Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Memuja sebuah band tampaknya menjadi kodrat “terkutuk” bagi para penggemar yang merupakan seseorang atau kelompok yang mempunyai intensitas dan antusiasme dalam kadar emosional tinggi untuk aktivitas, karya seni, ide, atau tren yang diciptakan band itu sendiri. Hematnya, penggemar adalah bagian penting dalam keberhasilan karir sebuah band, terlepas dari band itu mau mengatakan mereka sebagai penggemar atau tidak.

Mereka seringkali menunjukkan antusiasme mereka terhadap band dengan memulai sebuah klub penggemar, menulis surat penggemar, atau mempromosikan minat dan perhatian mereka terhadap band tersebut kepada orang lain.

Dalam beberapa kasus, fans atau penggemar mungkin menjadi begitu terpesona dengan objek kegilaan mereka. Terkadang pula para penggemar terlibat dalam perilaku yang dianggap ekstrim atau abnormal. Dan kadang-kadang penggemar pun bisa menjadi penguntit bagi idolanya. Tak terkecuali Oasis yang merupakan band rock n’ roll asal Inggris dengan penggemar sejuta umat yang berdiri sejak tahun 1991 dan berganti nama dari The Rain pada tahun yang sama.

Dipimpin oleh dua Gallagher bersaudara, Liam (vokal) dan Noel (gitaris / penulis lagu), kuintet asal Manchester ini memiliki penggemar yang sangat loyal dengan karya mereka walaupun mereka menyatakan bubar semenjak 2009 lalu karena pertengkaran kedua Gallagher bersaudara tersebut. Loyalitas itu bisa terkait dengan corak musik rock n’ roll yang dimainkan Oasis yang sederhana, gitar yang biasanya hanya terdiri dari empat akord serta ketukan drum yang mudah diikuti, namun menggugah telinga dan badan untuk mengikuti hentakannya.

Corak musik Oasis yang mengadopsi kasarnya distorsi gitar punk tiga akord sederhana dari Sex Pistols, gemuruh riang gembira milik The Rolling Stones, hook gitar masif keras berkelas stadium a la The Who, kemudian memadukannya dengan melodi Beatles-que yang manis dan membius , serta struktur penulisan verse-chorus-verse dari The Jam-nya Paul Weller dan The Kinks. Tema liriknya pun didominasi kehidupan sosial kelas pekerja di Inggris, dimana Liam maupun Noel seringkali bernyanyi sarkastik maupun lugas dalam menjahit tiap bait lirik lagunya.

Mendengar corak musik Oasis yang sedemikian rupa bisa menyengat kuping dan menghipnotis secara emosional untuk menyimak lebih dalam lagi, penggemarnya pun tidak sungkan menobatkan mereka sebagai band yang pantas dipuja. Begitu pun saya yang merasakan hal yang sama saat menyimak Oasis semenjak  tahun 2001 lalu dari album (What’s The Story?) Morning Glory versi kaset pita yang diputar kakak sepupu saya di kamarnya. Singkat saja, intro lagu “Hello”, “Don’t Look Back In Anger”,”Wonderwall” pun sukses menempel di kepala saya sampai sekarang.

Loyalitas penggemarnya pun berlanjut pada rilisan fisik Oasis. Mengeluarkan album perdana Definitely Maybe di tahun 1994 dan berakhir di antologi Time Flies:1991 – 2009, rilisan fisik Oasis masih laku keras hingga saat ini. Hal ini boleh jadi ada faktor pendukung makin bertambahnya populasi hipster penggila vinyl (vinyl junkie) maupun kaset pita di saat sekarang yang semakin menjadi-jadi. Ini hasil pengamatan saya di beberapa toko rekaman yang akun sosial media yang masih saja menjual beberapa rilisan Oasis dan dalam hitungan menit sudah berpindah tangan alias sold out kepada peminatnya. Gila!

