Berikut ini ada lima hal menurut Fami Redwan yang bila ditiadakan, niscaya 2016 akan menjadi tahun yang baik bagi kita semua.

Dari beberapa cuil pengetahuan yang pernah saya resap di masa kuliah ekonomi dulu, satu di antaranya adalah teori utilitas. Yaitu teori tentang tingkat kepuasan atau kebahagiaan yang apabila semakin diikuti keinginannya maka semakin turun kualitasnya. Terlalu rumit untuk dijelaskan dengan bahasa dosen dalam kelas, maka saya akan coba menjelaskan dengan bahasa playboy teh gelas.

Contoh paling sederhana dari teori utilitas adalah saat kita selesai bermain futsal sepanjang sore, kemudian di hadapan kita terhidang segelas air putih dingin nan segar, maka tegukan pertama dipastikan akan memberi tingkat kepuasan yang maksimal di mulut, tenggorokan, tubuh, bahkan di jiwa. Namun pada tegukan-tegukan berikutnya rasa nikmat itu semakin berkurang hingga menyentuh titik tertentu di mana otak kita memutuskan untuk berhenti minum karena dahaga telah tertutupi dan rasa haus telah terbayar. Seperti itulah kira-kira.

Nah, bila teori utilitas ini dipindahkan konteksnya ke dalam urusan merayakan malam pergantian tahun dengan gegap gempita dan hip-hip hura, maka pesta tahun baru terbaik yang pernah saya alami adalah sekitar 26 tahun yang lalu. Makin ke sini makin berkurang kenikmatannya, alias tambah lama tambah tidak ada rasanya. Kini nyaris tidak ada lagi ketertarikan di hati untuk berhore-hore ria kalau alasannya hanyalah karena ada sesuatu yang istimewa di antara tanggal 31 Desember dan 1 Januari. Lagipula, apa yang masih bisa disebut istimewa dari kegiatan memberi angka baru untuk tahun yang sama?

Tahun yang sama? Maksudnya?

Ya, saya termasuk orang-orang yang tidak lagi percaya bahwa perubahan akan datang hanya dengan mengucapkan janji-janji pada diri sendiri (sebagian kita menyebutnya resolusi), sebongkah formalitas gombal yang individualistik sifatnya, sekuntum romansa instan yang hanya mekar mewangi di bawah pelangi kembang api, yang akan terekspirasi alias kadaluarsa hanya dalam hitungan hari dikarenakan kenyataan di sekitar kita yang tidak akan pernah cukup kondusif untuk membuat gombalan-gombalan itu terealisasi.

Seorang teman yang masih percaya pada resolusi awal tahun, meletakkan diet ketat pada poin pertama, dan be yourself pada poin berikutnya. Otak saya yang tak seberapa pintar ini pun mampu membaca yang tersirat dalam tekad teman saya tersebut, bahwa dia ingin berusaha ‘memperbaiki’ wujud fisiknya, dan tetap acuh bila usaha itu gagal menjadi nyata. Padahal untuk kasus teman saya ini, yang seharusnya diubah adalah cara pandang manusia yang menilai sesamanya lewat bentuk dan ukuran badan. Atau contoh berikutnya : Untuk apa berusaha memutihkan kulit kalau yang harus dibongkar adalah cara menilai bahwa putih tidak berarti lebih cantik dari hitam? Karena dengan janji-janji untuk memperbaiki diri agar lebih sesuai dengan kenyataan, demi diterima oleh lingkungan, maka tanpa sadar kita telah ikut mentasbihkan diri sebagai korban. Budak keadaan. Dan sebagai budak, apakah ada bedanya ini tahun berapa?

And that, dear friends, is my point. Angka yang baru, tahun yang sama.

Lalu apa maunya tulisan ini sebenarnya? Sederhana saja. Secara universal, perubahan biasanya datang dari sel yang terkecil dulu, yaitu individu, barulah setelahnya merambat ke skala yang lebih lebar dan luas. Namun di tanah ini, tingkat urgensinya mengarahkan pada fakta bahwa yang seharusnya lebih dulu dirombak bukanlah diri kita sebagai individu, melainkan keadaan yang memaksa kita untuk selalu menjadi si dungu. Resolusi itu omong kosong bila yang kita butuhkan sebenarnya adalah revolusi. Daripada mati-matian berusaha untuk selalu diterima oleh keadaan yang sebenarnya tidak kita perlukan, bagaimana kalau keadaan itu saja yang kita hilangkan? Nah, berikut ini ada lima hal yang bila ditiadakan, niscaya 2016 akan menjadi tahun yang baik bagi kita semua. Semua. Bukan hanya segelintir saja.

1. Ketakutan

Sebagai substansi hormonal yang paling dahsyat efeknya, rasa takut adalah senjata utama yang selalu dihunus ke udara oleh mereka yang ingin menguasai dan menjaga kekuasaannya atas orang lain. Tidak ada yang lebih mampu mengontrol manusia selain rasa takutnya sendiri. Tahun 2015 meresmikan begal-isme sebagai contoh paling kasat mata tentang bagaimana ketakutan yang diciptakan oleh anak-anak di bawah umur yang mengkonsumsi Tramadol dalam dosis tak terkendali sukses menciptakan suasana horor di kota-kota besar Indonesia, termasuk Makassar.

