Oleh: Adin Amiruddin ( @adin.afterlive )

The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, kumpulan musisi gondrong asal Bandung yang akrab disapa The S.I.G.I.T, telah kembali ke tanah air setelah sukses menginvasi Australia dalam misi Cognition Tour 2016. Rekti Yoewono (vokal/gitar), Farri Icksan Wibisana (gitar), Aditya Bagja Mulyana (bass), Armando “Acil” Donar Ekana (drum) serta Absar Lebeh sebagai additional guitar telah berhasil menaklukkan sebelas titik di dua state (negara bagian): New South Wales dan Victoria. Ini menjadi kali kedua mereka menggelar konser di Australia, setelah di 2007 bermain bersama Dallas Crane (AUS), setahun selepas merilis album perdana, Visible Idea Of Perfection (2006). Australia juga bukanlah pertandingan tandang satu-satunya, mengingat gerombolan ini telah mencicipi South by South West Fest a.k.a SXSW Texas di tahun 2008, disusul San Fransisco, Los Angeles, lalu Hong-Kong.

Mengintip tulisan sang vokalis di salah satu website, Cognition Tour 2016 ini sejatinya adalah perayaan album Detourn yang dirilis tahun 2013. Hanya saja, untuk tur di Australia akhirnya bisa terealisasi dengan bantuan networking dan support dari beberapa pihak di Australia, termasuk penyelenggara Cherry Rock Festival 2016 di Melbourne, gelaran festival musik yang menjadi target utama perjalanan mereka.

Delapan orang plus puluhan kilogram barang bawaan dengan 11 titik yang jaraknya berjauhan, hal ini tentu bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, setelah melirik rute perjalanan tur, mereka akan beberapa kali bolak-balik dengan armada pesawat terbang, plus beberapa perjalanan darat jarak jauh. Saya memilih menunggu mereka di Sydney, karena saya sadar bahwa menunggu itu tidak melulu menyakitkan.

Rabu, 27 April 2016. The S.I.G.I.T memulai pertunjukan pertama mereka bukan di Melbourne, melainkan di Newtown, sebuah suburb di Sydney yang dipenuhi aura seni dan urban culture yang sangat kuat. Mungkin inilah alasan Coldplay, band terkenal itu, memilih Newtown sebagai lokasi pengambilan gambar video musik mereka di tahun 2014, Sky Full of Stars, disusul oleh band terkenal lainnya–mungkin Tabasco di bulan Juni 2016 dengan single Pelaminan.

The Sigit memulai tur pertama Cognition Tour 2016 di Newtown,

The S.I.G.I.T memulai tur pertama Cognition Tour 2016 di Newtown, yang kuat dengan aura berkesenian.

Rekti Yoewono, vokalis The SIGIT saat tampil di Newtown Social Club.

Rekti Yoewono saat tampil di Newtown Social Club.

Di Newtown Social Club, The S.I.G.I.T mengawali Cognition Tour dengan membuka You Am I, band Australia yang hits di tahun 90-an. Tujuh track berhasil diselesaikan, meskipun Rekti sempat mengalami masalah. Senar gitarnya putus, tapi tidak dengan kisah cintanya. Namun  masalah itu berhasil di-cover berkat bantuan crew You Am I dan kemudian menuntaskan keseluruhan set-nya. Terlihat beberapa orang Indonesia (termasuk saya) yang tidak kebagian tiket. Newtown Social Club yang berkapasitas sekitar 200 orang, tidaklah sulit untuk menjadikan gigs ini sold-out. Beruntung, ada lima orang lokal yang menjual tiketnya, sehingga ke-lima pemuda Indonesia ini tidak jadi pulang ke rumah dengan harapan kosong. Selamat nah, pemuda.

Let the right one in!

Absar Lebeh dari The Slave dan Mooner juga tampil bersama kuartet The S.I.G.I.T untuk tur Cognition Tour Australia 2016. Let the right one in!

Set list The SIGIT yang didominasi dari album Detourn saat tampil di Newtown Social Club.

Set list The S.I.G.I.T yang didominasi dari album Detourn saat tampil di Newtown Social Club.

Setelah malam itu, kami di Sydney harus menunggu beberapa hari untuk mereka menyelesaikan gigs di Melbourne sebelum menghajar Frankie’s Pizza, sebuah gigs underground terbalut restoran pizza terselubung di sudut Martin Place. Minggu 7 Mei 2016, 09.00 PM waktu setempat. Narla dan Witch Fight memanaskan panggung Frankie’s, disusul Devil Electric, band asal Melbourne yang menjadi tandem The S.I.G.I.T selama Cognition Tour 2016.

Witch Fight dengan dua personilnya mengingatkan saya dengan duo Death From Above 1979 versi lebih garang!

Witch Fight dengan dua personilnya mengingatkan saya dengan duo Death From Above 1979 versi lebih garang!

Devil Electric yang tampil dengan frontwoman-nya, Pierina O'Brien.

Devil Electric yang tampil dengan frontwoman-nya, Pierina O’Brien di Frankie’s Pizza.

Tetap mengawali set dengan repertoar dari album Detourn, The S.I.G.I.T tampil percaya diri di tengah crowd yang didominasi rakyat Indonesia dicampur muda-mudi lokal. Pemandangan ini sangatlah epik, terlebih setelah mengakhiri set dengan track legendaris, Black Amplifier.  Berbeda dari konser di Newtown, malam ini dipenuhi puluhan anak Indonesia yang sehat dan kuat. Mungkin karena free show, atau malam ini memang malam yang paling ditunggu oleh sekumpulan anak muda ini, sebagai hal yang dapat memuaskan nafsu dan dahaga mereka atas pertunjukan band tanah air.

The Sigit tampil percaya diri di tengah crowd yang didominasi rakyat Indonesia dicampur muda-mudi lokal.

The S.I.G.I.T tampil percaya diri di tengah crowd Frankie’s Pizza yang didominasi rakyat Indonesia dicampur muda-mudi lokal.

Farri Icksan dan Acil The SIGIT saat tampil di Frankie's Pizza.

Farri Icksan dan Acil The S.I.G.I.T saat tampil di Frankie’s Pizza.

Maklum saja, di tengah hingar bingar festival musik yang digelar di Indonesia, saya dan teman-teman di Sydney hanya bisa mengamati lewat media sosial, menatap foto dan video dari Instagram, atau membaca ulasan event musik seperti yang ditulis Achmad Nirwan di Revius. Meskipun panggung band Internasional bisa dengan mudah disaksikan selama menetap di negara ini, menyaksikan band Indonesia tampil panggung di negeri orang adalah hal yang sangat langka. Ibarat Pallubasa Serigala, banyak makanan luar negeri di sekitar, cita rasa lokal tetaplah dirindukan, diimpikan, apalagi jika disuapkan…penjualnya. []

N.B.: Foto-foto selengkapnya bisa dilihat di Facebook page  Afterlive.


Baca tulisan lainnya

Laneway Music Festival dan Fenomena Kampung Sebelah

Ber’haji’ di Festival Musik

Yang Terpelajar, Yang (Seharusnya) Menghargai Musik

Record Store Day, Antara Kapitalisme dan Penyelamatan Musik

Lima ‘Rukun’ Wajib Para Musisi