Ilustrasi: Syaifullah Hajir ( @syaifullahhajir )

Terlepas dari kenyataan bahwa Oscar milik Amerika, ajang penghargaan insan perfilman dunia ini tentu yang paling diantisipasi dan diperbincangkan para penikmat film setiap awal tahun. Euforia yang sama bisa saya temukan lewat teman-teman saya. Setiap kali bertemu, kebanyakan dari mereka akan mengajak saya membahas seputar film-film yang dinominasikan. Pembahasan yang menginspirasi saya untuk membaginya ke dalam bentuk tulisan kepada siapa pun yang senang tentang film dan sering membuka Revius. Tapi ada alasan terbesar di balik tulisan ini. Satu-dua alasan menarik yang tidak begitu sering saya temukan di setiap perhelatan Oscar. Bukan cuma hubungan antara Oscar dengan sosial Amerika, tapi juga pengaruh Oscar dengan penonton Indonesia. Agar lebih menarik, saya bahas dalam bentuk hashtag-hashtag berikut ini.

1. #OscarSoWhite

Jika kamu rajin mengikuti info seputar Oscar yang akan digelar tanggal 28 Februari mendatang, kamu pasti sudah akrab dengan #OscarSoWhite. Kamu juga pasti sudah tahu penyebab penciptaan tagar tersebut. Isu rasisme, bahwa tahun ini Oscar tidak berpihak pada aktor-aktor kulit hitam di Amerika, terbukti di daftar nominasi best actor dan best actress semuanya aktor kulit putih. Tapi sebagai tambahan, ini bukan isu rasisme terhadap aktor kulit hitam semata, tapi juga isu diskriminasi terhadap perempuan. Jika kalian melihat daftar nominasi best picture, film-film yang dinominasikan berasal dari sutradara pria, dan jika kalian melihat daftar nominasi best director, para nominee-nya adalah sutradara pria juga, jelas.

Saat ini pandangan umum para kritik dan publik menyalahkan juri Oscar, karena menurut mereka ada beberapa film kulit hitam tahun ini yang dianggap layak dinominasikan tapi diabaikan seperti Straight Outta Compton, akting Idris Elba lewat Beast of No Nation dan akting Will Smith di Concussion, yang pada akhirnya menggiring beberapa komunitas aktor/sutradara kulit hitam memutuskan takkan menghadiri acara tahunan ini. Tapi bagi saya persoalannya jauh sebelum itu. Sepanjang 2015, ruang untuk memproduksi film-film berkualitas yang menggunakan aktor atau sutradara kulit hitam memang sangat sedikit dibanding ruang untuk memproduksi film-film berkualitas yang diperankan aktor-aktor kulit putih, sehingga ketika musim penghargaan sepert Oscar dimulai, film-film yang ber-aktor kulit putih berkualitas juga mendapat kuota lebih besar pula. Karena tak bisa dipungkiri semua film yang dinominasikan di best picture adalah layak, kekurangannya cuma dalam hal diversity. Apa yang menimpa aktor kulit hitam, tak jauh beda dengan apa yag menimpa sutradara perempuan. Betapa sedikit film yang diberikan kepada mereka untuk ditangani, sehingga kita juga tak bisa sering melihat nama sutradara perempuan dinominasikan di kategori best director.

Kemudian kamu mungkin akan bertanya kenapa saya mesti peduli dengan semua persoalan rasisme atau seksisme yang terjadi bermil-mil jauhnya dari Makassar? Baiklah, terlepas dari ini terjadi Amerika, saya merasa bahwa sebagai penonton, saya dan kamu juga terlibat, mengambil hal-hal kecil dari isu yang besar ini, yang artinya saya tidak menyalahkan juri Oscar sepenuhnya. Pernahkah kita sadar bahwa di bioskop Indonesia, termasuk di Makassar, sangat jarang kita menemukan film-film kulit hitam? Lebih sering film-film kulit putih. Kita dididik lewat bioskop untuk menyukai film-film kulit putih dan kita mematuhinya. Kita merasa bahwa film-film kulit putih sudah cukup bagi kita, sehingga tanpa sadar kita menyisihkan kelompok kulit hitam.