Bagi sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara namun dengan daya beli yang tak seberapa, berkeliling kota di malam hari dengan sepeda motor adalah sarana bercinta yang paling masuk akal, namun kini sudah tidak masuk akal lagi sejak begal mengancam setiap detik dan setiap meter perjalanan mereka. Daripada sang lelaki dipanah punggungnya dan sang perempuan dilecehkan harga dirinya di jalan raya, akhirnya mereka memilih untuk menghabiskan waktu di kamar kost saja. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, dampaknya adalah kehamilan di luar nikah akan merajalela, dan belasan tahun kemudian populasi penduduk Indonesia akan mencapai jumlah yang luar biasa, yang otomatis membuat kemakmuran menjadi susah untuk dibagi rata, dan pada akhirnya melahirkan generasi kriminal berikutnya.

Sebelum tulisan ini bablas, saya simpulkan saja : Sekarang adalah jaman di mana rasa aman sudah menjadi komoditas dagang. Dan rasa tidak aman adalah iklannya. Takut dibegal itu wajar saja. Tapi jangan takut pada mereka yang membiarkan begal-begal itu berkeliaran di sekitar kita. Karena yang menyebar virus biasanya adalah ‘penjual’ obatnya. Semoga nalar kita bertemu di satu nama yang sama.  Dan itu hanya satu contoh saja. Masih banyak ketakutan pada hal-hal lain sengaja ditebar ke udara yang kita hirup dengan tujuan agar kita mudah dikendalikan, mudah dijadikan robot yang patuh pada otorita pemuja distopia. Silakan berpikir.

2. Ketamakan

Sejak saya kembali ke kota Makassar beberapa bulan lalu, sampai detik ini saya masih salah tingkah setiap kali harus menggunakan U-turn di jalan raya, karena harus selalu menyiapkan uang seribuan untuk mereka yang ‘membantu’ saya memutar kendaraan. Seringkali, saya jumpai mereka yang menjadi polantas dadakan itu masih berada di umur 10-12 tahun, yang entah kenapa lebih memilih untuk memungut uang dari pengguna jalan daripada bermain petak umpet atau kejar-kejaran. Mungkin karena permainan-permainan itu sudah kalah pamor dibanding apa yang ditawarkan oleh jasa penyewaan console video game yang harus dibayar untuk menikmatinya. Atau karena orang tua mereka sudah terlalu ignoran hingga anak-anak itu tidak perlu lagi mengunyah daun mangga atau daun jambu sebelum pulang ke rumah untuk menghilangkan aroma tembakau atau alkohol dari mulut mereka. Atau kalau dua kemungkinan itu belum cukup gila, teori yang paling menghentak tentang penyebab kenapa anak-anak kecil sekarang sudah getol mengumpulkan uang adalah karena satu hal yang terlalu cepat diturunkan oleh generasi di atas mereka : Ketamakan.

Di awal tulisan ini saya sempat bercerita tentang teori utilitas. Semakin banyak kita meminum air, semakin berkurang dahaga di tenggorokan. Semua ada batasnya, ada cukupnya. Kecuali uang. Manusia dinilai bukan lagi dari apa yang dia ucapkan dan lakukan, melainkan dari apa yang dia miliki dan konsumsi. Begitulah kepercayaan terkini yang mati-matian kita nafikan namun tak pernah bisa kita pungkiri. Karma adalah sesuatu yang scientific sifatnya, dan ketamakan adalah penyakit menular. Maka jangan heran bila dalam hitungan detik selalu lahir generasi baru yang salah orientasi, yang muda yang balala. Bagi teman-teman yang tidak mengerti apa makna kata balala, silakan cari tahu sendiri. Dan yang membuat ini menjadi lebih celaka, ketamakan jaman sekarang bukan lagi sekadar urusan uang dan harta benda. Pengakuan, pujian, status dan strata sosial, jenjang karier, dan hal-hal yang sebelumnya mengedepankan etika, kini sudah tidak bisa lagi digapai tanpa menginjak leher orang lain terlebih dahulu. Lihat saja bagaimana ulah mereka yang berpolitik demi kekuasaan. Apa bedanya dengan preman yang dengan sengaja merusak jalan lalu kemudian pura-pura bergotong-royong memperbaikinya demi bisa berdiri sambil memegang kardus dengan cara setengah memaksa meminta uang dari kendaraan-kendaraan yang melintasinya? Apa bedanya ? Hanya beda di nominal saja.

3. Jalan Pintas

Ketika seorang anak diberi tugas dari sekolahnya untuk membuat asbak dari tanah liat, akan sangat mudah bagi orang tuanya untuk membeli saja di pasar terdekat. Namun ketika sang guru takjub dan memuja-muji sang anak atas bakatnya yang menonjol dalam seni rupa, maka terciptalah dua generasi pembual yang tidak mungkin bangga akan dustanya. Di luar masalah transportasi, semoga manusia di bumi ini berhenti mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya. Hargailah proses, walaupun itu berarti kegagalan tanpa henti. Kurangi memuja hasil, walau itu mempengaruhi gaji. Sudah, itu saja. Karena entah kenapa di poin ini saya merasa tersindir membaca tulisan saya sendiri.

