Pesta Komunitas Makassar (PKM) kembali digelar pada 21-22 Mei 2016 lalu di Anjungan Pantai Losari Makassar. PKM tahun ini diikuti oleh sekitar 200 lebih komunitas, jumlah ini bisa dikatakan sebagai peningkatan yang signifikan mengingat tiap tahun jumlah komunitas yang berpartisipasi terus bertambah. Pada hari pertama saya datang tepat pukul 13:00 WITA saat matahari sedang terik-teriknya. Walaupun sudah terlihat ramai, belum terlalu banyak aktivitas saat itu. Saya hanya mengamati beberapa panitia lalu lalang mengecek keadaan, beberapa komunitas masih sibuk mengatur booth mereka, dan MC yang sedang bekerja.

Menjelang sore, pengunjung makin ramai, berkeliling melihat booth komunitas ataupun kuliner yang ada. Acara pembukaan PKM 2016 mulai sekitar pukul 19.00 WITA.  Kegiatan ini dibuka oleh kesenian Angngaru yang membuat saya kagum, atraksi, dan  beberapa kesenian tradisional lainnya. Setelah itu ada Sinrilik yang mengiringi sambutan-sambutan dalam pembukaan tersebut. Sambutan pertama dilakukan oleh Fanda Pratama Arie Wibowo selaku ketua perwakilan komunitas. Fandi mengungkapkan harapannya tentang PKM 2016 ini bisa berdampak bagi komunitas ke komunitas, juga komunitas ke masyarakat.

Pertunjukan Angngaru di pembukaan Pesta Komunitas Makassar 2016.

Pertunjukan Angngaru di pembukaan Pesta Komunitas Makassar 2016.

Lalu ada sambutan dari Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisparekraf) Kota Makassar Rusmayani Madjid dan Andi Tenri Lengka SH, M.Si selaku Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif Kadisparekraf sekaligus merangkap ketua panitia kegiatan PKM 2016 kali ini. Inti pada sambutan mereka adalah imbauan kepada  pemuda-pemuda Makassar untuk bisa mengembangkan kreativitasnya, melalui kegiatan-kegiatan yang berguna. Setelah penyambutan acara, dilanjutkan dengan beberapa penampilan di panggung komunitas. Dan, akhirnya PKM 2016 resmi dibuka secara simbolik dengan pemukulan gong oleh Ibu Rusmayani Madjid dan penyerahan draft dari panitia kepada Kadisparekraf.

PKM 2016 resmi dibuka secara simbolik dengan pemukulan gong oleh Ibu Rusmayani Madjid, Kadisparekraf kota Makassar.

PKM 2016 resmi dibuka secara simbolik dengan pemukulan gong oleh Ibu Rusmayani Madjid, Kadisparekraf kota Makassar.

Penyerahan draft dari panitia kepada Kadisparekraf Kota Makassar, Rusmayani Madjid.

Penyerahan draft dari panitia kepada Kadisparekraf Kota Makassar, Rusmayani Madjid.

Hari kedua kegiatan dimulai dari pagi hari, namun sekali lagi saya datang pukul 13.00 WITA karena semalam harus begadang demi menonton Manchester United yang menjuarai FA Cup. Secara keseluruhan, hari kedua semuanya terasa sama saja dengan hari pertama. Namun, jika disimak lebih baik, ternyata hari kedua PKM 2016 ini terlihat lebih ramai oleh pengunjung juga komunitas-komunitas. Makin bervariasi dan menarik. Lebih banyak juga permainan dan kuis menarik pada hari ini.

Suasana yang ramai dengan pengunjung di Pesta Komunitas Makassar 2016.

Suasana yang ramai dengan pengunjung di Pesta Komunitas Makassar 2016.

Selain itu, juga ada pemaparan kelas kolaborasi. Dari sembilan kategori yang ada (lingkungan, pecinta hewan, sosial, hobi, edukasi, traveling, fans club, fashion, dan kreatif) baru empat kategori komunitas yang mengumpulkan draft kegiatan kolaborasi mereka, di antaranya:

  1. Kelas kolaborasi pecinta hewan mengajukan kegiatan Makassar Pets Expo 2016 juga seminar Nasional tentang hewan peliharaan.
  2. Kelas kolaborasi fans club mengajukan kegiatan Fans Club Festival.
  3. Kelas kolaborasi Travelling menawarkan kegiatan “Jalan-Jalan Bareng” sebagai kegiatannya.
  4. Kelas kolaborasi Sosial-Edukasi menawarkan beberapa kegiatan yaitu Pesantren Komunitas dalam menyambut bulan Ramadhan yang berfokus pada memberikan pendidikan kepada anak-anak kurang mampu. Lalu ada Simposium Pendidikan semacam pameran pendidikan dan juga seminar pendidikan

