Sumber Foto: From Hell to Heaven ( @fromhelltoheavn )

“No pic = hoax gan.” Sebuah komentar yang populer dari sebuah situs forum diskusi yang saya sering kunjungi. Dari komentar tersebut, saya menjadi paham bila kata hoax digunakan untuk berita palsu, rumor, dan kebohongan yang menipu. Dan, beberapa waktu lalu, kata hoax muncul lagi di lini masa saya. Secara kebetulan, saya melihat tautan artikel dari Indie Palu tentang From Hell to Heaven (FHTH), band deathcore asal Gorontalo yang telah merilis video musik untuk lagunya yang berjudul Hoax. Kuintet yang terdiri dari Adezta (vokal), Berli (gitar), Eman (gitar), Wahyu (sampling), dan Awank (drum) merilis video musik tersebut pada 18 Juni 2016 melalui kanal YouTube mereka. Melihat judul lagunya tersebut, saya menjadi penasaran karena belum menemukan sejauh ini grup musik lainnya yang menamakan dan mengisahkan lagunya tentang hoax. Dan, bagaimana cara FHTH membingkai kata hoax menjadi sebuah lagu versi mereka?

“Di lagu ini, kami sebenarnya menyuarakan tentang banyaknya hoax dan omongan-omongan yang tak masuk akal tapi tetap saja diperbincangkan oleh banyak orang,” ujar mereka saat saya menanyakan hal tersebut melalui e-mail. Istilah hoax menurut FHTH adalah upaya busuk menghancurkan fakta dari hal yang dibicarakan. Dalam video musik ini pula, FHTH juga sengaja menggunakan kaos berwarna putih sebagai simbol  penolakan untuk kabar hoax. “Jadi warna putih itu melambangkan hal yang suci, putih, dan bersih untuk melawan hal-hal omong kosong tersebut,” menurut mereka lagi. Untuk video musik perdana ini, From Hell To Heaven justru tidak mengangkat tema tentang hoax di videonya. “Hal ini disebabkan karena kami ingin mengenalkan wajah-wajah personel From Hell To Heaven lebih akrab kepada para penikmat musik”.

Pembuatan video musik Hoax sendiri cukup singkat, hanya tujuh jam saja.  Video musik yang dibuat oleh Dream Pictures Gorontalo ini mulai mengambil gambar dari jam 6 pagi dan selesai jam 1 siang. Untuk lokasi pengambilan gambar, mereka memilih wilayah dengan tanah gersang di kecamatan Telaga, Gorontalo.  Tempat itu sudah lama menjadi incaran FHTH untuk video ini. “Karena tanahnya gersang, jadi kita memutuskan untuk menggunakan smoke bomb supaya ada efek-efek gunung berapi aktifnya, hehehe.”

Kendala juga dialami selama proses pengambilan gambar karena medan menuju lokasi sangat becek karena malam sebelum syuting sempat hujan deras. “Jadi, sepanjang hampir beberapa puluh meter kita harus jalan kaki karena kendaraan gak bisa masuk,” ungkap mereka. Dengan kru yang terbatas, para personel FHTH mesti turun tangan untuk membawa peralatan lainnya, ditambah lagi harus naik tanjakan lagi yang lumayan terjal ke lokasi. “Dan, itu harus kita tempuh dengan beberapa kali bolak balik jalan kaki mengambil peralatan di mobil.” Walhasil, semuanya sudah berkeringat bahkan sebelum syuting. Meski begitu, FHTH sangat puas dengan hasil video musiknya. “Karena selain pembuatan videoklipnya yang singkat, proses pengeditannya pun singkat,” ungkap mereka. Enam jam setelah pembuatan videonya, teaser untuk video musik Hoax sudah jadi dan siap dipublikasikan.

Adezta (vokal), Berli (gitar), Eman (gitar), Wahyu (sampling), dan Awank (drum) saat tampil di video musik Hoax.

Penampilan Adezta (vokal), Berli (gitar), Eman (gitar), Wahyu (sampling), dan Awank (drum) di video musik Hoax.

Saat saya menanyakan tentang perihal Hoax memiliki benang merah dengan single berjudul Forklyn yang mereka rilis tahun lalu, FHTH mengatakan bahwa Forklyn sebenarnya yang ingin dijadikan video musik pertama. Tapi, setelah beberapa pertimbangan, Forklyn konsepnya bakalan agak ribet, sedangkan mereka menginginkan konsep yang lebih sederhana, salah satunya yaitu mengenalkan para personel lebih akrab. FYI, Forklyn bisa didengarkan dalam video liriknya di sini yang baru saja dirilis pada 27 Juli 2016.