Melihat antusiasme tinggi dari penggemar rilisan fisik Oasis yang tetap stabil hingga saat ini, Musick Bus Record Store yang merupakan the first mobile record store semenjak akhir Desember 2012 lalu dan baru-baru ini membuka gerai terbarunya di bilangan Pettarani, memunculkan inisiatif untuk menggelar sebuah gig penghormatan kepada Oasis yang bertajuk Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis pada 1 Februari 2015 lalu.

Ya, ini terlihat setelah Musick Bus memunculkan e-flyer sederhana untuk acara tersebut di akun resmi media sosialnya. Ditambah lagi beberapa hari menjelang acara, saya pun berkesempatan untuk berbincang santai dengan Rilo yang mengatakan kalau Musick Bus Fest edisi pertama ini memang pas sekali waktunya untuk memunculkan Oasis. Jikalau edisi kali ini sukses, Rilo pun berniat membuat tribute untuk band selanjutnya di akhir bulan ini.” Musick Bus Fest edisi ini juga merupakan rangkaian awal dari acara besar Musick Bus yang bakal diadakan pada bulan April mendatang.“, pungkas Rilo dengan semangat.

Penampil Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis yang didaulat tampil merupakan band-band dari Makassar yang umumnya terinspirasi dan memiliki benang merah yang sama dengan musik yang diusung Oasis. Tersebutlah Minorbebas, pentolan grunge/noise/rock n’ roll Makassar yang berganti nama dari Ultrakultur, kemudian My Silver Lining yang mengusung musik pop akustik, Next Delay yang merupakan shoegazer akut dari Tamalanrea, The Joeys yang merupakan dedengkot musik britpop di kota Daeng ini dan Tabasco, band british rock yang kabarnya bakal mengeluarkan album penuhnya tahun ini.

Saya yang mengira bakal telat datang ke Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis karena baru bisa hadir sekitar pukul delapan malam, ternyata masih bisa bernapas lega karena penampilan band belum dimulai. Walaupun begitu, para penonton dan kolega yang hadir malam itu lumayan ramai, hingga parkiran motor pun cukup penuh. Tingginya animo menyaksikan gig pembuka bulan Februari ini sudah pasti didominasi oleh faktor nostalgia saat mendengar lagu-lagu Oasis, sambil kumpul bareng dengan teman-teman sambil menyaksikan gig yang menyenangkan ini.

Animo penonton untuk menyaksikan Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis ini cukup tinggi, terlihat dari penonton yang sudah memadati bibir panggung bahkan sebelum bandnya tampil.

Animo penonton untuk menyaksikan Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis ini cukup tinggi, terlihat dari penonton yang sudah memadati bibir panggung bahkan sebelum bandnya tampil.

Panggung malam itu pun akhirnya dimulai sekitar pukul setengah sembilan malam dipandu dengan “gila” oleh MC Artha yang juga merupakan vokalis dan gitaris Tabasco, ditemani oleh Rilo, selaku owner Musick Bus. Di sela-sela band mempersiapkan alatnya, Artha pun mengadakan quiz  yang berhadiah CD band-band nasional yang dijual di Musick Bus. Bagi yang ingin menjawab pertanyaannya, harus dikerjai dengan jahil dulu oleh Artha. Ha ha!

Tanpa perlu berlama-lama mengadakan quiz, Artha pun memanggil Minorbebas yang membuka panggung pertama Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis ini. Minorbebas yang merupakan kuartet grunge asal Makassar. Usut punya usut, Minorbebas ternyata baru mengecap gig pertama kalinya di Tribute to Oasis ini. Ini menurut ucapan Radhit, yang memimpin band ini ketika ingin mulai bernyanyi dan memainkan gitar Jaguarnya sebelum memulai intro “My Big Mouth”.

Seketika saja ketika melihat mereka meredefinisi kembali lagu-lagu lawas Oasis seperti “My Big Mouth”, “Slide Away”, “(What’s The Story?) Morning Glory” dalam nuansa rock n’ roll yang tetap dibumbui dengan aroma distorsi grunge. Terlebih lagi sosok Radhit yang mengingatkan saya dengan Dave Grohl yang berbaur badan dengan Kurt Cobain dan Thurston Moore yang sedang memainkan riff-riff khas Noel Gallagher. Voila! Lengkaplah sudah.

