Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

PHP (Pemberi Harapan Palsu) adalah istilah yang belakangan mengalami pelebaran makna. Bukan lagi hanya menjadi istilah yang ditujukan bagi orang yang sering ingkar janji, tapi lebih dari itu, PHP bertransformasi menjadi pola distribusi harapan yang menciptakan situasi ketidaknyamanan di salah satu, atau bisa saja kedua belah pihak.

Situasi seperti itu paling banyak melanda mahasiswa. Golongan yang hingga hari ini senantiasa menjadi tempat di mana banyak harapan dibangun dan dieramkan. Sebagai golongan yang mengaku berada di tingkatan tengah masyarakat, mahasiswa memiliki akses untuk menjadi subjek atau pun objek di dalam distribusi harapan-harapan. Harapan palsu tidak muncul dengan sendirinya. Hal itu tentunya memiliki banyak alasan yang ikut serta di belakangnya.

Bercermin dari masalah pangan dunia yang menyatakan bahwa masalah kelaparan di dunia bukan karena kekurangan makanan tapi tidak adilnya pendistribusian makanan. Maka, PHP juga dinilai penulis sebagai masalah yang berakar pada pendistribusian harapan yang tidak selaras dengan upaya pemenuhannya. Oleh sebab itu, penulis akan mencoba membahas PHP yang dilihat dari berbagai payung ilmu sosial. di antaranya: Positivistik, Interpretatif, Kritis dan Postmodernisme.

Di awal perkembangannya, PHP menjadi bahan penelitian menarik bagi kaum mahasiswa Positivistik. Kaum yang menjunjung tinggi semangat yang diusung oleh Aguste Comte; menjadikan ilmu sosial sebagai ilmu yang diperhitungkan di ranah institusi keilmuan. Hal itu diperjuangkan Om Comte, karena pada zaman dahulu, yang diperhitungkan sebagai ilmu hanyalah ilmu alam. Kalau kamu hidup di zaman dahulu dan menemukan teori di luar ilmu alam, kamu tetap tidak akan dikatakan sebagai seorang ilmuan. Itulah alasan yang membuat Om Comte bete dan memperjuangkan ilmu sosial sebagai ilmu layaknya ilmu alam. Menurutnya, ilmu sosial juga bisa di-empiriskan. Masyarakat tidak terbentuk begitu saja. Banyak tahapan yang dilalui oleh masyarakat sebelum menjadi sebuah tatanan sosial.

Semangat itu menjadi cambuk bagi kaum mahasiswa positivistik. Mereka berbondong-bondong menuju kantin dan memesan kopi hitam, kemudian membincangkan PHP sebagai sesuatu yang layak diperhitungkan. Jika Om Comte terkenal memisahkan antara filsafat dan sosiologi, maka kaum ini juga memisahkan perasaan dan perlakuan dalam PHP.

Menurut Heru Priyanto, seorang mahasiswa antropologi pengamat kakak-kakak pemberi harapan palsu kepada adik-adik lucu dan kurang pengalaman, PHP tidak terjadi begitu saja. Melainkan memiliki beberapa tahapan antara lain; berkenalan, menyamakan pengalaman, menyamakan impian, kemudian jalan masing-masing. Dengan begitu, PHP jelas bisa disistematiskan layaknya proses hujan atau tumbuh kembang bayi. Berkat mereka, PHP menjadi salah satu hal yang layak diperbincangkan di ranah keilmuan khususnya di dalam kampus sebagai salah satu institusi pendidikan.

Tak jauh berselang, ada golongan yang muncul untuk menyicipi PHP, agar dapat betul-betul mengetahuinya. Tidak bisa hanya dilihat dari luar saja sebagaimana yang dilakukan oleh Heru Priyanto. PHP sebagai situasi perasaan juga harus ikut dirasakan. “Tidak ada burung yang mampu menggambarkan perasaan ikan. Untuk mengetahui perasaan ikan, minimal kau harus jadi terumbu karang” Kata Pa’dul, salah satu mahasiswa aliran interpretatif. Untuk meneliti PHP, haruslah menjadi bagian di dalamnya entah itu sebagai pemberi ataukah penikmat. Karena yang mampu menjelaskannya lebih dalam hanyalah orang yang langsung merasakannya.

Tapi perbincangan PHP tak sampai di situ saja. Ada golongan lain mahasiswa yang membicarakan hal tersebut dari sudut lain. Mereka membicarakan tentang ‘akan dibawa ke mana pengetahuan terkait PHP ini?’. Mereka adalah golongan kritis yang sangat terpengaruh dari pemikiran Karl Marx. Mereka menganggap, tak ada gunanya orang-orang memiliki pengetahuan jika nyatanya harapan masih saja disalahgunakan. Menurut mereka, pengetahuan harusnya mampu mengubah Pemberi Harapan Palsu menjadi Pemberi Harapan Pasti.

Sampai di tahap ini, kita telah membahas PHP dari tiga sudut pandang. Namun pernahkah gais yang budiman berpikir apa sebenarnya harapan palsu itu? Pernahkah gais benar-benar bertemu secara langsung dengan seseorang atau sesuatu yang disebut harapan palsu? Nyatanya tidak ada satupun dari kita yang benar-benar pernah bertemu dengan harapan palsu. Harapan palsu hanyalah wacana yang kita bangun bersama, kemudian memasung pikiran kita masing-masing.

Hal di atas adalah hal yang saat ini marak diperbincangkan oleh mahasiswa yang melabeli diri mereka sebagai pemikir Postmodernisme. Para penggiat Postmodernisme menganggap hal-hal yang paling membahagiakan atau justru paling menyedihkan adalah wacana belaka yang tidak nyata adanya. Menurut mereka, PHP adalah wacana, tidak tampak secara fisik namun mampu membuat menangis. PHP hanyalah buah pikir yang menyiksa diri sendiri. Banyak mahasiswa yang merasa di-PHP oleh Pancasila, padahal kemanusiaan yang adil dan beradab tidak pernah benar-benar bisa dilihat. Kita di-PHP oleh hal yang tidak pernah bisa jelas. Maka dengan itu, mereka menegaskan bahwa wacana adalah penguasa baru yang tidak bisa kita deteksi keberadaannya. []


Baca tulisan lainnya dari Viny

Media Massa, Media Maksa

Maniang dan Sekolah Barunya

Manusia dan Warisan Tuhan

Pidi Baiq, Si Manusia Selundupan

Skenario Drama Kota

Untuk Anak-anakku

Kala Teater di Kala Malam