Oleh : Nurhady Sirimorok ( @nurhadys ) | Ilustrasi : Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

“Tahun kemarin saya berhasil menambahkan dua belas tulisan di blog. Lumayan.” Kadang saya menghibur diri seperti itu. Tetapi, saya tahu, angka itu terlampau kecil daripada yang seharusnya bisa saya tuliskan. Tidak jarang saya mendapat dorongan ‘dari dalam’ untuk menulis lebih banyak, menulis apa saja yang baru terlintas di pikiran, mencatat hal-hal menarik yang saya lihat atau alami. Saya pernah melakukannya ketika masih menenteng buku catatan ke mana-mana dan berhenti saat ditemani komputer.

Dorongan tersebut kerap tertahan pikiran bahwa semua itu belum matang, masih perlu ditimbang-timbang, data belum lengkap atau harus buka buku dulu, sampai kemudian mereka menguap setelah tertimpa bertumpuk pekerjaan, kegiatan, atau pikiran lain—di dunia nyata maupun maya. Dengan sempurna saya kerap berhasil menyunting tulisan bahkan sebelum sempat menuliskannya. Satu demi satu calon tulisan lenyap sebelum lahir ke dunia. Dan, saya tahu, hal itu melanggar satu aturan penting menjadi penulis.

Saya terlampau sering lupa, satu manfaat tulisan yang entah sudah sekian kali dituliskan orang adalah mendokumentasi pikiran yang tengah bertumbuh, dan bahwa tidak ada tulisan yang selesai, bahwa ‘kupas tuntas’ atau ‘bahas habis’ itu mimpi di siang bolong. Mungkin saya harus lebih banyak jalan-jalan ke desa melihat padi atau singkong bertumbuh. Mereka ada di sana, setiap orang bisa melihatnya bertumbuh, dari bibit hingga buah lalu dimakan orang untuk hidup. Tak ada yang tersembunyi.

Para petani, dengan terbuka, menunjukkan bagaimana sesuatu bisa mereka tumbuhkan dan bermanfaat bagi orang lain. Kau bisa melihat mereka setiap musim bertebaran di sawah dan ladang. Kau bisa singgah, atau bahkan berkunjung, dan melihat lalu menanyakan apa yang mereka kerjakan. Mereka tidak perlu tahu siapa yang akan memakan beras atau singkong yang mereka tanam. Mereka hanya menanam, sebab itulah pekerjaan mereka. Seharusnya begitulah seorang penulis–semoga saya bisa terus mengingat ini.

Mereka tidak selalu hidup enak dari hasil panen, tetapi nyaris setiap hari mereka menundukkan tubuh mengolah tanah untuk menumbuhkan dan memetik bermacam-macam buah yang akan terhidang di meja kita. Para petani tidak harus menikmati semua panen itu. Mereka tidak bisa. Tetapi mereka terus menanam.

Tapi, tunggu dulu, jangan-jangan persoalan ini perlu dilihat dengan cara berbeda.

Begini, petani tidak sendirian. Buruh pabrik menghasilkan sandang setiap hari, buruh bangunan mendirikan gedung setiap hari. Nelayan menantang lautan untuk menangkapkan ikan buat kita. Mereka juga melakukannya setiap hari. Mereka pun tidak selalu menikmatinya.

Saya, dan mungkin anda, juga mengalaminya.

Kerja untuk menyambung hidup (job) dan berkarya menghasilkan yang kita inginkan (work) memang sering tidak sejalan, tergantung pada sistem relasi kerja yang menghasilkan kerja atau karya tersebut. Semua kerja memang punya potensi memproduksi karya yang bermutu dan bermanfaat bagi orang banyak, tetapi bila potensi itu akan menemukan wujud, itu bergantung pada bagaimana hubungan kerja antara para pekerja dan majikan.

Saya tidak kurang menulis tahun lalu—yang muncul di blog hanya sebagian kecilnya. Sebagian besar saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Sama dengan petani dan nelayan atau buruh bangunan dan pabrik. Saya tidak tahu apakah semua yang saya tuliskan bermanfaat bagi para pemesan—saya berharap demikian. Walaupun saya berusaha menulis sebaik mungkin, agar bermanfaat bagi orang banyak, saya tidak begitu tahu apakah tulisan itu akan atau bisa digunakan oleh lembaga-lembaga yang memesannya.

Tetapi, situasinya bisa lebih buruk daripada yang saya alami.

Bukankah kita sering mengeluh tentang tulisan para jurnalis yang kurang empati, bangunan yang gampang roboh, atau ikan yang sudah ‘mati tujuhbelas kali’ sebelum dihidangkan? Apakah itu melulu salah mereka? Saya tidak yakin mereka ingin menghasilkan kerja yang dihujat konsumen—dan meninggalkan mereka untuk dililit pailit.

Garin Nugroho pernah menulis bahwa seorang kawannya melarang anak sendiri menonton sinetron yang ia dan rekannya buat. Ia tahu daya rusak hasil kerjanya sendiri. Begitu pula seorang petani yang terpaksa menjual tanah karena terlilit utang setelah input kimia melangit dan tanamannya rusak digerus hama. Ia lalu mendapati diri menyambung hidup di seberang lautan, di ladang sawit yang mungkin telah menggusur mata pencaharian petani lain. Atau berdiri berjam-jam di pabrik menjahit barang bermerek—dan dibayar murah—yang harga produknya justru jauh dari jangkauan pekerjanya.

Mutu dan penerima manfaat kerja mereka, para proletar, tidak selalu dapat mereka kendalikan. Saya menjadi jarang menulis sesuatu yang saya—dan mungkin orang lain—nikmati, bukan melulu karena saya malas atau lalai. Tapi bisa juga karena saya terlalu lelah.

Dengan sistem yang berkuasa sekarang, saya kadang menemukan diri tidak bisa mengontrol apa yang ingin dan tidak ingin saya lakukan. Tidak terlalu berbeda dengan nasib petani, nelayan, dan para buruh. []


Baca Tulisan Lainnya Berkaitan dengan Nurhady Sirimorok

Oto Kandang Puyu

Sepuluh Tahun Kemudian

Dari Kopi Hingga Hal-Hal Ganjil

Maniang dan Sekolah Barunya

Belajar Pacaran dari Noam Chomsky

Terbebas dari Konsumtif, Orang Tua adalah Kunci