Ilustrasi: Randie Akbar ( @randakbar )

Lullabies hadir menguatkan kemampuan Lang Leav dalam merangkai kata sederhana. Menceritakan hal yang kerap ditemui dan tanpa perlu diksi yang terdengar puitis namun dengan rhyme yang kuat di tiap barisnya membuatnya layak diapresiasi meskipun jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kesannya akan sangat cheesy.
Puisi pertama yang akan kamu jumpai adalah Lost Words, bukan puisi miliknya, tapi Michael Faudet. Menemukan mereka, Leav dan Faudet, enviable couple yang bercinta dengan kata. Tak perlu menggunakan terminologi sekalipun. Sederhana namun Sarat makna.

Membaca satu puisi pada dua masa yang berbeda tidak akan pernah meninggalkan kesan yang sama. Jika di kali kedua tone dan mood kamu tak berbeda dengan masa pertama, tanpa kegelisahan yang terlontar sesederhana pikiran ‘kok bisa?’ Jika hal tersebut terjadi, hanya dua hal yang bisa menjadi penyebab, salah satu dari puisi tersebut bukanlah puisi yang baik atau kamu yang tidak benar-benar membacanya.

Saat membaca Lang Leav, jangan memaksakan untuk menyelesaikannya dalam rentan masa yang singkat. Kamu akan menjadi kelelahan mengenang kenangan yang menjadi genangan di sudut salah satu indramu. Tenang saja, hanya mereka yang sedang retak hatinya yang akan menertawai dirinya setelah mengalami hal tadi.

Pada buku sebelumnya yang berjudul Love & Misadventure, Lang Leav menyajikan puisi dengan bahasa yang sama dalam Lullabies, mudah dimengerti dan sekilas tidak menghadirkan lebih dari satu interpretasi. Lang Leav seolah melontarkan bahwa membicarakan cinta, kita tidak butuh bahasa prosa yang rumit atau diksi yang sulit dimengerti. Karena hal sederhana pun terkadang mengusutkan pikiran jika menyoal cinta.

Puisi tidak diperuntukkan untuk semua orang. Telah melekat dalam benak setiap orang bahwa puisi selalu bermakna ganda membuatnya menjadi sulit untuk dinikmati semua kalangan pembaca. Dalam beberapa cynical review menyebutkan bahwa karya Lang Leav hanya diperuntukkan bagi remaja putri. Saya pun setuju. Mungkin kesan itu akan tertinggal bagi mereka yang terbiasa membaca karya penyair seperti Plath, Eliot, Frost, Dickinson atau Teasdale.

Tapi kemudian mengapa puisi disukai juga oleh pembaca yang tidak lagi remaja? Satu-satunya jawaban yang bisa saya dapatkan adalah Lang Leav berhasil meminjam kata-kata yang kita gunakan sehari-hari kemudian mempercantik dan menatanya ulang. Sederhana dan akrab. Meskipun cheesy saya berharap buku Love & Misadventure yang nantinya hadir dalam bahasa Indonesia bisa membawa mood yang berbeda, lebih dewasa barangkali. Sehingga puisi ini bisa benar-benar diresapi lebih dalam.

Membagi Lullabies dalam tiga bagian: Duet, Interlude, Finale. Layaknya nina bobo yang kita butuhkan sekarang, sesuatu yang realis, bukan mimpi utopis seperti dongeng para puteri. Dalam pengantarnya, tersirat Lang Leav meminta pembacanya tidak terburu-buru menyelesaikannya.

Duet berisi 34 puisi yang dimulai dengan Her Words (pg. 3). Leav memperkenalkan seorang perempuan dan bagaimana seharusnya kamu menerima dia di masa itu. Sebagaimana sebuah hubungan bermula. Dan pada posisi mana dia akan menempatkanmu. Selanjutnya puisi berjudul My Heart (pg. 5), Leav menggambarkan speaker memantapkan hati mengayunkan langkah pertama pada setapak yang dipilihnya di sebuah persimpangan. Beriring waktu dan menyadari hal baru yang ditemukan.

Membagi segala sesuatu bersama, hingga dalam Loving You (pg. 29) telah merasa akan menjaga terus cintanya dan tak memikirkan untuk menginginkan orang lain, begitulah penggambaran di And/Or (pg. 31). Menjalani hari yang kadang konyol, dan tak ada lagi saya maupun kamu, tapi Us (pg. 37). Dan ketika semua menjadi Kita tak ada lagi yang dibutuhkan, seolah cinta adalah kekuatan di atas segalanya. Seperti line terakhir dari The Seventh Sea (pg. 65), “When I am with you, I want for nothing.”

Interlude hanya berisi tujuh puisi. Seolah menegaskan bahwa saat semuanya berakhir kamu tidak akan mendapat jatah waktu yang panjang. Pertengkaran, keputusan, dan penjelasan seolah begitu terburu-buru diselesaikan. Sedikit ironi namun begitu adanya.

