Teks: Brandon Hilton | Foto: Ifan Aditya

“…Bahwa ada yang lebih parah dari kelaparan dan kehausan, lebih menyedihkan dari tidak punya pekerjaan, tidak bahagia dalam cinta, atau merasa kalah dan putus asa; jauh lebih memiriskan hati daripada semuanya itu kalau kita merasa tidak seorang pun, benar-benar tak seorang pun yang peduli pada kita. Dan juga menyadarkan diri kita arti pentingnya keluarga dan teman.”

Satu bagian dari cerita Paulo Coelho, Orang yang Meninggal Dalam Piyamanya, yang selalu membuat saya menyadari betapa penting arti kebersamaan dan pertemanan. Kesadaran yang kembali timbul jika melihat perjalanan satu band bernama Firstmoon.

Firstmoon adalah salah satu dari begitu banyak band yang dibangun dengan asas pertemanan. Bermula dari Ceria, lorong kecil nan sederhana, tempat berbagi cerita, dan segala substansi dalam pergaulan penuh tawa. Terbentuk dari 2006, terhitung sudah sebelas tahun mereka bersama. Bagi saya, Firstmoon adalah lima orang teman yang baru saya kenal setahun belakangan setelah mereka meluncurkan Tanda Tanya dan Malu.

Menggarap EP ditahun 2009 yang berisikan 5 lagu, termasuk lagu Malu, di salah satu studio rekaman di Makassar, Firstmoon paham kesulitan menjadi band yang merintis semuanya secara mandiri.

Pada saat penggarapan EP tersebut, file master lagu mereka hilang. Beruntung, sebelumnya sempat meminta lagu yang belum di mixing-mastering. Mau tidak mau, lagu-lagu tersebut membelah diri via Bluetooth dari satu ponsel ke ponsel lain hingga lagu Malu menjadi salah satu inspirasi sekaligus soundtrack film pendek, karya sutradara Rusmin Nuryadin, Rindu Randa di tahun 2013.

“Setelah Yudha keluar, kita coba bangkit dengan menggarap EP tahun 2009. Beberapa lagu yang sudah direkam, kami minta format raw nya. Tidak tau juga kenapa file masternya hilang. Itumi yang bikin down juga anak-anak karena tau filenya hilang. Mau tidak mau itu mi (5 lagu) yang tersebar. Bahkan itu lagu Malu dengan format Raw jadi soundtrack film Rindu Randa. Kak Adin bilang ke Ammang karena ini lagu, dia bikin itu film,” kata Fadly, sang vokalis.

Setelah sebelas tahun dan dua single, akhirnya band persilangan antara Pop dan Folk ini menyebarkan kabar bahagia tentang Hari Bersama. Sebuah perayaan dan penghargaan atas kebersamaan mereka selama ini.

Titik Bias, membuka Hari Bersama. Manis bersama violinist, Agustiawan

Minggu, 28 Januari, 2018 adalah hari yang bersejarah sekaligus ditunggu-tunggu oleh para penikmat Firstmoon.

Saya datang selepas Maghrib berkumandang. Tanpa berlama-lama, saya menukarkan tiket paket 2 yang saya beli dengan album Hari Bersama dan es teh. Beberapa artwork yang dikerjakan Fandy bin Mahmud untuk album ini juga dipajang di depan Prolog Art Building. Tersedia 3 pilihan paket tiket masuk. Paket 1 berisi hanya tiket dan es teh, paket 2 berisi tiket, dan album Hari Bersama, paket 3 berisi tiket, album Hari Bersama, dan t-shirt tie-dye dari Trippy Culture dan Patch Denim.

Kesan sederhana, nyaman, sekaligus megah dengan begitu gampangnya membuat pengunjung betah untuk berlama-lama memandangi panggung karya Iqbal dari Dapur Tigablast. Sosok selama ini juga turut mengurusi panggung di Musik Hutan.

”Disuruh ji kita kasi tau ki apa temanya kita. Terus disuruh ngumpul bawa mobil pickup sama kumpul kayu dengan balok (bekas). Dia suruh juga ambil barang-barang apa yang bisa dimanfaatkan di rumah,” ungkap Fadly mengenai sentuhan Iqbal, dkk. Untuk panggung Hari Bersama.

Sebagai band pembuka, Titik Bias yang dihuni oleh Nisa (vokal), Amin (gitar/vokal), dan Rijal (xylophone) turut tampil bersama Agustiawan (violinist). Dari gosip-gosip skena yang beredar, trio tersebut juga akan melepas album perdana di tahun 2018.

Dari panggung, sejenak perhatian penonton dialihkan ke layar putih untuk menyaksikan video dokumenter pendek di balik pembuatan album dan persiapan konser Hari Bersama. Benar-benar teralihkan sampai tidak sadar kalau yang punya acara malam itu, sudah siap di atas panggung.

