Saat-saat menjelang berbuka puasa merupakan momen yang unik di Bulan Ramadan ini. Ya, dalam sebulan ini di telinga saya—dan anda tentunya— diakrabi dengan kata ngabuburit.  Istilah ini dalam bahasa Sunda berarti menunggu datangnya waktu maghrib atau menunggu matahari sore terbenam, dimana semua kalangan khususnya anak-anak muda ikut berbaur menikmati waktu sore yang cerah.

Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan saat ngabuburit. Ada yang jalan-jalan sore berkeliling kota atau di kompleks perumahan, tawaf di mall, berolahraga, membuat penganan berbuka puasa ataupun berleyeh-leyeh di rumah saja. Leyeh-leyehnya pun jangan di depan kulkas. Bisa makruh nantinya.

Ngabuburit di bulan Ramadan ini saya lebih memilih untuk berleyeh-leyeh di rumah saja—walaupun hanya berhasil di akhir pekan—  dan mendengarkan musik. Kedua hal tersebut adalah cara menghabiskan waktu berbuka paling mengasyikkan. Sembari berleha-leha, saya pun memainkan music player di laptop. Sempat berniat memutar CD dan cassette tape di player-nya masing-masing untuk merasakan sound analog yang hangat dari pita kaset. Tetapi lagi-lagi berhasil diurungkan oleh melimpahnya lagu-lagu di playlist laptop dan efek kemalasan gerak—mager istilah muda-mudi sekarang.

Beberapa lagu yang saya dengarkan berikut ini tidak melulu soal ngabuburit atau kegiatan bulan Ramadan lainnya. Selain aspek aransemen musik yang membuat jasmani dan rohani menjadi rileks, saya memilihnya karena memiliki lirik yang berkaitan erat dengan atmosfer Ramadan beberapa minggu ini.

Lagu –lagu pilihan ini juga semacam upaya menghindari klise playlist lagu-lagu rohani musiman dari beberapa penyanyi atau grup musik Indonesia maupun mancanegara yang sering diputar di TV swasta. Kalaupun playlist ini gagal menghindari klise tersebut, itu hak anda untuk mengkritiknya. Silahkan ‘berkicau’ di kolom komentar artikel ini.

1. Sir Dandy – Sekdrag (Lesson #1, 2011)

Jika engkau usia muda/ Lebih baik engkau banyak berdoa/ Jika engkau banyak berdoa/ Insya Allah akan masuk surga/ Terhindar dari api neraka/ Jika engkau usia tua/ Engkau pasti nanti tutup usia/ Jika engkau tutup usia/ Di akhirat bakal ditanya/ Apa yang dilakukan di dunia?

Sir Dandy selalu berhasil membuat saya tertawa kecut saat mendengarkan lagu-lagunya. Lagu ini sebenarnya biasa-biasa saja. Alunan suara vokal Sir Dandy yang seadanya dan slengean berpadu akord lagu yang gampang dipelajari bermodalkan gitar kopong. Namun liriknya yang menyentil cara menyampaikan pesan religius dari perspektif yang berbeda. Serupa dakwah antah berantah —yang anehnya masuk akal juga—dan ditambah koor jamaah yang menyambut siraman rohani absurd bak CD tutorial kisah inspiratif yang membuatnya ‘ajaib’.

2. Pandai Besi –  Jalang & Debu-Debu Berterbangan (Daur,  Baur, 2013)

Siapa yang berani bernyanyi/ Nanti akan dikebiri/ Siapa yang berani menari/ Nanti kan di suntik mati/ Karena mereka, paling suci/ Lalu mereka bilang kami jalang/ Karena kami, beda misi/ Lalu mereka bilang kami jalang

Demi masa/Sungguh kita tersesat membiaskan yang haram karena kita manusia/Demi masa/Sungguh kita terhisap ke dalam lubang hitam karena kita manusia. Pada saatnya nanti tak bisa bersembunyi, kita pun menyesali, kita merugi/Pada siapa mohon perlindungan/Debu-debu berterbangan

Saya lebih menyenangi versi kedua lagu ini dibandingkan versi aslinya. Aransemen musik yang lebih “dewasa” terbukti mampu menghindari klise sebagai cover version dari karya jenius Efek Rumah Kaca ini. Kompleksitas yang terjalin solid ditunjukkan Cholil dkk. dalam “Jalang”—yang sarat anti-fasisme, relevan dengan kondisi pilpres di bulan Ramadan ini—dan “Debu-Debu Berterbangan”—yang terinspirasi dari surat Al Ashr, salah satu surat dalam Al-Quran—, berhasil meneduhkan saat ngabuburit sembari ber-elegi mengapa lebih memilih mendengarkan musik mereka dibandingkan tadarrus.

3. The Sastro – Lari 100 (Vol.1, 2005)

Lari 100 di kota ini/ lepaskan diri hindari waktu/ lari 100 di sore ini/ larikan diri dari nafsu/ Lari 100 menembus waktu/ memutar jalan kehidupanku/ diam sembunyi di senja biru/ takkan peduli kala sesuatu/ satukan langkah, diami massa/ sudut bergema riang bertabuh/ hitam menjelma singkirkan massa/ tertinggal jauh diam membisu

Sebuah anthem pelarian dari kepenatan kota dengan jenius diwujudkan oleh The Sastro dalam lagu ini. Menghindari kejenuhan di sore hari dengan mengunjungi suatu tempat di “senja biru”. Serupa nasihat yang bijak untuk saya bersegera mengakhiri leyeh-leyeh di rumah tiap akhir pekan Ramadan ini.

