Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus ) | Foto: Ken Girsang/JPNN

Setiap perjalanan selalu punya cerita. Begitu pun yang saya alami sehabis melakukan perjalanan ke Maluku Utara. Awal Ramadan ini, saya dan kerabat berangkat ke sana. Menjalankan ibadah puasa, tidak menghalangi saya untuk mencicipi kuliner khas. Mulai dari seafood, kue, sampai es. Semuanya silih berganti menghibur lidah saya baik saat berbuka puasa ataupun sahur. Belum lagi panorama yang luar biasa indah, terutama Ternate. Bayangkan saja, di bagian manapun di kota ini, kita bisa melihat Gunung Gamalama berdiri gagah. Selain itu, pemandangan pantai, gugusan pulau, dan gunung lainnya yang mengelilingi membuat tempat ini unik. Saya jadi sempat berpikir, mungkin saja di Ternate ini masyarakatnya tidak ada yang akan mengeluh “Huft, kurang piknik butuh pemandangan” seperti yang banyak terjadi termasuk di Makasar berdasarkan pantauan timeline di media sosial saya.

Walaupun berbeda dalam hal volume kendaraan di jalanan, suasana dalam kota terasa familiar dengan kota Makassar. Di bulan Ramadan, jalanan ramai dengan penjual sajian berbuka, pasar ramai dengan ikan beserta sayur segar, dan sebagainya. Rasa familiar itulah yang menyadarkan saya dari buaian kota Ternate dan saya jadi rindu Makassar. Akhirnya, saya pulang di hari ketiga puasa Ramadan. Di atas pesawat, saya mulai memikirkan semua yang akan saya temui lagi di Makassar: kemacetan, keriuhan petasan, penjual makanan yang ramai, pengendara ugal-ugalan, dan sebagainya.

Saat saya sampai di bandara Sultan Hasanuddin, saya sudah mempersiapkan bahwa akan terkena macet yang menyebalkan yang sering terjadi di bandara. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya malah terkejut. Makassar terasa sangat berbeda. Di luar waktu berbukanya yang lebih cepat, suasana kota ini betul-betul bukan seperti biasanya. Jalan yang dilewati cukup lancar, semuanya terasa lebih teratur. Walau ramai, namun setidaknya saya tidak harus menghela nafas panjang seperti saat melewatinya di hari biasa. Ramadan memang terkenal memberikan suasana berbeda, namun sensasi ini sangat luar biasa.

Saya melamun dalam pikiran saya. Membuat “teori suka-suka saya” bahwa mungkin saja pada Ramadan kali ini, Sang Maha Kuasa sudah bosan dan memilih mengatur sendiri jalannya kehidupan. Semuanya sedikit demi sedikit dibuat teratur. Tidak hanya di Makassar atau kota-kota lain di Indonesia, namun seluruh semesta ini. Setelah itu, kiamat. yey! Saya selalu ingin mati sebelum kiamat tapi kalau sudah takdir, ya tak apalah.

Dua hari kepulangan dari Maluku, saya masih asyik dan sempat yakin dengan teori suka-suka saya itu. Hingga pada hari itu semua berubah. Seperti pukulan Superman pada Batman, saya terpental keluar dari lamunan saya kembali ke kenyataan. Semua dimulai saat saya memutuskan untuk kembali mengaktifkan penuh gadget saya yang sebelumnya pasif karena kesulitan mendapatkan sinyal di Maluku. Timeline di media sosial menyajikan hal-hal yang update. Ya, selamat datang di kenyataan.

Ibu Saeni menjadi korban Peraturan Daerah (Perda) Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat, diatur imbauan kepada para pemilik restoran, kafe, rumah makan, warung nasi, atau warung makanan dan minuman di Kota Serang, untuk tak buka selama siang hari di bulan Ramadan. Saat membaca Perda ini saya terpaku pada kata “Penyakit Masyarakat”. Apa yang dimaksud penyakit masyarakat menurut Perda ini? Apakah berjualan makanan adalah penyakit masyarakat?