Pada akhirnya apa yang kita sukai menguatkan pandangan para produser dan rumah produksi bahwa penonton lebih menyukai film ber-aktor kulit putih ketimbang film ber-aktor kulit hitam. Saya paham akan ada sanggahan yang menyatakan bahwa kita hanya penonton yang terima-beres, bahwa aktor-aktor yang bermain di dalamnya adalah hasil keputusan rumah produksi, produser atau bahkan kadang-kadang sutradara dan ini sudah berlangsung berabad-abad.

Tapi hanya karena ini sudah berlangsung lama, bukan berarti sebagai penonton kita harus lepas dari rasa peduli. Sekarang pun jika kita disajikan satu film ber-aktor kulit hitam di bioskop, saya rasa kita tidak begitu minat mau menyaksikannya, atau kalau pun kita minat, saya rasa karena alasan lain.

The Hateful Eight yang sedang tayang di bioskop misalnya, orang-orang yang saya kenali lewat sosial media, teman-teman dekat saya, semua tertarik untuk menontonnya bukan untuk menyaksikan akting Samuel L. Jackson sebagai aktor utama, tapi lebih karena sutradaranya adalah Quentin Tarantino. Atau misalnya saya menyuruh kamu memilih antara Scarlett Johannson dengan Lupita Nyong’O, yang mana yang akan kamu pilih? Dugaan tertepat saya adalah kamu lebih memilih Johannson. Atau ketika saya menyuruh kamu memilih di antara Henry Cavill dengan Idris Elba, siapa yang lebih layak berperan sebagai The Next james Bond? Saya duga kamu pasti akan memilih Henry Cavill. Bahkan sebelum filmnya dibuat, kita sudah punya harapan siapa yang ingin kita saksikan bermain di dalamnya.

Dan tentang kurangnya produksi film dari para sineas perempuan? Saya percaya kita juga ambil bagian di dalamnya. Kita percaya–kepercayaan kuno yang sudah kita anut secara turun-temurun–bahwa pria lebih mumpuni ketimbang perempuan, termasuk dalam hal menggarap film. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Hurt Locker yang memenangi best picture di Oscar 2009 adalah karya sineas perempuan, Katryn Bigelow.

Tapi pasti banyak yang tahu bahwa Birdman yang juga memenangi best picture di Oscar 2015 adalah karya sineas laki-laki, Alejandro Gonzales Inarritu. Banyak di antara teman-teman saya, atau mungkin juga kamu, yang peduli menyaksikan sebuah film karena sutradaranya. Tapi biasanya kepedulian ini muncul jika sutradaranya laki-laki, Steven Spielberg atau J.J. Abrams misalnya. Kepedulian ini biasanya tidak berlaku jika sutradaranya adalah perempuan.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel di sebuah website yang mengkampanyekan nonton satu film karya sutradara perempuan setiap pekan, bertujuan untuk memperkenalkan karya-karya sutradara perempuan agar publik tidak hanya memiliki referensi sebatas sutradara laki-laki saja. Harapannya, dengan banyak mengenal sineas perempuan makin banyak juga kesempatan diberikan bagi mereka dalam menggarap film. Persoalan gender dalam penyutradaraan di Indonesia saat ini belum pernah tertangkap radar saya, tapi dari apa yang saya lihat, banyak orang yang lebih mengenali sineas laki-laki ketimbang sineas perempuan Indonesia.

2. #OscarSoIndonesia

Ya, terlepas dari isu lack of diversity-nya, Oscar tahun ini mungkin menjadi Oscar yang paling dekat dengan Indonesia. Sadarkah kamu bahwa tak ada satu pun film yang dinominasikan best picture di Oscar 2015 ditayangkan di bioskop kita? Kita baru bisa menyaksikan Birdman, Whiplash dan lain-lain setelah Oscar tahun itu selesai digelar. Tahun-tahun sebelumnya juga tidak begitu jauh berbeda. Sama halnya tahun ini, kita baru bisa menyaksikan Siti di bioskop setelah ia sukses memenangi film terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2015–yang artinya andai tidak menang, kita mungkin selamanya takkan menemukan Siti di bioskop. Nah, sekarang sadarkah kamu bahwa 5 dari 8 judul yang dinominasikan best picture di Oscar 2016 telah ditayangkan di Indonesia, termasuk Makassar? Yakni Mad Max: Fury Road, Bridge of Spies, The Martian, The Big Short serta The Revenant. Dikabarkan akan menyusul Room di bulan Februari.