Mengawalinya dengan Nostalgia (pg. 73), dibuka dengan line “Do you remember our first day?” dan ditutup dengan “I miss you./ Come back to me.” Bahwa benar di hari itu yang paling pertama teringat adalah bagaimana semua bermula. Kemudian di beberapa puisi selanjutnya menggambarkan tangisan, rasa diabaikan, kekecewaan, rasa dihianati, semua bercampur dengan ingatan yang begitu jelas akan manisnya janji juga indahnya harapan.

Tak ingin berlama-lama bermata sembab namun tetap hal sekecil apa pun bisa menjadi trigger yang menjebolkan bendungan air mata, Finale diawali dengan Three Questions (pg. 89) “What was it like to love him? / What was it like to be loved in return? / Was it like to lose him?” Cukup tiga pertanyaan ini, dan semua moment yang telah dilewati, bahkan percakapan konyol sekalipun bisa teringat dengan jelas.

Pada bagian Finale, Leav membawa harapan yang berbisik dari masa depan. “Pilihan itu bukanlah jalan buntu.” Sekalipun kakimu terpaku lalu dilapuki waktu dengan jiwa yang masih menghadap pada satu dinding yang mulai memburam. Atau pada pilihan lain, mencoba menggerakkan kaki, sekalipun berawal dari jari yang ditekuk dan mulai tertatih berjalan menuju entah dengan atau tanpa topangan dari pada memilih berdiri lama dan gemetar di tepi jurang. Masih ada satu pilihan. Hal yang paling menyedihkan mungkin. Tetap berdiam di tempat jiwamu terpuruk, merasa tak lagi sanggup menyelamatkan diri atau mungkin telah memantapkan hati berakhir di tempat itu. Hingga pada masa tertentu seseorang bisa datang mengulurkan tangannya padamu atau mungkin langsung membopongmo. Apakah Iba yang menyambangimu atau mungkin Penyesalan. Bisa siapa saja. Namun dalam Amends (pg. 171) dia tetap mengharapkan yang telah pergi kembali mencari dan menemukannya.

Mencoba move on? Apa sebenarnya yang dicari ketika mengubah haluan? Seseorang yang baru atau kenyamanan yang berbeda? Memilih beralih bisa karena merasa gagal, tak berguna dan mungkin terlalu lelah untuk lanjut mencoba. Kamu bisa menemukannya dalam puisi singkat berjudul Perfect (pg. 199). Lang Leav menunjukkan bahwa move on hanya untuk membebaskan dari tindakan lalai untuk hari esokmu. Tidak dengan melupakan orang yang pernah mencintaimu, apalagi jika kamu mampu mengingat hal dengan detail. Akan seberapa besar pertahananmu menampik hardikan kenangan? Dalam bait akhir Wishing Stars (pg. 179), Lang Leav menggambarkan speaker yang menjalani hidupnya yang baru dan tetap mencintai kekasihnya.

“Yet I have learned,

to live without,

I do not mind—

I still love you anyhow.”

Masih pada bagian akhir, masa recovery, Lang Leav kembali membawa pembaca ke masa Duet. Untuk tetap menakar apa yang orang tawarkan, tak terburu girang dengan “All services I can do”. Dalam Edgar’s Gift (pg. 125) dipaparkan beda antara “everything” dan “anything”. Pada puisi False Hope (pg. 141) juga ditegaskan hal serupa. Seperti penggalannya “I don’t want anyone else to have you” tidak bisa dijadikan sandaran kuat untuk mempertahankan posisimu.

Finale adalah bagian terpanjang dari buku ini, dengan 66 puisi. Dengan bahasa yang berbeda di tiap bagian, Leav menggunakan present dan future tense pada bagian Duet, present tense di Interlude, dan tentu saja past tense di Finale. Dari komposisi jumlah di ketiga bagian, Lang Leav kembali menggiring kita pada realita. Bahwa seberapa panjang pun usia satu hubungan ketika dia berakhir semuanya terasa seperti kilat. Singkat namun bisa kau temukan semua telah berantakan. Dan untuk hubungan yang meninggalkan begitu banyak hal baik, tak peduli bagaimana bentuk dan usianya, selalu butuh waktu dua kali lebih panjang untuk bisa merelakan namun tetap tak benar mampu melupakan. Tiap hal bisa menjadi penanda. Semua yang kau susun untuk satu atau lima tahun mendatang bisa saja berubah setelah kamu berjalan beberapa langkah saja. The future is unwritten, isn’t it?

 

Judul: Lullabies | Penyair: Lang Leav | Tahun terbit: 2014 |Publisher: Andrews McMeel Publishing, Missouri | Jumlah halaman: 236 hal | ISBN 978-1-4494-6107-2