Oleh: Dhy Saussure ( @dhysaussure ) | Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Perubahan iklim telah menjadi fenomena global yang telah banyak mencuri perhatian belakangan ini. Beragam studi telah dilakukan untuk menunjukkan data, apa yang menjadi penyebabnya dan dampak yang akan ditimbulkannya.  Isu ini kemudian menjadi serius tatkala bencana semakin banyak melanda sejumlah tempat di penjuru dunia.

Di televisi tersiar kabar soal panen yang gagal, suhu air laut meningkat, hingga mudahnya orang-orang terserang penyakit. Satu hal yang patut untuk kita simak adalah bagaimana para jomblo bertahan dalam mengatasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim selain bertahan dari ketidakmampuan untuk move on.

Perubahan iklim memiliki dampak multi sektor, mulai dari sumber daya alam, pemanasan global, social, politik, hingga pemanasan global. Bahkan kesehatan disebut-sebut sebagai dampak langsung dari perubahan iklim dan cuaca.

Pelan-pelan kesehatan masyarakat mulai terganggu. Penyakit muncul lebih sering dan tidak terduga. Jika dulu saat memasuki musim penghujan, kita akan dengan mudah melihat di TV beragam iklan layanan masyarakat untuk mengantisipasi demam berdarah. Di rumah, kebersihan menjadi aturan ketat saat hujan mulai rajin berkunjung.

Namun karena cuaca yang sulit diprediksi, maka langkah-langkah antisipasi seperti yang biasanya dilakukan menjadi kebobolan. Terik dan hujan saling berbagi, berakibat pada rentannya daya tahan tubuh. Panas yang berkepanjangan menguapkan cairan tubuh, dehidrasi. Gerimis yang datang tiba-tiba (seperti tukang parkir di ATM) membuat kepala menjadi migrain. Sepertinya cuaca mulai menarik garis dan memilih menjadi musuh. Perubahan iklim semakin sulit ditebak maunya. Demam berdarah, malaria, dan penyakit lainnya siap mengintai.

Suhu yang panas membuat kuman dan virus dapat berkembang biak dengan lebih baik. Selain itu nyamuk penyebab demam berdarah juga bisa melakukan mobilisasi dengan baik sebab cuaca menjadi berimbang suhunya di semua tempat.

Pemanasan bumi dan gelombang panas yang semakin sering terjadi juga menyebabkan penyakit infeksi semakin mudah meluas ke utara. “Salah satu penyakit infeksi yang paling berbahaya di seluruh dunia adalah malaria. Akibat penyakit ini, tiap tahunnya sekitar 600.000 orang meninggal. Demikian halnya dengan penyakit diare. Akibat diare saja, sekitar 600.000 anak meninggal dunia”, kata Campbell-Lendrum. “Suhu tinggi menyebabkan semakin mudahnya penyakit infeksi menyebar.” Dulu, penyakit-penyakit ini sebagian ditemukan di negara-negara tropis, sekarang jenis penyakit ini juga bisa ditemukan di Eropa. (Sumber:dw.com)

Mereka yang telah berkeluarga tentu akan saling menjaga dan mengingatkan. Pembagian peran membersihkan telah diatur oleh budaya bagi mereka yang telah menikah. Menguras bak penampungan air, mengubur kaleng, dan botol bekas, dan menutup benda-benda yang memiliki potensi menampung air. Setidaknya mereka yang berkeluarga telah memiliki contoh dan suri teladan sebagaimana dalam iklan layanan masyarakat untuk keluarga sakinah mawwadah warahmah.

Bagi mereka yang sedang menikmati masa-masa pacaran, cenderung tidak memiliki kekhawatiran yang berlebihan. Mereka yang memiliki pacar justru semakin harmonis menghadapi perubahan iklim, misalnya mereka akan lebih sering memilih untuk berkencan di ruang terbuka hijau (jika ada) atau kencan di tempat adem biar lengan lebih berfungsi untuk saling merangkul. Hmm!

Bahkan hujan tak masalah bagi mereka yang sedang berpacaran, hujan seperti sebuah imbuhan untuk membuat pacaran lebih romantis, saat hujan intensitas pelukan semakin meninggi, setiap percakapan semakin hangat, sentuhan dan belaian tidak memberikan ruang pada cuaca untuk merenggut keromantisan mereka. Kalau pun salah satu dari mereka ada yang sakit, bukannya mereka jauh lebih romantis? Suap-suapan paling memungkinkan terjadi, rengekan meminta perhatian, hingga manja-manja kucing. Pokoknya cuaca apapun tidak memberikan dampak signifikan pada mereka yang memiliki pasangan. Isu keluarga berencana dan penyakit menular mungkin lebih tepat untuk ini.

Jadi berhentilah berdoa meminta hujan saat malam minggu!

Bagi mereka yang jomblo berikut adalah beberapa temuan strategi adaptasi jomblo dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca:

1. Jomblo menjadi semakin rajin mandi.

Hal ini terjadi karena suhu udara sangat panas. Keringat akan mengucur dari hampir seluruh titik di tubuh. Mandi menjadi langkah taktis untuk menghadapi persoalan ini, bahkan tak jarang hingga tiga kali sehari seperti minum obat. Sehingga, selain mengurangi terpapar dehidrasi juga menjaga penampilan tetap fresh dan bisa menjadi salah satu senjata untuk menggaet odo-odo baru.

2. Jomblo menjadi semakin menjaga kebersihan.

Kebersihan adalah sebagaian dari pada iman, begitu menurut salah satu hadis. Namun bersih dalam hal ini untuk menghindari penyakit seperti diare atau demam berdarah. Maka sebagaian besar jomblo menjadi rajin membersihkan setidaknya kamar dan lingkungan sekitar. Ini juga akan menjadi point bagus untuk jomblo, sebab kebanyakan wanita menyukai pria yang rajin dan pembersih (untuk jadi pembantu rumah tangga).

3. Jomblo tidak boleh sakit.

Semua orang tentu tidak ingin sakit, namun jomblo wajib hukumnya untuk tidak sakit. Hal ini lebih kepada kemaslahatan umat, jika jomblo sakit, mereka tidak punya pasangan yang akan mengurusi kemanjaannya, harus disediakan makan, dibelikan obat, hingga perhatian yang lebih. Praktis, jika jomblo sakit hanya akan membuat teman dan orang di sekitarnya menjadi susah, sebab jomblo sakit sama dengan merepotkan.


Baca artikel lainnya terkait dengan katakerja

Darah di Atas Salju

Khotbah yang Tak Terbungkam

Menyimak Puisi dan Musik Bekerja

Kota, Musik, dan Cita-Cita(ta)

Diet, Sehat yang Jahat