Foto: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Jika berbincang tentang sejarah musik era 90-an, saya tidak bisa lepas dari ingatan menjadi salah satu pendengar musik ska di akhir era yang membahagiakan itu.  Ya, fenomena musik ska yang lagi ‘naik daun’ di akhir era 90-an hingga 2000-an awal itu merupakan masa keemasan bagi band-band ska nasional.

Saya mulai tertarik mengikuti perkembangan mereka di era itu melalui layar kaca televisi saat masih di kelas 5 SD sekitar tahun 2001.  Mengikuti perkembangannya berawal dari menonton beberapa video musik band-band ska tersebut yang terputar di stasiun-stasiun televisi nasional di akhir 90-an.  Salah satunya yang paling akrab di telinga adalah Tipe-X dengan lagunya, “Angan” dan “Genit” serta favorit saya, “Bruce Lee”  dari Jun Fan Gang Foo yang video musiknya betul-betul enerjik, sampai-sampai saya tidak mau melewatkan sedetikpun adegan dalam video musik itu kalau sedang menontonnya.

Seiring bertambahnya usia dan semakin banyaknya referensi untuk mendengar musik dari tanah Jamaika ini, saya pun berkenalan dengan No Doubt, The Mighty Mighty Bosstones, The Heptones, Me First and The Gimmies Gimmies, dan sebagainya. Tidak lupa pula pula dengan beberapa band ska nasional selain Tipe-X dan Jun Fan Gang Foo seperti Shaggydog. Hingga masa-masa kuliah saya juga berkenalan dengan musik-musik rocksteady–yang merupakan turunan dari ska, dengan tempo dan ketukan lebih lambat–seperti Souljah, The Aunthentics dan Monkey Boots.

Hingga pada tahun 2011, sebuah band dari Makassar yang bernama Ska With Klasik berhasil menarik perhatian saya di sebuah gig kolektif Music for Brighter Day Vol. 2 yang diprakarsai Taman Indie Makassar. Dengan personil yang cukup banyak yaitu sekitar tujuh sampai delapan orang, Ska With Klasik memainkan musik ska sebagai porsi utama bermusik mereka, sekaligus meyisipkan beberapa beat rocksteady ke dalam lagunya. Selain mereka membawakan lagunya berjudul “Kau Cantik” , mereka membawakan ulang lagu milik Souljah dan Tipe-X waktu itu.

Menurut rilis pers mereka, Ska With Klasik adalah sebuah band beraliran Ska dari Makassar yang lahir dari semangat, dedikasi, dan rasa cinta terhadap musik. Mereka terbentuk sejak tahun 2010 untuk bermain musik ska agar bisa  diterima di kota Makassar sebagai tempat lahir dan berkembangnya Ska With Klasik.

Semua orang yang ikut terlibat dalam proses musik Ska With Klasik akan serta merta sepakat bahwa kekuatan terbesar band ini adalah kekuatan persahabatan yang menyelimutinya. Ketujuh personil band Ska With Klasik datang dari latar belakang dan aliran musik yang berbeda-beda. Komitmen yang tinggi dan rasa cinta terhadap musik membuat semua masalah-masalah dan kekakuan tentang perbedaan itu tidak berlangsung lama.

Selera musik yang berbeda-beda dari para personilnya, kemudian malah memperkaya nuansa musik yang mereka ciptakan. Mereka adalah pemusik-pemusik muda berbakat dengan sedikit keras kepala yang mempunyai keinginan-keinginan sederhana. Keinginan untuk terus bermusik.

Bertepatan pula pada tahun 2011 hingga sekarang, musik reggae dan ska kembali mencuat dan diminati oleh banyak anak-anak remaja di Makassar. Ska With Klasik pun menjadi salah satu patokan saya mengamati perkembangan musik ska di kota ini. Pengamatan itu berdasarkan saat melihat mereka tampil di suatu acara, sudah dapat dipastikan ada  fan loyal untuk menyaksikan penampilan mereka dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sudah hampir lima tahun Ska With Klasik berjuang memperkenalkan musiknya untuk kalangan penikmat musik kota Daeng dan sekitarnya. Perjuangan yang luar biasa untuk selama lima tahun itu menjadi semakin menyenangkan setelah saya mendengar kabar dari Ska With Klasik pada bulan Februari lalu, kalau mereka berencana melepas album perdana mereka bertajuk Sehari Denganmu pada bulan April ini.