Forklyn juga merupakan judul album ke dua yang sedang digarap oleh FHTH. Forklyn ternyata adalah nama sebuah kota di dalam cerita karya sang vokalis From Hell To Heaven, Adezta. Di album ke dua ini, FHTH memutuskan untuk merilis lagunya satu per satu. Dan pada lagu terakhir, mereka akan merilis album utuhnya. Hal ini dilakukan dengan harapan agar orang-orang bisa fokus mendengar lagu kami saat rilis. FHTH juga sebagai penikmat musik memiliki pengalaman pribadi ketika mendengarkan album dari sebuah band, kami cenderung tidak fokus mendengar lagunya. Karena di dalam album ke dua tersebut kan ada 12 lagu, apalagi dengan aliran yang keras.  “Jadi, seringkali kita melewatkan beberapa lagu yang sebenarnya tidak kalah keren dari lagu hitsnya”.

From Hell To Heaven telah memainkan musik deathcore yang mereka usung sejak 2008. Mereka membagi kiatnya untuk tetap berkarya sampai sekarang: membuat to do list agar ada target atau goals untuk diselesaikan. “Karena dengan adanya tujuan-tujuan yang harus dipenuhi, maka band kita akan terus jalan.” Sesuai dengan namanya, para personelnya FHTH memaknai perjalanan bermusik mereka penuh kegilaan sebagai anak band yang punya kisah hidup kelam. Namun, jika punya tujuan atau cita-cita yang pasti, suatu saat nanti akan melangkah ke jalan yang benar.

Selama bergelut tampil di scene musik Gorontalo, FHTH bersama band-band di sana juga memiliki masalah prasarana yang sama dengan kota-kota di Sulawesi lainnya, seperti Makassar dan Kendari. “Gak ada gedung khusus untuk acara musik. Semoga ke depannya, pemerintah bisa membangun satu gedung khusus untuk acara musik para pemuda Gorontalo,” ujar mereka. FHTH pun mengungkapkan keinginan untuk tur bersama band lain sudah sejak lama niatnya, tapi untuk hal itu masih banyak yg harus dibicarakan. Untuk rencana ke depan, FHTH sedang berusaha untuk bisa bermain dalam music festival di luar pulau Sulawesi, seperti Rock in Borneo. “Karena itu adalah cita-cita kami selanjutnya,” tutup mereka mengakhiri obrolan.

Setelah menyimak Hoax dari From Hell To Heaven, saya justru teringat dengan masalah yang diutarakan Barzak dalam artikel startup-nya: masalah dengan media yang selama ini dikonsumsi: bad news is good news; celebrity news is good news, yang bila dikonsumsi rutin selama bertahun-tahun serta (mungkin) akan melahirkan sebuah generasi sinis atau apatis. Bagaimana jadinya jika suatu saat generasi tersebut semakin bertambah dan lebih parahnya, memercayai hoax news is good news? Hal itu sepertinya bisa terjadi bila kita enggan memiliki cita-cita dalam meredam hoax dengan salah satu perlawanan yang sederhana dan bermakna: melalui sebuah lagu.

Simak Hoax dari From Hell To Heaven beserta lirik lagunya di bagian bawah video musik ini.

Hoax (lyric)

Here comes the motherfucker!

When you tell everybody’s lie

When you tell nothing’s gonna right

Step up and step back

Shake ur booty cuz, this is the end!

 

Yeah, Your words won’t last forever

Because it’s nothing but a Hoax

Your words won’t last forever

It’s nothing but a Hoax

Your words wont last forever

Never coming, Never coming, Never coming back!

 

Never coming back and tell me all the lies

Your shit ain’t nothing but a hoax

Shut, shut, shut, shut the fucked up!

Nothing to say, Nothing to say to you

Nothing to say, nothing to say to you

Never coming back

Never coming, Never coming, Never coming back

Shut!!!! Shut the fucked up


Baca tulisan lainnya

Penghormatan untuk Lemmy dari Trendy Reject

Perkara Judul dan Kisah Romantis yang Satire dalam lagu Hipotesa Asmara milik The Clays

Mengenang Mixtape bersama Good Morning Breakfast

Persatuan dalam Keragaman No Man’s Land

Death Metal dengan Sentuhan Futuristik dari Nocturnal Victims

Meluluhkan Seluruh Daya dalam lagu terbaru dari Suhu Beku

Sebuah Observasi dan Motivasi dalam video Non Observance milik Theogony

Filastine dan Sebuah Proyek Pembebasan

Perjalanan Rasa dan Pikiran Christabel Annora