4. Jenny – Monster Karaoke (Manifesto, 2009)

menjelang enam/ selepas lima petang/ sepanjang rute pulang/ dan sisa energi/ menjelang enam/ mesin dan angin/ jadi suara latar/ gerak pemandangan ikut melengkapi/ menjelang enam/ aku pulang/ teman bermain diperankan oleh perangkat digital/ playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa/ berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi/ rayakan apa saja hari ini

Lagu ini paling sering wara-wiri dalam playlist bulan ini karena selain ada larik “menjelang enam”, aransemennya bisa membuat saya membayangkan saat-saat pulang ke rumah dari kampus ataupun kantor yang bakal menemukan kemacetan pada setiap jalan menjelang berbuka. Pernyataan sikap Jenny—yang sekarang berganti nama menjadi FSTVLST— bermuatan politis dalam lagu ini juga menyinggung tentang sistem kerja yang terpaku oleh waktu serta menyorot alienasi manusia yang dipaksa berteman dengan “perangkat digital” sehingga “playlist andalan” menjadi “ayat dalam do’a”.

5. Melismatis – Gloria (Finding Moon, 2013)

Menyenangkan/ telanjang/ melayang/ menyenangkan/ tenggelam/ terbenam / for bright loud/ make them proud/ unity down/ we are pure in lines/ no matter what we follow the ones/ we stand up/ live and trust

Unit ensemble post-rock asal Makassar ini berupaya menghadirkan semacam pertautan ‘menyenangkan’ antara gaya bermusik Local Natives dengan Converge sebagai elemen utama lagu ini. Setiap tepukan pramuka di lagu ini seakan menepuk alam bawah sadar saya bahwa sore hari menjelang berbuka itu menyenangkan apa adanya sekaligus dibuat tenggelam oleh buaiannya.

6. Gorillaz – On Melancholy Hill (Plastic Beach, 2010)

Up on melancholy hill/ There’s a plastic tree/ Are you here with me?/Just looking out on the day of another dream/ Well, you can’t get what you want but you can get me/ So let’s set out to sea, love/ ‘Cause you are my medicine/ When you’re close to me/ When you’re close to me

Damon Albarn adalah juara menciptakan lagu romantis di Blur maupun di proyek solonya yang bejibun, salah satunya band virtual Gorillaz. Sisi melankoli Albarn yang bernyanyi dengan sendu bercampur ceria  pun sukses membuat lagu ini merajai chart lagu beberapa negara. Lagu ini pun menjadi pilihan yang berawal dari keisengan saya memutarnya di kantor dan malah keterusan mendengarkannya berulangkali saat ngabuburit. Menjadi semacam adiksi yang tidak memerlukan sebuah penawar saat mendengarkan lagu ini.

7. Fami — Gegap Gulana & Delusional Permanence (International Bitter Day -EP,2014)

Semua/ Berawal dari kebisingan/ Gegap gulana spekta dan spekta/ Dan kita pun bosan
Mencari/ Mencari tempat sendiri/ Satu demi satu/ Kita menjauh/ Tertiup anjing
Terbawa arah menepi/ Bertemu/ Di tempat yang tak terbayangkan/ Apa yang kau lakukan di tempat ini?
Ini tempatku bersembunyi/ Apakah kau lihat yang kulihat?/ Semua suara di tempat ini
Semua suara/Di tempat ini/ Berwarna

Seperti yang sempat saya ulas saat wawancara dengan Fami, Dua lagu yang masuk di EP International Bitter Day ini serupa komposisi yang berhasil memasuki telinga saya dengan nyaman seolah-olah menemukan komposisi meditasi yang tepat untuk merilekskan jiwa dan raga. Bunyi sampling sitar yang membuai di “Gegap Gulana” dan ombak Pantai Losari di “Delusional Permanence” jadi buktinya.

***

Honorable Mentions

Lagu lainnya yang masuk dalam playlist anti-klise saat ngabuburit ini—yang  sayangnya tidak bisa diulas karena kepanjangan—yaitu:

Kings Of Convenience – Mrs. Cold

Daft Punk – Voyager

Arcade Fire – The Suburbs

The Strokes – Under Control (covered by Artha “Tabasco”)

Toe – Everything Means Nothing

Enemies – Love Unlimited

American Football – Never Meant

Chvrches – Gun

Padi – Kemana Angin Berhembus

Asian Kungfu Generation – Solanin

 

N.B.  Saya hampir saja memasukkan adzan Maghrib dalam playlist ini.


Baca tulisan lainnya

Hal-hal yang Biasa Ditemukan Sehari-hari Namun Populer di Bulan Ramadan

Mengintip Ramadan Mahasiswa di Makassar

Lima Film Berwajah Islam Layak Tonton di Bulan Ramadan

Hal-hal yang Luput dan Tersisa dari Kenduri Ramadan

Selamat Menyenangkan Ibadah Ramadan!