Seluruh materi dalam album Sehari Denganmu diselesaikan dan dikerjakan bersama sepenuhnya oleh Ska With Klasik. Di dalam album ini banyak terjadi penggabungan kreasi baru terhadap genre ska yang membuat seluruh materinya menjadi lebih kaya. Diharapkan dari album ini para pendengar dapat langsung mencintai musik ska walaupn belum terlalu mengenal ska itu sendiri.

Kabar yang menggembirakan tentang rencana mereka merilis album tersebut ternyata tidak sampai di situ saja. Tidak tanggung-tanggung, Ska With Klasik juga membuat launching album party-nya dengan mengajak beberapa grup musik di Makassar untuk turut serta meramaikan pre-launching album mereka pada tanggal 27 sampai 29 Maret di beberapa tempat yang berbeda sebelum perayaan album sesungguhnya pada 4 April. Ada pula kompetisi band yang digelar pada 27 Maret. Luar biasa!

Hari Sabtu (4/4) pun tiba dengan rasa penasaran saya yang muncul untuk kejutan-kejutan apa saja yang bakal ditampilkan oleh Ska With Klasik. SWK–singkatan akrab Ska With Klasik–pun tidak tampil tunggal dalam pesta rilisan mereka tersebut. Mereka pun tampil bersama Souljah, Payung Teduh, Melismatis, Tabasco dan Bonzai serta Brotherhood yang menjuarai kompetisi band pada event pre-launching hari pertama. Event ini pun terselenggara berkat kerjasama penuh Ska With Klasik dengan Honda dengan Rajawali Media.

Sempat mendengar kabar kalau launching album SWK ini dimulai pada sore hari, saya pun berangkat menuju venue yang berlokasi di Pantai Akkarena pada waktu itu juga. Tapi setelah sampai ke sana, acara belum mulai juga. Sepertinya jadwal acara memang diundur atau hal lain yang membuat acara belum berjalan semestinya. Semoga saja bukan karena budaya ‘jam karet’.

Akhirnya menjelang pukul tujuh malam, acara pun dimulai saat MC membuka dengan mengadakan kuis dan sebagainya yang merupakan rangkaian selingan acara. Akhirnya panggung malam itu dibuka oleh pemenang band kompetisi, Brotherhood yang membawakan ulang lagunya Nidji  yang berjudul “Hapus Aku” yang sayangnya didukung dengan keluaran sound yang tidak memadai. Akhirnya penampilan mereka terdengar cukup buruk walaupun mereka terlihat baik-baik saja di atas panggung. Kasihan juga melihatnya, tapi mungkin saja persoalan teknis yang sedang tidak berjodoh dengan mereka.

Tabasco tampil selanjutnya malam itu untuk acara launching ini. Membuka penampilan dengan “Spectacle”, penampilan mereka di awal-awal masih dilanda persoalan teknis keluaran sound system yang tidak seimbang. Namun saat lagu “Yellow Fragile Heart”, persoalan keluaran sound mereka mulai pelan-pelan membaik. Suara gitar Hamka dan Artha mulai seimbang, yang sebelumnya jauh saling timpang tindih.

swk4

Artha, vokalis/gitaris Tabasco saat membawakan “Yellow Fragile Heart” di launching album Ska With Klasik.

Tabasco di launching album Ska With Klasik, 4 April 2015.

Tabasco di launching album Ska With Klasik, 4 April 2015.

Kemudian unit post-rock ensemble asal Makassar, Melismatis pun tampil dengan beberapa lagu mereka yang bakal hadir di album kedua mereka yang sedang dalam proses rekaman. Lagu “Semesta” membuka aksi mereka malam itu dengan yang membius perhatian penonton yang kemudian berlanjut ke “Pelik” dan terakhir “Mata Tertutup” yang dimainkan dengan solid walaupun kendala sound masih sedikit mengganggu saat mereka tampil.

Ardhyanta, vokalis dari Melismatis di launching album Ska With Klasik 'Sehari Denganmu'

Ardhyanta, vokalis dari Melismatis di launching album Ska With Klasik ‘Sehari Denganmu’

Juang, gitaris Melismatis dengan penghayatan penuh 'menyayat' gitarnya di launching album Ska With Klasik.