Bagi saya, ini artinya bioskop Indonesia tahun ini cukup berhasil membantu penonton terlibat dalam Oscar sebelum Oscar itu sendiri digelar. Membantu penonton terlibat dalam diskusi dan memprediksi pemenangnya. Karena kekuatan bioskop adalah kemampuannya menjangkau berbagai macam penonton, bahkan pengkomsumsi bajakan sekali pun. Jika masyarakat Amerika berharap Oscar tahun depan lebih kaya dalam hal diversity, maka saya berharap bioskop Indonesia juga seperti ini ke depannya, menjadi fasilitas utama penonton untuk terlibat dalam perayaan film. Tentu saja saya tidak berharap untuk film-film Oscar saja, saya pun berharap jika tahun ini makin ada banyak film sealiran Siti di Indonesia, mereka juga diberi kesempatan besar tampil di bioskop.

3. #SpotlightForOscar

Beberapa waktu yang lalu isu anti-muslim memanas, akibat ledakan bom di Paris, berujung statemen Donald Trump ke publik yang berniat melarang muslim Suriah masuk ke Amerika. Islam masih dikaitkan kuat terhadap terorisme, dan itu menjadi momok di mata Barat.

Ketika isu ini mulai agak mendingin, tergantikan isu global lainnya, kesalahan crowning Miss Universe misalnya, saya akhirnya menyaksikan Spotlight. Sebuah film produksi Amerika tentang kelompok reporter koran Boston Globe yang di tahun 2001 memulai penyelidikan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di Boston. Ini bukan kasus pelecehan biasa, karena ini terjadi secara berantai dan dilakukan secara massal. Tapi yang paling membuat saya bergidik adalah para pelakunya, para pendeta Katholik–beberapa dari pendeta ini maksud saya, bukan semuanya. Akan ada begitu banyak fakta-fakta mengerikan yang disajikan dalam film yang berdasar kejadian nyata ini. Termasuk pelecehan ini terjadi bukan hanya di Boston tapi di seluruh Amerika, dan banyak negara lainnya.

Membahas tentang muslim dengan teroris, lalu membahas tentang isu yang diangkat Spotlight punya satu kesamaan, sama-sama membawa nama agama. Perbedaannya, muslim jadi bulan-bulanan, tapi para pendeta pelaku pelecehan terlupakan. Padahal antara terorisme–yang jika benar mereka penganut Islam– dengan para pendeta Katholik pelaku pelecehan ini sama-sama memberi dampak mengerikan ke semua korbannya. Spotlight ibarat sebuah refleksi kemunafikan manusia. Manusia siapa? Saya takkan menunjuk. Lewat Spotlight saya paham bahwa beberapa agama punya masalah yang sama yaitu orang-orang di dalamnya, bukan saja Islam, tapi juga Katholik, misalnya. Sayangnya, ketika masuk ke persoalan sorotan media dan perhatian publik, masalah ini menjadi timpang.

Lalu mengapa saya membahas tentang Spotlight di sini, itu karena Spotlight juga dinominasikan sebagai best picture di Oscar. Oleh karenanya jika ada yang bertanya film apa yang saya unggulkan untuk menang tahun ini, Spotlight sudah tentu jawaban saya. []


Baca ulasan film lainnya dari Kemal Putra

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016

The Force Should Not Be Awaken

Akhir Perang yang Sia-Sia

Renungan Terbaik untuk Sebuah Pilihan Hidup

Kisah Berharga yang Patut Diceritakan

Cermin Dunia Pendidikan Masa Kini

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali