Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Saya sebetulnya punya rencana untuk menghabiskan waktu di hari Minggu lalu dengan beristirahat di rumah sambil mengerjakan artikel tulisan. Ditambah lagi, hari Minggu kemarin memiliki penanggalan 31 Januari 2016. Waktu yang kurang tepat bagi saya untuk berjalan-jalan melepas penat seharian apalagi sampai mengeluarkan uang. Cukup menjenuhkan memang. Padahal, hari itu juga tepat digelarnya Berdikari Vol. II di waktu malam, tepatnya pukul 19.00. Pertunjukan musik yang hadir kembali sesudah  edisi pertamanya digelar pada 18 Desember 2014. Berdikari edisi ini digelar oleh kelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam Eroko.org dan Jalur Timur serta didukung oleh Jendela Studio, Asta Matra Studio dan Icon 05 Camper. Acara yang berlangsung di Jalan Lasinrang No. 42 ini semakin spesial karena tidak dipungut biaya alias gratis.

Setelah berpikir sejenak, saya pun memilih untuk menyaksikannya karena acara seperti ini tidak boleh dilewatkan dan menarik untuk dituliskan kembali. Selepas mengerjakan artikel, saya mengisi waktu sebelum pergi ke Berdikari Vol. II dengan menonton sebuah film setelah Maghrib. Film yang berjudul Sicario ini bercerita tentang para polisi dan tentara AS yang bekerjasama dalam mencari lalu menghabisi bos kartel narkoba nomor satu di Meksiko. Saking terhanyut dalam cerita film tersebut, saya baru menyadari jarum jam telah di angka sembilan saat saya selesai menontonnya. Saya pun segera meluncur ke tempat acara digelarnya Berdikari edisi ke-dua.

Ketika saya tiba di tempat berlangsungnya Berdikari Vol. II yang tak terlalu jauh dari rumah, saya melihat Myxomata sedang tampil bersama Dian Mega, vokalis dari Theory of Discoustic menyanyikan sebuah lagu. Sambil mencari tempat yang pas untuk menyaksikan Myxomata, saya bertanya kepada seorang teman yang telah hadir lebih dulu di tempat acara, tentang apa saja yang terlewatkan sebelum saya datang. Betul saja, saya telat datang dan melewatkan penampilan Reza Enem yang tampil sebelum Myxomata. Teman saya tersebut kemudian menceritakan kembali penampilan Reza Enem malam itu. Reza berani mengangkat isu yang berbeda dalam karyanya, yaitu isu reklamasi Pantai Losari Makassar yang sangat kontroversial dan membaurkan musik eksperimentalnya dengan rekaman suara opini dari banyak orang, mulai dari ahli hingga orang yang terkena langsung reklamasi Pantai Losari Makassar. Saya lumayan menyesal juga karena telat dan melewatkan penampilan Reza Enem serta menonton penampilan Myxomata hanya di lagu terakhirnya.

Penampilan Reza Enem yang mengangkat isu reklamasi Pantai Losari Makassar di Berdikari Vol. II.

Penampilan Reza Enem yang mengangkat isu reklamasi Pantai Losari Makassar di Berdikari Vol. II.

Walaupun begitu, penampilan selanjutnya dalam Berdikari Vol. II juga termasuk penampilan istimewa. Siapa lagi kalau bukan Bob Ostertag, musisi eksperimental dari AS yang sedang melakukan tur keliling dunia selama setahun penuh mulai dari Maret 2015. Berdasarkan informasi yang disiarkan Eroko.org dan Jalur Timur, Bob telah menerbitkan 25 album musik. Melalui karya musiknya, dia menarasikan isu ekologis hingga gerakan masyarakat sipil Amerika Latin. Ia juga menyutradarai 2 film dan telah menulis 3 buku. Salah satunya Creative Live, Music, Politics, People and Machine. Karya musik, film, dan festival multimedianya telah dipentaskan dan didistribusikan di seluruh dunia.

