Oleh: Ahmad Aulia Rizaly* (@rizalyaulia )

Semasa kecil, saya sering diajak ke pasar tradisional oleh ibu saya. Berbeda dengan pasar swalayan modern yang dihiasi pelayan berseragam yang melayangkan senyum kemana-mana, pasar tradisional cukup “kacau”; Ada penjual yang sibuk menghitung uang yang didapatkannya, ada yang hanya duduk termenung menunggu pembeli, ada yang sibuk merapikan jualannya, ada pula yang tertidur bersamanya. Belum lagi becak dan motor yang lalu-lalang di lorong-lorong pasar yang sempit dan anak kecil yang duduk termenung menunggu ibunya selesai belanja.

pasar dan kekacauannya_revius1

pasar dan kekacauannya_revius2

pasar dan kekacauannya_revius3

pasar dan kekacauannya_revius5

pasar dan kekacauannya_revius6

Namun, dalam “kekacauan” itu, saya melihat suatu keindahan yang tidak biasa, yang membuat saya senantiasa merindukan suasana pasar. Suasana yang tidak saya dapatkan di pasar swalayan. Saya melihat interaksi antara manusia dengan berbagai hal. Interaksi ini tumbuh dan berkembang menjadi suatu dinamika yang menjadi bagian hidup dari orang-orang yang menghabiskan kesehariannya di pasar. Dinamika inilah yang saya “tangkap” dengan kamera saya dan kemudian menjadi suatu potret kehidupan yang sederhana.

 

Pasar Terong – Makassar, 5 September 2015.

*Penulis adalah anak FK-yang-salah-jurusan menghabiskan sebagian waktunya di balik lensa kamera.


Baca artikel Photo Essay lainnya

Daeng Mangku’ dan Koran Flyover

Tumbangnya Pandang Raya

Tembok Penuh Warna

Ayokmi Ngopi!

Belajar Menjadi Kreatif dari Bayi

Kita adalah Pemilik Sah dari Ruang Publik Kota Ini!

Kebohongan hingga Senyuman: Interpretasi Ilustrasi-ilustrasi “Dialog Diri”

Pendar-pendar Berwarna yang Menebar Asa

Cinta dan Fanatisme

Menanti Arah Setelah Dua Dekade

Portraits of The Spectacle