Teks: Achmad Nirwan ( @achmad_nirwan )

Di akhir pekan lalu, saya lagi-lagi diserang antusiasme sekaligus dilingkupi rasa penasaran. Pasalnya, Efek Rumah Kaca akan tampil di Final Ceremony IBB Smansa Makassar yang ke-14 pada Sabtu malam (3/10), setelah  empat tahun lalu tampil dalam  sebuah acara distribution outlet di Jl. Boulevard. Tentu saja,  saya sebagai salah satu dari sekian orang yang menggemari karya-karya mereka, harus datang menyaksikannya. ERK (singkatan dari Efek Rumah Kaca) pun tidak datang sendiri, kali ini ada Fourtwnty yang membuat saya penasaran karena baru-baru kali ini saya mendengar nama mereka ketika melihat bentangan poster acara ini di sebuah sudut jalan dekat rumah.

Sabtu malam pun datang. Panggung Final Ceremony IBB Smansa XIV ternyata mulai mengaung ketika Bakochan dan The Vondallz dari Makassar mulai tampil sebagai pembuka dari suguhan musik malam itu. Saya sempat terheran-heran, ternyata nama band lokal tidak dicantumkan dalam publikasi acara ini. Sangat disayangkan. Namun, maaf beribu maaf untuk penampilan Bakochan dan The Vondallz, masih belum mampu memberi kesan yang kuat untuk saya sekadar memberikan tepuk tangan.

Catatan teruntuk hal ini, mungkin sebaiknya pihak panitia lebih banyak mencari referensi band-band asal Makassar yang sesuai untuk ditandemkan sepanggung dengan ERK dan Fourtwnty. Dan jangan lupa, sebaiknya mencantumkan nama band-band dari Makassar untuk publikasi dan promosinya. Mereka juga musisi yang sama dengan musisi dari ibukota dan daerah lainnya. Iya, kan?

Tanpa perlu ulasan panjang lagi, Fourtwnty yang tampil lebih awal dari ERK, akhirnya mampu membayar rasa penasaran saya dengan penampilan mereka yang luar biasa dengan 12 lagu. Sistem keluaran suara dan tata cahaya yang gemerlap semakin menghidupkan penampilan Fourtwnty yang mengandalkan dentingan gitar akustik dipenuhi ambient dalam musiknya. Terbukti Ari Lesmana, sang vokalis tampil begitu lepas, memberikan tarian bernuansa teatrikal seolah-olah memancarkan cahaya di tangannya serta menyapa penonton dengan hangat. Fourtwnty memang betul-betul terlihat ‘siap tempur’ malam itu.

Efek Rumah Kaca  hampir setali tiga uang Fourtwnty, juga tampil dengan 12 lagu.  Hanya saja, penonton semakin terhanyut menikmati alunan lagu dan semakin lancar menyanyikan bait demi bait lagu-lagu ERKyang dibawakan Cholil, Akbar,Poppie dan Ditto. Mulai dari “Sebelah Mata” hingga ditutup dengan “Desember”. Walaupun sempat dihadapi beberapa kendala teknis di sistem suara pada penampilannya, ERK tetap mampu menghadirkan penampilan yang menawan telinga dan hati. ERK cukup sukses menuntaskan penantian para penikmat musiknya malam itu.

Oh iya, boleh dibilang ini kebetulan. Malam itu, kedua grup musik ini masing-masing membawakan lagu sendiri yang diberi judul dengan nama warna. Efek Rumah Kaca dengan lagu “Biru” yang berdurasi nyaris sepuluh menit dan terdiri dari fragmen “Pasar Bisa Diciptakan” dan “Cipta Bisa Dipasarkan” serta Fourtwnty dengan “Fana Merah Jambu” yang bernada riang gembira di sore hari, yang mana kedua lagu tersebut langsung saja menjadi favorit saya untuk kategori lagu yang memiliki lirik-lirik optimis.

Malam itu pula, saya sudah berniat sejak awal untuk meminta tanda tangan dua album ERK serta setlist kepada Cholil cs. selepas penampilan Efek Rumah Kaca dengan repertoar 12 lagu. Tidak ada cara lain kecuali bertemu di tenda backstage panggung IBB Smansa XV. Saya menunggu kira-kira 15 menit di luar barikade bersama seorang teman yang akrab dengan salah satu personil Efek Rumah Kaca malam itu. Melalui teman saya itu–yang saya anggap sebagai pembuka jalan menuju backstage–, saya akhirnya bisa juga masuk ke dalam barikade. Ternyata di saat bersamaan, Efek Rumah Kaca juga telah keluar dari tenda backstage untuk beristirahat dan makan.

Jadi, saya berjumpa dengan mereka di luar tenda sambil menyodorkan dua album serta setlist untuk ditandatangani. Jika dilihat dari air mukanya, para personil Efek Rumah Kaca sepertinya terlihat sedang malas memberi tanda tangan, mungkin karena sedang lelah sehabis tampil. Atau bisa saja sedang memikirkan beberapa tulisan pro dan kontra tentang konser tunggal mereka pada 18 September 2015 lalu. Prasangka, oh prasangka.