4. Gengsi Yang Menjadi Harga Diri

Dari judulnya yang sudah begitu jelas, tidak banyak lagi ruang tersisa untuk bercerita. Saya kurang yakin apakah Noam Chomsky atau George Orwell pernah mendengar istilah Siri’na Pacce. Namun semua individu yang berakal budi pasti mengerti konsep tentang harga diri.

Di tanah tempat saya berpijak, harga diri adalah penyebab seorang pria menantang pria lain yang dituduh berselingkuh dengan pasangannya, untuk duel di dalam sarung dengan masing-masing memegang sebilah badik. Kenapa badik? Mungkin karena lebih baik mati daripada hidup tanpa harga diri. Kenapa sarung? Mungkin karena perselingkuhan adalah masalah pribadi yang tidak perlu diketahui umum. Dan itu, saudara-saudara sekalian, adalah random sample tentang bagaimana manusia di bumi Sulawesi menjunjung tinggi harga diri. Sementara itu, beberapa kilometer dari lokasi duel, dalam sebuah rumah yang lebih pantas disebut kastil kaum urban, seorang ayah yang tengah disibukkan dengan judi kekuasaan, tanpa berpikir panjang mengusir anaknya dari rumah karena ketahuan berpacaran dengan anak dari rival bebuyutannya dalam memperebutkan posisi sebagai ketua anu-anu. Dan itu, saudara-saudara sekalian, adalah sinetron tentang gengsi. Kualitas menentukan harga, sedangkan diri adalah individu. Jadi harga diri adalah masalah kualitas individu. Bagaimana ia menilai dirinya sendiri sebelum orang lain menghargainya. Sedangkan gengsi, sepertinya itu tak lebih dari sekedar sampah peradaban hybrid kapitalis-feodalis yang sebaiknya ditiadakan saja dari kehidupan kita.

5. Moral Ketengan

Meminjam tanpa izin potongan lirik lagu Homicide, moral ketengan adalah selaput yang melindungi dan mengayomi semua poin yang sudah kita bahas sebelumnya, agar hal-hal buruk itu tetap ada berkeliaran di dalam kehidupan sehari-hari kita. Moralitas yang mengambil sepotong-sepotong sesuai keinginan dan kepentingan, seperti radikalis agama yang mengutip ayat-ayat Tuhan seenak agendanya saja.

Moralitas adalah kesepakatan kolektif yang diamini kebenarannya dalam bentuk etika, dan aplikasinya adalah tingkah laku dan tata krama dalam kehidupan sosial kelompok-kelompok manusia. Entah itu pada sesama, atau pada mereka yang berbeda. Namun karena yang berlaku di realita keseharian kita ternyata ketengan sifatnya, bisa dibeli per-batang, boleh digunakan sepotong-sepotong, akhirnya hilanglah maknanya. Tamatlah nilai-nilai kebajikan, kebijaksanaan, kepantasan, dan kemuliaan yang proses penciptaannya memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun, kalah telak oleh kepentingan nilai-nilai yang katanya lebih modern, seperti undang-undang yang sejak dari tataran ide hingga menjadi peraturan yang mengikat, seringkali motifnya justru tidak bermoral. Contohnya? Yakin teman-teman mau saya beri contohnya di sini? Baiklah. Undang-undang yang merumitkan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam mengusut dan menyidik kasus korupsi apabila tersangkanya adalah seorang wakil rakyat. Atau contoh yang lebih konyol : Seorang koruptor yang merasa kalau uang korupsi adalah rezeki dari Tuhan. Pernah dengar beritanya? Tidak? Kalau begitu saya beri contoh yang lebih mengerikan : Ketika demokrasi, sistem yang didesain agar membuka peluang yang sama besarnya pada setiap warga negara untuk mengatur dan mengelola tata pemerintahan, diolah dan disulap sedemikian rupa untuk melanggengkan lahirnya bentuk kerajaan ala millenium baru. Kesultanan di era informatika. Bahasa warung kopinya : Neo-dinasti. Yeah of course you know what I’m talking about. Who I’m talking about. Tapi apakah itu melanggar undang-undang? Tentu tidak. Lalu apakah itu etis? Tergantung moralitas yang digunakan untuk menilainya, apakah beli sebungkus atau ketengan. Dan pertanyaan terakhir : Apakah itu bisa dihentikan? Hmm… Toh sejarah membuktikan, tidak ada rezim yang tidak akan rubuh pada akhirnya.

 

Itulah lima hal paling ongol-ongol yang menurut saya layak untuk dimusnahkan di tahun ini, demi tahun-tahun depan yang lebih indah, bahagia, adil, dan merata. Karena sesedih-sedihnya seorang jomblo, adalah jomblo kelaparan yang rumahnya digusur. Aminkan.

– – – – –

01 Januari 2016 pagi

Ditulis untuk merayakan tahun baru pertama tanpa rasa hangover di kepala.

Sumber gambar : survivalkit.com