Minorbebas pun meredefinisi kembali lagu-lagu lawas Oasis seperti "My Big Mouth", "Slide Away", "(What's The Story?) Morning Glory" dalam nuansa rock n' roll yang tetap dibumbui dengan aroma distorsi grunge. Seketika adrenalin membumbung tinggi!

Minorbebas pun meredefinisi kembali lagu-lagu lawas Oasis seperti “My Big Mouth”, “Slide Away”, “(What’s The Story?) Morning Glory” dalam nuansa rock n’ roll yang tetap dibumbui dengan aroma distorsi grunge. Seketika adrenalin membumbung tinggi!

Penampil selanjutnya yakni My Silver Lining yang membawakan “Go Let It Out”,” Sunday Morning Call”, “Champagne Supernova” secara klimaks mengundang koor penonton untuk bernyanyi berjamaah. Sayangnya penampilan My Silver Lining  tampak kurang dengan suguhan dentingan gitar akustik yang menjadi ciri khas penampilan mereka.

Sultan yang bertanggung jawab di departemen gitar My Silver Lining pun mengganti sejenak gitar akustik andalannya dengan gitar elektrik. Padahal, asyik juga rasanya bisa mendengarkan kocokan gitar akustik My Silver Lining memainkan lagu-lagu Oasis tanpa perlu distorsi seperti band-band lainnya.

 Penampil selanjutnya yakni My Silver Lining yang membawakan "Go Let It Out"," Sunday Morning Call", "Champagne Supernova" secara klimaks, yang sayangnya minus suguhan dentingan gitar akustik yang menjadi ciri khas penampilan mereka.

Penampil selanjutnya yakni My Silver Lining yang membawakan “Go Let It Out”,” Sunday Morning Call”, “Champagne Supernova” secara klimaks, yang sayangnya minus suguhan dentingan gitar akustik yang menjadi ciri khas penampilan mereka.

Bibir panggung  malam itu makin sesak saja rasanya ketika kedua band tersebut tampil cukup apik membawakan hits-hits dari Oasis. Adrenalin semakin terpacu dan makin melaju ketika The Joeys diberi amanah untuk membawakan “Supersonic”, “All Around The World”,”Wonderwall”.

Penonton semakin merapat, seakan tidak memberikan ruang pandang bagi yang menonton di bagian belakang. Namun, dukungan penuh dari penonton di bibir panggung rendah terang malam itu tampaknya tidak membuat The Joeys  tampil atraktif malam itu. Di balik penampilan yang cenderung monoton, The Joeys tetap mampu mengundang koor penonton menyanyikan lagu-lagu Oasis secara maksimal.

The Joeys diberi amanah untuk membawakan "Supersonic", "All Around The World","Wonderwall" di Musick Bus Fest #1. Walaupun tampaknya tampil kurang semangat, mereka tetap mampung mengundang koor penonton menyanyikan lagu-lagu Oasis secara maksimal.

The Joeys diberi amanah untuk membawakan “Supersonic”, “All Around The World”,”Wonderwall” di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis. Walaupun tampaknya tampil kurang semangat, mereka tetap mampu mengundang koor penonton menyanyikan lagu-lagu Oasis secara maksimal.

Next Delay yang merupakan pengusung shoegaze dari Tamalanrea pun menerima tongkat estafet penampil selanjutnya di Musick Bus Fest #1.  “I’m Outta Time”,”Live Forever”, “Stop Crying Your Heart Out” dilibas dengan penuh penghayatan a la shoegazer oleh mereka.

Tanpa perlu bergerak banyak dan lebih banyak menatap instrumennya, Next Delay yang awal mulanya membuka penampilan dengan cukup garing, mulai menggila menjelang akhir lagu “Live Forever” dimana Riri, sang lead guitarist pun tidak henti-hentinya meletupkan atmosfer efek delay berlapis-lapis dari gitarnya.

