua Kali atau Lebih

Hati-hati, Negara bisa Melumpuhkan Alat Vitalmu!

Bukan Hanya Dendam, Rindu pun Harus Dibayar dengan Tuntas

Dunia Sialan