Sumber Ilustrasi oleh: Darman Kadir (@drmnkh)

Judul Album: Survival | Musisi: Paniki Hate Light | Durasi: 42:72 |Produser: Paniki Hate Light & Celestial Sphere Recordings| Tanggal Rilis: 9 November 2014 | Rilisan: Immortal LIVE

 

Simpang siur tentang kabar Paniki Hate Light bakal merilis album semenjak setahun lalu, akhirnya terjawab  sudah. Setelah melalui proses rekaman yang panjang dan penuh suka duka, Paniki Hate Light merilis album perdananya bertajuk Survival pada 9 November 2014 lalu dalam bentuk cakram padat atau compact-disc (CD).

Survival yang paling ditunggu-tunggu oleh para penggemar dan penikmat musik yang menyimak perkembangan Paniki Hate Light  termasuk saya selama hampir 6 tahun,  pastinya menyambut gembira rilisan ini. Album ini pun telah ada di tangan saya setelah bertemu dengan Ichal, manajer Paniki Hate Light yang memberikan cakram padat ini untuk disimak baik-baik dan dituliskan dalam ulasan ini. Sempat berbincang sejenak dengan Ichal tentang mengapa album ini cukup lama bisa dirilis. Ichal pun mengatakan bahwa proses produksi dan pengemasan album yang rentang waktunya cukup memakan waktu yang lama.

Proses pengerjaan album yang cukup lama sebenarnya sudah selesai penghujung tahun lalu. Album ini diproduseri secara kolektif oleh Paniki Hate Light sendiri. Mengandalkan 4 sound engineer sekaligus yaitu Andry Bayu Jasmin dari Celestial Sphere Recordings, Andy Michael Williams, Fadhel dan Idhyr pada proses tracking-nyaSurvival mulal direkam sejak Januari tahun 2013. Mixing dan mastering kemudian dilakukan Andry Bayu Jasmin setelahnya.

Setelah produksi album selesai, giliran muncul lagi persoalan untuk pengemasan album yang cukup lama ditunggu. Tapi kesabaran pun pastinya berbuah manis. Survival pun dirilis serta didistribusikan bersama Immortal Live. Beberapa seniman handal pun dilibatkan dalam proses pengemasan ini seperti desain sampul muka dan belakang yang digarap oleh Darman Kadir dan fotografi  oleh Uchu.

Proses rekaman yang penuh perjuangan terkadang melelahkan dan diliputi amarah, diredam dengan penuh tawa dan cerita, bisa membuahkan hasil yang “berbahaya”. Hasil mixing dan mastering dari Andry Bayu Jasmin yang tidak henti-hentinya menghajar telinga pada saat bersamaan juga nyaman didengar.

Survival merangkum semua teriakan bertuah yang terkadang diimbuhi nyanyian melodius dari sang vokalis, Agil Putra yang kompak berbagi dengan Yudhi dan Jerry di departemen gitar, Dede yang mengolah bebunyian keyboard/synth, Amin yang menjaga ritme bersama Opan yang menghentak drum.

Survival memuat 2 komposisi instrumental pendek dan 10 lagu penuh. Dibuka oleh “Chiroptera” yang berdurasi 2 menit 17  detik sebagai penghantar untuk masuk ke “Traitor”(03:47) yang memiliki intro lead guitar yang penuh pengharapan dan melodius.

Perjalanan “bertahan hidup” semakin menapak lewat “Survival” (04:55) yang menghadirkan OBLK23 dari band Sebuah Tawa dan Cerita, untuk mempertegas teriakan amarah bersama Agil Putra. Ritme “bertahan hidup” “pada Survival” perlahan-lahan diturunkan dalam lagu “Fear, Shame & Memories” (04:05) yang serupa mengingatkan kembali pada kenangan lama akan rasa segan dan merendahkan diri.

Namun sebelum kenangan lama itu makin membelenggu, “Before The Story End” (04:48) yang sebelumnya pernah dirilis sebagai single dan akhirnya direkam ulang. menjadi penghantar yang menendang telinga sebelum kisah bertahan hidup ini segera berakhir.

“Deceiver”(03:39) menjadi klimaks dari fase perjalanan bertahan hidup yang pertama yang dibuka permainan synthesizers yang apik dan permainan gitar yang tegas nan padat di pertengahan lagu, layaknya keberhasilan bertahan hidup setelah mengelabui para penipu yang memperdaya.

Pemulihan setelah “bertahan hidup” ini kemudian dibangkitkan kembali dalam “Ressurrection” (02:38) sebuah komposisi instrumental yang menghantarkan pada ingatan tentang dunia yang semakin tidak waras di “Madness Of The World” (03:13).

Setelah berhasil mengalihkan perhatian dari dunia yang semakin tidak waras,  mereka melangkah kembali untuk menemukan sebuah alamat  di “No Phone, No Address” (04:00) sebelum menuju  ke perjalanan waktu di “Time Travel” (04:11) dan berhasil mengembara menembus waktu di “Traveler” (03:41) yang samar-samar memiliki lead guitar yang menjadi jembatan menuju “Change” (03:58) menjadi klimaks dari kisah “bertahan hidup” ini. “Change” yang penuh dengan nada emosional dan merayakan kemenangan bertahan hidup secara keseluruhan.

Melihat proses perjuangan yang penuh pengorbanan, saya pun ikut bersyukur, bahkan ada tiga rasa syukur saya setelah Paniki Hate Light merilis “album Survival” ini. Yang pertama, mereka tidak merilisnya saat wabah emo post-hardcore dan sejenisnya sedang merajalela pada tahun 2008–2010 di Makassar. Jujur saja, masa-masa itu merupakan puncak histeria subgenre ini sedang naik daun. Ditambah lagi, makin banyak yang band sejenis yang menawarkan warna musik yang sama. Tapi seiring berjalannya waktu, band-band tersebut mulai hilang dari peredaran dan mungkin saja merubah alirannya. Tapi tidak dengan Paniki Hate Light, yang konsisten mengusung warna musik yang kurang lebih sama dari masa itu sampai sekarang.

Rasa syukur kedua yaitu mereka merilisnya saat penampilan musik mereka di panggung mulai berkembang tiap tahun. Tidak melulu beraksi dengan mengambil role model musisi post-hardcore  yang mereka sering tampilkan ketika masa-masa awal gigs mereka. Ucapan syukur yang terakhir yakni karena mereka merilisnya  setelah ikut berpartisipasi dalam Tur Riuh Berderau setahun lalu yang membuat jaringan pertemanan mereka semakin luas.

Tapi tidak ada kesempurnaan untuk sebuah karya. Warna musik yang dipertahankan oleh Paniki Hate Light memang membuktikan konsistensi mereka. Tetapi bisa juga jadi bumerang pada aransemen yang saya rasa monoton di setiap lagu.  Selain itu, saya bersama seorang teman sempat berbincang tentang album ini sambil melihat beberapa lirik yang terlampir di dalam booklet album ini. Sedikit saran, penggunaan kosa kata bahasa Inggrisnya masih  perlu lagi diperbaiki.

Perjalanan bertahan hidup masih panjang untuk Paniki Hate Light. Album “Survival” ini semoga menjadi penghantar menuju “gerbang” album ke-dua yang lebih baik lagi, bahkan lebih menggambarkan bagaimana perjuangan mereka selama ini.

Now, it’s time to beg for mercy and blessing. Stay survival.[]

P.S. Jikalau ada koreksi, silahkan memberi komentar pada kolom komentar di bawah ini.