Saya yang pertama kali langsung menyaksikannya tentu saja penasaran apa yang akan ditampilkannya. Mengingat statusnya sekarang sebagai profesor di bidang kajian sinema dan seni digital serta banyak menerbitkan karya sejak 1970-an, Bob Ostertag tentu saja musisi yang bisa menginspirasi dan memberi pengalaman baru dalam menikmati musik. Termasuk saat Bob memainkan repertoar pertamanya, saya hanya bisa mengernyitkan dahi sekaligus takjub melihat Bob bisa memainkan komposisi suara yang diolahnya hanya dengan stik game dan laptop! Permainan suara yang dimainkannya cukup panjang dan tampaknya penuh improvisasi membawa saya seperti mendengar Kraftwerk, Yellow Magic Orchestra dan suara latar permainan Mario Bros secara bersamaan.

Permainan Bob Ostertag dengan stik permainan dan laptopnya membawa saya mendengar pada Kraftwerk, Yellow Magic Orchestra dan suara latar permainan Mario Bros secara bersamaan.

Permainan Bob Ostertag dengan stik permainan dan laptopnya membawa saya seolah mendengar Kraftwerk, Yellow Magic Orchestra dan suara latar permainan Mario Bros secara bersamaan.

Repertoar selanjutnya dari Bob Ostertag sepertinya bakal berbeda. Mirwan Andan dari Jalur Timur pun bercerita sedikit tentang komposisi yang dibawakan Bob selanjutnya. Komposisi ini berasal dari suara anak kecil di El Salvador yang direkam Bob saat sedang menggali kubur untuk bapaknya sambil meratap kepergian orangtuanya itu. Saya yang mendengar prolog dari Mirwan saja sudah ngeri membayangkannya bila langsung terjadi di depan mata.

Ternyata penampilan Bob dalam repertoar keduanya benar-benar berbeda. Stik game yang dipakainya berganti dengan pc tablet yang diletakkannya di atas meja. Permainan suara rekaman anak kecil itu diolah Bob penuh improvisasi. Saya harus mengakui, dia sangat jenius mengolah suara anak kecil yang sedang menangis itu tanpa membuatnya terdengar buruk. Suara-suara anak kecil yang menangis itu memang membuat saya bergidik bahkan langsung mengingatkan saya dengan adegan film di Sicario yang saya tonton sebelumnya. Di mana seorang anak yang merenung memandangi tempat tidurnya bapaknya, seorang polisi Meksiko yang telah tiada karena terbunuh di jalanan saat membantu distribusi narkoba. Betul-betul akhir hidup yang tragis.

Bob Ostertag yang saya temui setelah penampilannya malam itu, berkisah bahwa repertoar yang berisi suara kecil El Salvador itu merupakan semacam ‘ritual’ baginya. Semacam penghormatan kepada masyarakat-masyarakat di sana yang berjuang untuk hidup melawan rezim yang berkuasa. Karena hal yang semacam itu tidak asing bagi Bob karena dia pernah menjadi jurnalis di daerah Amerika Tengah pada awal era 80-an. Walaupun Bob menganggap bahwa ini semacam ‘ritual’ untuknya, saya merasakan secara tersirat pesan dimainkan Bob pada komposisi keduanya. Pesan sarat kemanusiaan dalam gerakan masyarakat sipil El Salvador yang pernah dialaminya. Obrolan saya dengan Bob dalam versi panjang di Berdikari Vol. II akan ditampilkan dalam tulisan wawancara berikutnya.

Selepas mengobrol banyak hal dengan Bob, saya pun menyempatkan berbincang sejenak dengan Reza Enem yang juga merupakan bagian dari penyelenggara acara. Reza menjelaskan Berdikari Vol. II  bisa digelar karena jeda dengan Berdikari sebelumnya juga sudah lama sekali dan kebetulan juga Bob mau tampil di Makassar setelah bertemu dengan Mirwan saat tampil di Phnom Penh, Kamboja.

Setelah obrolan dengan Reza tersebut, saya tampaknya melewatkan obrolan dengan Rice /rais/ dan Yudha Mappalahere yang berperan besar dalam menyajikan visual malam itu. Terlihat dari instalasi visual di atas meja seperti instrumen serupa alat pacu jantung, turut memberikan atmosfer yang sesuai bagi eksperimen suara di Berdikari Vol. II. Semoga saya bisa mengobrol dengan mereka di lain waktu.

Terima kasih untuk Berdikari Vol. II yang memberikan banyak pengalaman baru bagi saya sekaligus menjadi penyelamat dari akhir pekan yang hampir menjenuhkan. Kudos!