Ekspetasi saya pun sejak awal juga ragu-ragu bisa mendapatkan ‘legalisir’ dari mereka. Ternyata tidak demikian. Efek Rumah Kaca masih menjadi pribadi yang ramah dan rendah hati, sejak terakhir kali saya bertemu saat mewawancarai mereka pada akhir tahun 2011 lalu. Mereka masih mau menandatangani dua album serta setlist, bahkan menyempatkan foto bersama. Memberikan ‘terang’ yang saya harapkan saat bertemu mereka.

Sikap ramah dan rendah hati dari ERK serta kesederhanaan bermusik dari Fourtwnty bersama dengan karya-karya optimis mereka, jika boleh saya ibaratkan, sebagai pendar-pendar berwarna yang menebar asa. Asa yang  di dalamnya ada keinginan untuk membangun rasa optimis dan toleransi untuk kesatuan dan persatuan Indonesia. Menginspirasi para pemuda-pemudi Indonesia untuk berfikir dan berbuat dengan cara-cara yang jujur dan positif untuk masa depan bangsa ini. Bahwa banyak hal yang harus dipertanyakan, banyak cara untuk bersolidaritas dan banyak kesepakatan dalam kepekatan yang harus dilalui. Pasar pun bisa dikonserkan. Jadi, mengapa tidak dengan ‘pendar-pendar warna’ bisa menebarkan asa?

Selain impresi audio visual saya di atas, M. Ifan Adhitya juga ingin mengajak anda untuk menyimak foto-foto hasil bidikan kameranya pada malam itu. Jujur saja, foto-foto di bawah ini memaksa mata dalam raga dan jiwa anda untuk semakin dalam mengingat momen-momen berpendar dan penuh warna dari penampilan Efek Rumah Kaca dan Fourtwnty.

Nothing has changed, unless you make a change. Stay humble nor rumble without fumble, ERK dan 4:20!

N.B.: Oiya, saya sempat mewawancarai  Efek Rumah Kaca dalam waktu singkat pada 30 Desember 2011 lalu di Makassar. Silahkan dibaca di sini.

Tangan-tangan penuh makna dari Ari Lesmana, mencoba mengutarakan tiap bait dari lirik lagu-lagu Fourtwnty yang dinyanyikannya.

Tangan-tangan penuh makna dari Ari Lesmana, mencoba mengutarakan tiap bait dari lirik lagu-lagu Fourtwnty yang dinyanyikannya. Ada pula cangkir teh antik di sampingnya beserta gitar akustik yang dipersembahkan kepada mendiang ROOTS.

Nuwi meliukkan jari-jemarinya menyambut dentingan gitar akustik yang mendominasi di lagu-lagu Fourtwnty.

Nuwi meliukkan jari-jemarinya menyambut dentingan gitar akustik yang mendominasi di lagu-lagu Fourtwnty.

ibb 2

Ari Lesmana dan Nuwi seringkali terlihat berinteraksi satu sama lain, sembari menjiwai tiap relung-relung lagu Fourtwnty.

Cholil bernyanyi  ditemani Poppi pada vokal latar, bahu-membahu menyanyikan lirik-lirik Efek Rumah Kaca.

Cholil bernyanyi ditemani Poppie pada vokal latar, bahu-membahu menyanyikan lirik-lirik Efek Rumah Kaca.

Akbar mengeluarkan segala kemampuannya beradu dengan aransemen yang beragam dan mempertahankan tempo lagu-lagu Efek Rumah Kaca.

Akbar mengeluarkan segala kemampuannya beradu dengan aransemen yang beragam dan mempertahankan tempo dari lagu-lagu Efek Rumah Kaca.

Ditto, gitaris additional Efek Rumah Kaca, punya peran yang sangat besar dalam memperkaya ragam bunyi-bunyian gitar bersama Cholil.

Ditto, gitaris additional Efek Rumah Kaca, punya peran yang sangat besar dalam memperkaya ragam bunyi-bunyian gitar bersama Cholil.

ibb erk 1

Cholil yang membawakan Lagu Kesepian, dan Desember menutup penampilan Efek Rumah Kaca dengan Guitar Akustiknya.

Walaupun terlihat lelah selepas tampil, Efek Rumah Kaca tetap bersemangat diabadikan sejenak oleh Ifan. Semoga sukses menyertai Efek Rumah Kaca dalam merilis album ketiga mereka bertajuk "Sinestesia".

Walau terlihat lelah selepas tampil, Efek Rumah Kaca tetap bersemangat saat diabadikan oleh Ifan dengan kameranya. Semoga sukses menyertai Efek Rumah Kaca dalam merilis album “Sinestesia”.


Baca artikel lainnya dari M. Ifan Adhitya

Kemilau Jazz Bernuansa Pop di Bulan September

Menanti Arah Setelah Dua Dekade

Interpretasi Ilustrasi-ilustrasi “Dialog Diri”

Hal-Hal yang Luput dan Tersisa dari Kenduri Ramadan

Mengobarkan Energi Musik dari Atas Atap

Belanja dan Musik Hingga Tengah Malam

Gaduh Berkesenian Tanpa Rusuh di Jalan

Belajar Menjadi Kreatif dari Bayi

Memahami untuk Membasmi

Memijak Bumi Gerbang Raja Bersama FrontXSide

Gelegar Pentas Musik Spektakuler di Belantara Kukar

Ayokmi Ngopi!

Momen Panggung Musik Cadas di Indonesia Timur

Merayakan 30 Tahun Perjalanan Musik Jazz di Makassar