Oleh: Accang Santiago* ( @accangStupidea )| Ilustrasi: Aswan Pratama ( @aswan_pratama )

Hari itu kemarau belum juga berakhir. Pak Sikin menjemput saya. Dia  mengendarai motor. Saya memegangi tombaknya yang panjangnya sekitar 2,5 meter dengan batang terbuat dari kayu jenis cireng. Mata tombak dari logam, panjang antara 30 hingga 40 sentimeter, warisan keluarganya. Ia juga memakai tas ransel hitam dan membawa sebilah parang. Tiga ekor anjingnya ikut dari belakang. Sesekali Pak Sikin singgah, bersiul, untuk memanggil anjingnya yang tertinggal. Dia kemudian menunjuk daerah yang dinaungi mendung.

Itulah daerah tujuan kami. Terletak di sebelah barat pusat pemukiman Dusun Bonto yang terletak di Desa Kompang, Kabupaten Sinjai. Setelah melewati sungai, jalanan selebar tiga meter seluruhnya menanjak, kemiringan bervariasi antara 25°-40°. Selebar satu meter di tengah berupa semen, dan sisanya tanah dengan daun-daun kering. Di kedua sisi jalanan merupakan kebun. Kebanyakan cengkeh dan kakao. Lainnya, yaitu kelapa, pisang, aren, kopi, dan bambu.

Dua puluh menit berlalu, kami tiba di kebun Pak Sikin. Dengan rumput gajah, ia memberi makan dua ekor sapinya. Dengan nasi putih, ia memberi makan anjing-anjingnya. Kurang lebih 40 menit dari kebun Pak Sikin, kami tiba di Kampung Lappara. Ia memarkir motor di bawah satu pohon cengkeh. Di rumah berdinding kayu, beratap seng, dan lantai dari semen, sebelah timur Masjid Kuba, kami menunggu orang lain yang akan ikut berburu babi.

Sekisar pukul sembilan, kami berjalan kaki ke selatan. Sepuluh menit berjalan kaki, di hadapan kami terhampar hutan pinus. Di sebelah timur, beberapa pohon cengkeh belum dipetik. Kami berhenti, menunggu yang lain datang. Tiga puluh menit berikutnya, kami berbelok ke barat, masuk ke hutan. Tidak lagi mendung.

Kami berjumlah enam orang. Kami berpencar, saya mengikuti Pak Sikin. Beberapa kali berhenti, berteriak “Woo!”, untuk memberi tahu posisi masing-masing. Kata Pak Sikin, di atas (di tengah hutan, kira-kira di ketinggian 650 meter) sudah ada orang yang menuju ke sana. Di sekeliling saya, pohon pinus memenuhi wilayah hutan yang telah ditunjuk pemerintah sebagai hutan lindung. Kami menyusuri rimbun semak-semak, mencari tempat babi bersembunyi.

Empat puluh lima menit berlalu. Ramai teriakan. Pak Sikin berlari di medan curam, menanjak, kira-kira kemiringannya 70°. Saya berusaha mengikuti, namun tertinggal jauh. Dapat babi! Sepuluh meter di depan saya, tiga ekor anjing memburunya, melalui medan menurun (kemiringan sekisar 60°). Pak Sikin berlari mengikuti, memegang erat tombak yang matanya menatap ke depan. Juga dua laki-laki lain, mengikuti kejaran babi itu.

Susah payah saya mengikuti mereka, memilih tumpuan di tanah kering, dan terperosok dua kali. Sampai di tanah yang cukup datar, si babi sudah tak bergerak. Empat ekor anjing menggigitnya. Kami menyaksikan mereka berusaha merobek bagian tubuh babi. Itu babi betina. Tak banyak bagian kulit babi yang mampu dirobek anjing-anjing itu. Hanya bagian punggung. Bangkai babi digantung di satu pohon menggunakan kayu. Darahnya menetes, kami meninggalkannya, perburuan dilanjutkan. Kembali berpencar, menyusuri semak-semak.

Pukul 10:45, kami tiba di Pattontongan. Ternyata jumlah kami ada sembilan orang. Kami beristirahat di satu batu besar yang menjadi puncak Pattontongan, kira-kira 700 meter di atas permukaan laut. Banyak bekas-bekas pembakaran, sisa aktivitas pengunjung yang mendirikan kamp. Juga ada kaleng susu, bungkus rokok, dan bungkus tisu.

Setelah beristirahat, merokok, minum, dan bercerita, kami kembali ke hutan dengan jalur yang berlawanan.

Tiga puluh menit menyusuri hutan dan semak-semak, tidak ada yang didapat. Di tanah datar, di tengah hutan pinus, kami berkumpul, duduk, minum, merokok, dan mengobrol. Dari sedikit kata dalam bahasa Konjo yang bisa saya tangkap, mereka menceritakan proses ditangkapnya babi itu. Dari dalam tas, Pak Sikin mengeluarkan kretek dan sebotol berisi kopi. Ia menawarkan kopi kepada saya. Seorang laki-laki, kira-kira usianya 20-an akhir, menawarkan saya kretek mild berfilter. Dia adik Kepala Dusun Bonto.

Dua orang datang setelah mengambil babi hasil buruan tadi. Mereka terengah-engah dan berkeringat, menandakan jarak tempat babi tadi ditangkap cukup jauh dan curam.

Sekitar pukul setengah satu, kami turun, ke luar dari hutan. Di tempat landai, di sisi jalan kebun, kami beristirahat sambil mempersiapkan kayu untuk membakar babi hasil buruan. Setelah dibakar, babi dipotong-potong dan dibagikan ke setiap anjing. Beberapa kali terjadi pertengkaran antar-anjing. Anjing yang ikut seluruhnya berjumlah 14 ekor. Setelah daging babi habis terbagi, memastikan api padam, kami pulang.

Selama perburuan, kami memutari daerah Pattontongan. Kami muncul di sebelah barat persawahan setelah Masjid Kuba. Saya dan Pak Sikin  istirahat dan makan siang di rumah seorang kawan bernama Sommeng, tempat kami menunggu tadi pagi. Pukul setengah dua, kami, dan ketiga ekor anjing, kembali ke kebun Pak Sikin.

Berburu babi pernah menjadi kebiasaan warga Dusun Bonto, begitu cerita Pak Sikin saat pertemuan pertama kami dua hari sebelum perburuan. Kebiasaan itu untuk melindungi tanaman di kebun. Sejak warga tidak lagi menanam jagung, berburu babi hanya sekadar hobi, dilakukan setiap Kamis. Sekarang, babi menyerang persawahan, tutur Pak Sikin.[]

*Penulis aktif di Active Society Institute (AcSi), tinggal di Makassar. Saat ini sedang mengikuti Pelatihan Penelitian Desa bersama Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo.


Baca tulisan lainnya

Ketika Media Massa Melongok Orang Desa

Tempat Lezatnya Cokelat Bermula

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Sepuluh Tahun Kemudian

Dari Musik Bersenyawa ke Aquaponik