Untuk kegiatan-kegiatan kolaborasi dari kategori-kategori yang belum menyelesaikan draftnya akan disampaikan setelah PKM dan diumumkan melalui media sosial. Setelah pemaparan, hari beranjak malam, makin banyak komunitas yang tampil di panggung komunitas hingga penutupannya yang megah dan meriah. Sayangnya, sebelum penutupan saya ada keperluan lain sehingga saya hanya bisa memantaunya dari media sosial saja.

Dari kegiatan mengamati dan menyimak saya selama dua hari di PKM 2016, saya mencatat beberapa hal. Pertama, dari dampak positif PKM 2016 bagi perkembangan ekonomi kreatif yang digadang-gadang oleh pihak Kadisparekraf menurut saya sudah tercapai dari pameran booth-booth komunitas, kuliner, dan fashion yang tersedia. Booth-booth tersebut selain mempublikasikan kegiatan komunitas juga berhasil dalam memeromosikan produk-produk keluaran komunitas atau usaha mereka seperti karya vektor, aksesoris, baju, lukisan, dan sebagainya. Secara tidak langsung juga bisa menginspirasi dan mendorong pengunjung untuk melakukan hobi sebagai peluang bisnis atau bahkan lebih kreatif.

Poin selanjutnya setelah konferensi pers lalu saya mempunyai gambaran awal bahwa Kelas Kolaborasi ada dua kategori komunitas yang saling bersinergi merencanakan suatu kegiatan. Ternyata kecuali Sosial-Edukasi, kebanyakan adalah kegiatan dari beberapa komunitas dari kategori yang sama. Sayang saja rasanya mengingat kata sinergi sering saya dengar selama PKM, pada akhirnya berakhir jadi sinergi antar sesama dalam satu kategori saja. Poin lain mengenai kelas kolaborasi, sesuai dengan poin draft acara yang sempat dikemukakan di PKM, secara pribadi saya sudah yakin bahwa kegiatan semacam festival atau jalan-jalan itu akan sukses dan heboh di media sosial apalagi kalau disponsori oleh pihak pemerintah kota. Namun, sebagai masyarakat umum, saya mempunyai harapan lebih bahwa komunitas-komunitas di Makassar bisa membuat lebih dari sekadar kumpul-kumpul, heboh yang hanya diukur dari banyaknya RT dan selfie. Bila belum bisa yang menggugah kesadaran akan keadaan sekitar, minimal yang meninggalkan kesan bagi pengunjung untuk berbuat sesuatu yang baik.

Yang terakhir, entah mengapa, kesan menyenangkan yang saya dapat dari PKM justru berasal dari proses mengikuti kegiatan-kegiatan menuju PKM mulai dari pre-event, konferensi pers, dan lain-lain. Karena bertemu kenalan dan teman baru, mendapatkan pengetahuan sekaligus kebingungan baru mengenai komunitas-komunitas di Makassar. Saya sendiri menyayangkan apa yang saya rasakan. Di luar kemegahan dan keramaian yang dicapai oleh PKM 2016, jujur saja, saya merasa konsep acara puncaknya yang terasa sama saja dengan PKM sebelumnya, bedanya hanya lebih ramai dari segi pengunjung.

Semoga saja di PKM selanjutnya bisa menawarkan hal-hal yang lebih berbeda serta berkali lipat lebih berguna dan menyenangkan. Saya yakin hal tersebut sangat mungkin untuk dicapai. Apalagi kata “Harmoni”, “Aksi”, “Sinergi” dan “Kreatif” sudah seperti mendarah-daging di kalangan komunitas khususnya yang saya temui di PKM, Selanjutnya mungkin waktunya menambah satu kata lagi yaitu “Beda”. Salam Komunitas! []

*Seluruh foto merupakan dokumentasi dari penulis


Baca tulisan lainnya

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Pemanasan dengan Panggung Komunitas

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-Kumpul

Satu Warna dalam Komunitas

Komunitas Sinergi, Harmoni, Aksi!

Nasihat dari Plato dalam Membentuk Kelompok, Komunitas, bahkan Negara