Mungkin pertanyaan saya ini tidak akan terjawab sampai kapanpun, namun dari sini saya menemukan beberapa hal lucu di kasus ini. Pertama, ada seorang ibu penjual makanan di bulan Ramadan yang menurut Perda dianggap penyakit masyarakat. Penjual tersebut dirazia oleh satuan petugas yang asal ada perintah langsung merasa superior dan merasa lumrah melakukan tindakan sekonyong-konyong menyita dagangan. Bahkan, dalam beberapa kasus melibatkan kekerasan. Lucunya, mereka terlihat lebih penyakitan daripada ibu penjual makanan. Kedua, pernyataan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang, Amas Tadjuddin di salah satu media online yang mendukung tindakan razia oleh Satpol PP Kota Serang terhadap warung nasi yang buka di siang hari pada Ramadan. Soal cara Satpol PP menyita makanan dagangan, Amas menilai hal tersebut mungkin saja bermaksud sebagai barang bukti. Saya mengutip dari salah satu media,  “Apakah itu melanggar HAM (hak asasi manusia) atau tidak manusiawi itu kembali pada perspektif masing-masing, tapi dengan dasar menghormati orang Islam yang sedang berpuasa?”

Kepada Pak Amas, pernahkah Bapak mendengar atau membaca terjemahan ayat ini? Mungkin sudah pasti pernah. Apalagi, Bapak termasuk pengurus MUI.

“Hai orang beriman, diwajibkan bagi kalian berpuasa (Ramadan) sebagaimana umat sebelum kalian melaksanakannya. Hal ini dilakukan demi meningkatkan ketakwaan kalian” (QS Al-Baqarah: 183).

Mohon pencerahannya jika saya salah. Lagipula, apalah saya yang ibadahnya belum sempurna ini dibandingkan Bapak. Pak, maaf sekali lagi dari diri saya yang rendah ini, menurut saya dalam ayat tersebut terpampang jelas bahwa yang diutamakan dalam bulan puasa adalah meningkatkan ketakwaan bukan sikap gila hormat. “Saya Islam. Ini bulan suci kami. Hormati kami. kalian puasa juga.” Lalu, saat perayaan natal, kalian protes pegawai pusat perbelanjaan pakai topi Santa Claus. Saat nyepi, kalian mempertanyakan mengapa bandara di Bali tidak beroperasi?

Saya pernah membaca bahwa menghormati Ramadan cukup dengan cara memperbanyak ibadah individual, seperti shalat tarawih, tadarus Alquran, dan menuntut ilmu, atau ibadah sosial, seperti berinfak. Kita tidak perlu memaksa orang lain yang tidak berpuasa untuk menghormati Anda yang berpuasa. Itu bukan menghormati Ramadan, tapi menghormati Anda yang sedang berpuasa Ramadan. Menurut saya ini lebih mengikuti ayat tersebut dibandingkan Perda di Serang.

Sekali lagi maaf, Pak. Saya yang rendah ini terkesan sok bijak tentang agama padahal ibadah masih jarang-jarang. Saya malu membawa-bawa delapan huruf di depan nama saya. Tapi mengutip dan mengubah sedikit judul tulisan teman saya mungkin kita bisa mulai “berpuasa sejak dalam pikiran”. Kita mulai fokus saja pada mencapai ketakwaan yang dimaksud dalam ayat tersebut, bukan sibuk cari kesalahan dan sebagainya. Mungkin jika itu kita terapkan, jangankan makanan warteg, kulit ayam KFC atau aroma Indomie yang melegenda itu pun tidak akan mengganggu keimanan kita dalam berpuasa. Dan, tak perlu lagi ada Ibu Eny lainnya yang dirazia sepanjang puasa ini. Sekaligus juga menghormati teman kita non-muslim yang tidak berpuasa ataupun sesama muslim yang mungkin sedang berhalangan puasa karena hal tertentu seperti sakit misalnya.

Setelah lamunan panjang, saya tersadar. Tampaknya manusia masih diberikan kesempatan mengatur hidupnya masing-masing, memilih apa yang dicinta, mencipta apa yang disuka,  dalam kurun waktu yang sudah ditentukan sampai kiamat yang entah kapan. Huft 🙁 []


Baca tulisan lainnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian