Jika anda mencari berita tentang lukisan Monalisa di internet, maka akan muncul sekitar 486.000 pranala yang dapat anda baca. Itu baru dalam bahasa Indonesia. Lukisan itu memang sepopuler usianya, dibuat di Italia oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16.

Lukisan itu menjadi salah satu karya seni yang paling banyak disoroti di dunia. Misteri dan gosip tentang siapa sebenarnya perempuan yang tersenyum di lukisan itu menjadi tanda tanya. Banyak hasil penelitian yang dapat kita baca, sialnya, semua berbeda dan membuat kita bingung.

Meskipun sekarang lukisan itu telah kabur dan retak-retak, tapi beberapa orang memilih menghabiskan uangnya demi melihat Monalisa secara langsung. Lukisan itu kini dilindungi dengan kaca anti peluru di museum Louvre, Paris. Dan hebatnya, jutaan dolar dihabiskan hanya untuk biaya perawatan dan keamanan lukisan tersebut.

Saya kerap membayangkan, seandainya Monalisa tahu betapa banyak gosip tentang dirinya yang beredar, ia mungkin akan keluar dari bingkai populer tuanya dan berkata ke pengunjung museum, “Saya hanyalah Leonardo da Vinci dalam bentuk yang lebih feminim. Bukan siapa-siapa. Usia saya saja yang telah berabad-abad. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya karya seni biasa pada masa itu. Berhenti membangun mitos tentang saya. Mohon.”

***

Pinokio adalah dongeng masa kecil saya. Mengajarkan tentang nilai kejujuran terhadap anak-anak. Saya merasa beruntung karena pernah membaca dongengnya — juga menonton filmnya. Saya suka tokoh Pinokio. Dalam dongeng, ia digambarkan sebagai anak kecil yang terbuat dari kayu ciptaan Gepetto.

Pinokio sangat berhasrat ingin menjadi manusia sejati. Namun, peri biru yang punya kuasa atas itu menguji Pinokio.

Pinokio sering berbohong dan peri biru sangat membenci pembohong, sebagia ujiannya, Pinokio tidak boleh mengulangi kebiasaan buruk tersebut, jika mengulangi, maka hidungnya semakin panjang dan hasratnya mungkin tidak terwujud.

Di akhir dongeng, Pinokio berhasil menjadi manusia sejati. Keberanian Pinokio berubah ternyata berhasil. Ia kini menjadi anak normal yang memiliki banyak teman.

***

Tinggal dan menghabiskan masa remaja di pesantren adalah hukuman paling menyenangkan. Sayangnya, menghadapi tekanan pembina membuat saya sadar, kita tidak pernah benar-benar bebas dari mata dan tuduhan orang-orang.

Saya tidak bermaksud memandang buruk lembaga pesantren, tapi seperti itulah adanya. Pembina adalah makhluk yang diciptakan dengan kebenaran yang mutlak. Dibenarkan menghukum dengan gaya apa saja. Juga dibenarkan menuduh kita salah atau benar. Namun, pesantren juga memiliki nilai kemanusiaan yang baik kita amalkan.

Salah satu kebiasaan saya selama di pesantren adalah membaca buku. Tapi, kembali harus mendapatkan tekanan, sebab buku bacaan yang boleh beredar di pesantren hanya yang berbau agama.

Tahun terakhir saya di pesantren, buku Atheis yang dikarang Achdiat K. Mihardja saya baca. Suatu sore, menjelang maghrib, saya masuk di bagian XV, karena penasaran dan rasa iseng, saya akhirnya mengganti isi kitab suci dengan roman tersebut dan membacanya setelah ibadah maghrib saat semua santri harus membaca kitab suci..

Seminggu saya menggunakan cara itu untuk menyelesaikan Atheis. Saya akhirnya bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca. Awalnya saya bahagia, sialnya, aksi saya ketahuan sama pembina. Olehnya, saya dihukum harus mendengar panjang lebar ceramahnya di kamar Pembina.

Setelah ketahuan, saya tidak berhenti. Kebiasan itu masih saya gunakan. Hingga akhirnya saya kedapatan kembali. Kali ini, hukumannya lebih serius. Saya disuruh ke rumah direktur. Setelah mendengarkan pembina menjelaskan kesalahan saya, tanpa banyak kata, direktur saya menampar kuping kiriku dengan klip jilid. Darah keluar, sekitar satu menit pendengaran saya terganggu. Melihat darah, direktur saya justru menampar wajah saya berulang ulang.

Itulah sedikit kisah bagaimana kehidupan di pesantren. Sejak itu, saya membenci penguasa yang sewenang-wenang.

 ***

Kita memang diharapkan menjadi generasi seperti Monalisa. Menawan, dikagumi, tapi mengurungnya dalam kaca. Menyedihkan. Mengapa tidak dibuat seperti kisah Pinokio saja, setiap anak bebas melakukan apa saja. Hasilnya akan ia rasakan sendiri. Itu salah satu alasan mengapa saya suka Pinokio.

Tulisan ini tentu tidak semuanya benar. Sebab, hanya pandangan awam saya kepada Monalisa, Pinokio, dan cara orang-orang menilai sesuatu.

Saya benci cara orang-orang memandang Monalisa. Tidak adil menurut saya, belum tentu lukisan itu senang dijadikan bahan penelitian, atau pelukisnya sendiri yang keberatan. Sementara itu, ada ratusan orang yang melakukan itu kepadanya. Menyedihkan.

Kebiasaan kita untuk selalu ingin tahu apa yang orang lain lakukan itu keliru. Rasanya, hampir tidak ada lagi rahasia lukisan Monalisa, mulai dari siapa sebenarnya perempuan itu, hingga mengapa alisnya tidak ada. Akhirnya, ruang antara Monalisa dan dirinya sendiri hilang.

Sama saat saya menjalani hibup di pesantren, saya merasa tertekan akibat pembina tidak memberikan ruang ekspresi kepada santri. Saya ingin baca buku yang menurut saya baik, bukan menurut pembina saya bagus. Cara pandang pembina saya hampir sama dengan cara orang-orang melihat Monalisa. Sama-sama menganggap dirinya benar.

Dan lebih buruk lagi, kita kadang tidak sadar melakukan kejahatan itu kepada orang lain.