Sumber Gambar: Kartika Jahja ( @kartikajahja )

Tidak mudah menjadi perempuan di negeri ini. Paling tidak ada dua penyebab utama mengapa perempuan selalu menderita diskriminasi, doktrin agama dan budaya. Baik di keluarga dan masyarakat, bahkan negara, kita dibiasakan dengan baik dan buruk, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan. Hasilnya, kita menjadi sulit menerima hal di luar dari apa yang secara tidak sadar tertanam dalam pikiran kita yang kemudian berpengaruh pada perilaku. Belakangan, perempuan sadar akan segala diskriminasi yang dialaminya. Tetapi, hanya sedikit yang berani mengambil sikap dan melangkahkan kaki mereka keluar dari koridor yang telah dibangun bagi perempuan.

Ada terlalu banyak does and don’t yang harus perempuan patuhi. Jika ada yang dilanggar maka label bukan perempuan baik akan secara otomatis tersematkan. Tubuh perempuan kerap menjadi target kekerasan. Satu yang mendasar adalah perempuan tidak diberi kekuasaan dan kebebasan dalam memperlakukan tubuh mereka sendiri. Ada masyarakat dan norma yang selalu mengatur. Perempuan sering menerima pandangan negatif atas cara berpakaian atau bagaimana mereka berdandan. Bahkan jika tubuh perempuan polos sekalipun komentar dan penghakiman kerap diterima karena stereotype akan standar kecantikan yang terbentuk dari kultur sosial, dan tentu saja advertasing juga punya andil besar di dalamnya.

Tubuhku Otoritasku2_Revius

Beberapa teman perempuan saya harus dirawat di rumah sakit karena diet ekstrim. Tentu saja jalan ini mereka ambil karena rasa minder atas tubuh mereka. Beberapa di antaranya bertubuh besar dan begitu sering menjadi korban bully. Ketidakpercayaan ini tidak hanya karena bentuk badan tapi juga cerah tidak cerahnya kulit mereka, salah satunya. Perempuan yang kerap terpapar iklan produk kecantikan dan tidak memiliki rasa berterima atas tubuh mereka akan semakin mudah goyah dan memilih jalan-jalan pintas untuk menjadikan diri mereka cantik sesuai standar kecantikan yang sempit. Penghakiman terhadap tubuh perempuan masih sangat sering didapatkan dari orang-orang terdekat. Pada satu kesempatan, seorang teman tiba-tiba melemparkan komentar “pakai ko lotion biar putih-putih kulitmu.” Saya hanya bisa menoleh dan membalasnya dengan it is not your businnes look dan pertanyaan “kenapa ko?” Miris mendengar komentar seperti itu keluar dari orang yang membaca cukup buku dan terlihat cukup kritis pada fenomena sosial. Apa kabar mereka yang sering dikatai awam dan kurang baca?

Tubuhku Otoritasku3_Revius

Beberapa tahun belakangan, penggiat kesetaraan gender rajin mengampanyekan keberterimaan dan penghargaan atas keberagaman dan otoritas tubuh perempuan. Tagline Tubuhku Otoritasku sudah sedemikian akrab bagi perempuan atau laki-laki penggiat kesetaraan gender. Malam ini, Festival Tubuhku Otoritasku, sebuah perayaan atas keberagaman tersebut dihelat di Kinosaurus, Jakarta. Festival ini diinisiasi oleh lima feminist hura-hura yang membentuk kolektif yang dinamai Mari Jeung Rebut Kembali. Mereka adalah Kartika Jahja (vokalis dan penulis lagu Tika and the Dissidents, pendiri Yayasan Bersama Project), Ika Vantiani (seniman, kurator, penggiat zine), Shera Rindra (salah satu penggagas Aliansi Laki-laki Baru dan One Billion Rising Indnesia), Savina Hutudjulu (vokalis Witches, pendiri Bracode Mag, dan penikmat riot grrrl), dan Teraya Paramehta (dosen paruh waktu, vokalis Wonderbra, freelance writer dan translator).

Festival Tubuhku Otoritasku_Revius

Mari Jeung Rebut Kembali_Revius

Teraya Paramehta, Kartika Jahja, Shera Rindra, Savina Hutudjulu, dan Ika Vantiani yang membentuk kolektif bernama Mari Jeung Rebut Kembali.

Festival ini dibuat bukan hanya turut memeriahkan perayaan International Women Day pada 8 Maret lalu. Utamanya sebagai respon atas segala diskriminasi berbasis gender serta kekerasan yang dialami perempuan, baik fisik, psikologis, maupun seksual. Tubuhku Otoritasku kembali diangkat sebagai bentuk keprihatinan kolektif Mari Jeung Rebut Kembali atas merosotnya perghargaan atas hak dan kesetaraan perempuan. Dalam festival ini ada beragam kegiatan menarik seperti open mic, instalasi seni, pembacaan manifesto “Tubuhku, Otoritasku”, dan pertunjukan musik oleh Tika and the Dissidents, Witches, dan Wonderbra. Festival ini sekaligus menjadi momen peluncuran proyek video Tubuhku Otoritasku dari single Tika and The Dissidents dengan judul lagu yang sama. Bekerja sama dengan Sounds from the Corner, proyek video Tubuhku Otoritasku menggandeng 34 sahabat perempuan (termasuk 5 perempuan dari kolektif Mari Jeung Rebut Kembali) dengan identitas yang beragam: suku, ras, agama, kelas sosial, usia, bentuk tubuh, dan seksualitas.

Kehadiran kolektif Mari Jeung Rebut Kembali dengan Festival Tubuhku Otoritasku, meskipun dari jauh dan tidak secara langsung, kembali menanamkan semangat kepada perempuan lain untuk lebih mencintai dan mengambil kontrol atas tubuh mereka sendiri. Untuk tidak memperlakukan tubuhnya atas kehendak atau untuk menyenangkan orang lain.

Info terbaru dari Festival Tubuhku Otoritasku bisa diikuti di akun @marijeungrebutkembali