Jalan raya, sebuah ruang untuk melihat berbagai fenomena sebuah kota. Fenomena di mana anak belasan tahun dengan bebasnya menggunakan sepeda motor, tidak menggunakan helm sambil membonceng ketiga temannya di ruas jalan dengan kecepatan tinggi. Fenomena angkutan umum yang mengemudi selayaknya jalanan hanya miliknya, penutupan jalan oleh kepentingan pemangku kebijakan, bunyi sirine polisi dalam mengawal mobil pejabat yang seolah-olah hanya dirinya yang memiliki kepentingan yang mendesak. Dan tak lupa kisah romantisme sepasang kekasih dalam berkendara yang menjadikan jalan sebagai saksi kisah cinta mereka.

***

Jalan Perintis Kemerdekaan adalah sebuah jalan yang layak dinobatkan sebagai jalan terpanjang di kota Makassar. Jalan yang menghubungkan antara Makassar dan Maros ini kerap juga disebut sebagai Jalan Poros Makassar.

Jalan Perintis diramaikan dengan pete-pete berbagai arah dari beberapa penjuru Makassar. Oleh karenanya, berhati-hatilah menggunakan jalur kiri jalan. Karena sepertinya lelucon klise “hanya Tuhan dan supir pete-pete yang tahu kapan pete-pete akan berhenti” memang benar adanya.

Dengan panjang sekitar 11,8 km, jalan ini dipenuhi dengan berbagai Universitas baik negeri maupun swasta. Sebut saja Universitas Hasanuddin, Universitas Cokrominoto, Universitas Islam Makassar, Universitas Kristen Indonesia, STMIK Dipanegara, STMIK Akba, Politeknik Negeri Media Kreatif, Politeknik Negeri Ujung Padang, STIKT dan masih ada lagi yang luput dari penglihatan saya. Jika masing-masing Universitas memiliki setidaknya 2000 mahasiswa aktif, bayangkan saja akan ada kurang lebih 18ribu mahasiswa yang akan memadati ruang jalan perintis setiap harinya.

Saya sendiri sudah hampir 4 tahun aktif menelusuri jalan ini. Entah menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Perintis memiliki ceritanya sendiri. Tidak seperti saat melintasi jalan penghibur dengan kecepatan rendah untuk menikmati pemandangan Pantai Losari, Perintis dipenuhi dengan orang-orang yang dikejar dan mengejar waktu. Entah dengan motor menuju kampus, dengan mobil menuju tempat kerja, ambulans yang ingin menuju rumah sakit, ataupun taksi yang hendak ke bandara. Perintis sungguh bising dengan bunyi klakson yang menandakan lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.

Fenomena Perintis yang tak kalah uniknya adalah kemacetan akibat demonstrasi Mahasiswa. Mereka yang notabene berkampus di jalan Perintis ramai-ramai memadati ruas jalan depan kampusnya. Menutup sebagian jalan dengan ban yang dibakar. Berkoar demi penindasan masyarakat akibat kebijakan pemerintahan. Namun tanpa sadar juga menindas masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan. Berteriak karena kebijakan pemerintah yang otoriter dengan cara otoriter sederhana dengan menutup jalan.

Padatnya pengguna jalan dan meningkatnya kecepatan dalam memburu waktu membuat perintis menjadi buas. Begitu banyak kecelakaan yang saya saksikan sendiri dalam menelusuri jalan ini. Hingga beberapa minggu lalu, saya melihat sendiri mayat seorang mahasiswa yang tewas dalam sebuah kecelakaan depan Makassar Town Square. Yang kemudian foto vulgar mayatnya ramai bertebaran di media sosial. Kasus kecelakaan yang terjadi di Perintis dapat dengan mudah ditelusuri di mesin pencari google.

Kepentingan orang-orang yang memburu waktu terkadang membuat mereka lupa untuk menggunakan jalan dengan baik. Mereka menggunakan jalan dengan cara yang buas. Dan sepertinya, jalan raya akan berada dalam ancaman hukum rimba. Menindas siapa saja yang lemah. Jalan raya kemudian menjadi ajang beradunya kecepatan dan kematian. Tempat di mana manusia kerap mengejar waktu tanpa toleransi.

Ronald Primeau, menelusuri jalan-jalan raya di Amerika Serikat seorang diri dan memberi pernyataan  jika sifat manusia Amerika dapat dilihat melalui jalan raya. Ia merangkumnya dalam sebuah buku berjudul Romance of the Road : The Literature of American Highway. Saya sepakat, karena sesungguhnya kepribadian seseorang dapat tercermin dari caranya menggunakan jalan. Lalu bagaimana dengan jalan raya di Indonesia? Waktu demi waktu, sudah banyak nyawa  yang melayang di jalan raya. Mengutip kata dari Alwy Rahman seorang budayawan Sulawesi Selatan dalam literasinya, “Tak ada duanya tempat untuk menyaksikan ribuan orang yang mengalami cedera berat dan ringan serta ratusan orang mati di jalan-jalan raya, kecuali di Indonesia”.

*Foto di atas merupakan dokumentasi milik Chairiza


Baca artikel City Review lainnya

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Makassar Mencakar Langit

5 Tipe Kafe Gaul di Jepang

5 Hal yang Nyeleneh yang Mudah Ditemukan di Kyoto

Saya, Korea, dan AIESEC

Toko Alat dan Bahan Kriya Favorit di Makassar