Ilustrasi: Nara Pratama ( @nrprtm )

Jujur saja, saat pertama kali melihat nama The Clays masuk dalam kompilasi Music For The Brighter Day edisi ke-6, saya belum tertarik menelusuri lebih jauh tentang band ini. Hal ini disebabkan paradigma saya pada awalnya, sudah merasakan image band ini paling-paling sebuah band yang terpengaruh memakai the dalam namanya karena band-band classic rock Inggris yang berawalan the, seperti The Monkees, The Kinks, atau The Killers dan The Rapture (band dance-punk/indie rock asal New York) dari era musik rock modern.  Terlebih lagi setelah mendengar lagu mereka yang bertajuk We Don’t Care dalam kompilasi tersebut, saya mencoba tak peduli sejenak.

Menurut informasi tentang The Clays dari artikel Our Music For Brighter Day!,  The Clays adalah band asal Medan yang mengusung genre alternative/dance-rock ini dibentuk oleh Gavin Siregar dan Albar Murad pada akhir tahun 2010. Nama “The Clays” juga diambil dari pengartian mereka sendiri, yang artinya tanah liat, yang menurut The Clays bermakna, “kita diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah juga”. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan beberapa kali terjadi pergantian formasi, pada awal 2015, The Clays menetapkan formasi akhirnya dengan beranggotakan Albar Murad (Gitar), Gavin Siregar (Drum), Fauzi Tanjung (Bass), dan Hafaz Maksudi (Vokal).  Nama The Clays saat ini memang sudah mulai sering menghiasi berbagai panggung lokal di Medan. Melalui paduan permainan gitar ala Blur dan Kasabian, seksi rhythm yang padat dan megah serta lirik berbahasa Indonesia dan Inggris yang cerdas dan deskriptif, musik The Clays terdengar sangat menyegarkan. Ciri musikal The Clays kental dengan rock namun danceable serta memiliki lirik-lirik tentang kehidupan, percintaan, dan realita keseharian mereka sendiri. Karya-karya The Clays sendiri terinspirasi dari band-band seperti Kasabian, Blur, dan Joy Division.

The Clays dengan formasi anyar dengan beranggotakan Albar Murad (Gitar), Gavin Siregar (Drum), Fauzi Tanjung (Bass), dan Hafaz Maksudi (Vokal).

The Clays dengan formasi anyar dengan beranggotakan Albar Murad (Gitar), Gavin Siregar (Drum), Fauzi Tanjung (Bass), dan Hafaz Maksudi (Vokal). (Sumber Foto: The Clays)

Seiring berjalannya waktu, saya mendapat kabar dari sebuah akun media sosial bahwa The Clays baru-baru saja melepas single terbarunya berjudul Hipotesa Asmara pada 15 Mei 2016. Lagu ini dilepas dalam format digital yang bisa didengarkan pada akun SoundCloud mereka. Walau sudah cukup lama mengetahui tentang kabar tersebut, saya baru sempat mendengarkan lagu ini kemarin sembari berekspetasi ada peningkatan yang dialami The Clays dalam Hipotesa Asmara.

Hal pertama yang menggelitik saya untuk berkomentar tentang Hipotesa Asmara adalah judulnya. Hipotesa atau Hipotesis? Menurut ahli bahasa J.S. Badudu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II menyebutkan, kata hipotesis yang benar pemakaiannya, bukan hipotesa. Hal ini dapat dilihat dari sejarah awal pemunculan kedua kata itu. Menurut Badudu yang juga merupakan kakek dari gitaris Banda Neira, hipotesa dipungut dari bahasa Belanda, yaitu hypotese. Karena dalam bahasa Indonesia asli (bahas Melayu) tidak terdapat kata yang berakhir dengan bunyi /e/, bunyi tersebut diganti dengan bunyi /a/ sehingga terbentuklah kata hipotesa.

Hipotesa lebih dulu dipakai daripada hipotesis karena dulu penyerapan kata pungutan dari bahasa asing berpedoman pada bahasa Belanda. Akan tetapi, penyerapan kata dari bahasa Belanda lambat laun ditinggalkan, lalu beralih ke bahasa Inggris. Kata hipotesa seperti yang dimaksudkan dalam bahasa Belanda itu, ditulis dengan hypothesis dalam bahasa Inggris. Setelah diserap dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan ejaannya, kata bahasa Inggris itu menjadi hipotesis. Tentang hipotesa atau hipotesis selengkapnya, silakan cek dalam blog milik Safriandi A. Rosminuddin di sini.

