Oleh: Al-Fian Dippahattang(@pentilmerah)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Sungguh jadinya sederhana, cerita ini hanya hendak merawi.

 

Tak terlalu berat kupikul.

Walau, bertengger di kepalaku penghias

warna kesukaanmu—hijau randu muda.

Sedang, engkau mesti menahan beban di kepalamu

dengan hiasan rias termanis berwarna zamrud-hijau tua

yang hari ini kusaksikan.

 

Hanya sebentar saja, sayang. Hanya di pesta kita ini.

 

Engkau berusaha paham, walau matamu kosong terbelalak.

Di mataku, kutatap bibirmu menyahut satu kata terakhir

yang tertimpuk—tumpuk di kepalaku ingin juga kuucap.

 

Di telingamu engkau selalu menjemput langkah

yang menyambangi kita—menyalami

dan berucap entah apa, hanya engkau mendengarnya.

 

Barangkali, luruh daun dan turun hujan

menandakan takdir berloncatan tuk ditangkap.

 

Engkau, berusaha tegar meluapkan huruf demi huruf melalui caramu.

Aku riang jelang menatap masa datang.

Mengimani matamu lewat kecupanku mengena jidatmu.

Walau, hanya hatimulah yang melihatnya.

 

Cerita ini, berkenan mengenang di hati, sayang.

Satu hal lagi harus terpahami.

Matamu selalu cerah bertengger bulu lentik seperti ekor cendrawasih.

Sedang, cubitanmu di daun telingaku,

menuah-petuah seperti cicik cecak—suara kecil

yang selalu kurindukan terdengar.

 

Makassar, 2014

*Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2014 yang pernah kuliah selama dua tahun di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM). Tulisannya ikut dalam antologi pemenang (Jejak Sajak di Mahakam, 2013 Lanjong Art Festival) dan (Ground Zero, 2014 Diva Press). Beberapa essai, cerpen dan puisinya pernah dimuat di koran. Bisa di sapa di akun twitter-nya: @pentilmerah.