Next Delay yang awal mulanya membuka penampilan dengan cukup garing mulai menggila menjelang akhir lagu "Live Forever" dimana Riri, sang lead guitarist pun tidak henti-hentinya meletupkan atmosfer gitar delay berlapis-lapis dari gitarnya.

Next Delay yang awal mulanya membuka penampilan dengan cukup garing mulai menggila menjelang akhir lagu “Live Forever” dimana Riri, sang lead guitarist pun tidak henti-hentinya meletupkan atmosfer gitar delay berlapis-lapis dari gitarnya.

Selepas Next Delay melakukan akrobat liukan nada shoegaze malam itu, Tabasco pun hadir menjadi penutup klimaks di penghujung gig yang menggembirakan ini. Membuka penampilan mereka dengan “Shock Of The Lightning” yang secara mengejutkan sekaligus menggembirakan bagi saya  karena merupakan salah satu lagu yang wara-wiri di playlist saat jaman mahasiswa baru dulu. Diimbuhi dengan ketukan fill in yang mantap dari sang drummer Rendy, Tabasco membawakan lagu tersebut dengan sempurna!

Kemudian mereka mengajak penonton untuk ikut galau berjamaah sejenak di “Don’t Go Away” yang sudah pasti menghadirkan koor panjang dari penonton yang hafal dengan salah satu lagu hits Oasis ini. Kemudian mereka melanjutkan penampilan dengan “Stand By Me”, yang sayangnya juga menutup penampilan Tabasco di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis. Bendera The Union Jack pun dikalungkan di tiang mikrofon Artha, penonton pun mulai semakin menggila dan makin merapat ke bibir panggung. Yeah!

"Stand By Me", yang sayangnya juga menutup penampilan Tabasco di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis dengan membawakan "Stand By Me" dan bendera Union Jack dikenakan Artha.

Lagu “Stand By Me” sukses dikumandangkan oleh Tabasco beserta bendera The Union Jack yang dikalungkan di tiang mikrofonnya Artha, yang sayangnya juga menutup penampilan mereka di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis.

Hamka (gitar) dan Ilman (bass) didukung oleh Uga (gitar) dari Insidia, dalam menjaga ritme lagu Oasis yang dimainkan Tabasco di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis.

Rendy (drum), Hamka (gitar) dan Ilman (bass) bersinergi dengan Uga (gitar) dari Insidia, dalam menjaga ritme lagu Oasis yang dimainkan Tabasco di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis.

Penampilan klimaks yang sempurna dari Tabasco pun menutup Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis malam ini. Penghormatan penuh loyalitas Musick Bus untuk Oasis ini patut diapresiasi dengan empat jempol, karena telah menggelarnya dengan totalitas dari aspek teknis produksi panggungnya, seperti kualitas audio panggung yang begitu diperhatikan dan tata cahaya yang mampu menghidupkan suasana panggung ketika band-band tribute tampil, bahkan direkam pula penampilannya baika audio maupun video-nya. Panggung yang komplit seperti inilah yang harusnya terus hadir di setiap pelosok panggung-panggung di kota Makassar.

Rilo, owner dari Musick Bus yang punya inisiatif untuk memberikan penghormatan kepada  Oasis dengan penampilan band-band Makassar di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis,

Rilo Mappangaja, owner dari Musick Bus yang punya inisiatif untuk memberikan penghormatan kepada Oasis dengan penampilan band-band Makassar di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis.

Terlepas band-band tribute tidak ada yang membawakan karyanya sendiri malam itu dan berhembus kabar Oasis bakal reuni tahun ini asal ada uang menurut perkataan Noel Gallagher yang saya juga tidak peduli benar adanya,  saya beruntung bisa hadir menyaksikan dan merasakan satu lagi lahirnya panggung rendah luas terang tanpa barikade di Makassar. yeargh \m/ []