Sumber Foto: Filastine (@filastine)

Kala pagi di sebuah kantor startup pada awal era digital, sekitar tahun 1996. Di antara dinding kantor yang penuh dengan kalimat motivasi, tekanan tenggat waktu serta iming-iming kesuksesan, tiga karyawan bekerja dengan wajah frustasi dan menjadi budak bagi atasan mereka di ruang kubikal yang sempit. Setelah bosan berkutat dengan mesin, mereka mulai mencari sesuatu yang alami dan mengeluarkan naluri hewani yang ada di dalam diri mereka. Ketiga karyawan itu kemudian mulai bertindak liar dan merusak semua properti kantor. Mereka meliukkan tubuhnya seolah-olah merayakan pemberontakan yang sukses. Mereka bertindak anomali seperti itu, tak lain untuk membebaskan hak atas kesejahteraan mereka. Seperti itulah visualisasi dari video musik terbaru dari Filastine, The Salarymen.

“Layar komputer tabung itu memancarkan efek dan gambar yang menghipnotis para pekerja. Itu alih-alih menjadi pemicu kejang dan perlawanan dari dalam tubuh mereka,” kata Grey, salah satu personel Filastine yang menjelaskan makna visual dari video The Salarymen.  Pada setengah durasi terakhir video tersebut,  The Salarymen memang sengaja mengusung isu ‘pemberontakan’ karyawan di dalam kantor. Setiap adegan dalam video tersebut juga ditata sesuai dengan setting kantor modern pada umumnya. Filastine sengaja memajang beberapa komputer usang, mesin fotokopi, kertas memo tempel (post-it notes), serta beragam poster motivasi demi membangun ruang yang sempurna bagi kekosongan spiritual di benak setiap karyawan kantor. Sebuah visualisasi akan teknologi komputer muncul dan berkembang, serta mulai mendominasi setiap sendi kehidupan manusia di era modern.

The Salarymen merupakan episode ke tiga dari proyek serial empat video musik bertajuk Abandon yang dibuat oleh Filastine setelah merilis dua video sebelumnya, The Miner dan The Cleaner. Dalam proses produksi video The Salarymen yang dirilis pada 10 Oktober 2016, Filastine menggaet tiga penari butoh dari kolektif P.A.N asal Seattle (Amerika Serikat) – yaitu Alan Sutherland, DK Pan dan Douglas Ridings. Butoh merupakan seni tari dan performing-art yang lahir di Jepang, kemudian berkembang ke seluruh dunia termasuk di Amerika Serikat. “Kami telah memiliki sejarah yang cukup panjang dalam berkolaborasi bersama P.A.N. Beberapa komposisi musik Filastine di era awal juga kerap dijadikan soundtrack dalam berbagai pertunjukan mereka,” ungkap Grey kemudian. “Cerita di video ini memang sengaja dibikin untuk P.A.N dengan cara-cara atavistik (kemunculan kembali adat kebiasaan kuno) dan mentah.”

Musik The Salarymen sendiri didominasi oleh bunyi-bunyian elektronik yang kuno dan tekstur lo-fi dari perangkat synthesizer klasik. “Kami menggunakan peralatan musik yang sama seperti yang dimainkan Kraftwerk dalam lagu-lagu cinta teutonik mereka tentang robot,” jelas Grey memaparkan konsep musiknya. “Lalu, kami membelokkan beberapa nada untuk mendapatkan efek yang sebaliknya. Di situ juga ada bunyi synthesizer yang diselaraskan dengan dengung mekanis, serta nada perkusi dari bunyi klik mouse komputer dan tombol qwerty.”

Menyimak ucapan Grey tersebut, entah mengapa, saya langsung terasa dekat dengan karya Brian Eno, salah satu eksponen penting musik elektronik dan juga ketika melihat penampilan Bob Ostertag, musisi eksperimentalis asal AS yang pernah saya wawancarai langsung dalam artikel Lagu itu Bernilai Lebih dari Sekadar Komposisi. Dan benar saja, saat saya menyimak videonya, The Salarymen semakin mendekatkan saya dengan bebunyian khas kedua musisi tersebut, serta mewakili keresahan saya sebagai kuli ketik yang tak jua diberi sokongan yang layak saat dituntut bergerak semakin cepat, demi obsesi atasan yang ingin mengalahkan ruang dan waktu. Selengkapnya, sila menyimak video The Salarymen berikut ini.

Mengenai Abandon, serial video musik ini mengambil satu tema utama, yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work). Setiap video nantinya akan menggambarkan tarian katarsis yang unik, yang direkam dari beberapa lokasi, sebagai metafora dan simbol protes atas kehidupan profesi yang kerap menihilkan rasa kemanusiaan.

Proyek serial Abandon ibarat kolaborasi seni musik, video, dan film dokumenter yang mengeksplorasi bagaimana manusia rela menjual waktunya di bumi. Di setiap serinya, menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik – mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol.

Berikut informasi soal jadwal perilisan, tema, dan lokasi penggarapan proyek video serial Abandon di tahun 2016:

29/03 ; The Miner (Jawa & Borneo, Indonesia)
26/05 ; The Cleaner (Lisbon, Portugal)
10/10 ; The Salarymen (Seattle, Amerika Serikat)
21/12 ; The Chatarreros (Barcelona, Spanyol)

Keempat singel yang terangkum dalam serial Abandon di atas, ditambah dengan sejumlah komposisi anyar lainnya, bakal menjadi materi album ke empat Filastine yang rencananya dirilis pada tahun 2017 nanti.

Serial Abandon merupakan karya Filastine, duo audio-visual yang terdiri dari composer/director Grey Filastine (Amerika Serikat) dan vocalist/designer Nova Ruth (Indonesia) yang berbasis di Barcelona, Spanyol. Komposisi musik Filastine selalu memadukan irama elektronik yang kontemporer dengan bebunyian yang organik lewat berbagai instrumen perkusi dan akustik. Mereka mengibaratkan musiknya sebagai bunyi bass and drum dari masa depan.

Filastine telah merilis tiga album penuh yaitu Burn It (2006), Dirty Bomb (2009), dan Loot (2012). Diskografi musik mereka juga merangkum beberapa EP dan vinyl yang dirilis oleh sejumlah label rekaman internasional, serta beberapa proyek kompilasi atau mixtape yang konseptual.

Hingga saat ini, Filastine telah menjalani sejumlah show yang intens di berbagai belahan dunia dalam berbagai jenis dan skala pertunjukan. Sepanjang tahun tahun 2016, Filastine telah mencanangkan tur panjang untuk keliling Eropa, Asia, hingga Amerika Serikat. Bulan depan, Filastine bakal datang ke Indonesia dan melakoni sebuah pertunjukan spesial dalam ajang Indonesian Dance Festival di Jakarta, 5 November 2016. []