Menyapa dengan intro Kita Mulai Lagi, lagu Tampil Feminin kemudian membuat beberapa penonton dengan sigap membuka booklet album untuk ikut bernyanyi bersama. Kemudian ada Sahabat Harmoni, Layaknya Kemarin, dan lagu untuk yang suka nongkrong dari pagi ketemu pagi, Dunia Pagi.

Dan rupanya, Firstmoon telah menyiapkan sebuah kejutan dengan turut mengundang Yudha, sang mantan personil yang pernah memperkuat band ini di tahun 2008 yang lalu untuk sama-sama membawakan lagu Tenggelam. Sampai kepada Malu dan Tanda Tanya di mana sebagian besar yang datang sudah hafal lagu ini dan tidak sungkan untuk ikut bernyanyi.

Ratup Igal menjadi lagu selanjutnya yang dibawa dengan penuh suasana ceria. Di sela-sela penampilan Firstmoon, Fadly tidak lupa mengajak personil lainnya untuk menyapa penonton, berterima kasih kepada seluruh tim yang terlibat dalam konser ini, dan memanjatkan syukur sebelum menyanyikan lagu penutup sekaligus anthem, Hari Bersama.

Akhirnya, setelah dua dekade. Firstmoon mantap bercahaya!

“Saya tahu Firstmoon pertama dari teman, kebetulan kenal juga dengan vokalisnya, jadi saya mulai dengar lagunya. Ini juga pertama kali saya menonton live-nya,” ungkap Maradu Ariguna, gitaris dari ! unit Hardcore, Heads Up! Dia pun menambahkan, “Kalau konsep (konsernya) sama Firstmoonnya itu sangat-sangat pas ki. Kenapa, karena diadakan di tempat terbuka dan seperti lebih dekat dengan alam. Saya suka.”

Seorang personel band Hardcore lain tampak dalam radar saya. kali ini penghuni divisi bass di Frontxside, band yang juga akan memuntahkan album baru di tahun 2018, om Yuri. Ia yang juga baru mengetahui Firstmoon di tahun 2017 dari media sosial, “Dari segi visualisasi, audionya, semuanya keren! Pengunjungnya keren, yang main keren-keren, place-nya keren, Firstmoon dengan konsep begini launching-nya yang juga dibantu sama Prolog, kerenki hasilnya,” ujar pria yang berperawakan arab tersebut.

Bassist Frontxside tersebut menaruh harapan yang sama dengan saya. “Harapannya (untuk Firstmoon), ya intinya jangan bubar! Terus berkarya untuk menjaga eksistensi toh”

Selepas berbincang singkat dengan om Yuri, saya kemudian bertemu dengan Ari dan Raka yang ternyata tinggal di sebelah lorong ceria, markas Firstmoon, dan cukup akrab dengan gitaris Firstmoon, Armando, dan sudah mengetahui band ini dari tahun 2015.

“Tahu Firstmoon dari 2015, kebetulan di samping lorong, kak Ammang juga sering ke Beranda buat sharing-sharing. Kalau soal konsepnya (konser Hari Bersama) keren ki iyya. Pas ki semua. Harapan untuk Firstmoon, pokoknya berkarya mi saja dan semoga makin sukses.” Amin!

Myxomata menutup konser Hari Bersama dengan DJ set-nya. Tidak lupa juga mengucapkan selamat atas rilisnya album Firstmoon.

Sebelum benar-benar menghabiskan hari bersama, segera saya menemui Firstmoon untuk berbincang sebelum mereka sibuk meladeni permintaan foto bersama.

“Kalau mau lagu-lagu untuk cari suasana, album ini cocok,” Ungkap Fadly. “Di album ini ada semuami. Suasanamu bangun pagi, suasanamu sumpek siang-siang di kantor, suasanamu sore capek pulang kantor, ada semua di album ini,” tambah Chapunk mantap.

Untuk memilih pesta peluncuran album yang sederhana, sang vokalis, Fadly, punya jawaban yang patut untuk dijadikan pertimbangan bagi band-band lain yang juga ingin mengadakan perayaan atas peluncuran album.

“Buat apa bikin yang mewah-mewah kalau bisa ji bikin yang sederhana. Banyak yang bikin (pesta peluncuran album) yang mewah tapi hasilnya nda bagus. Lebih bagus yang sederhana saja. Biar dibilang nda bagus, tidak apa-apa. Kan sederhana”.

Dari komentar tersebut, kesederhanaan seperti nama lain yang tepat untuk menyebut Firstmoon. Sebelas tahun berjalan di satu skena yang belum mapan, dengan segala pendar-terang, membuat mereka betul-betul paham arti pertemanan. Lewat Hari Bersama, entah sebagai konser ataupun album, firstmoon mencoba menularkan hal tersebut. Seperti kata Coelho di pembuka tulisan ini, tidak punya pekerjaan, tidak bahagia dalam cinta, atau merasa kalah dalam putus asa, tidak ada apa-apanya dalam sebuah pertemanan. Pertemanan yang sederhana.

Bersinar terus, Firstmoon!