Juang, gitaris Melismatis dengan penghayatan penuh ‘menyayat’ gitarnya di launching album Ska With Klasik.

Setelah Melismatis tampil cukup memukau, Penampilan selanjutnya yang ditunggu-tunggu tentu saja Payung Teduh yang berturut-turut mengundang koor massal dari para penonton “Angin Pujaan Hujan”, “Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan”, “Resah”, “Berdua Saja”, “Rahasia”, “Cerita tentang Gunung dan Laut” dan “Menuju Senja” pun dibawakan dengan apik dan syahdu.

swk

Setlist Payung Teduh di launching album Ska With Klasik 'Sehari Denganmu'

Setlist Payung Teduh di launching album Ska With Klasik ‘Sehari Denganmu’

Walaupun ini merupakan hari yang istimewa untuk Ska With Klasik dan albumnya, Ska With Klasik bukanlah yang menjadi penutup dari acara ini. Cukup disayangkan memang. Mereka mengambil alih panggung setelah Payung Teduh tampil. Penonton yang hadir malam itu juga luar biasa penuhnya memadati venue yang cukup unik ini karena cukup berdekatan dengan Pantai Akkarena.

Penonton yang hadir menyaksikan Ska With Klasik dan band-band yang tampil malam itu memadati berbagai area acara yang siap digunakan untuk moshpit berdansa ska!

Penonton yang hadir menyaksikan Ska With Klasik dan band-band yang tampil malam itu memadati berbagai area acara yang siap digunakan untuk moshpit berdansa ska!

Ska With Klasik  mulai menggeber repertoar yang ada di album mereka Sehari Denganmu. Tidak tanggung-tanggung, “Gadis Manis di Waktu Manis”,”Path”, Tentangmu”, “Pesta Dan Ska”, Kucinta Dirimu”, “Untuk Kita” dan ditutup dengan penampilan kolaborasi Is Payung Teduh bersama Danar dan Sa’id Souljah di lagu pamungkas, “Sehari Denganmu”. Vokalis merangkap bassis Ska With Klasik, Khaidir Kafil yang akrab disapa Dede, seolah menjadi dirigen koor massal di antara para Doodie Rudes yang meramaikan arena dansa ska malam itu. Wah!

swk27

swk26

Khaidir Kafil, bassis Ska With Klasik dengan kharismatik mengomandoi band dan para Doodie Rudies untuk membentuk koor massal saat Ska With Klasik tampil di panggung malam itu.

IMG_20150407_0002

Setlist Ska With Klasik di pesta launching album ‘Sehari Denganmu’

 

Souljah pun didaulat untuk tampil selanjutnya sekaligus sebagai penutup dalam pesta rilisan album bersejarah milik Ska With Klasik. Mungkin saja ini merupakan penghormatan dari Ska With Klasik untuk Souljah karena merupakan salah satu referensi mereka dalam bermusik. Souljah pun tampil tepat pukul 00.00 malam dengan membuka dengan lagu “Kuingin Kau Mati Saja”.  Tak pelak, seluruh arena acara pun pun menjadi arena dansa ska para Souljah Brader dan Doodie Rudies. “PHP”, “Satu Hati”, Satu Frekuensi”, “Move On”, “Jatah Mantan”, “Mars Jangkrik”, “I’m Free”, “Tak Selalu” pun mengalun selanjutnya.

souljah swk1

souljah swk2

Sa’id Souljah menjadi komandan koor massal para audiens untuk repertoar Souljah di pre-launching Ska With Klasik malam itu.

IMG_20150407_0003

Setlist dari Souljah di launching album Ska With Klasik ‘Sehari Denganmu’

Malam itu saya semakin percaya, dengan kekuatan musik ska-nya, Ska With Klasik semakin mantap untuk bersenandung tentang cinta dan kehidupan sehari-hari yang berdekatan erat dengan kehidupan para kawula muda. Secara implisit mereka juga ‘berteriak’ tentang perlunya band-band di Makassar diberi ruang dan kesempatan  dalam menampilkan karya mereka seperti yang dilakukan Ska With Klasik malam itu. For Ska With Klasik, keep skankin’ for love! []


Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise