Salah satu yang dapat menghubungkan manusia dengan dunia di luar dirinya adalah komunikasi. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu menyambungkan ide satu sama lain.

Ada beberapa cara untuk berkomunikasi, tapi bahasalah yang akan menjadi penghubung. Cara tutur dan pemilihan kata akan menunjukkan seperti apa penuturnya. Penutur yang menempatkan kata sesuai maksudnya dapat lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Unsur bahasa juga meliputi partikel. Salah satu yang dianggap sebagai partikel lokal adalah Mijipiki. Penggunaan partikel harus sesuai peruntukannya. Jika keliru menempatkan partikel, maka akan terjadi pergeseran maksud. Atau dalam bahasa lebih dikenal dengan istilah; pembiasan makna.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, partikel sendiri diartikan sebagai kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi.

Secara sederhana, partikel dalam bahasa juga memiliki peran yang penting. Sebagai penegas dan penugas. Dalam bahasa Indonesia, ada empat partikel yang dikenal Kah, Lah, Tah, dan Pun. Empat partikel ini memiliki fungsinya masing-masing. Pun Mijipiki memiliki fungsi bahasanya sendiri.

Mengingat betapa pentingnya urusan bahasa. Kita mesti memahami secara luas penggunaan partikel lokal. Belum adanya aturan baku dalam bahasa lokal dan hanya mengandalkan kesepakatan, akhirnya bahasa lokal dapat dengan mudah digunakan. Terserah benar atau tidak. Beruntunglah kebanyakan dari kita memang tahu cara penuturan bahasa lokal dengan tepat.

***

Jika ditanya apa alasan kita menggunakan partikal Mijipiki dalam berkomunikasi? Jawabannya mungkin akan beragam. Termasuk karena telah menjadi kebiasaan. Menggunakan Mijipiki dan menjadikannya bagian dari keragaman bahasa berarti kita telah menunjukkan dukungan untuk keberlanjutan bahasa lokal.

Tapi menggunakan Mijipiki bukan sekadar menunjukkan siapa kita. Tapi juga mesti dilihat dari segi fungsi penempatannya pada kata. Kapan Mijipiki ini digunakan dan untuk apa? Pertanyaan mendasar tentang pemahaman kita atas partikel tersebut.

Jika kita mengambil contoh, apa perbedaan kata saya-mi dan saya-pi. Kadang kita keliru membedakan kedua partikel ini. Kita memang tidak bisa dengan mudah menebak maksud partikel tanpa melihatnya utuh sebagai kalimat.

Seorang teman yang baru saja menggunakan kata saya-mi saat berbicara coba saya tanya tentang mengapa ia memilih kata –mi dari pada –pi. Setelah berpikir, ia kemudian menjawab karena kata –mi menunjukkan ia yang telah melakukan pekerjaan tersebut.

Kalimat utuh teman saya seperti ini, saya-mi lagi yang kerja. Seandainya kita mengubah partikel –mi menjadi –pi misalnya, tentu makna kalimat itu akan berubah. Partikel –mi menujukkan bahwa pekerjaan itu telah selesai sedangkan –pi menunjukkan pekerjaan itu belum dikerja. Begitulah hasil diskusi kami berdua.

***

Penggunaan partikel Mijipiki dalam berkomunikasi menunjukkan minat kita terhadap bahasa lokal. Tidak dapat diingkari, pengguna bahasa lokal telah berkurang. Tapi bukan berarti punah. Jika kita yang sadar pentingnya peranan bahasa juga meninggalkan identitas bahasa, lantas siapa yang akan menjaga?

Berbicara panjang lebar tentang pentingnya bahasa lokal mungkin tidak ada gunanya jika tidak diikuti oleh aksi nyata. Selain terus menggunakan Mijipiki, salah satu aksi nyata untuk mempertahankan kelokalan kita adalah peranan rumah dan lingkungan.

Menjadikan Mijipiki sebagai Basantara atau bahasa pergaulan memang langkah yang baik. Slogan lokal seperti “santai maki ces”, “lupakan-ma”, atau “berubah-namo” yang sering diadaptasi menjadi stiker atau sablonan di baju mungkin dianggap sederhana. Tapi itu memiliki manfaat yang besar terhadap bahasa lokal kita.

Senada dengan maksud itu, pada tanggal 21 Februari 1991 di Paris, UNESCO sebagai salah satu lembaga PBB mencanangkan Hari Bahasa Ibu Sedunia. Tujuan UNESCO perlu kita galakkan, mengingat jumlah penutur bahasa lokal kita mulai berkurang.

Jangan pernah menunggu pemerintah untuk urusan bahasa. Sebab penuturlah yang memiliki kuasa. Kitalah yang setiap hari menggunakan bahasa. Terlebih yang masih berusia muda, tentu harus memahami hal sederhana tapi kadang mengelirukan seperti partikel Mijipiki ini. Tentunya, sebagai anak muda kita mesti mengambil peran utama dalam urusan menjaga bahasa lokal kita.