Pukul 19.30 terlihat beberapa anak muda memasuki sebuah rumah di Jalan Bontonompo no. 12A Gunung Sari. Dari halaman belakang Rumata’ Artspace. kita sudah bisa mendengar bunyi gitar dan alat musik lainnya yang sedang sound checking

Pecha Kucha adalah acara yang membuat anak-anak muda tersebut berbondong-bondong mendatangi Rumata Artspace. Mengangkat tema “SHUTTLE OF THE IDEA” Pecha Kucha menghadirkan Sembilan presenter yang mempresentasikan ide mereka dengan menggunakan Microsoft PowerPoint yang terdiri dari 20 slide dengan waktu 20 detik untuk setiap slide-nya.

10 maret 2014 menjadi hari yang menyenangkan bagi para penampil. Selain bisa membagi ide ke banyak orang, Pecha Kucha juga menjadi ajang ngumpul yang meriangkan bagi generasi muda kreatif Makassar, setidaknya itu yang nampak dari raut wajah para penampil, penyelenggara, dan tetamu yang hadir.

Diselenggarakan di lebih dari 200 negara di dunia, senang rasanya Makassar bisa menjadi salah satu kota yang ikut berpartisipasi  dalam acara yang pertama kali diselenggarakan di Jepang ini. Dengan asumsi bahwa untuk mempresentasikan ide, sebenarnya seseorang tidak membutuhkan waktu yang banyak karena dengan mempersingkat penjelasan tentang ide tersebut, maka pesan yang akan disampaikan juga akan menjadi lebih padat dan tersampaikan dengan jelas. Bila Einstein masih hidup, dia akan bangga melihat PechaKucha yang mendunia ini.

Mungkin, ini salah satu inspirasi dari para pencetus PechaKucha

Banyak hal yang di-presentasikan di Pecha Kucha Volume 4. Dimulai dengan cerita komunitas Lontara Project yang berkunjung ke belanda untuk melihat teks La Galigo, kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai menulis buku yang dibawakan oleh Ibe S Palogai selaku penulis buku Solilokui, cerita foto dari Muh. Indra Gunawan, berbagi pengetahuan tentang museum dari Wahyu Tri Baharsyah, seni Kolase dari Swantatra, ada juga bunyi-bunyi perhalaman yang mempresentasikan tentang kegiatan musiknya, Viny Mamonto yang berbincang soal tema besar buku Presiden Kelinci, Mudrikan Nacong yang membagi pengetahuan tentang dunia broadcasting, dan yang paling unik adalah cerita tentang sejarah Mie Awa yang disajikan oleh Anna Young Hwa.

BiX4k6GCMAA0PAI.jpg large

Selain presentasi dari para presenter di atas, ada penampilan memukau dari Wild Horse yang membuat suasana malam di teras belakang Rumata Artspace menjadi lebih bersahabat.

Ruang berbagi ide seperti Pecha Kucha memang sangat dibutuhkan. Bukan hanya tentang bagaimana kita menceritakan ide kita, tapi juga tentang bagaimana kita mendengarkan ide orang lain. Sampai jumpa di Pecha Kucha Night Makassar Volume 5!