Oleh: Gabriella Dwiputri ( @gabby_X_gabby ) | Sumber Gambar: Blacklab Entertainment

Predestination (2014) merupakan film adaptasi dari cerita pendek berjudul “All Your Zombies” (1958) oleh Robert Heinlein. Film tentang penjelajahan waktu selalu menarik. Seperti film Looper , Interstellar, dan Source Code. Pada akhirnya, film ini membuat saya bertanya-tanya tentang keberadaan “alternatives universe”, sebuah alam semesta alternatif di mana di dalamnya terdapat diri kita—yang mengambil pilihan-pilihan hidup yang lain dari yang kita tahu saat ini. Predestination ini sebenarnya adalah film yang sederhana saja, tentang paradoks ayam dan telur yang dikemas menjadi film aksi sci-fi berdurasi sekitar 90 menit.

Sebenarnya, agak sulit menulis review-nya tanpa memberi sedikit bocoran, karena film ini, semakin sedikit kamu tahu, semakin mind-blowing-lah kamu. Singkatnya, seorang agen di sebuah biro penjelajahan waktu dikirim dengan satu misi khusus: menghentikan teroris bernama “Fizzler Bomber” yang akan menghancurkan kota New York pada tahun 1975 dan memakan korban jiwa lebih dari 10000 orang. Kesalahan saya saat menonton film ini adalah mengetahui bahwa tokoh utama John (Ethan Hawke) adalah seorang hermaphrodite (damn spoiler!).

Tapi, saya suka bagaimana film ini dimulai, walaupun dibuka dengan adegan aksi tembak-tembakan yang singkat dan alurnya agak lambat sehingga cenderung membosankan. Saya tahu, kalau tokoh utamanya adalah seorang hermaphrodite, tapi saya tidak tahu kalau ia akan dibongkar dalam adegan sederhana dan cerdas di awal film yang merupakan titik naik adrenalin film Predestination. Adegan itu adalah saat seorang pria masuk ke dalam bar dan bercerita tentang dirinya kepada bartender John (iya, si Ethan Hawke) dengan kalimat pembuka “…when I was a little girl…”

Oke, jadi kalau kamu sedang menonton film Predestination (setelah membaca review ini) lalu berada di adegan itu, maka sekarang kamu akan tahu kalau tokoh utama adalah seorang hermaphrodite, bernama John, lalu ada seorang pria yang masuk ke dalam bar dan bercerita kepada John tentang masa kecilnya sebagai seorang gadis. Bingung? Sama!

Seorang pria masuk ke dalam bar dan bercerita tentang dirinya kepada bartender John dengan kalimat pembuka “…when I was a little girl…”

Seorang pria masuk ke dalam bar dan bercerita tentang dirinya kepada bartender John dengan kalimat pembuka “…when I was a little girl…”

Salah satu kekuatan film ini adalah bahwa setiap adegan yang terjadi membuat kita penasaran akan jalan cerita selanjutnya. Di saat yang sama, kamu akan bertaruh dengan diri sendiri, mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi. Sayangnya, dengan spoiler seperti itu, maka alurnya sudah bisa ditebak. Tidak perlu saya ceritakan apa yang terjadi selanjutnya, mungkin pembaca revius tersayang akan mencoba membunuh saya. Tapi intinya adalah: beberapa hal telah ditakdirkan—atau predestined!

Seperti film pendahulunya tentang penjelajahan waktu—sebutlah film Looper, Back to The Future, The Butterfly Effect—semuanya punya satu dasar yang sama: perjalanan waktu ada karena keinginan untuk mengubah—mungkin dengan niat untuk memperbaiki—masa lalu. Karena saya menghindari memberikan bocoran film Predestination lebih jauh lagi, maka saya akan mencoba menjelaskannya dari film yang serupa.

Contohnya di film Looper, kita tahu bahwa seorang pembunuh bayaran (Bruce Willis) pergi ke masa lalu untuk membunuh seorang anak yang nantinya akan membunuh agen seperti dirinya satu-per-satu di masa depan. Hanya saja, si pembunuh bayaran tidak tahu bahwa dia akan bertemu dengan versi dirinya yang lebih muda (Joseph Gordon Levitt) yang pada saat itu ditugaskan untuk membunuh versi dirinya yang lebih tua. Si agen pembunuh bayaran dari masa depan juga tidak tahu bahwa justru karena dia berusaha membunuh anak itulah yang menjadi penyebab si anak akan tumbuh dan kemudian hari memburu para agen penjelajah waktu. Hanya saja, di film Looper, si tokoh utama yang lebih muda berhasil memutuskan lingkaran setan yang akan tercipta jika ia membiarkan dirinya dari masa depan berhasil melakukan misinya, yaitu dengan cara menembak dirinya sendiri.

Nah, film Predestination itu menegaskan bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa diubah—bahkan dengan bantuan mesin waktu sekalipun. Berbeda dengan film Looper yang memiliki akhir yang bahagia untuk semua orang (kecuali tokoh utama), tokoh utama di film Predestination gagal memutuskan lingkaran setan yang mengikat dirinya ke dalam kehidupannya yang muram, terisolir, dan sepi. Pada akhirnya, misi awal agen itu ternyata adalah misi terakhirnya—satu-satunya misi yang dia miliki sepanjang hidupnya yaitu mengejar teroris “Fizzler Bomber”—yang ternyata adalah dirinya sendiri di masa depan. (daaaamnn spoilerrrrrr!)

Seperti salah satu dialog di dalam film ini, “..snake eats his own tail forever and ever…” merupakan simbolis yang sesuai untuk menggambarkan ending film ini. Pada akhirnya, penonton akan memiliki interpretasinya masing-masing. Tapi, saya rasa kita semua akan sepakat bahwa Ethan Hawke sungguh bersinar dalam film ini; another flawless performance, so they said.

Ada yang menyukai Predestination karena dikemas dalam plot twist yang cerdas dengan berbagai kejutan di sana-sini dan cukup memutar otak. Dianggap berhasil mewakili bukunya, namun ada juga yang membencinya karena menganggap terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab, film ini sama sekali tidak masuk akal, atau alurnya mudah ditebak setelah melewati pertengahan film.

Saya rasa kita semua akan sepakat bahwa Ethan Hawke sungguh bersinar dalam film ini; another flawless performance, so they said.

Saya rasa kita semua akan sepakat bahwa Ethan Hawke sungguh bersinar dalam film ini.

Saya tidak akan menjelaskan tentang paradoks penjelajahan waktu dan apa jadinya jika dua materi yang sama dari tempat yang berbeda berada pada satu waktu. Bagaimana butterfly effect terjadi jika kita mengubah hal kecil di masa lalu, biarlah hal tersebut menjadi urusan Stephen Hawking. Film ini tidak akan mencoba menjelaskan pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana” tentang perjalanan waktu atau tentang tokoh utama sendiri. Saya adalah penikmat film dan saya menikmati film Predestination ini.

Buat saya, menonton film ini pertama kali adalah undangan untuk menontonnya kedua kali—dan semuanya lebih masuk akal sekaligus membingungkan setelahnya, sama seperti ketika akan menjawab pertanyaan ini, “yang mana lebih dulu, ayam atau telur?” []