Mempersoalkan penjudulan Hipotesa Asmara dari sudut pandang linguistik, seperti melihat nasi sudah menjadi bubur.  Toh, terlanjur menjadi sebuah judul lagu milik kuartet dance-rock asal Medan ini. Jikalau memang menginginkan judulnya harus berima atau pengulangan bunyi, saya merasa itu hak dari The Clays. Hanya saja, saya berharap mereka tidak mengulangi hal yang sama untuk penjudulan lagu berikutnya. Sebaiknya diteliti terlebih dahulu dari pemilihan katanya. Karena menurut saya, judul lagu itu ibarat kepala dari bagian tubuh manusia.

Hal kedua yang menarik dibahas dari Hipotesa Asmara tentu saja liriknya. Hipotesa Asmara menurut The Clays bercerita tentang sebuah penantian lelaki yang ingin bertemu seorang wanita yang berparas jelita namun terkendala karena ketidakpekaan wanita terhadap lelaki tersebut. Untuk membuktikan bahwa Hipotesa Asmara bercerita tentang hal tersebut, saya mendengarkan lagunya berulang-ulang hanya untuk mendengarkan liriknya. Sekadar saran, sebaiknya The Clays mencantumkan lirik di bagian info lagu dalam akun SoundCloud-nya, agar para pendengar juga tidak perlu bersusah payah mencari liriknya.

Dari lirik yang saya dengar dalam lantunan vokal Hafaz Maksudi seperti hati mereka, menatap parasmu/ aku kan berjumpa dengannya jelita/ setangkai bunga pun ikut menyapanya atau tubuhku bergetar/ seakan virus menyebar, bisa membawa pendengarnya menafsir apa saja tentang asmara yang dimaksud The Clays. Dan, jika saya boleh menafsir, Hipotesa Asmara adalah sebuah kisah romantis yang satire. Sebuah sindiran untuk wanita yang tanpa sadar menjadi pelaku friendzone terhadap pria yang rela berkorban apa saja untuk meminang hatinya sebagai kekasih.

Selanjutnya, hal berikutnya yang saya simak dari Hipotesa Asmara adalah nuansa musik yang diaransemen The Clays terasa berbeda dengan lagu We Don’t Care yang menjadi andalan mereka tahun lalu. Sebuah alunan harmonisasi musik alternative 90-an, yang mudah diingat bersama suara lirih sang vokalis serta petikan gitar yang dipastikan mampu membuat kita terpana dan kelam. Dari lagu ini pula, saya seolah menyimak permainan gitar Yanni Phillipakis dan Jimmy Smith dari Foals (kuintet indie rock asal Inggris) yang berkolaborasi dengan Editors(unit post-punk dari Inggris) dalam satu panggung. Joy Division maupun Kasabian yang menjadi pengaruh mereka dalam bermusik, hanya sedikit mengambil porsinya di lagu ini, setidak dalam pergerakan bass line-nya. Terkait hal ini juga diungkapkan The Clays dari siaran persnya, kalau lagu yang ditulis oleh Teuku Liezam (ex-bassist The Clays) dengan Albar Murad memang difokuskan dalam menulis riff gitarnya.

Pengaruh aransemen yang berbeda ini terjadi karena proses rekaman lagu Hipotesa Asmara diakui The Clays sudah berlangsung sejak akhir 2012 dan dipercayakan kepada sound engineer muda bernama Muhammad Yusuf Lubis (Crazy Black Rabbit Record). Namun, pengerjaan  Hipotesa Asmara ini sempat tertunda karena adanya perubahan struktur dan komposisi pada lagu tersebut sehingga perlu melakukan take ulang di Rezsa Home Recording pada April 2016.

Hal menarik berikutnya yaitu pengerjaan artwork untuk Hipotesa Asmara ini berkolaborasi dengan Nara Pratama, seorang fotografer handal dari Bandung. Nara menginterpretasikan lagunya dengan foto bunga matahari yang seolah diselimuti asap hitam dan kelam. Kelak artwork dari Nara ini akan dimuat dalam EP The Clays yang akan mengudara di pertengahan 2016.

Untuk menelaah lebih jauh tentang Hipotesa Asmara, silakan mendengar lagunya berikut ini.

Untuk info lebih lanjut, silakan menghubungi The Clays di sini:

Soundcloud: www.soundcloud.com/thisisclays
Wordpress: www.thisisclays.wordpress.com
Email: thisisclays@gmail.com
Twitter: @thisisclays
Instagram: thisisclays
Phone: 081360784785 (Bayu)


Baca tulisan lainnya

Mengenang Mixtape bersama Good Morning Breakfast

Persatuan dalam Keragaman No Man’s Land

Death Metal dengan Sentuhan Futuristik dari Nocturnal Victims

Meluluhkan Seluruh Daya dalam lagu terbaru dari Suhu Beku

Sebuah Observasi dan Motivasi dalam video Non Observance milik Theogony

Filastine dan Sebuah Proyek Pembebasan

Perjalanan Rasa dan Pikiran Christabel Annora