Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Suatu pagi, perhatian saya berhenti di salah satu channel TV lokal. Bukan karena berita, tapi karena terkejut melihat teman SMA saya jadi pembaca ramalan cuaca. Kemudian saya tekan remote mencari channel lain, tapi semuanya seragam. Gosip, petuah keagamaan, dan kejadian-kejadian di Jakarta sana yang tidak terlalu berpengaruh di sini. Akhirnya, saya kembali ke channel TV lokal yang tadi.

Ada berita yang menayangkan tentang kontroversi pembangunan Centre Point Of Indonesia (CPI). Membuat saya teringat, semalam, hal yang sama sedang dibahas oleh salah satu selebtwit lokal. Intinya menurut pemerintah “Itu tanah rakyat”, “AMDAL-nya sudah jelas”, dan “pembangunannya untuk rakyat”.

Saya ragu dengan pernyataan pihak pemerintah itu, dimulai dengan tanah rakyat. Sejalan dengan salah satu netizen menanggapi selebtwit lokal, tanah yang dimaksud sebelumnya adalah laut yang ditimbun untuk proyek CPI. Menjual nama rakyat, demi kelancaran proyek, cerita lama.

Lalu ada soal AMDAL yang banyak ditentang oleh aktivis peduli lingkungan. Saya tidak terlalu mengerti. Tetapi, kata mereka ini bisa berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat pesisir yang mayoritas penduduknya nelayan. Kualitas sumber-sumber daya laut juga menurun. Kalau ini terjadi bisa berbahaya, nelayan tidak melaut, mereka mengalami kesulitan ekonomi karena tidak punya pendapatan, pasokan hasil laut ke pasar berkurang. Bagi kita yang hanya penikmat hasil laut, ini sama saja sama saja kita kehilangan ikan bakar, ikan bakar parappe’, ikan goreng rica-rica ataupun cumi goreng tepung. Malah penyakit hipertensi yang bakal kita idap kalau pilihannya hanya coto atau pallubasa.

Terakhir: pembangunan untuk rakyat? Saya sering mengkhayal kalau saja pemerintah mau lebih jujur dalam redaksi pernyataannya. Slogan “pembangunan untuk rakyat” sering sekali dijual kepada rakyat dan beberapa pembangunan biasanya berakhir mengecewakan rakyat. Jadi redaksinya mungkin bisa diganti “Pembangunan untuk sebagian rakyat” atau “Pembangunan untuk tontonan rakyat”? Mungkin dengan itu bisa sedikit dimaklumi.

Yah, soal pembangunan CPI, pertentangan akan selalu ada walaupun kecil kemungkinan untuk didengar. Perlawanan akan terus terdengar sampai titik darah penghabisan atau uang tutup mulut berbicara. Jadi untuk rakyat biasa yang hanya bisa jadi penonton, saya sarankan sering-seringlah menikmati senja gratis di Losari selagi masih ada. Sebelum jadi senja berbayar yang hanya bisa dinikmati dari gedung-gedung yang sebentar lagi tumbuh dari tanah timbunan (atau muncul begitu saja dari busa-busa lautan) dan ditujukan hanya untuk segelintir orang yang mampu membayar saja.

Oh ya, hal ini merubah pandangan saya terhadap orang-orang yang suka nongkrong di flyover. Sekarang menurut saya mereka itu cenayang atau visioner. Tahu tempat-tempat menikmati senja gratis akan hilang, berganti rooftop-rooftop untuk menikmati senja berbayar. Mereka membiasakan diri melihatnya dari flyover yang saya akui senja dari flyover juga indah tiap saya melewatinya walau hanya melihat dari pete-pete 05.

Untuk itu, jika reklamasi Losari sudah tak terelakkan, para masyarakat pesisir yang direnggut lahan mata pencahariannya wajib diberikan perhatian khusus. Dan untuk sebagian rakyat penikmat senja gratis, berhak menuntut disediakan lahan khusus atau ruang untuk menikmati senja di kedua sisi yang aman dan tidak melanggar lalu lintas (ditilang saat melihat senja sungguh bukan pengalaman menyenangkan). Hitung-hitung ini sebagai bentuk barter dari Losari yang direnggut. Yah, mungkin tidak akan sepenuhnya gratis. Seperti Losari kita harus membayar biaya parkir, minuman ringan tapi setidaknya lebih terjangkau daripada membayar puluhan sampai ratusan ribu untuk akses ke rooftop-rooftop atau restoran di gedung-gedung tinggi

Bila tuntutan itu dikabulkan, bukan tidak mungkin saya juga akan menjadi anak nongkrong flyover ditemani teh kemasan gelas, menikmati senja. []


Baca tulisan lainnya terkait artikel ini

Makassar Mencakar Langit

Kita adalah Pemilik Sah Ruang Publik Kota Ini

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman